Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dzikir Model Orang Jepang, Sangat Baik untuk Dicontoh



Sabtu , 03 Mei 2025



Telah dibaca :  725

Berikut ini saya kutip tulisan dari dua penulis dari Jepang bernama Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Begini potongan kalimat nya:

“Aku punya seorang teman muda yang bercita-cita menjadi novelis, tapi dia kelihatannya tidak pernah bisa menyelesaikan karyanya. Menurutnya, pekerjaannya membuat kelewat sibuk, dan dia tidak pernah bisa menemukan waktu yang cukup untuk menulis novel, dan itulah alasan dia tidak bisa menyelesaikan karyannya dan mengikutinya dalam kontes menulis. Tapi apakah itu alasan yang sesungguhnya?tidak! sebenarnya dia ingin menyisakan kemungkinan “aku bisa kalau aku mau”, dengan tidak berkomitmen pada apa pun. Dia tidak ingin karyanya dikritik dan jelas tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin menghasilkan karya tulis yang inferior dan mendapat penolakan…”.

Kalimat tersebut merupakan gambaran seseorang yang mempunyai cita-cita mulia tapi takut terhadap bayang-bayang kegagalan. Ia membayangkan bahwa suatu keberhasilan gemilang ketika segala fasilitas lengkap. Dengan cara seperti itu, cita-cita mudah diwujudkan dengan sangat cepat.

Sang penulis buku ini melanjutkan uraian dengan memberikan semacam jawaban atas persoalan tersebut:

“Dia seharusnya mengikutkan saja tulisannya dalam kontes, dan sekalipun ditolak, itu bukan masalah. Kalau melakukannya, dia mungkin akan berkembang, atau menemukan bahwa sebaiknya dia mengejar sesuatu yang berbeda. Apa pun hasilnya, dia bisa terus melangkah. Itulah yang dimaksud dengan ubah gaya hidupmu saat ini”.

Itulah dzikir orang Jepang. Dia tidak hanya sebatas "dzakara-yadzkuru-dzikran" fi lisan, tapi juga langsung pada fil af’al atau perbuatan. Ia tidak hanya dalam bentuk imajinasi, tapi diwujudkan dalam aksi. Sebab sebuah karya butuh kepastian, bukan janji-janji manis.

Dulu saya mempunyai teman seorang laki-laki yang wajah nya cukup tradisional. Banyak kekurangan. Postur tubuh banyak minusnya. Dompet nya tebal, tapi isinya tidak ada. kendaraan sepeda ontel, tidak punya celana panjang. Kemana-mana selalu pakai sarung. Namun saya kagum sama teman ku. Dia dengan segala kekurangan terus “jadda wa jadda”. Ia selalu mengetuk pintu. Maksud nya pintu hati seorang gadis yang sangat cantik.

Sang gadis stress. Saking stress, ia minggat ke Bandung selama satu bulan. Namun akhirnya ia pun kembali ke rumah. Ada keraguan dan kemalasan menerima lamaran pemuda tradisional tadi. Ia menerima nya dalam kebimbangan.

Walhasil, setelah menikah berjalan beberapa bulan, Wanita cantik tersebut cocok dengan pemuda berkulit hitam, bersepeda ontel, dan selalu memakai sarung. Karena memang dia tidak punya celana panjang. Kerja hariannya “nderes kelapa” atau membuat gula kelapa atau gula merah.

Wanita cantik berubah  menjadi seorang istri sholehah. Anaknya banyak. Saya tidak tahu persis apa yang membuat wanita itu menjadi sangat bahagia. Apa gara-gara suaminya hanya punya sarung. Masih misteri.

Amma ba’du,

Orang Jepang berfikir sangat simpel. Tapi punya keyakinan kuat. Berjalan cepat wujud dari kekuatan jiwa atas segala keputusan yang ia lakukan.

Islam jelas mengajarkan tentang kekuatan hati yang sebenarnya bisa memberkahi seluruh tubuh melalui pemantapan dzikrullah atau senantiasa mengingat kepada allah swt.

Jika kita memperhatikan proses dzikir, ada tiga macam yaitu: dzikir jali, dzikir khafi, dan dzikir hakiki. Pertama,dzikir jali merupakan dzikir pada ucapan yang mengandung pujian dan syukur atas nikmat yang telah diberikan allah kepada kita. ada dzikir yang telah disebutkan dalam al-qur’an dan hadist. Kita tinggal mengamalkannya. Ada dzikir yang terikat oleh waktu dan tempat seperti dzikir dalam sholat, sebelum tidur, setelah tidur, sebelum makan atau sesudah makan dan lain-lain. ada dzikir yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kapan-kapan bisa dzikir seperti menyebut lafadz “Allah”, “Allah”,”Allah”. Anda berada di Terminal, di Bandara, atau di Pesawat Terbang, gunakan mulutnya untuk dzikir. Kedua, dzikir khafi, yaitu dzikir hamba Allah dalam keheningan meskipun ia berada dalam alam keramaian. Hamba tersebut selalu senang dan asyik saat menyebut-Nya dan merasakan kehadiran-nya dekat dengan-nya. ketiga, dzikir hakiki, yaitu seluruh dhohir dan batin tubuh nya telah berdzikir semua nya. sudah tidak ada celah bisikan-bisikan atau fenomena alam yang mempengaruhi dirinya akan kecintaan kepada-nya. sabar dan syukur adalah baju kebesaran yang terbaik. Pada dirinya ada kesaradan total, bahwa yang dilihat benar-benar berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Anda mungkin mempunyai pandangan tentang dzikir tersendiri dan telah melalangbuana merambah jalan-jalan menuju keridhaan-Nya. Ada beragam metode untuk mencapai derajat teragung tersebut.

Buah dari dzikir dalam kehidupan antara lain kekuatan batin menghadapi hidup atau mewujudkan suatu cita-cita yang kita inginkan dalam kehidupan dunia. Sebab formalitas kehidupan dunia memang harus dilalui dan berharap menghasilkan buah berupa kesukesan.

Jika orang Jepang mempunyai konsistensi antara ucapan dan perbuatan bisa berhasil seperti saat sekarang ini, maka kita sebagai orang yang mempunyai sandaran kuat kepada Allah seharusnya mempunyai nilai plus dalam kesuksesan di dunia.

Tapi kenapa buah kesukesan belum terlihat? Bisa jadi, ucapan dan perbuatan kita belum konsisten. Masih ragu-ragu. Dzikir kita juga mungkin sudah ada kenikmatan spiritual tapi belum mampu menggerakan dhohiriyah tubuh kita.

Idealnya dalam konteks sosial, dzikir seharusnya menjadi spirit untuk melakukan perubahan sosial. Sebab dzikrullah itu selain berfungsi untuk memperkuat keimanan dan mahabah kita kepada Allah, juga sebagai bagian dari misi besar agama Islam yaitu rahmat semesta alam. Salah satu indikatornya, umat Islam menjadi uswatun hasanah. Bukan hanya pada perilaku, tapi juga pada karya nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872