
Sampai hari ini Viki anak saya yang
sedang kuliah di UIN Walisongo tidak tahu pilihan capres orang tuanya. Saat
hari pencoblosan, dia menelpon umi nya, dan bertanya tentang siapa
capres-cawapres pilihannya. Umi nya malah “acah-acah” menjawabnya. Ia
tidak mau memberikan jawaban yang serius kepada anaknya.
Kami memang sepakat untuk menerapkan
sistem "luber"; langsung,bebas dan rahasia. Bahkan saat
ibu-ibu tetangga bicara tentang pilihan capres masing-masing, istri saya setia
menjadi pendengar yang baik dan tidak buka suara tentang capres pilihannya.
Padahal sudah mencoblos. Mungkin istri saya masih mengenang masa lalu saat menjadi
pengantin baru. Ia membayangkan TPS sebagai kamar pengantin. Sangat menikmatinya
dan tidak berhak orang mengetahui kenikmatan tersebut. Selesai mencoblos, ia
keluar bilik TPS dan tersenyum menyapa orang yang sedang antri, lalu ia pun
pulang ke Rumah. Kedua, bisa juga istri saya sedang menerapkan "ilmu
rasa", yaitu menjaga perasaan tetangga yang berbeda pilihan. Padahal
dalam alam demokrasi, semua sah-sah saja mengungkapkan isi hatinya. Tapi ia
tidak mau melakukannya. Sikap orang mempunyai keberagaman merefleksikan
kecintaan kepada pilihannya. Ia memilih hak berdemokrasi untuk merasahasiakan
pilihannya.
Kadang kita menemukan pendukung fanatik yang seolah-olah
"mati-urip' untuk capres. Capres laksana ruh nya, Mereka jasad nya.
Ruh dan jasad harus menyatu, itu sebab nya mempertahankan marwah capres laksana
menjaga marwah keluarga karena rebutan warisan. Ucapan dan perbuatan "los","blong"
sudah tidak lagi terkontrol. Jika menemukan pendukung model seperti ini, bisa
membahayakan. Maka, satu satunya jalan untuk menjaga keharmonisan bertetangga,
istri saya merahasiakan pilihan capres sampai detik ini saat saya menulis
artikel ini pada jam 06.39 WIB.
Namun ada kejadian unik di forum ibu-ibu. Pasca pencoblosan, mereka melakukan rapat akbar di bawah pohon mangga. Ada yang pakai jilbab, ada juga berdaster dan rambut dibiarkan terurai, ada juga yang memakai celana ketat seperti aktivis. Mereka berkumpul membentuk lingkaran seperti perjanjian meja bundar. Mereka ribut. Persoalan sepele, yaitu hasil quick count di
luar negeri yang beredar di berbagai media sosial. Pendukung 01 bilang
anies-muhaimin menang. Pendukung 02 bilang prabowo-gibran menang. Hal yang sama
juga pendukung 03, ganjar-mahfudz menang. Mereka hampir ribut sampai lupa masak
dan mencuci baju. Bahkan ada yang lupa naruh anak nya. Ketika istri bertanya
kepadaku,saya jawab:"hoax semua". Istriku tambah bingung" Jadi
data yang benar mana?". Saya pun menjawab:"Data yang benar, sekarang
telah terjadi kelaparan besar-besaran". Istri tambah bingung:"Apa
hubungannya dengan quick count?". Saya jawab:"Ada,gara gara istri
sibuk bicara pilpres sampai lupa masak". Istri pun tertawa dan mencubit
tanganku.
Pilpres memang membuat denyut
jantung tidak normal. Emosi naik dan kadang tidak terkontrol. Ucapan yang halus
terkadang berubah menjadi kasar. Semua ini adalah penyakit dadakan, dalam 5 tahun sekali. Karena durasi yang lama, wajar
sekali jika kemudian terjadi perubahan siklus hidup yang ",tidak
normal" untuk sementara waktu. Siklus ini secara pelan-pelan akan berubah
dan akan berhenti. Namun kembali bisa kambuh pada situasi-situasi tertentu. Ada
kenangan yang sulit dilupakan oleh mereka.
Quick count merupakan penghitungan
cepat dengan pendekatan metode ilmiah. Tentu ada human error. Seperti
dokter memeriksa pasien yang dengan indikator-indikator tertentu, lali
menyimpulkan bahwa sang pasien telah terjadi demam tinggi dan harus masuk rawat
inap. Meskipun sudah kasih obat penurun
panas, dan berhasil turun, tapi pasien masih saja mengigau . Sakit belum juga
sembuh. Ketika pagi hari ada seorang dokter laki-laki yang agak sedikit khoriqul
'adat, memeriksa pasien tersebut sambil merokok, ia melihat ada tanda tanda
pasien yang sedikit aneh. Kening nya berkeringat. Lalu dokter pun
bertanya," Kamu ingin rokok?",tanya dokter. Pasien pun mengangguk.
Lalu kedua nya pun merokok. Kening pasien dan tubuh nya mulai mengeluarkan
keringat. Wajah pelan-pelan mulai tidak pucat lagi. Dokter tersenyum dan
bertanya:"Kamu biasa merokok ya". Pasien tersenyum mengangguk, dan ia
mengatakan sudah berhenti selama tiga bulan. "Kenapa berhenti
merokok?" Tanya dokter. Pasien tadi menjawab kronologis berhenti karena
mengikuti saran istri agar mengikuti pola hidup sehat. Istri tidak salah karena
ingin punya suami yang sehat dan bugar. Tapi gara-gara itu, suaminya tertekan
jiwanya. Jiwa nya jadi sakit, lama lama mempengaruhi daya tahan tubuh semakin lemah.
Akhirnya jatuh sakit.
Dokter tidak salah memutuskan pasien
tentang sakit ini itu,lalu memberi resep dengan keilmuannya. Seandainya tidak
atau belum sembuh, wilayah ini dokter tidak ikut campur tangan. Dokter hanya
sebatas mempraktekan dunia ilmiah tentang proses penyembuhan. Semua tetap Alloh
yang menentukan. Tapi proses itu harus dilalui sebagai wujud ikhtiar ilmiah
untuk menyembuhkan penyakit. Meskipun faktanya,ada doktor ahli jantung mati
karena serangan jantung ada,dokter spesialis gigi sudah menggunakan gigi palsu.
Quick count sebenarnya membantu proses
demokrasi tentang kehendak mayoritas. Meskipun disisi lain dianggap sebagai
jalan penggiringan opini. Kedua pandangan ini selalu saja tampil dalam diskusi
publik. Sebab ruang demokrasi adalah ruang perbedaan dan memutuskan mayoritas
kesamaan sebagai pemenang dengan tetap menempatkan minoritas ditempat yang
mulia dan terhormat. Dari sini sebenarnya, menyikapi hasil quick count biasa
biasa saja. Kita harus belajar berdamai dengan keberagaman di depan layar
televisi sambil minum kopi, merokok, atau apa saja. Quick count mengajarkan
kita untuk bisa melihat realita bahwa Tuhan selalu menampilkan keputusan
keputusan yang berbeda,dan kita dilatih untuk menyadari dan menerima
keputusan-Nya dengan ikhlas.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876