Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dua Kutub Yang Berbeda



Jumat , 22 Agustus 2025



Telah dibaca :  769

Sudah lama saya tidak nonton film Kung Fu Panda. Pagi ini ada keberkahan bisa melihatnya di Kapal Dumai Line. Film ini sangat mengasikan. Di tengah-tengah deras nya film pendek (short film) dari Korea dan China-yang sering menyuguhkan percintaan dan perebutan kekuasaan -, film kung fu panda menjadi hiburan yang menarik sekaligus belajar tentang nilai-nilai kearifan dalam kehidupan manusia dengan keberagaman karakter dan hasrat-hasrat cita-cita hidupnya.

Film Kung Fu Panda bukan sebatas hiburan. Ia menawarkan tentang pola kehidupan yang harmonis dan jauh dari angkara murka, dendam, saling benci dan keinginan terwujudkan kehidupan yang harmonis. Untuk mencapai kehidupan yang demikian tidaklah mudah. Watak manusia yang dipengaruhi oleh dorongan-dorongan nafsu telah memberi warna beragam perilaku baik perilaku atas dasar nafsu mutmainah dan ada berdasarkan nafsu syayiah. Keduanya selalu terjadi tarik-menarik pada diri manusia dan kemudian hari, ini juga menentukan kualitas manusia apakah ia berada pada nafsu mutmainah atau pada nafsu amarah.

Kehidupan tidak ada yang kebetulan. Setiap kejadian ada penyebabnya. Kehidupan di alam jagat raya yang maha luas sebenarnya gambaran-gambaran aturan-aturan Tuhan yang sangat sempurna. Ada suatu proses yang melahirkan akibat-akibat dari proses tersebut. Ada yang baik dan tidak baik. Semua kembali kepada masing-masing pelakunya.

Para pujangga dan ahli hikmah masa lalu menggambarkan kehidupan laksana pewayangan yang ditancapkan setiap wayang pada pohon pisang. Dalang di tengah, sebelah kiri ada wayang jenis raksasa seperti dasamuka, patih prahasta dan sejenisnya. Di selah kanan ada pandu, kresna, puntadewa dan sejenisnya. Sang dalang berada di tengah-tengah keduanya.

Manusia kadang seperti Kresna atau Puntadewa yang selalu menghambakan diri patuh terhadap aturan-aturan Sang Hyang Widhi -Tuhan – dengan melaksanakan perintah-perintah nya dan meninggalkan larangan-larangannya. Ia adalah gambar manusia yang patuh terhadap aturan-aturan ilahiyah dalam segala kehidupannya. Itu sebabnya dalam tataran kehidupan sosial, kelompok manusia seperti kresna, puntadewa, nakula dan sadewa merupakan cermin orang-orang yang sudah mengenal tujuan hidup. Mereka sudah istiqomah berjalan dalam rel-rel kehidupan dengan mantap dan istiqomah.

Sedangkan kelompok Patih Prahasta, Dasamuka dan Cakil, Duryudana dan sejenisnya cermin dari kondisi emosional masih meluap-luap dan jiwa masih meledak-ledak. Mereka bukan manusia yang tersesat. Mereka adalah manusia yang belum menemukan kebenaran dan dalam proses pencarian. Wajar saja, jika mereka sering melihat kehidupan ini dengan kacamata sempit dengan hanya menerima perspektif dari dirinya dan belum bisa melihat perspektif dari orang lain. Akibatnya akan muncul sikap dan sifat kaku dan seolah-olah tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan yang beragam. Itu hanya sebatas kesan, namun karena proses pencarian tidak pernah berhenti hal yang sangat mungkin kesan tersebut akan berubah menjadi lebih baik dan bahkan bisa lebih lagi dari orang-orang yang dipresepsikan sudah mendapatkan kebaikan. Sebab proses pencarian mencari kebaikan membutuhkan perjuangan yang sangat berat dan ujian yang tidak mudah. Ketika mendapatkan hasil dari perjuangan ini, maka kualitas dari perjuangan tersebut bernilai sangat tinggi dan berkualitas. Sebab dalam pandangan Islam, hanya kesuksesan yang melalui proses ujian sebagai kesuksesan yang berbobot.

Pada Film Panda, Master Shifu mengatakan “prajurit sejati tidak pernah menyerah”. Jika hidup laksana sebuah medan pertempuran, maka kita sedang memposisikan diri apakah dalam kelompok kurawa atau pandawa. Tidak peduli kedudukan kita dalam hidup ini. apakah kita dalam posisi kurawa yang selalu dikonotasikan dengan hal-hal yang belum baik dan akan terus berjuang tanpa kenal menyerah, maka suatu saat akan mendapatkan hasilnya. Meskipun apa yang diperjuangkan sesuatu yang tidak benar dan melawan dari kebenaran. Tidak peduli dalam sebuah pertarungan seorang prajurit. Pada dirinya hanya ada dua kata : menang atau kalah.

Hal yang sama juga demikian, orang-orang yang sudah pada maqam Pandawa juga akan mendapatkan kemenangan jika pada dirinya mempunyai prinsip “pantang menyerah” di medan pertempuran kehidupan.

Jadi Tuhan telah meletakan suatu keadilan-keadilan kehidupan di dunia ini melalui aturan syariat kehidupan dengan terus berusaha untuk menentukan diri nya sendiri sebagai pemenang. Entah siapapun orang nya, mempunyai peluang sama untuk meraih apa-apa yang diperjuangkannya. Tuhan tidak memberikan keajaiban-keajaiban yang bersifat duniawi dengan kedekatan seseorang dengan Tuhan nya. Keajaiban dunia diserahkan kepada manusia untuk melakukan rekayasa-rekayasa yang bersumber dari akal dan keahliannya. Tidak peduli, kurawa atau pandawa. Semua punya peluang sama untuk meraih kesukesan yang bersifat duniawiyah.

Tentu saja Tuhan juga tidak membiarkan penderitaan hamba-hamba-Nya ketika mereka belum mendapatkan kesuksesan di dunia. Tuhan menempatkan cahaya-cahaya surga yang diletakan di dalam qalbu. Ada ketenangan hidup dan ada kedamaian hati dalam menjalankan hidup penuh dengan keterbatasan. Kondisi seperti ini merupakan bagian dari kemenangan spiritual. Ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri saat di luar sana orang-orang yang senasib dengan nya justru mengalami ketakutan dan kekhawatiran yang luarbiasa.

Dari sini penulis bisa belajar arti sebuah kemenangan sejati yaitu saat kita dalam keadaan tenang, maka cahaya-cahaya kemenangan akan terlihat di depan mata. Itulah kemenangan manusia saat hidup nya dekat dengan ajaran Tuhan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875