
Pada moment tertentu jika anda pernah
membiasakan dzikrullah, akan merasakan suatu kenikmatan atau kelezatan yang
sulit diterangkan melalui ucapan kata-kata. Seperti seorang belum pernah
merasakan nikmatnya buah duren, lalu dibelikan atau beli duren dan makan.
Ketika ada teman mu bertanya tentang rasa nya duren, anda berkomentar: “huihh…sangat
lezat”,”enake pooollll”. atau ketika menjadi penganten baru di tanya
tentang indah nya malam pertama, anda senyam-senyum, menjap-menjep, mata
kedap-kedip dan berkata dengan singkat : “gouuuurieehhh pollll”.
Itulah kenikmatan amatir. Orang yang baru
merasakan duren, seolah-olah sudah bisa merasakan duren secara keseluruhan.
Padahal bagi ahli duren, makan satu jenis duren belum merasakan puncak
kenikmatan. Ada kenikmatan jenis buah duren yang tidak dimiliki oleh
duren-duren lain. Hal yang sama juga bagi seorang pengantin. Ada kebutuhan yang
lebih jauh dari sebatas malam pengantin baru, tidak sebatas ada ketenangan (sakinah)
tidak seperti dulu “dikejar-kejar” warga karena pacaran. Tapi ada dua tahap
yang harus dilalui untuk mendapatkan kenikmatan sejati yaitu mawadah dan
warrahmah. Jadi bukan sebatas merasakan kenikmatan semata seperti pergaulan
bebas, tapi juga kenikmatan yang diikat oleh cinta suci. Dan juga bukan sebatas
ikatan cinta suci, tapi juga mendapatkan kasih-sayang Allah.
Seorang pasangan suami-istri mendapatkan
titel rahmah sudah tidak melihat fisik, usia dan bentuk postur tubuh. Sebab
bukan sebatas persoalan kenikmatan fisik, bahkan terkadang malah sudah hilang
rasa kenikmatan tersebut. Pasangannya sudah seperti diri sendiri. Ia adalah
cermin diri sendiri. Sehingga melihat pasangannya seperti melihat diri sendiri.
Kata nabi:”Cintai orang seperti mencintai diri sendiri”. Itu sebabnya sakitnya
dia, terasa seolah-olah dirinya ikut sakit. Jadi sudah tidak lagi bicara
“kamu”, tapi sudah kami, lebih dalam lagi sudah manunggal dalam kata “aku”
seperti iklan shampoo “two in one”. Pada dirimu ada aku, pada diriku ada
kamu.
Berkaitan dengan dzikir, Allah telah
berfirman: pertama, Q.S. Al-Ahzab (41-42) berbunyi: “Hai orang-orang yang
beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlan kepada-nya diwaktu pagi dan petang”.
Kedua, Q.S. Ali Imran (41) sebagai berikut: “ Dan sebutlah (nama) Tuhanmu
sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. Ketiga,
Q.S. Al-Baqarah (152) sebagai berikut: “ Karena itu, ingatlah kamu kepada-ku
niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukur kepada-Ku, dan janganlah kamu
mengingkari (nikmat)-Ku”.
Berdzikir berarti mengingat-Nya dalam
kondisi apapun. Tuhan membuat kata pagi dan petang. Tidak siang dan malam. Pagi
gambaran permulaan aktivitas, sore gambaran menutup aktivitas. Laksana burung-burung
terbang di pagi hari mencari rezeki, dan petang membawa rezeki. Saat pagi,
mereka mencari karunia Allah, saat petang hari persiapan untuk interopeksi diri,
muhasabah terhadap segala aktivitas seharian penuh. Mana tahu ada aktivitas
yang tidak benar. Bertaubat, berdzikir dan terus memuji kepada Allah. Sehingga saat
istirahat ia hanya membawa nama Allah dalam tidurnya. Jadi satu hari-satu malam
ahli dzikir senantiasa mengingat dan tergantung kepada-Nya. Saat sudah
tertanggung, maka otomatis yang teringat dalam alam bawah sadar hanya Allah SWT.
Apa yang terjadi, saat kita senantiasa
sudah terbiasa segala sesuatu melibatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jelas
hidup semakin tenang. Konsep hidup nya sudah tertata dengan baik. Di atas kita
Sang Pencipta, di bawah kita bumi dan ditengah antara bumi dan Tuhan adalah
manusia. posisi dunia selalu dibawah kaki, dan posisi Allah selalu berada di
atas keagungan. Manusia harus selalu melihat-Nya agar kita sadar bahwa sehebat
apapun kedudukan manusia di dunia, statusnya berada di bawah telapak kaki. Sangat
ironis jika bumi yang berada di bawah telapak kaki dipanggul di atas kepala. Jelas,
kepala kita akan sangat sakit dan menderita.
Maka dalam hidup kita harus belajar bahwa
sifat-sifat keagungan Tuhan harus merembes atau menginspirasi dalam akal-pikiran
dan mengendap dalam hati, lalu menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Saat
menyebut Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, maka akal-pikiran kita secara
spontanitas menjadi hamba-hamba yang bisa menyayangi seluruh makhluk-Nya, tanpa
harus milih-milih. Saat melihat firman Allah bahwa ciptaan-Nya tidak ada yang batil,
maka akal-pikiran dan hati serta perilaku kita mencerminkan orang-orang yang
sangat bisa menerima apapun keputusan-Nya dengan lapang dada dan riang gembira.
Bagaimana tidak riang gembira, Tuhan masih memberi kepercayaan untuk membawa keputusan-Nya,
berarti kita dianggap orang yang sudah mampu membawa keputusan tersebut. Tidak peduli
apakah keputusan dalam bentuk menyedihkan maupun menyenangkan. Semua nya
semakin terasa sama rasanya. Jika kita menjalankan Amanah tersebut dengan
sebaik-baiknya tentu saja tuhan akan melihat kita dengan pandangan penuh
kasih-sayang. Dan kebahagiaan kita teragung, saat Tuhan memandang kita dengan
penuh kasih-sayang. Berarti Tuhan telah ridha akan segala amal ibadah kita. Semoga
demikian.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872