Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dua Polisi dari Sulawesi Bikin Jatuh Hati



Sabtu , 23 Desember 2023



Telah dibaca :  782

Sekitar jam 13.20 menit, saya mendapatkan telpon dari Polisi Mada, polisi muda yang bertugas di Kapolres Kepulauan Meranti. Isinya; undangan pisah sambut Polres Meranti AKBP Andy Yul diganti oleh AKBP Kurnia Setyawan. Saya belum memberi jawaban undangannya. Ingin cepat pulang ke Meranti dan mengikuti acara tersebut, tapi istri dan anak-anak masih ingin liburan ke Rumah saudara-saudara nya di Bengkalis. Sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Mereka ingin silaturahim dengan keluarga besar dari jalur mbah dan saudara-saudara istri saya yang sudah lama tinggal di Bengkalis. Setelah selesai, rencana menemui kakak dan adiknya yang berada di Tanjung Balai.

Dua polisi yang sudah saya anggap saudara dan teman diskusi adalah Pak Laode Proyek dan Pak Andi Yul. Dua Kapolres berbeda masa ini berasal dari Sulawesi. Pak laode menjadi kapolres tahun 2018-an. Dia masih terlihat logat Sulawesi nya. Ucapan keras, tegas dan suka bergurau. Saya ingat dulu, saat malam-malam (sekitar jam 21.30) Pak Laode datang rombongan ke rumah ku. Dia ingin ngopi dan ngobrol tentang  kebinekaan di Kepulauan Meranti. Setelah ngobrol sebentar, akhirnya lokasi tidak jadi di rumah ku, tapi di Kedai Kopi. Saya tentu sangat setuju. Bukan karena materi yang akan didiskusikan, tapi yang terpenting bisa ngopi. Sebab jika berbicara tentang kebangsaan, Pak Laode jauh lebih mengetahuinya. Jadi target saya bisa ngopi bareng. Ma’lum, hobi saya minum Kopi. Meskipun rokok kurang minat. Tapi jika disuruh menghabiskan satu bungkus satu jam, Insya Allah kuat.

Pak Laode itu kalau ngobrol “sat-set”, to the point. Jika suka, bilang suka, tidak suka bilang tidak suka. Siapapun di depannya, jika dianggap menyalahi prosedur, maka tidak segan-segan mengatakan sebenarnya, meskipun terlihat pedas. Badan kurus, tinggi, dan kulit hitam. 

Berbeda dengan Pak Andi Yul, bicara nya sangat lembut. Pertama bertemu, saya berfikir bahwa dia itu orang Jawa. Ma’lum, gaya bicara dan cara bersikap di depan ustadz seperti orang Jawa. Sangat sopan. Seperti santri berdiri di depan kyai. Maka, ketika ada yang bilang bahwa Pak Andi dari Sulawesi, saya tidak percaya. Cukup lama saya tidak percaya. Bahkan ketika kami bersama-sama turba (turun bawah) dan keliling desa-desa di Kepulauan Meranti bersama para pejabat Pemda, saya masih belum percaya kalau dari Sulawesi. Setelah beberapa waktu berjalan, saya baru tahu kalau dari Sulawesi. Kami pun sering ngobrol. Apa saja, termasuk juga berkaitan dengan tugas-tugas kepolisian. Tentu saja sebagaimana Pak Laode, Pak Andi juga sangat disiplin dalam menjalankan tugasnya. Tapi sisi humanisme lebih dominan dalam menjalankan tugas selama di kabupaten termuda di Provinsi Riau. Dia Kapolres yang sangat merakyat dan bisa berkumpul di seluruh lintas golongan, ormas dan masyarakat.

Baik Pak Laode dan Pak Andy bukan manusia sempurna. Mereka orang biasa, yang tidak lepas dari kesalahan. Hal sama juga terjadi pada diriku, dan manusia pada umumnya. Meskipun kita mempunyai sebutan yang berbeda-beda; ulama, dosen, polisi, bupati, sekda, camat dan lain-lain. semua punya salah. Justru adannya kesalahan  semakin mempertegas kedudukan manusia. Sebab tidak ada manusia yang tidak punya salah. Juga tidak ada manusia selalu benar. Manusia adalah adalah makhluk Tuhan yang berada di  dua dimensi berbeda; pada dirinya ada nafsu mutmainah (nafsu baik) dan ada nafsu syayiah(nafsu buruk). Ketika manusia mampu menerapkan nafsu mutmainah, maka dia adalah manusia sukses. Ketika Dia tidak mampu mengendalikan diri,maka dia gagal. Meskipun mendapat jabatan yang tinggi.

Pak Andy Yul dan Saya adalah orang-orang yang sedang berjalan memperbaiki diri pada sisi perbaiki nafsu menuju pada mut’mainah. Kita adalah orang-orang yang sama-sama berjuang untuk mencapai titel tersebut. Sebab ujian hidup setiap orang itu beragam, yang bisa tergelincir atau terperosok ke lembah kenistaan. Semoga saja tidak terjadi. Itu yang diharapkan.

Saya sebagai seorang teman hanya bisa mengucapkan “Selamat atas prestasi baru” yang diraih oleh Pak Andy. Tidak semua orang bisa meraih prestasi. Juga tidak semua orang tahan terhadap ujian prestasi. Selalu saja ada ujian-ujian yang membuat para peserta ujian untuk ekstra hati-hati agar bisa melaluinya dengan baik.

Saya juga minta maaf tidak bisa menghadiri undangan Pak Andy. Saya ingin menelpon, tapi tidak punya nomor HP nya. Mungkin Pak Polisi Mada heran selevel saya, kok tidak punya nomor HP Pak Andi. Memang saya seperti itu. Sampai hari ini, saya tidak punya nomor para petinggi mulai dari Bupati sampai kepala dinas. Hanya ada beberapa nomor, karena saya mendapatkan telpon dari mereka. Baru saya simpan.

Saya lakukan seperti ini tujuannya agar persaudaraan tetap terjaga. Seandainya mereka lupa terhadapku pun, saya sudah siap dan tidak akan mengganggu tugas mereka yang lebih besar. Namun, orang baik akan tetap bertemu dengan orang baik. Ruh-ruh orang baik laksana aliran listrik yang akan tetap terkoneksi dimanapun berada. Itu prinsipnya. Suatu saat ketika, pak andi menjadi orang hebat, dia pasti akan mengingatku. Semoga kita tetap sama-sama menjadi orang baik sepanjang masa.

Mohon maaf kepada Pak Andy tidak bisa menghadiri, doa ku senantiasa menyertaimu. Semoga semakin baik dan sukses di masa yang akan datang.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876