
Pagi ini ( Kamis, 2 Mei 2024) STAIN Bengkalis
kedatangan tamu dari BRIN dan doktor muda dari Universitas Kiyoto Jepang. Sebelumnya,
rombongan dari BRIN sudah cukup sering datang ke STAIN Bengkalis. Hanya saja,
ketika kami ramah tamah di ruang ketua stain, doktor muda dari Kiyoto
University baru pertama kali datang ke STAIN Bengkalis. Setelah dialog beberapa
menit, kami dari pihak STAIN rencana akan melakukan MoU dengan universitas
tersebut. Penulis artikel sebagai waket III yang membidangi kerjasama, lebih
banyak diam. Kata pepatah “diam itu emas” saat itu sebenarnya kutang tepat. seharusnya
lebih aktif berbicara, saya kelihatannya lebih pendiam dari doctor Jepang yang
terkenal budaya irit bicara ( jangan-jangan, saya ada gen keturunan
bangsa Jepang ).
Nama doktor muda tersebut yaitu Mariko Ogawa.
Ia seorang perempuan cantik, berkacamata, rambut pendek diikat, kulit putih dan
badan kurus. Untuk ukuran perempuan Indonesia, ia terlalu sederhana dalam
berpakaian. Tapi sorot matanya, menunjukan kedalaman ilmu nya sebagai seorang
peneliti.
Sebagai seorang peneliti dan bisa juga
tradisi bangsa Jepang yang irit bicara semakin terlihat ketika ia mengomentari
pembicaraan kami. Sebenarnya bahasa Indonesia nya cukup fasih. Tapi sebatas
untuk kepentingan komunikasi, tidak sampai pada bahasa-bahasa majaz atau
bahasa gaul model masyarakat bengkalis. Mas Edi Purnomo Kabag AUAK paling pandai
bergurau. Ia mencoba membangun suasana cair dalam pertemuan tersebut.
lagi-lagi, ogawa hanya tersenyum dan mengomentari dengan kalimat terbatas.
Meskipun komunikasi kami terkendala pada bahasa, tapi pertemuan ini terlihat
akrab dan penuh kekeluargaan.
Informasi yang menarik dari Ogawa
sebagaimana yang saya dapat dari Mas Awal dan Mas Iyan dari BRIN, bahwa Ogawa
selain sebagai peneliti dari Universitas Kiyoto Jepang, juga sedang mempelajari
agama Islam. Kedatangan nya ke STAIN karena perguruan tinggi menjadi
satu-satunya perguruan tinggi islam negeri di kabupaten bengkalis. Bahkan ketua
STAIN sebelumnya, Profesor Samsul Nizar mempunyai cita-cita perguruan tinggi STAIN
yang akan berubah menjadi IAIN tetap pada visi-misi dasar yaitu sebagai pusat
kaderisasi ulama. Tujuannya, agar output perguruan tinggi Islam semakin jelas
dalam melahirkan ulama-ulama berkualitas di masa mendatang. Apalagi saat
sekarang ini, para ulama banyak yang telah meninggal dunia, sementara
kaderisasi masih terlihat belum maksimal. Ada semacam kekhawatiran terjadi
kelangkaan ulama, jika perguruan tinggi tidak segera menyiapkan secara serius
ke arah tersebut.
Pada saat pertemuan tersebut, Ketua STAIN
Bengkalis Dr. Abu Anwar mencoba memberi penjelasan tentang Islam. Hal ini
bermula dari Mas Jarir baru saja cek kesehatan gratis yang diadakan oleh Puskesmas
Bengkalis. Hasil nya cukup lumayan tinggi kadar gulanya. Dr. Abu Anwar menjelaskan
bahwa pola makan bangsa Indonesia ada yang sedikit keliru jika mengacu kepada
hadist nabi yang lebih mengutamakan kualitas makanan ketimbang kuantitas nya.
sabda nabi, “ Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar
dan berhenti makan sebelum kenyang”. Meskipun hadist ini tergolong hadist
dhaif, tapi dari segi isi nya benar tentang prinsip-prinsip hidup sehat yang
sangat dianjurkan dalam islam.
Informasi dari Mas Jarir yang membidangi
bidang akademik, bahwa Mariko Ogawa belum mempunyai suami dan baru tahap
pedekate dengan warga Indonesia. kemungkinan juga sama-sama doktor juga, atau
paling tidak bekerja pada bidang yang tidak jauh dari profesinya sebagai
peneliti. Teorinya seperti itu, jadi terlihat klop. Masa doktor bidang
teknologi satelit dan bidang-bidang ikhwatihi berpacaran dengan doktor
ushul fiqh pasti tidak nyambung. Yang satu bicara tentang atom, proton dan
netron, satu lagi membahas al’adatu muhakamah. Tentu kurang lucu
kedengaranya.
Meskipun demikian, saya tertarik dengan
penjelasan dari Mas Iyan dan Mas Awal dari BRIN, bahwa doktor muda dari Jepang
ini mempunyai minat tinggi mempelajari ajaran Islam. Tentu saja mempelajari Islam
dari sumber rujukan nya yaitu Al-Qur’an dan Hadist serta di komperasikan dengan
perilaku masyarakat muslim. sebagai seorang saintifisme, Ogawa tentu melihat
secara obyektif fakta-fakta ajaran Islam dan realita yang ada di masyarakat. Memang
seharusnya antara das sein dan das sollen harus selaras sebagai
yang diajarkan pada madzhab ilmu-ilmu eksasta. Meskipun ia bisa melihat realita
masyarakat Islam yang beragam perilakunya tidak membuat independensi menilai
ajaran Islam tidak subyektif. Saya kira, tradisi para peneliti yang benar
selalu melakukan hal-hal yang demikian. Ia melihat Islam sebagai ajaran dan
muslim sebagai penganutnya. Ada dua hal yang berbeda dalam memberi penilaian. Dan
keputusan-keputusan penilaian dari kedua hal tersebut bisa saja berbeda.
Penulis dulu pernah membaca seorang
perempuan yang menjadi mualaf dan kebetulan cerita ini juga berasal dari negara
Jepang. Suatu hari ia diwawancari oleh seorang reporter dari salah satu majalah
Islam.
Reporter :
Bagaimana pandangan anda tentang Islam?
Mualaf :
Saya sangat senang bisa menganut ajaran
Islam. Saya kira satu-satunya ajaran yang bisa diterima secara rasional adalah
Islam. ia sungguh mengagungkan.
Reporter :
Bagaimana anda melihat masyarakat muslim di
Indonesia ?
Mereka sangat ramah-ramah dan saya sangat
menyukai hal tersebut.
Reporter:
Apa yang tidak disukai dari muslim di Indonesia
Mualaf :
Sebagian mereka rata-rata pemalas
Jawaban-jawaban tersebut adalah suatu
realita tentang makna Islam dan tentang makna etos kerja. Meskipun menurutnya
sebagian perilaku muslim di Indonesia dikatakan sebagai orang-orang pemalas,
tentu saja ada indicator yang ia terapkan tidak sama dengan indicator yang
diterapkan di Indonesia. Itu sebabnya, ketika Lembaga Penyalur Tenaga Kerja Indonesia
(lupa namanya) mengirim warga Indonesia melakukan pelatihan di Balai Latihan
Kerja atau magang luar negeri seperti Jepang, Korea dan Cina, dari 20 orang
yang pulang 16 orang. Fakta ini menunjukan bahwa budaya kita berbeda dalam
memaknai etos kerja sebagaimana yang dikatakan oleh mualaf tersebut. anggap
saja ini masukan bagus untuk perbaikan-perbaikan.
Benar atau salah presepsi tersebut, kita
tidak perlu marah. Wong cuma dibilang begitu saja sudah marah. Cemen !!!.
Boleh saja ia mengatakan demikian, tapi faktanya bangsa Jepang kalah jauh
dengan pertambahan penduduk Indonesia. bahkan bangsa ini terancam punah di masa
datang. Jika dianalogikan dengan sepakbola, Indonesia juara dunia di urutan
nomor empat, Jepang di urutan nomor 124. Hebat khan? Tapi tolong cukup dibahas
pada persoalan tersebut, jangan melebar ke persoalan lain, apalagi ke persoalan sepakbola, hehehe.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876