Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Eko Ari, seorang Konsultan yang Penganut Sufi Kontemporer



Jumat , 18 Agustus 2023



Telah dibaca :  936

Jam 06.30 saya ke Bandara Sultan Syarif Qasim ditemani mas Rian. Dia kader Ansor yang sedang mengambil program magister sosiologi di Universitas Riau. Pemuda asli  rohil, anak melayu dan sangat sopan. Sama orang tua cium tangan. Mirip para santri di pesantren. Ternyata status sebagai mahasiswa magister tidak menghalangi untuk bersikap “andap asor” kepada orang yang lebih tua. Saya jadi ingat pesan para ulama dulu, katanya” adab lebih tinggi daripada ilmu”. nabi bersabda, “saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Saat saya di pesantren, ada ustadz sangat ekstrem menekankan adab. Kata nya, laisa al-adab ka dubab”( tidak punya etika seperti lalat).

Pertama mendengar kalimat ini saya tersenyum. membayangkan kelaku lalat. Dulu, saat masih “unyu-unyu” dan lagi proses “pedekate” atau ta’aruf sama cewek, pernah ngobrol sambil makan bakso di warung pinggir jalan. Setiap ngobrol, lalat selalu “kiter-kiter” dan “nemplok” di kepala. Kadang di hidung, di telinga, dan di pipi. Ngobrol jadi kuranag konsentrasi. Gara-gara kelaku lalat, saya jadi sedikit minder. Padahal saya sudah mengikrarkan diri bahwa “dunia hanya milik kita berdua”, yang lain ngontrak. Gara-gara kelaku lalat, saya jadi merasa ikut ngontrak. Sampai teman saya tertawa cekikikan, “Mas, besok-besok kalau mau kencan, mandi dulu, pakai minyak wangi. Jangan pakai “jlantah”.

Setelah sampai di Bandara, dia permisi karena ada kegiatan yang harus diselesaikan. Sudah mulai sibuk menyusun Tesis. Saya tanya kajian tesisnya. Katanya sedang melakukan penelitian para pedagang pasar di kota Pekanbaru.

Saya lihat e-tiket. Jadwal take off ke Jakarta jam 08.15. Masih ada waktu sekita satu jam. Di dekat ruang tunggu cek in, saya berkenalan dengan seorang bapak. Rambut samping kanan-kiri sudah memutih. Memakai topi sudah lusuh. Namannya Eko Ari. Asli magelang. Umur 52 tahun. Penampilan sangat bersahaja. Mirip Saya seorang petani atau pedangang atau tukan kayu bangunan. Setelah mengobrol cukup panjang, ternyata dia seorang konsultan senior. Sudah lama menjadi konsultan. Sekitar tahun 1996. Kini lagi dapat tender di disnaker. Setelah saya korek lebih mendalam, sudah sangat banyak dinas pemerintah dan dan perusahaan yang menggunakan jasa nya. setelah ngobrol tentang pekerjaannya, kelihatan sangat amanah dan professional. Hanya saja, penampilannya tidak necis. Low profil. Lebih terkesan “slengekan”. Jangan-jangan waliyulloh yang sedang menyamar.

“Anak berapa pak” tanya ku ketika sudah duduk bersebelahan di ruang tunggu.

“Tiga. Anak pertama perempuan sudah lulus teknik sipil di ITB. Anak kedua juga perempuan, lulusan Undip. Ketiga laki-laki juga di ITB” kata Pak Eko.

Dia bertanya kepadaku berapa jumlah anak. Saya jawab bahwa dari istri pertama anak berjumlah empat. Anak pertama sedang kuliah di UIN Walisongo. Anak kedua dan ketiga masih SD, dan keempat masih TK besar.

“Istri kedua berapa anak pak Imam?” tanya dia lagi.

“Istri saya satu pak” jawabku tersenyum.

“Lhoo, tadi katanya istri pertama punya empat anak, berarti ada istri kedua donk..” kelakarnya.

Suasana pagi itu jadi sangat cair. Penuh dengan gurauan. Sebelumnya yang masih terlihat sedikit kaku dan formalitas, berubah seolah-olah sudah menjadi sahabat akrab yang sudah kenal cukup lama. Bahkan dia tidak segan-segan menceritakan persoalan anak-anak nya yang belum menikah sampai pada pekerjaan yang fluktuatif.

 “Anda suami yang hebat pak” kataku

Dia tersenyum. namun kelihatanya masih ada tugas yang belum selesai. Saya tunggu apa yang ingin disampaikan selanjutnya.

“ Benar, dilihat dari pendidikan, anak-anaku sudah mendapatkan pendidikan terbaik. Tapi masih ada yang kurang. Anak pertama dan kedua perempuan. Tapi mereka belum menikah. Anak pertama berumur 28 tahun. Anak kedua berumur 25 tahun”, keterangannya.

Saya tidak bisa memberi komentar tentang masalah ini. saya diam dan tersenyum. lalu dia pun menunjukan kepadaku foto-foto anaknya. Cantik-cantik dan cerdas-cerdas.

Saya jadi mikir, apa gara-gara saya ngomong “istri pertama”, lalu dia kepikiran anak-anak nya. Jika itu sinyal menawarkan kepadaku, jelas tidak mungkin. Ganteng tidak, atletis tidak, kantong saku sering kosong iya. Saya merasa tidak perfek “babar blas”.tapi memang di dunia tidak ada yang sempurna kok. Hanya Allah yang sempurna. Jika mencari pasangan yang sempurna, tidak akan menemukan. Sebab kesempurnaan wujud dari penyatuan yang tidak sempurna dan saling menerima. Bukankah demikian?

“Saya percaya, Tuhan akan memberikan jalan terbaiik untuk anak-anakku” kata pak eko.

Saya mengamini doa dan harapanya. dia pun menceritakan kehidupan yang penuh lika-liku. Ada tawa dan tangis. Jatuh bangun menjadi seorang konsultan. Sudah banyak perusahaan dan instansi yang menggunakan jasanya. Tapi ada juga yang tidak sesuai harapan. Human eror. Kadang dihianati oleh rekan kerja. Kadang juga jatuh terpuruk sampai di ke jurang kegagalan yang sangat dalam.

“Saya selalu percaya pertolongan Sang Maha Kuasa” kata nya penuh keyakinan.

Saya melihat raut wajah nya. Sorotan mata nya tajam. Ini bukti mempunyai keyakinan yang mendalam terhadap pertolongan Sang Pencipta.

“Hidup tidak perlu iri kepada orang lain, rezeki tidak tertukar” kata nya.

Saya mengangguk pertanda setuju atas pendapatnya. Karena dia melihat saya yang dianggap lebih mengetahui tentang agama, dia meminta kepadaku untuk memperkuat dan menjelaskan tentang hakikat rezeki. Saya mengatakan begini kepadanya:

“Pak eko, saya salut kepada mu. Anda mendapatkan pendidikan umum, tapi pemahaman agama sangat baik. Anda telah memahami tengan konsep hidup “sangkan paraning dumadi”, darimana manusia dan akan kemana dia kembali. Kita sering disibukan dengan persaingan yang tidak sehat. Saling menjegal, saling fitnah, saling membuka aib dan menjatuhkan karir orang lain. tujuanya agar kehormatan, rezeki, dan kemulyaan pindah kepada kita. Padahal semua sudah diberikan sesuai porsi masing-masing. Jika jatah kita, maka tidak tertukar kepada orang lain, sebagaimana jatah orang lain tidak tertukar kepada kita.”

Pak eko mengangguk. Dia kemudian menceritakan suatu peristiwa saat mendapatkan proyek. Menurut nya proyek itu memberi untung luarbiasa. Ratusan juta. Setelah berjalan, ada suatu peristiwa yang tidak diharapkan oleh nya. Proyek gagal. Bukann untung. Malah harta nya ludes. Simpanan duitnya habis. Harta berharga pun dijual untuk menutup hutang-hutangnya. Meskipun demikian, dia tidak menampakan kesedihan dihadapan istri dan anak-anak nya. seolah-olah tidak ada apa-apa. Tetap enjoy.

“Saat saya dalam keterpurukan, pertolongan Allah datang. Saat mobil dan Honda saya jual untuk menutup hutang-hutangku, saya malah di pinjami mobil. Lalu, saya juga mendapatkan pekerjaan. Biasanya setiap kerja, pembayaran di berikan di akhir pekerjaan. Tapi saat itu, uang justru diberikan sebelum saya kerja. Nilai nya sekitar 250 juta. Ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat besar kepadaku” katanya. Saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca mengenang peristiwa itu.

“Mulai saat itu, hati dan pikiran saya terbuka. Pertolongan Allah itu nyata. Rezeki di bagi sesuai dengan takaranya juga nyata. Maka saya tidak pusing, tidak iri terhadap rezeki yang diberikan kepada orang lain” katanya menambahkan..

Saya pun diam. Saya merenung diri. Saya merasa, bahwa ilmu saya belum sampai ke tingkat tersebut. saya ternyata masih amatir. Penyakit hati masih sering bersarang dan berkarat di hati. Duhai Allah yang maha pengampun, kuatkan diriku menjadi orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk dari-Mu dan selalu mendapatkan rahmat-Mu agar bisa berjalan sesuai dengan perintah-Mu.

Hotel Vertu Harmoni, Jakarta Pusat, 18 Agustus 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879