Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dzikir Imitasi dan Subtansi



Selasa , 04 Maret 2025



Telah dibaca :  593

Pada moment tertentu jika anda pernah membiasakan dzikrullah, akan merasakan suatu kenikmatan atau kelezatan yang sulit diterangkan melalui ucapan kata-kata. Seperti seorang belum pernah merasakan nikmatnya buah duren, lalu dibelikan atau beli duren dan makan. Ketika ada teman mu bertanya tentang rasa nya duren, anda berkomentar: “huihh…sangat lezat”,”enake pooollll”. atau ketika menjadi penganten baru di tanya tentang indah nya malam pertama, anda senyam-senyum, menjap-menjep, mata kedap-kedip dan berkata dengan singkat : “gouuuurieehhh pollll”.

Itulah kenikmatan amatir. Orang yang baru merasakan duren, seolah-olah sudah bisa merasakan duren secara keseluruhan. Padahal bagi ahli duren, makan satu jenis duren belum merasakan puncak kenikmatan. Ada kenikmatan jenis buah duren yang tidak dimiliki oleh duren-duren lain. Hal yang sama juga bagi seorang pengantin. Ada kebutuhan yang lebih jauh dari sebatas malam pengantin baru, tidak sebatas ada ketenangan (sakinah) tidak seperti dulu “dikejar-kejar” warga karena pacaran. Tapi ada dua tahap yang harus dilalui untuk mendapatkan kenikmatan sejati yaitu mawadah dan warrahmah. Jadi bukan sebatas merasakan kenikmatan semata seperti pergaulan bebas, tapi juga kenikmatan yang diikat oleh cinta suci. Dan juga bukan sebatas ikatan cinta suci, tapi juga mendapatkan kasih-sayang Allah.

Seorang pasangan suami-istri mendapatkan titel rahmah sudah tidak melihat fisik, usia dan bentuk postur tubuh. Sebab bukan sebatas persoalan kenikmatan fisik, bahkan terkadang malah sudah hilang rasa kenikmatan tersebut. Pasangannya sudah seperti diri sendiri. Ia adalah cermin diri sendiri. Sehingga melihat pasangannya seperti melihat diri sendiri. Kata nabi:”Cintai orang seperti mencintai diri sendiri”. Itu sebabnya sakitnya dia, terasa seolah-olah dirinya ikut sakit. Jadi sudah tidak lagi bicara “kamu”, tapi sudah kami, lebih dalam lagi sudah manunggal dalam kata “aku” seperti iklan shampoo “two in one”. Pada dirimu ada aku, pada diriku ada kamu.

Berkaitan dengan dzikir, Allah telah berfirman: pertama, Q.S. Al-Ahzab (41-42) berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlan kepada-nya diwaktu pagi dan petang”. Kedua, Q.S. Ali Imran (41) sebagai berikut: “ Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. Ketiga, Q.S. Al-Baqarah (152) sebagai berikut: “ Karena itu, ingatlah kamu kepada-ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukur kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.

Berdzikir berarti mengingat-Nya dalam kondisi apapun. Tuhan membuat kata pagi dan petang. Tidak siang dan malam. Pagi gambaran permulaan aktivitas, sore gambaran menutup aktivitas. Laksana burung-burung terbang di pagi hari mencari rezeki, dan petang membawa rezeki. Saat pagi, mereka mencari karunia Allah, saat petang hari persiapan untuk interopeksi diri, muhasabah terhadap segala aktivitas seharian penuh. Mana tahu ada aktivitas yang tidak benar. Bertaubat, berdzikir dan terus memuji kepada Allah. Sehingga saat istirahat ia hanya membawa nama Allah dalam tidurnya. Jadi satu hari-satu malam ahli dzikir senantiasa mengingat dan tergantung kepada-Nya. Saat sudah tertanggung, maka otomatis yang teringat dalam alam bawah sadar hanya Allah SWT.

Apa yang terjadi, saat kita senantiasa sudah terbiasa segala sesuatu melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jelas hidup semakin tenang. Konsep hidup nya sudah tertata dengan baik. Di atas kita Sang Pencipta, di bawah kita bumi dan ditengah antara bumi dan Tuhan adalah manusia. posisi dunia selalu dibawah kaki, dan posisi Allah selalu berada di atas keagungan. Manusia harus selalu melihat-Nya agar kita sadar bahwa sehebat apapun kedudukan manusia di dunia, statusnya berada di bawah telapak kaki. Sangat ironis jika bumi yang berada di bawah telapak kaki dipanggul di atas kepala. Jelas, kepala kita akan sangat sakit dan menderita.

Maka dalam hidup kita harus belajar bahwa sifat-sifat keagungan Tuhan harus merembes atau menginspirasi dalam akal-pikiran dan mengendap dalam hati, lalu menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Saat menyebut Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, maka akal-pikiran kita secara spontanitas menjadi hamba-hamba yang bisa menyayangi seluruh makhluk-Nya, tanpa harus milih-milih. Saat melihat firman Allah bahwa ciptaan-Nya tidak ada yang batil, maka akal-pikiran dan hati serta perilaku kita mencerminkan orang-orang yang sangat bisa menerima apapun keputusan-Nya dengan lapang dada dan riang gembira. Bagaimana tidak riang gembira, Tuhan masih memberi kepercayaan untuk membawa keputusan-Nya, berarti kita dianggap orang yang sudah mampu membawa keputusan tersebut. Tidak peduli apakah keputusan dalam bentuk menyedihkan maupun menyenangkan. Semua nya semakin terasa sama rasanya. Jika kita menjalankan Amanah tersebut dengan sebaik-baiknya tentu saja tuhan akan melihat kita dengan pandangan penuh kasih-sayang. Dan kebahagiaan kita teragung, saat Tuhan memandang kita dengan penuh kasih-sayang. Berarti Tuhan telah ridha akan segala amal ibadah kita. Semoga demikian.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872