Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doktor Muda Cantik dari Jepang Ingin Mengenal Islam



Jumat , 03 Mei 2024



Telah dibaca :  921

Pagi ini ( Kamis, 2 Mei 2024) STAIN Bengkalis kedatangan tamu dari BRIN dan doktor muda dari Universitas Kiyoto Jepang. Sebelumnya, rombongan dari BRIN sudah cukup sering datang ke STAIN Bengkalis. Hanya saja, ketika kami ramah tamah di ruang ketua stain, doktor muda dari Kiyoto University baru pertama kali datang ke STAIN Bengkalis. Setelah dialog beberapa menit, kami dari pihak STAIN rencana akan melakukan MoU dengan universitas tersebut. Penulis artikel sebagai waket III yang membidangi kerjasama, lebih banyak diam. Kata pepatah “diam itu emas” saat itu sebenarnya kutang tepat. seharusnya lebih aktif berbicara, saya kelihatannya lebih pendiam dari doctor Jepang yang terkenal budaya irit bicara ( jangan-jangan, saya ada gen keturunan bangsa Jepang ).

Nama doktor muda tersebut yaitu Mariko Ogawa. Ia seorang perempuan cantik, berkacamata, rambut pendek diikat, kulit putih dan badan kurus. Untuk ukuran perempuan Indonesia, ia terlalu sederhana dalam berpakaian. Tapi sorot matanya, menunjukan kedalaman ilmu nya sebagai seorang peneliti.

Sebagai seorang peneliti dan bisa juga tradisi bangsa Jepang yang irit bicara semakin terlihat ketika ia mengomentari pembicaraan kami. Sebenarnya bahasa Indonesia nya cukup fasih. Tapi sebatas untuk kepentingan komunikasi, tidak sampai pada bahasa-bahasa majaz atau bahasa gaul model masyarakat bengkalis. Mas Edi Purnomo Kabag AUAK paling pandai bergurau. Ia mencoba membangun suasana cair dalam pertemuan tersebut. lagi-lagi, ogawa hanya tersenyum dan mengomentari dengan kalimat terbatas. Meskipun komunikasi kami terkendala pada bahasa, tapi pertemuan ini terlihat akrab dan penuh kekeluargaan.

Informasi yang menarik dari Ogawa sebagaimana yang saya dapat dari Mas Awal dan Mas Iyan dari BRIN, bahwa Ogawa selain sebagai peneliti dari Universitas Kiyoto Jepang, juga sedang mempelajari agama Islam. Kedatangan nya ke STAIN karena perguruan tinggi menjadi satu-satunya perguruan tinggi islam negeri di kabupaten bengkalis. Bahkan ketua STAIN sebelumnya, Profesor Samsul Nizar mempunyai cita-cita perguruan tinggi STAIN yang akan berubah menjadi IAIN tetap pada visi-misi dasar yaitu sebagai pusat kaderisasi ulama. Tujuannya, agar output perguruan tinggi Islam semakin jelas dalam melahirkan ulama-ulama berkualitas di masa mendatang. Apalagi saat sekarang ini, para ulama banyak yang telah meninggal dunia, sementara kaderisasi masih terlihat belum maksimal. Ada semacam kekhawatiran terjadi kelangkaan ulama, jika perguruan tinggi tidak segera menyiapkan secara serius ke arah tersebut.

Pada saat pertemuan tersebut, Ketua STAIN Bengkalis Dr. Abu Anwar mencoba memberi penjelasan tentang Islam. Hal ini bermula dari Mas Jarir baru saja cek kesehatan gratis yang diadakan oleh Puskesmas Bengkalis. Hasil nya cukup lumayan tinggi kadar gulanya. Dr. Abu Anwar menjelaskan bahwa pola makan bangsa Indonesia ada yang sedikit keliru jika mengacu kepada hadist nabi yang lebih mengutamakan kualitas makanan ketimbang kuantitas nya. sabda nabi, “ Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”. Meskipun hadist ini tergolong hadist dhaif, tapi dari segi isi nya benar tentang prinsip-prinsip hidup sehat yang sangat dianjurkan dalam islam.

Informasi dari Mas Jarir yang membidangi bidang akademik, bahwa Mariko Ogawa belum mempunyai suami dan baru tahap pedekate dengan warga Indonesia. kemungkinan juga sama-sama doktor juga, atau paling tidak bekerja pada bidang yang tidak jauh dari profesinya sebagai peneliti. Teorinya seperti itu, jadi terlihat klop. Masa doktor bidang teknologi satelit dan bidang-bidang ikhwatihi berpacaran dengan doktor ushul fiqh pasti tidak nyambung. Yang satu bicara tentang atom, proton dan netron, satu lagi membahas al’adatu muhakamah. Tentu kurang lucu kedengaranya.

Meskipun demikian, saya tertarik dengan penjelasan dari Mas Iyan dan Mas Awal dari BRIN, bahwa doktor muda dari Jepang ini mempunyai minat tinggi mempelajari ajaran Islam. Tentu saja mempelajari Islam dari sumber rujukan nya yaitu Al-Qur’an dan Hadist serta di komperasikan dengan perilaku masyarakat muslim. sebagai seorang saintifisme, Ogawa tentu melihat secara obyektif fakta-fakta ajaran Islam dan realita yang ada di masyarakat. Memang seharusnya antara das sein dan das sollen harus selaras sebagai yang diajarkan pada madzhab ilmu-ilmu eksasta. Meskipun ia bisa melihat realita masyarakat Islam yang beragam perilakunya tidak membuat independensi menilai ajaran Islam tidak subyektif. Saya kira, tradisi para peneliti yang benar selalu melakukan hal-hal yang demikian. Ia melihat Islam sebagai ajaran dan muslim sebagai penganutnya. Ada dua hal yang berbeda dalam memberi penilaian. Dan keputusan-keputusan penilaian dari kedua hal tersebut bisa saja berbeda.

Penulis dulu pernah membaca seorang perempuan yang menjadi mualaf dan kebetulan cerita ini juga berasal dari negara Jepang. Suatu hari ia diwawancari oleh seorang reporter dari salah satu majalah Islam.

Reporter :

Bagaimana pandangan anda tentang Islam?

Mualaf :

Saya sangat senang bisa menganut ajaran Islam. Saya kira satu-satunya ajaran yang bisa diterima secara rasional adalah Islam. ia sungguh mengagungkan.

Reporter :

Bagaimana anda melihat masyarakat muslim di Indonesia ?

Mereka sangat ramah-ramah dan saya sangat menyukai hal tersebut.

Reporter:

Apa yang tidak disukai dari muslim di Indonesia

Mualaf :

Sebagian mereka rata-rata pemalas

Jawaban-jawaban tersebut adalah suatu realita tentang makna Islam dan tentang makna etos kerja. Meskipun menurutnya sebagian perilaku muslim di Indonesia dikatakan sebagai orang-orang pemalas, tentu saja ada indicator yang ia terapkan tidak sama dengan indicator yang diterapkan di Indonesia. Itu sebabnya, ketika Lembaga Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (lupa namanya) mengirim warga Indonesia melakukan pelatihan di Balai Latihan Kerja atau magang luar negeri seperti Jepang, Korea dan Cina, dari 20 orang yang pulang 16 orang. Fakta ini menunjukan bahwa budaya kita berbeda dalam memaknai etos kerja sebagaimana yang dikatakan oleh mualaf tersebut. anggap saja ini masukan bagus untuk perbaikan-perbaikan.

Benar atau salah presepsi tersebut, kita tidak perlu marah. Wong cuma dibilang begitu saja sudah marah. Cemen !!!. Boleh saja ia mengatakan demikian, tapi faktanya bangsa Jepang kalah jauh dengan pertambahan penduduk Indonesia. bahkan bangsa ini terancam punah di masa datang. Jika dianalogikan dengan sepakbola, Indonesia juara dunia di urutan nomor empat, Jepang di urutan nomor 124. Hebat khan? Tapi tolong cukup dibahas pada persoalan tersebut, jangan melebar ke persoalan lain,  apalagi ke persoalan sepakbola, hehehe.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876