
Sudah lama saya tidak nonton film Kung Fu
Panda. Pagi ini ada keberkahan bisa melihatnya di Kapal Dumai Line. Film ini
sangat mengasikan. Di tengah-tengah deras nya film pendek (short film)
dari Korea dan China-yang sering menyuguhkan percintaan dan perebutan kekuasaan
-, film kung fu panda menjadi hiburan yang menarik sekaligus belajar tentang
nilai-nilai kearifan dalam kehidupan manusia dengan keberagaman karakter dan hasrat-hasrat
cita-cita hidupnya.
Film Kung Fu Panda bukan sebatas hiburan. Ia
menawarkan tentang pola kehidupan yang harmonis dan jauh dari angkara murka,
dendam, saling benci dan keinginan terwujudkan kehidupan yang harmonis. Untuk mencapai
kehidupan yang demikian tidaklah mudah. Watak manusia yang dipengaruhi oleh
dorongan-dorongan nafsu telah memberi warna beragam perilaku baik perilaku atas
dasar nafsu mutmainah dan ada berdasarkan nafsu syayiah. Keduanya selalu
terjadi tarik-menarik pada diri manusia dan kemudian hari, ini juga menentukan
kualitas manusia apakah ia berada pada nafsu mutmainah atau pada nafsu amarah.
Kehidupan tidak ada yang kebetulan. Setiap kejadian
ada penyebabnya. Kehidupan di alam jagat raya yang maha luas sebenarnya
gambaran-gambaran aturan-aturan Tuhan yang sangat sempurna. Ada suatu proses
yang melahirkan akibat-akibat dari proses tersebut. Ada yang baik dan tidak
baik. Semua kembali kepada masing-masing pelakunya.
Para pujangga dan ahli hikmah masa lalu
menggambarkan kehidupan laksana pewayangan yang ditancapkan setiap wayang pada
pohon pisang. Dalang di tengah, sebelah kiri ada wayang jenis raksasa seperti
dasamuka, patih prahasta dan sejenisnya. Di selah kanan ada pandu, kresna, puntadewa
dan sejenisnya. Sang dalang berada di tengah-tengah keduanya.
Manusia kadang seperti Kresna atau
Puntadewa yang selalu menghambakan diri patuh terhadap aturan-aturan Sang Hyang
Widhi -Tuhan – dengan melaksanakan perintah-perintah nya dan meninggalkan
larangan-larangannya. Ia adalah gambar manusia yang patuh terhadap
aturan-aturan ilahiyah dalam segala kehidupannya. Itu sebabnya dalam tataran
kehidupan sosial, kelompok manusia seperti kresna, puntadewa, nakula dan sadewa
merupakan cermin orang-orang yang sudah mengenal tujuan hidup. Mereka sudah
istiqomah berjalan dalam rel-rel kehidupan dengan mantap dan istiqomah.
Sedangkan kelompok Patih Prahasta, Dasamuka
dan Cakil, Duryudana dan sejenisnya cermin dari kondisi emosional masih meluap-luap
dan jiwa masih meledak-ledak. Mereka bukan manusia yang tersesat. Mereka adalah
manusia yang belum menemukan kebenaran dan dalam proses pencarian. Wajar saja,
jika mereka sering melihat kehidupan ini dengan kacamata sempit dengan hanya
menerima perspektif dari dirinya dan belum bisa melihat perspektif dari orang
lain. Akibatnya akan muncul sikap dan sifat kaku dan seolah-olah tidak bisa
beradaptasi dengan lingkungan yang beragam. Itu hanya sebatas kesan, namun
karena proses pencarian tidak pernah berhenti hal yang sangat mungkin kesan tersebut
akan berubah menjadi lebih baik dan bahkan bisa lebih lagi dari orang-orang
yang dipresepsikan sudah mendapatkan kebaikan. Sebab proses pencarian mencari
kebaikan membutuhkan perjuangan yang sangat berat dan ujian yang tidak mudah. Ketika
mendapatkan hasil dari perjuangan ini, maka kualitas dari perjuangan tersebut
bernilai sangat tinggi dan berkualitas. Sebab dalam pandangan Islam, hanya kesuksesan
yang melalui proses ujian sebagai kesuksesan yang berbobot.
Pada Film Panda, Master Shifu mengatakan “prajurit
sejati tidak pernah menyerah”. Jika hidup laksana sebuah medan pertempuran,
maka kita sedang memposisikan diri apakah dalam kelompok kurawa atau pandawa. Tidak
peduli kedudukan kita dalam hidup ini. apakah kita dalam posisi kurawa yang
selalu dikonotasikan dengan hal-hal yang belum baik dan akan terus berjuang
tanpa kenal menyerah, maka suatu saat akan mendapatkan hasilnya. Meskipun apa yang
diperjuangkan sesuatu yang tidak benar dan melawan dari kebenaran. Tidak peduli
dalam sebuah pertarungan seorang prajurit. Pada dirinya hanya ada dua kata :
menang atau kalah.
Hal yang sama juga demikian, orang-orang
yang sudah pada maqam Pandawa juga akan mendapatkan kemenangan jika pada
dirinya mempunyai prinsip “pantang menyerah” di medan pertempuran kehidupan.
Jadi Tuhan telah meletakan suatu
keadilan-keadilan kehidupan di dunia ini melalui aturan syariat kehidupan
dengan terus berusaha untuk menentukan diri nya sendiri sebagai pemenang. Entah
siapapun orang nya, mempunyai peluang sama untuk meraih apa-apa yang
diperjuangkannya. Tuhan tidak memberikan keajaiban-keajaiban yang bersifat
duniawi dengan kedekatan seseorang dengan Tuhan nya. Keajaiban dunia diserahkan
kepada manusia untuk melakukan rekayasa-rekayasa yang bersumber dari akal dan
keahliannya. Tidak peduli, kurawa atau pandawa. Semua punya peluang sama untuk
meraih kesukesan yang bersifat duniawiyah.
Tentu saja Tuhan juga tidak membiarkan
penderitaan hamba-hamba-Nya ketika mereka belum mendapatkan kesuksesan di
dunia. Tuhan menempatkan cahaya-cahaya surga yang diletakan di dalam qalbu. Ada
ketenangan hidup dan ada kedamaian hati dalam menjalankan hidup penuh dengan
keterbatasan. Kondisi seperti ini merupakan bagian dari kemenangan spiritual. Ia
bisa berdamai dengan dirinya sendiri saat di luar sana orang-orang yang senasib
dengan nya justru mengalami ketakutan dan kekhawatiran yang luarbiasa.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875