
Jam menunjukan pukul 04.14. TV di Kamar
Hotel nomor 503 masih tetap hidup. Sengaja saya biarkan hidup, agar mudah
bangun dan bisa secepatnya pergi ke Dumai Port. Ma’lum Alarm HP sudah kurang
berfungsi. Hal sama ketika ada orang menelpon. Tidak ada suara. Mungkin status
HP sudah tua. Tanda-tanda sudah udzur. Alamiah. Wajar. Evolusi kehidupan
manusia pun demikian. Saat masih kecil menangis, minta digendong dan makan pun
disuapi. Saat sudah masa senja, seperti anak kecil tapi dengan kondisi yang
mulai rusak; mudah pusing, masuk angin, demam dan sejenisnya. Ironisnya sering
tidak menyadarinya. Orang tua terkadang merasa selalu muda. Mungkin orang-orang
seperti ini mengamalkan fatwa Syeikh Panji Gumilang;”Hidup dimulai dari umur 70
tahun.”
Terlepas beragam kontroversi, saya secara pribadi salut semangat
hidupnya, tapi tidak suka dari ijtihadnya yang kadang menabrak kemapanan
istimbat hukum yang dilakukan oleh para ulama. Tapi mengambil nilai-nilai
kebaikan darimanapun bukan suatu kenistaan. Para ahli hikmah mengatakan;”Kebaikan
datang darimanapun diambil. Sebab hakikat kebaikan tersebut adalah milik Islam yang hilang”.
Itulah hikmah. Nabi Ibrahim mengambil
pelajaran dari peredaran Tatasurya untuk mengenal Allah. Nabi Ya’kub
mendapatkan kesembuhan sakit mata melalui wasilah baju nya Nabi Yusuf. Para
Penghuni Gua bisa selamat dari jebakan dan terbuka pintu gua karena wasilah
karena membantu orang lain (hadistnya yang menceritakan tentang ini
diriwayatkan oleh Ibn Umar). Sang Kupu-Kupu malam mengenal tuhan dan menjadi
kekasih-nya saat berada di tempat kotor (bisa ditemukan cerita ini dalam Kitab
Duratunasihin). Sang ilmuwan bakteri di Mesir masuk Islam hanya gara-gara
meneliti hadist tentang membersihkan bejana menggunakan tanah. Setelah
dilakukan survei di laboratoriumnya, ternyata tanah lebih efektif menghilangkan
bakteri dari jilatan anjing ketimbang sabun deterjen. Banyak contoh sejenis ini
bertebaran di muka bumi.
Orang-orang sukses tersebut adalah bukan
kumpulan orang yang putus asa. Kegalauan dan keresahan batin bukan disebabkan
karena ketidakperdayaan menghadapi persaingan hidup. Ada jauh yang lebih
penting dari semua itu yaitu mendapatkan kebenaran sejati sebagai sumber segala
cinta yang agung. Sebab dunia dengan segala isinya baru menyediakan kelezatan sebatas
pengantin baru bertemu dengan pasangan. Setelah meneguk segala keindahan, dia
akan sadar realita kehidupan tidak seindah beberapa menit yang lalu. Dunia laksana
sirup yang selalu dipromosikan di berbagai Media. Ketika ia diminum terasa
segar. Namun lama kelamaan ia justru berbalik menjadi persoalan. Ketika meminumnya secara terus-menerus lambat
laun berubah menjadi sumber-sumber penyakit. Saya kira setiap orang tidak
menginginkan hal tersebut terjadi pada diri masing-masing.
Orang sukses seperti di atas adalah orang
yang mempunyai kekuatan nafsu yang silih berganti. Ketika muncul kekuatan nafsu
sayyiah, maka lahir produk-produk kegiatan yang mengantarkan puncak karir. Namun
puncak karir melalui nafsu ini sering mengantarkan kepada kekosongan batin. Semua
menjadi indah di pandangnya. Padahal semua yang dilihat tersebut hanyalah
jebakan-jebakan yang akan mengantarkan kepada penderitaan. Hari ini kita
melihat sudah tidak terhitung lagi orang-orang yang mempunyai reputasi baik di
masyarakat dan menjadi public figure sebagai orang sukses dan baik. Lalu tiba-tiba
berubah menjadi pesakitan, hilang kewibawaan, hancur reputasi dan sebagainya. Orang-orang
yang melihatnya sangat menyayangkan. Sebab mereka yang mengharapkan untuk mencapai
puncak sebagaimana para orang-orang hebat tersebut belum juga berhasil sampai
saat sekarang ini. Sikap orang-orang hebat tadi pun dianggap sebagai sebuah
kebodohan, kecerobohan dan sejenisnya. Lalu nama besar nya pun tenggelam dan
hilang laksana debu dihempas oleh hembusan angin.
Ada kesuksesan yang lahir dari dorongan nafsu mutmainah. Orang-orang
jenis ini adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan jiwa yang luber dan
mewarnai seluruh pemikiran, ucapan dan perbuatan. Nafsu nya telah menjadi Remot
yang efektif untuk mengendalikan sistem kerja diri benar-benar efektif, efisien
dan mempunyai daya dobrak luarbiasa. Sehingga dalam waktu singkat, orang-orang
berjenis ini bisa mencapai kesuksesan di atas rata-rata. Sebab pada dirinya
hanya berisi energi-energi positif dan mampu menutup energi-energi negatif yang
merusak dirinya dan karirnya.
Kedua kutub nafsu tersebut lahir dari
kenetralan. Nafsu seperti kain putih yang akan menjadi baju dan warna baju
beraneka ragam. Nafsu juga laksana anak kecil yang selalu mengajak kepada
kenikmatan dunia yang serba indah. Alam semesta yang kita lihat akan menghasilkan
beragam data-data. Pikiran kita akan merespon nya. Namun bisikan nafsu akan
mencoba mengarahkan dalam dua garis besar; baik dan tidak baik. Pertarungan besar
pada diri sendiri ini akan menentukan seberapa hebat dan berkualitas diri kita.
Pertarungan-pertarungan ini akan terus berlanjut sampai saat Allah telah
memanggil kita. Saat itulah, persaingan nafsu akan berakhir. Kita akan
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya dengan segala konsekuensinya akibat ulah
nafsu-nafsu diri kita sendiri.
Nafsu juga laksana sinar matahari. Saat pagi
hari ia bulat dan berwarna merah. Terlihat sangat indah. Lalu bergerak lagi. Sinar-sinarnya
menerobos pohon-pohon raksasa dan gedung-gedung pencakar langit menyinari
manusia agar daya tahan tubuh semakin kuat, pohon-pohon bisa berfotosintesis,
dan alam semesta semakin terlihat cerah. Kehidupan pun tercipta. Semua beraktifitas
untuk meraih prestasi terbaiknya.
Siang hari, sinar matahari terasa sangat
panas. Itulah puncak kekuatan sinar-nya. Meskipun demikian, ini sangat
bermanfaat bagi manusia untuk mengendorkan segala syaraf-syarafnya,
otot-ototnya karena telah bekerja sejak pagi hari. Manusia perlu istirahat
sebentar dan akan melanjutkan aktivitas di sore hati.
Ketika senja datang, sinar matahari kembali
merah. Meskipun sudah terasa tidak panas. Tapi sinar tersebut masih memberi
kedamaian. Semua memandang dengan penuh kebahagiaan. Bahkan para wisatawan mengabadikan
pemandangan ini dalam foto atau lukisanya nya berjudul “Sunset”.
Kita adalah matahari. Semua adalah sinar kehidupan. Tidak peduli siapa
kita. Semua mempunyai potensi untuk menjadi cahaya bagi orang-orang di
sekitarnya. Sangat malu sekali jika kita hanya sebatas seperti anak kecil yang
selalu tidak mau lepas dengan “dot” di mulutnya. Kita tidak mau hanya sebatas
manusia yang duduk di kursi roda lalu di dorong oleh Perawat agar mendapatkan
sinar di pagi hari. Kita ingin seperti Nick Vujicic yang bisa berenang. Padahal
tidak punya kaki dan tangan. Dia luarbiasa. Saat masa lalu nya minder dan ingin
bunuh diri, bisa berubah 180 derajat menjadi pembicara di hadapan para pelajar,
mahasiswa, ilmuwan pada manajer. Sungguh luarbiasa. Orang yang terbatas fisiknya
memberi kuliah kepada orang yang sempurna fisiknya. Tuhan menghadirkan seluruh
ciptaan di dunia ini selalu memberi kebaikan kepada setiap orang yang berfikir.
Nabi Muhammad s.a.w telah menulis kebenaran
fakta tersebut dengan kalimat yang sangat indah;”Sebaik-baik manusia adalah
mereka yang memberi kemanfaatan bagi orang lain”. Kalimat disini tidak
menjelaskan kempurnaan tubuh, tapi pada kualitas diri. Siapapun kita, saat bisa
tampil dan memberi manfaat kepada orang lain, maka dia adalah pengikut nabi
yang agung. Siapakah pengikut nabi Muhammad? Dia adalah orang yang beriman. Benar
sekali. Tapi yang lebih indah lagi, dia mampu merealisasikan keimanan tersebut
dalam wujud-wujud karya dan memberi kemanfaatan bagi kehidupan orang banyak.
Dumai Port, 08 September 2023
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879