
Berikut ini saya kutip tulisan dari dua
penulis dari Jepang bernama Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Begini potongan kalimat
nya:
“Aku punya seorang teman muda yang
bercita-cita menjadi novelis, tapi dia kelihatannya tidak pernah bisa
menyelesaikan karyanya. Menurutnya, pekerjaannya membuat kelewat sibuk, dan dia
tidak pernah bisa menemukan waktu yang cukup untuk menulis novel, dan itulah
alasan dia tidak bisa menyelesaikan karyannya dan mengikutinya dalam kontes menulis.
Tapi apakah itu alasan yang sesungguhnya?tidak! sebenarnya dia ingin menyisakan
kemungkinan “aku bisa kalau aku mau”, dengan tidak berkomitmen pada apa pun. Dia
tidak ingin karyanya dikritik dan jelas tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa dia
mungkin menghasilkan karya tulis yang inferior dan mendapat penolakan…”.
Kalimat tersebut merupakan gambaran
seseorang yang mempunyai cita-cita mulia tapi takut terhadap bayang-bayang
kegagalan. Ia membayangkan bahwa suatu keberhasilan gemilang ketika segala
fasilitas lengkap. Dengan cara seperti itu, cita-cita mudah diwujudkan dengan
sangat cepat.
Sang penulis buku ini melanjutkan uraian
dengan memberikan semacam jawaban atas persoalan tersebut:
“Dia seharusnya mengikutkan saja tulisannya
dalam kontes, dan sekalipun ditolak, itu bukan masalah. Kalau melakukannya, dia
mungkin akan berkembang, atau menemukan bahwa sebaiknya dia mengejar sesuatu
yang berbeda. Apa pun hasilnya, dia bisa terus melangkah. Itulah yang dimaksud
dengan ubah gaya hidupmu saat ini”.
Itulah dzikir orang Jepang. Dia tidak hanya
sebatas "dzakara-yadzkuru-dzikran" fi lisan, tapi juga langsung pada fil
af’al atau perbuatan. Ia tidak hanya dalam bentuk imajinasi, tapi
diwujudkan dalam aksi. Sebab sebuah karya butuh kepastian, bukan janji-janji
manis.
Dulu saya mempunyai teman seorang laki-laki
yang wajah nya cukup tradisional. Banyak kekurangan. Postur tubuh banyak
minusnya. Dompet nya tebal, tapi isinya tidak ada. kendaraan sepeda ontel,
tidak punya celana panjang. Kemana-mana selalu pakai sarung. Namun saya kagum
sama teman ku. Dia dengan segala kekurangan terus “jadda wa jadda”. Ia selalu
mengetuk pintu. Maksud nya pintu hati seorang gadis yang sangat cantik.
Sang gadis stress. Saking stress, ia
minggat ke Bandung selama satu bulan. Namun akhirnya ia pun kembali ke rumah. Ada
keraguan dan kemalasan menerima lamaran pemuda tradisional tadi. Ia menerima
nya dalam kebimbangan.
Walhasil, setelah menikah berjalan beberapa
bulan, Wanita cantik tersebut cocok dengan pemuda berkulit hitam, bersepeda
ontel, dan selalu memakai sarung. Karena memang dia tidak punya celana panjang.
Kerja hariannya “nderes kelapa” atau membuat gula kelapa atau gula
merah.
Wanita cantik berubah menjadi seorang istri sholehah. Anaknya banyak.
Saya tidak tahu persis apa yang membuat wanita itu menjadi sangat bahagia. Apa gara-gara
suaminya hanya punya sarung. Masih misteri.
Amma ba’du,
Orang Jepang berfikir sangat simpel. Tapi punya
keyakinan kuat. Berjalan cepat wujud dari kekuatan jiwa atas segala keputusan yang
ia lakukan.
Islam jelas mengajarkan tentang kekuatan hati
yang sebenarnya bisa memberkahi seluruh tubuh melalui pemantapan dzikrullah
atau senantiasa mengingat kepada allah swt.
Jika kita memperhatikan proses dzikir, ada
tiga macam yaitu: dzikir jali, dzikir khafi, dan dzikir hakiki. Pertama,dzikir
jali merupakan dzikir pada ucapan yang mengandung pujian dan syukur atas
nikmat yang telah diberikan allah kepada kita. ada dzikir yang telah disebutkan
dalam al-qur’an dan hadist. Kita tinggal mengamalkannya. Ada dzikir yang
terikat oleh waktu dan tempat seperti dzikir dalam sholat, sebelum tidur,
setelah tidur, sebelum makan atau sesudah makan dan lain-lain. ada dzikir yang
tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kapan-kapan bisa dzikir seperti menyebut
lafadz “Allah”, “Allah”,”Allah”. Anda berada di Terminal, di Bandara, atau di Pesawat
Terbang, gunakan mulutnya untuk dzikir. Kedua, dzikir khafi, yaitu
dzikir hamba Allah dalam keheningan meskipun ia berada dalam alam keramaian. Hamba
tersebut selalu senang dan asyik saat menyebut-Nya dan merasakan kehadiran-nya
dekat dengan-nya. ketiga, dzikir hakiki, yaitu seluruh dhohir dan batin tubuh
nya telah berdzikir semua nya. sudah tidak ada celah bisikan-bisikan atau
fenomena alam yang mempengaruhi dirinya akan kecintaan kepada-nya. sabar dan
syukur adalah baju kebesaran yang terbaik. Pada dirinya ada kesaradan total,
bahwa yang dilihat benar-benar berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Anda mungkin mempunyai pandangan tentang
dzikir tersendiri dan telah melalangbuana merambah jalan-jalan menuju
keridhaan-Nya. Ada beragam metode untuk mencapai derajat teragung tersebut.
Buah dari dzikir dalam kehidupan antara
lain kekuatan batin menghadapi hidup atau mewujudkan suatu cita-cita yang kita
inginkan dalam kehidupan dunia. Sebab formalitas kehidupan dunia memang harus
dilalui dan berharap menghasilkan buah berupa kesukesan.
Jika orang Jepang mempunyai konsistensi
antara ucapan dan perbuatan bisa berhasil seperti saat sekarang ini, maka kita
sebagai orang yang mempunyai sandaran kuat kepada Allah seharusnya mempunyai
nilai plus dalam kesuksesan di dunia.
Tapi kenapa buah kesukesan belum terlihat? Bisa
jadi, ucapan dan perbuatan kita belum konsisten. Masih ragu-ragu. Dzikir kita
juga mungkin sudah ada kenikmatan spiritual tapi belum mampu menggerakan dhohiriyah
tubuh kita.
Idealnya dalam konteks sosial, dzikir seharusnya
menjadi spirit untuk melakukan perubahan sosial. Sebab dzikrullah itu selain
berfungsi untuk memperkuat keimanan dan mahabah kita kepada Allah, juga sebagai
bagian dari misi besar agama Islam yaitu rahmat semesta alam. Salah satu indikatornya,
umat Islam menjadi uswatun hasanah. Bukan hanya pada perilaku, tapi juga
pada karya nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872