Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dumai Port; Menatap Matahari di Pagi Hari



Sabtu , 09 September 2023



Telah dibaca :  797

Jam menunjukan pukul 04.14. TV di Kamar Hotel nomor 503 masih tetap hidup. Sengaja saya biarkan hidup, agar mudah bangun dan bisa secepatnya pergi ke Dumai Port. Ma’lum Alarm HP sudah kurang berfungsi. Hal sama ketika ada orang menelpon. Tidak ada suara. Mungkin status HP sudah tua. Tanda-tanda sudah udzur. Alamiah. Wajar. Evolusi kehidupan manusia pun demikian. Saat masih kecil menangis, minta digendong dan makan pun disuapi. Saat sudah masa senja, seperti anak kecil tapi dengan kondisi yang mulai rusak; mudah pusing, masuk angin, demam dan sejenisnya. Ironisnya sering tidak menyadarinya. Orang tua terkadang merasa selalu muda. Mungkin orang-orang seperti ini mengamalkan fatwa Syeikh Panji Gumilang;”Hidup dimulai dari umur 70 tahun.”

Terlepas beragam kontroversi, saya secara pribadi salut semangat hidupnya, tapi tidak suka dari ijtihadnya yang kadang menabrak kemapanan istimbat hukum yang dilakukan oleh para ulama. Tapi mengambil nilai-nilai kebaikan darimanapun bukan suatu kenistaan. Para ahli hikmah mengatakan;”Kebaikan datang darimanapun diambil. Sebab hakikat kebaikan tersebut adalah milik Islam yang hilang”.

Itulah hikmah. Nabi Ibrahim mengambil pelajaran dari peredaran Tatasurya untuk mengenal Allah. Nabi Ya’kub mendapatkan kesembuhan sakit mata melalui wasilah baju nya Nabi Yusuf. Para Penghuni Gua bisa selamat dari jebakan dan terbuka pintu gua karena wasilah karena membantu orang lain (hadistnya yang menceritakan tentang ini diriwayatkan oleh Ibn Umar). Sang Kupu-Kupu malam mengenal tuhan dan menjadi kekasih-nya saat berada di tempat kotor (bisa ditemukan cerita ini dalam Kitab Duratunasihin). Sang ilmuwan bakteri di Mesir masuk Islam hanya gara-gara meneliti hadist tentang membersihkan bejana menggunakan tanah. Setelah dilakukan survei di laboratoriumnya, ternyata tanah lebih efektif menghilangkan bakteri dari jilatan anjing ketimbang sabun deterjen. Banyak contoh sejenis ini bertebaran di muka bumi.

Orang-orang sukses tersebut adalah bukan kumpulan orang yang putus asa. Kegalauan dan keresahan batin bukan disebabkan karena ketidakperdayaan menghadapi persaingan hidup. Ada jauh yang lebih penting dari semua itu yaitu mendapatkan kebenaran sejati sebagai sumber segala cinta yang agung. Sebab dunia dengan segala isinya baru menyediakan kelezatan sebatas pengantin baru bertemu dengan pasangan. Setelah meneguk segala keindahan, dia akan sadar realita kehidupan tidak seindah beberapa menit yang lalu. Dunia laksana sirup yang selalu dipromosikan di berbagai Media. Ketika ia diminum terasa segar. Namun lama kelamaan ia justru berbalik menjadi persoalan. Ketika meminumnya secara terus-menerus lambat laun berubah menjadi sumber-sumber penyakit. Saya kira setiap orang tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada diri masing-masing.

Orang sukses seperti di atas adalah orang yang mempunyai kekuatan nafsu yang silih berganti. Ketika muncul kekuatan nafsu sayyiah, maka lahir produk-produk kegiatan yang mengantarkan puncak karir. Namun puncak karir melalui nafsu ini sering mengantarkan kepada kekosongan batin. Semua menjadi indah di pandangnya. Padahal semua yang dilihat tersebut hanyalah jebakan-jebakan yang akan mengantarkan kepada penderitaan. Hari ini kita melihat sudah tidak terhitung lagi orang-orang yang mempunyai reputasi baik di masyarakat dan menjadi public figure sebagai orang sukses dan baik. Lalu tiba-tiba berubah menjadi pesakitan, hilang kewibawaan, hancur reputasi dan sebagainya. Orang-orang yang melihatnya sangat menyayangkan. Sebab mereka yang mengharapkan untuk mencapai puncak sebagaimana para orang-orang hebat tersebut belum juga berhasil sampai saat sekarang ini. Sikap orang-orang hebat tadi pun dianggap sebagai sebuah kebodohan, kecerobohan dan sejenisnya. Lalu nama besar nya pun tenggelam dan hilang laksana debu dihempas oleh hembusan angin.

Ada kesuksesan yang lahir dari dorongan nafsu mutmainah. Orang-orang jenis ini adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan jiwa yang luber dan mewarnai seluruh pemikiran, ucapan dan perbuatan. Nafsu nya telah menjadi Remot yang efektif untuk mengendalikan sistem kerja diri benar-benar efektif, efisien dan mempunyai daya dobrak luarbiasa. Sehingga dalam waktu singkat, orang-orang berjenis ini bisa mencapai kesuksesan di atas rata-rata. Sebab pada dirinya hanya berisi energi-energi positif dan mampu menutup energi-energi negatif yang merusak dirinya dan karirnya.

Kedua kutub nafsu tersebut lahir dari kenetralan. Nafsu seperti kain putih yang akan menjadi baju dan warna baju beraneka ragam. Nafsu juga laksana anak kecil yang selalu mengajak kepada kenikmatan dunia yang serba indah. Alam semesta yang kita lihat akan menghasilkan beragam data-data. Pikiran kita akan merespon nya. Namun bisikan nafsu akan mencoba mengarahkan dalam dua garis besar; baik dan tidak baik. Pertarungan besar pada diri sendiri ini akan menentukan seberapa hebat dan berkualitas diri kita. Pertarungan-pertarungan ini akan terus berlanjut sampai saat Allah telah memanggil kita. Saat itulah, persaingan nafsu akan berakhir. Kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya dengan segala konsekuensinya akibat ulah nafsu-nafsu diri kita sendiri.

Nafsu juga laksana sinar matahari. Saat pagi hari ia bulat dan berwarna merah. Terlihat sangat indah. Lalu bergerak lagi. Sinar-sinarnya menerobos pohon-pohon raksasa dan gedung-gedung pencakar langit menyinari manusia agar daya tahan tubuh semakin kuat, pohon-pohon bisa berfotosintesis, dan alam semesta semakin terlihat cerah. Kehidupan pun tercipta. Semua beraktifitas untuk meraih prestasi terbaiknya.

Siang hari, sinar matahari terasa sangat panas. Itulah puncak kekuatan sinar-nya. Meskipun demikian, ini sangat bermanfaat bagi manusia untuk mengendorkan segala syaraf-syarafnya, otot-ototnya karena telah bekerja sejak pagi hari. Manusia perlu istirahat sebentar dan akan melanjutkan aktivitas di sore hati.

Ketika senja datang, sinar matahari kembali merah. Meskipun sudah terasa tidak panas. Tapi sinar tersebut masih memberi kedamaian. Semua memandang dengan penuh kebahagiaan. Bahkan para wisatawan mengabadikan pemandangan ini dalam foto atau lukisanya nya berjudul “Sunset”.

Kita adalah matahari. Semua adalah sinar kehidupan. Tidak peduli siapa kita. Semua mempunyai potensi untuk menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Sangat malu sekali jika kita hanya sebatas seperti anak kecil yang selalu tidak mau lepas dengan “dot” di mulutnya. Kita tidak mau hanya sebatas manusia yang duduk di kursi roda lalu di dorong oleh Perawat agar mendapatkan sinar di pagi hari. Kita ingin seperti Nick Vujicic yang bisa berenang. Padahal tidak punya kaki dan tangan. Dia luarbiasa. Saat masa lalu nya minder dan ingin bunuh diri, bisa berubah 180 derajat menjadi pembicara di hadapan para pelajar, mahasiswa, ilmuwan pada manajer. Sungguh luarbiasa. Orang yang terbatas fisiknya memberi kuliah kepada orang yang sempurna fisiknya. Tuhan menghadirkan seluruh ciptaan di dunia ini selalu memberi kebaikan kepada setiap orang yang berfikir.

Nabi Muhammad s.a.w telah menulis kebenaran fakta tersebut dengan kalimat yang sangat indah;”Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi kemanfaatan bagi orang lain”. Kalimat disini tidak menjelaskan kempurnaan tubuh, tapi pada kualitas diri. Siapapun kita, saat bisa tampil dan memberi manfaat kepada orang lain, maka dia adalah pengikut nabi yang agung. Siapakah pengikut nabi Muhammad? Dia adalah orang yang beriman. Benar sekali. Tapi yang lebih indah lagi, dia mampu merealisasikan keimanan tersebut dalam wujud-wujud karya dan memberi kemanfaatan bagi kehidupan orang banyak.

Dumai Port, 08 September 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879