Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Efek Quick Count di Forum Ibu-Ibu



Kamis , 15 Februari 2024



Telah dibaca :  842

Sampai hari ini Viki anak saya yang sedang kuliah di UIN Walisongo tidak tahu pilihan capres orang tuanya. Saat hari pencoblosan, dia menelpon umi nya, dan bertanya tentang siapa capres-cawapres pilihannya. Umi nya malah “acah-acah” menjawabnya. Ia tidak mau memberikan jawaban yang serius kepada anaknya.

Kami memang sepakat untuk menerapkan sistem "luber"; langsung,bebas dan rahasia. Bahkan saat ibu-ibu tetangga bicara tentang pilihan capres masing-masing, istri saya setia menjadi pendengar yang baik dan tidak buka suara tentang capres pilihannya. Padahal sudah mencoblos. Mungkin istri saya masih mengenang masa lalu saat menjadi pengantin baru. Ia membayangkan TPS sebagai kamar pengantin. Sangat menikmatinya dan tidak berhak orang mengetahui kenikmatan tersebut. Selesai mencoblos, ia keluar bilik TPS dan tersenyum menyapa orang yang sedang antri, lalu ia pun pulang ke Rumah. Kedua, bisa juga istri saya sedang menerapkan "ilmu rasa", yaitu menjaga perasaan tetangga yang berbeda pilihan. Padahal dalam alam demokrasi, semua sah-sah saja mengungkapkan isi hatinya. Tapi ia tidak mau melakukannya. Sikap orang mempunyai keberagaman merefleksikan kecintaan kepada pilihannya. Ia memilih hak berdemokrasi untuk merasahasiakan pilihannya.

Kadang  kita menemukan pendukung fanatik yang seolah-olah "mati-urip' untuk capres. Capres laksana ruh nya, Mereka jasad nya. Ruh dan jasad harus menyatu, itu sebab nya mempertahankan marwah capres laksana menjaga marwah keluarga karena rebutan warisan. Ucapan dan perbuatan "los","blong" sudah tidak lagi terkontrol. Jika menemukan pendukung model seperti ini, bisa membahayakan. Maka, satu satunya jalan untuk menjaga keharmonisan bertetangga, istri saya merahasiakan pilihan capres sampai detik ini saat saya menulis artikel ini pada jam 06.39 WIB.

Namun ada kejadian unik di forum ibu-ibu. Pasca pencoblosan, mereka melakukan rapat akbar di bawah pohon mangga. Ada yang pakai jilbab, ada juga berdaster dan rambut dibiarkan terurai, ada juga yang memakai celana ketat seperti aktivis.  Mereka berkumpul membentuk lingkaran seperti perjanjian meja bundar. Mereka ribut. Persoalan sepele, yaitu hasil quick count di luar negeri yang beredar di berbagai media sosial. Pendukung 01 bilang anies-muhaimin menang. Pendukung 02 bilang prabowo-gibran menang. Hal yang sama juga pendukung 03, ganjar-mahfudz menang. Mereka hampir ribut sampai lupa masak dan mencuci baju. Bahkan ada yang lupa naruh anak nya. Ketika istri bertanya kepadaku,saya jawab:"hoax semua". Istriku tambah bingung" Jadi data yang benar mana?". Saya pun menjawab:"Data yang benar, sekarang telah terjadi kelaparan besar-besaran". Istri tambah bingung:"Apa hubungannya dengan quick count?". Saya jawab:"Ada,gara gara istri sibuk bicara pilpres sampai lupa masak". Istri pun tertawa dan mencubit tanganku.

Pilpres memang membuat denyut jantung tidak normal. Emosi naik dan kadang tidak terkontrol. Ucapan yang halus terkadang berubah menjadi kasar. Semua ini adalah penyakit dadakan, dalam  5 tahun sekali. Karena durasi yang lama, wajar sekali jika kemudian terjadi perubahan siklus hidup yang ",tidak normal" untuk sementara waktu. Siklus ini secara pelan-pelan akan berubah dan akan berhenti. Namun kembali bisa kambuh pada situasi-situasi tertentu. Ada kenangan yang sulit dilupakan oleh mereka.

Quick count merupakan penghitungan cepat dengan pendekatan metode ilmiah. Tentu ada human error. Seperti dokter memeriksa pasien yang dengan indikator-indikator tertentu, lali menyimpulkan bahwa sang pasien telah terjadi demam tinggi dan harus masuk rawat inap. Meskipun  sudah kasih obat penurun panas, dan berhasil turun, tapi pasien masih saja mengigau . Sakit belum juga sembuh. Ketika pagi hari ada seorang dokter laki-laki yang agak sedikit khoriqul 'adat, memeriksa pasien tersebut sambil merokok, ia melihat ada tanda tanda pasien yang sedikit aneh. Kening nya berkeringat. Lalu dokter pun bertanya," Kamu ingin rokok?",tanya dokter. Pasien pun mengangguk. Lalu kedua nya pun merokok. Kening pasien dan tubuh nya mulai mengeluarkan keringat. Wajah pelan-pelan mulai tidak pucat lagi. Dokter tersenyum dan bertanya:"Kamu biasa merokok ya". Pasien tersenyum mengangguk, dan ia mengatakan sudah berhenti selama tiga bulan. "Kenapa berhenti merokok?" Tanya dokter. Pasien tadi menjawab kronologis berhenti karena mengikuti saran istri agar mengikuti pola hidup sehat. Istri tidak salah karena ingin punya suami yang sehat dan bugar. Tapi gara-gara itu, suaminya tertekan jiwanya. Jiwa nya jadi sakit, lama lama mempengaruhi daya tahan tubuh semakin lemah. Akhirnya jatuh sakit.

Dokter tidak salah memutuskan pasien tentang sakit ini itu,lalu memberi resep dengan keilmuannya. Seandainya tidak atau belum sembuh, wilayah ini dokter tidak ikut campur tangan. Dokter hanya sebatas mempraktekan dunia ilmiah tentang proses penyembuhan. Semua tetap Alloh yang menentukan. Tapi proses itu harus dilalui sebagai wujud ikhtiar ilmiah untuk menyembuhkan penyakit. Meskipun faktanya,ada doktor ahli jantung mati karena serangan jantung ada,dokter spesialis gigi sudah menggunakan gigi palsu.

Quick count sebenarnya membantu proses demokrasi tentang kehendak mayoritas. Meskipun disisi lain dianggap sebagai jalan penggiringan opini. Kedua pandangan ini selalu saja tampil dalam diskusi publik. Sebab ruang demokrasi adalah ruang perbedaan dan memutuskan mayoritas kesamaan sebagai pemenang dengan tetap menempatkan minoritas ditempat yang mulia dan terhormat. Dari sini sebenarnya, menyikapi hasil quick count biasa biasa saja. Kita harus belajar berdamai dengan keberagaman di depan layar televisi sambil minum kopi, merokok, atau apa saja. Quick count mengajarkan kita untuk bisa melihat realita bahwa Tuhan selalu menampilkan keputusan keputusan yang berbeda,dan kita dilatih untuk menyadari dan menerima keputusan-Nya dengan ikhlas.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876