
Jam 06.30 saya ke Bandara Sultan Syarif Qasim ditemani mas Rian. Dia kader Ansor yang sedang mengambil program magister
sosiologi di Universitas Riau. Pemuda asli
rohil, anak melayu dan sangat sopan. Sama orang tua cium tangan. Mirip para
santri di pesantren. Ternyata status sebagai mahasiswa magister tidak menghalangi
untuk bersikap “andap asor” kepada orang yang lebih tua. Saya jadi ingat pesan
para ulama dulu, katanya” adab lebih tinggi daripada ilmu”. nabi bersabda, “saya
diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Saat saya di pesantren, ada ustadz sangat
ekstrem menekankan adab. Kata nya, laisa al-adab ka dubab”( tidak punya etika
seperti lalat).
Pertama mendengar kalimat ini saya
tersenyum. membayangkan kelaku lalat. Dulu, saat masih “unyu-unyu” dan lagi
proses “pedekate” atau ta’aruf sama cewek, pernah ngobrol sambil makan bakso di
warung pinggir jalan. Setiap ngobrol, lalat selalu “kiter-kiter” dan “nemplok”
di kepala. Kadang di hidung, di telinga, dan di pipi. Ngobrol jadi kuranag
konsentrasi. Gara-gara kelaku lalat, saya jadi sedikit minder. Padahal saya
sudah mengikrarkan diri bahwa “dunia hanya milik kita berdua”, yang lain ngontrak.
Gara-gara kelaku lalat, saya jadi merasa ikut ngontrak. Sampai teman saya
tertawa cekikikan, “Mas, besok-besok kalau mau kencan, mandi dulu, pakai minyak
wangi. Jangan pakai “jlantah”.
Setelah sampai di Bandara, dia permisi
karena ada kegiatan yang harus diselesaikan. Sudah mulai sibuk menyusun Tesis. Saya
tanya kajian tesisnya. Katanya sedang melakukan penelitian para pedagang pasar
di kota Pekanbaru.
Saya lihat e-tiket. Jadwal take off
ke Jakarta jam 08.15. Masih ada waktu sekita satu jam. Di dekat ruang tunggu
cek in, saya berkenalan dengan seorang bapak. Rambut samping kanan-kiri sudah
memutih. Memakai topi sudah lusuh. Namannya Eko Ari. Asli magelang. Umur 52
tahun. Penampilan sangat bersahaja. Mirip Saya seorang petani atau pedangang
atau tukan kayu bangunan. Setelah mengobrol cukup panjang, ternyata dia seorang
konsultan senior. Sudah lama menjadi konsultan. Sekitar tahun 1996. Kini lagi
dapat tender di disnaker. Setelah saya korek lebih mendalam, sudah sangat
banyak dinas pemerintah dan dan perusahaan yang menggunakan jasa nya. setelah
ngobrol tentang pekerjaannya, kelihatan sangat amanah dan professional. Hanya saja,
penampilannya tidak necis. Low profil. Lebih terkesan
“slengekan”. Jangan-jangan waliyulloh yang sedang menyamar.
“Anak berapa pak” tanya ku ketika sudah
duduk bersebelahan di ruang tunggu.
“Tiga. Anak pertama perempuan sudah lulus
teknik sipil di ITB. Anak kedua juga perempuan, lulusan Undip. Ketiga laki-laki
juga di ITB” kata Pak Eko.
Dia bertanya kepadaku berapa jumlah anak. Saya
jawab bahwa dari istri pertama anak berjumlah empat. Anak pertama sedang kuliah
di UIN Walisongo. Anak kedua dan ketiga masih SD, dan keempat masih TK besar.
“Istri kedua berapa anak pak Imam?” tanya
dia lagi.
“Istri saya satu pak” jawabku tersenyum.
“Lhoo, tadi katanya istri pertama punya
empat anak, berarti ada istri kedua donk..” kelakarnya.
Suasana pagi itu jadi sangat cair. Penuh dengan
gurauan. Sebelumnya yang masih terlihat sedikit kaku dan formalitas, berubah
seolah-olah sudah menjadi sahabat akrab yang sudah kenal cukup lama. Bahkan dia
tidak segan-segan menceritakan persoalan anak-anak nya yang belum menikah
sampai pada pekerjaan yang fluktuatif.
“Anda
suami yang hebat pak” kataku
Dia tersenyum. namun kelihatanya masih ada
tugas yang belum selesai. Saya tunggu apa yang ingin disampaikan selanjutnya.
“ Benar, dilihat dari pendidikan,
anak-anaku sudah mendapatkan pendidikan terbaik. Tapi masih ada yang kurang. Anak
pertama dan kedua perempuan. Tapi mereka belum menikah. Anak pertama berumur 28
tahun. Anak kedua berumur 25 tahun”, keterangannya.
Saya tidak bisa memberi komentar tentang
masalah ini. saya diam dan tersenyum. lalu dia pun menunjukan kepadaku
foto-foto anaknya. Cantik-cantik dan cerdas-cerdas.
Saya jadi mikir, apa gara-gara saya ngomong
“istri pertama”, lalu dia kepikiran anak-anak nya. Jika itu sinyal menawarkan
kepadaku, jelas tidak mungkin. Ganteng tidak, atletis tidak, kantong saku
sering kosong iya. Saya merasa tidak perfek “babar blas”.tapi memang di dunia
tidak ada yang sempurna kok. Hanya Allah yang sempurna. Jika mencari pasangan
yang sempurna, tidak akan menemukan. Sebab kesempurnaan wujud dari penyatuan
yang tidak sempurna dan saling menerima. Bukankah demikian?
“Saya percaya, Tuhan akan memberikan jalan
terbaiik untuk anak-anakku” kata pak eko.
Saya mengamini doa dan harapanya. dia pun
menceritakan kehidupan yang penuh lika-liku. Ada tawa dan tangis. Jatuh bangun
menjadi seorang konsultan. Sudah banyak perusahaan dan instansi yang
menggunakan jasanya. Tapi ada juga yang tidak sesuai harapan. Human eror.
Kadang dihianati oleh rekan kerja. Kadang juga jatuh terpuruk sampai di ke
jurang kegagalan yang sangat dalam.
“Saya selalu percaya pertolongan Sang Maha
Kuasa” kata nya penuh keyakinan.
Saya melihat raut wajah nya. Sorotan mata
nya tajam. Ini bukti mempunyai keyakinan yang mendalam terhadap pertolongan Sang
Pencipta.
“Hidup tidak perlu iri kepada orang lain,
rezeki tidak tertukar” kata nya.
Saya mengangguk pertanda setuju atas
pendapatnya. Karena dia melihat saya yang dianggap lebih mengetahui tentang
agama, dia meminta kepadaku untuk memperkuat dan menjelaskan tentang hakikat
rezeki. Saya mengatakan begini kepadanya:
“Pak eko, saya salut kepada mu. Anda
mendapatkan pendidikan umum, tapi pemahaman agama sangat baik. Anda telah
memahami tengan konsep hidup “sangkan paraning dumadi”, darimana manusia
dan akan kemana dia kembali. Kita sering disibukan dengan persaingan yang tidak
sehat. Saling menjegal, saling fitnah, saling membuka aib dan menjatuhkan karir
orang lain. tujuanya agar kehormatan, rezeki, dan kemulyaan pindah kepada kita.
Padahal semua sudah diberikan sesuai porsi masing-masing. Jika jatah kita, maka
tidak tertukar kepada orang lain, sebagaimana jatah orang lain tidak tertukar
kepada kita.”
Pak eko mengangguk. Dia kemudian
menceritakan suatu peristiwa saat mendapatkan proyek. Menurut nya proyek itu
memberi untung luarbiasa. Ratusan juta. Setelah berjalan, ada suatu peristiwa yang
tidak diharapkan oleh nya. Proyek gagal. Bukann untung. Malah harta nya ludes.
Simpanan duitnya habis. Harta berharga pun dijual untuk menutup
hutang-hutangnya. Meskipun demikian, dia tidak menampakan kesedihan dihadapan
istri dan anak-anak nya. seolah-olah tidak ada apa-apa. Tetap enjoy.
“Saat saya dalam keterpurukan, pertolongan
Allah datang. Saat mobil dan Honda saya jual untuk menutup hutang-hutangku,
saya malah di pinjami mobil. Lalu, saya juga mendapatkan pekerjaan. Biasanya setiap
kerja, pembayaran di berikan di akhir pekerjaan. Tapi saat itu, uang justru
diberikan sebelum saya kerja. Nilai nya sekitar 250 juta. Ini adalah sebuah
kepercayaan yang sangat besar kepadaku” katanya. Saya melihat matanya sedikit
berkaca-kaca mengenang peristiwa itu.
“Mulai saat itu, hati dan pikiran saya
terbuka. Pertolongan Allah itu nyata. Rezeki di bagi sesuai dengan takaranya
juga nyata. Maka saya tidak pusing, tidak iri terhadap rezeki yang diberikan
kepada orang lain” katanya menambahkan..
Saya pun diam. Saya merenung diri. Saya merasa,
bahwa ilmu saya belum sampai ke tingkat tersebut. saya ternyata masih amatir. Penyakit
hati masih sering bersarang dan berkarat di hati. Duhai Allah yang maha
pengampun, kuatkan diriku menjadi orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk
dari-Mu dan selalu mendapatkan rahmat-Mu agar bisa berjalan sesuai dengan
perintah-Mu.
Hotel Vertu Harmoni, Jakarta Pusat, 18
Agustus 2023
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879