Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Energi Cinta tak Pernah Padam dari Aristoteles hingga Rumi



Senin , 16 Desember 2024



Telah dibaca :  656

Seandainya Jalaludin Rumi (Tamami, 2024) duduk bersama ku di Teras Masjid Arafah, mungkin ia akan mengulang lagi salah satu kalimat ajaibnya: “ Perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada kata perpisahan”. Atau bisa jadi ia akan berkata lagi begini: “ Keakraban dan keramahan lahir bila jiwa kita jadi gembira”. Tapi ia tidak akan kembali lagi. Evolusi Alam Semesta akan terus terjadi. Tuhan menghancurkan seluruh sendi-sendinya menyatu dengan tanah. Badan Jalaludin Rumi telah hancur, tapi ia kekal karena karya-karyanya. Ia mati, tapi hidup. Ia mati tapi ia masih bisa tampil di mimbar-mimbar ceramah, di buku-buku, di Media Sosial dan menyinari alam semesta. Jika Jalaludin Rumi, Al-Ghozali, Al-Farabi, Al-Mawardi tidak menulis , dan tidak ada peristiwa kodifikasi Al-Qur’an dan Hadist, dunia gelap gulita dan penuh angkara murka. Untung Tuhan memberi kekuatan kepada Sebagian hamba-hamba Nya yang telah memberikan sebagian kenikmatan hidup untuk menulis, sehingga angkara murka sedikit bisa meredam saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat cinta yang ditampakan oleh Allah di Alam Semesta.

Tulisan tidak bicara. Melalui tulisan semua  bisa berbicara, tentang hidup, kasih sayang dan cinta. Saya menjadi teringat ketika orang tidak mengenal almaghfurlah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia adalah “basyarun mislukum”, manusia pada umum nya. Pada beberapa tahun kemudian ia menjadi manusia “laa roibafih”, berbeda dari kebanyak orang pada umum nya. Tulisan-tulisan yang terbit di Media Massa pada masanya dibaca banyak orang. Lintas suku, agama, dan budaya. Semakin hari, orang mencari dan memburut setiap tulisannya. masyhurun fi as-sama' wa fi al-ard. Orang pun mengenal seluruh hidupnya laksana “Pohon Cinta”. Semua orang berteduh di bawah nya. Angin sepoi-sepoi membuat seluruh suku, etnis dan agama merasa nyaman. Ia benar-benar menjadi rahmat semesta alam ke-Indonesia-an. Ia hanya sedikit menterjemahkan Islam sebagai rahmat semesta alam. Para ilmuwan masih buntu. Egoisme sektoral dalam hati yang paling dalam masih tumbuh. Keinginan menciptakan kedamaian tapi hati masih memegang kaidah “islam ya’ulu wala yu’la ‘alaihi” dalam pengertian sempit. Ingin rahmat, tapi masih melaknat. Ingin rahmatal lil ‘alaim, tapi masih berperilaku rahmatal lil muslimin. Ribet. Dan Gus Dur mampu mengurai konsep tersebut dengan bahagia dan semua merasa terhormat meskipun penyampaian nya kadang hanya dalam wujud canda tawa. Walaupun hanya “canda tawa”, dalam kamus kehidupan kaum sufi justru menunjukan tingkat kecerdasan level tinggi. Sebab kaum sufi sebelum tertawa ia sudah mentertawakan diri sendiri. Sehingga saat  mereka kumpul dan tertawa sebenarnya sedang mentertawan diri sendiri-sendiri secara bersama-sama. Itulah hikmah kehidupan.

Suatu hari Gus Dur (Wahid, Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar, Editor; Tri Agus S.Siswowiharjo, 2001) mengadakan seminar berkaitan dengan urgensi keberagaman agama di Indonesia. ketika sesi makan, ia duduk satu meja bersama para pemuka agama dari seluruh agama yang ada di Indonesia. ia pun mulai cerita seorang pendeta yang tersesat di hutan. Ceritanya kurang lebih begini:

“Dulu saat binatang bisa berbicara, ada seorang pendeta melakukan perjalanan jauh untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan. Perjalanan melintasi Hutan Rimba. Ia terus masuk ke dalam. Semakin gelap dan tidak tahu jalan keluarnya. Ia semakin takut. Tiba-tiba ada suara auman harimau. Ia pun terkejut dan menjerit. Sontak Harimau pun tahu kalau ada manusia. Harimau itupun mengejar dan ingin menerkamnya. Sang pendeta lari sekuat tenaga. Sialnya setelah lari sekuat tenaga, di depan nya ada jurang yang sangat dalam. Ia berhenti. Dilihat dibelakangnya, Harimau pun berhenti. Siap-siap menerkamnya. Sebagai orang yang beriman, Sang Pendeta pun berdoa sangat khusu kepada tuhan-nya agar ia selamat dari ancaman harimau. Setelah berdoa panjang lebar, ia mulai sadar bahwa dirinya belum di makan oleh Harimau. Batinnya berkata: “Doa ku dikabulkan oleh Tuhan”. Akhirnya dengan sangat percaya diri ia pun bertanya kepada Harimau yang sejak tadi duduk saja.

“Wahai Harimau, kenapa kaum duduk saja tidak menerkam ku” tanya pendeta memberanikan diri.

“Saya duduk karena saya sedang berdoa juga” jawab Harimau.

“Doa apa?” tanya pendeta heran.

“Doa makan” jawab Harimau.

Sontak seluruh pimpinan agama tersenyum mendengar ending cerita tersebut. mereka tertawa bahagia. Sebab mereka telah memahami bersama-sama bahwa setiap agama mempunyai regulasi sendiri untuk mencapai kebahagiaan sebagaimana yang mereka yakini. Islam sangat jelas menghormati kebahagiaan mereka: “Lakum dienukum wali yadien”.

Di era di gital, kemampuan menemukan keselarasan rasa sebenarnya semakin terbuka sebagaimana terbukanya arus informasi yang semakin transparan. Tapi karena terlalu transparan, terkadang malah tidak baik. Malah menjadi aib. Tujuan baik, malah tidak baik. Seperti sepasang suami-istri. Kita bisa menjaga rahasia pasangannya maka akan terlihat baik. Tapi saat bertengkar, maka rahasia menjadi terbuka. Semua diceritakan di depan pengadilan. Ada yang benar ada yang salah. Unsur kebencian menjadi dominan. Subyektifitas dan pembelaan tanpa rasa kasih sayang.

Apa jadinya jika kerukunan umat beragama dibangun bersama tapi pada saat yang sama seluruh rahasia mereka juga dibuka sama-sama. Semua akan terlihat boroknya. Lalu saling menjeleksan satu dengan lainnya. terus dan tidak akan selesai. energi benar-benar terkuras hanya untuk “metani” aib orang lain dan orang lain terus juga “ngitung-ngitung” aib kita sendiri. Seperti sebuah ruang pameran dan kita sedang dipamerkan dan dipertontonkan seluruh kejelekannya. Akhirnya, makna kebahagiaan pun menjadi kecut.

Apa yang harus dilakukan? Kita harus saling memberi baju takwa agar saudara-saudara kita tertutup auratnya. Terlepas berbeda suku dan agama, setiap manusia mempunyai perasaan sama. Ketika kita membantu atas dasar kemanusiaan dengan tulus, maka orang akan menyambutnya dengan riang gembira. Ia malah lupa agama kita, ia telah lupa suku kita. Mereka hanya mengingat kebaikan kita dan akan selalu mengenang sepanjang hayat. Jadi, jika agama mu telah menjadi identitas, maka amal kebaikan mu yang tulus menjadi baju kebesaran dalam merajut kebahagiaan bersama.

Memberi atau menciptakan kebahagiaan untuk orang lain sangat penting. seorang novelis yang mendapatkan Nobel Sastra, Han Kang berbicara tentang kekerasan dan cinta. Menurutnya cinta adalah benang emas yang menghubungkan antara hati kita. Dunia yang terlihat indah terkadang hadir menyakitkan. Dua hal yang kontradiktif hadir dalam dunia nyata: cinta dan kekerasan (Haas, 2024). Hanya dengan merealisasikan makna cinta, dunia semakin menjadi indah. Semua bersumber dari hati.

Orang-orang ahli kebajikan seperti Aristoteles menyakini mendidik hati berarti menanamkan rasa empati, pengertian, dan kebajikan. Ini adalah akar dari setiap tindakan baik dan benar. Seseorang yg hatinya terdidik akan selalu mempertimbangkan dampak dari tindakannya terhadap orang lain. Mereka akan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan, bukan hanya untuk keuntungan pribadi. Mereka memahami bahwa hidup tidak hanya tentang "mendapatkan", tetapi juga tentang "memberi". Inilah pendidikan sejati yang diinginkan oleh Aristoteles: pendidikan yang mengangkat manusia, bukan hanya sebagai makhluk cerdas, tetapi juga sebagai makhluk yg memiliki hati dan nilai moral.

Islam tentu sangat intens sekali membahas dan mempromosikan pentingnya  cinta yang tulus sebagai wujud kesucian hati. bahkan ia menjadi indikator utama. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Imam Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Syeikh Sholeh Al-Munajjid berkata: “Hati merupakan rajanya anggota badan dan sisanya adalah pasukannya. Maka bersama dengan hal ini, sebuah pasukan akan mengikuti rajanya, menjadi pengikutnya dalam kesetiaan, melaksanakan segala macam perintahnya, tidak menyelisihinya dalam segala macam perkara. Dengan demikian, jika tuannya dalam kebaikan maka pasukannya berada dalam kebaikan pula. Sedangkan apabila rajanya dalam keburukan maka pasukannya akan ikut dalam keburukan. Dan tiada sesuatu yang bermanfaat disisi Allah , melainkan hati yang selamat.”

Walhasil dari semua apa paparan di atas penulis bisa mendapatkan suatu pelajaran, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang tumbuh dari hati. Hati yang tulus berangkat dari kesadaran diri benar-benar mencintai Allah. Dan mencintai Allah secara tulus indikatornya, diri kita melihat semua hamba-hamba Allah dengan rasa kasih-sayang karena mencari ridha-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872