
Seandainya Jalaludin Rumi
Tulisan tidak bicara. Melalui tulisan
semua bisa berbicara, tentang hidup, kasih sayang dan cinta. Saya
menjadi teringat ketika orang tidak mengenal almaghfurlah K.H. Abdurrahman
Wahid (Gus Dur), ia adalah “basyarun mislukum”, manusia pada umum nya.
Pada beberapa tahun kemudian ia menjadi manusia “laa roibafih”, berbeda dari kebanyak orang pada umum nya. Tulisan-tulisan yang terbit di Media Massa pada
masanya dibaca banyak orang. Lintas suku, agama, dan budaya. Semakin hari,
orang mencari dan memburut setiap tulisannya. masyhurun fi as-sama' wa fi al-ard. Orang pun mengenal seluruh hidupnya laksana “Pohon Cinta”. Semua orang berteduh di bawah nya.
Angin sepoi-sepoi membuat seluruh suku, etnis dan agama merasa nyaman.
Ia benar-benar menjadi rahmat semesta alam ke-Indonesia-an. Ia hanya sedikit
menterjemahkan Islam sebagai rahmat semesta alam. Para ilmuwan masih buntu.
Egoisme sektoral dalam hati yang paling dalam masih tumbuh. Keinginan
menciptakan kedamaian tapi hati masih memegang kaidah “islam ya’ulu wala
yu’la ‘alaihi” dalam pengertian sempit. Ingin rahmat, tapi masih melaknat. Ingin
rahmatal lil ‘alaim, tapi masih berperilaku rahmatal lil muslimin.
Ribet. Dan Gus Dur mampu mengurai konsep tersebut dengan bahagia dan semua
merasa terhormat meskipun penyampaian nya kadang hanya dalam wujud canda tawa.
Walaupun hanya “canda tawa”, dalam kamus kehidupan kaum sufi justru menunjukan
tingkat kecerdasan level tinggi. Sebab kaum sufi sebelum tertawa ia sudah
mentertawakan diri sendiri. Sehingga saat
mereka kumpul dan tertawa sebenarnya sedang mentertawan diri
sendiri-sendiri secara bersama-sama. Itulah hikmah kehidupan.
Suatu hari Gus Dur
“Dulu saat binatang bisa berbicara, ada
seorang pendeta melakukan perjalanan jauh untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan.
Perjalanan melintasi Hutan Rimba. Ia terus masuk ke dalam. Semakin gelap dan
tidak tahu jalan keluarnya. Ia semakin takut. Tiba-tiba ada suara auman
harimau. Ia pun terkejut dan menjerit. Sontak Harimau pun tahu kalau ada
manusia. Harimau itupun mengejar dan ingin menerkamnya. Sang pendeta lari
sekuat tenaga. Sialnya setelah lari sekuat tenaga, di depan nya ada jurang yang
sangat dalam. Ia berhenti. Dilihat dibelakangnya, Harimau pun berhenti.
Siap-siap menerkamnya. Sebagai orang yang beriman, Sang Pendeta pun berdoa
sangat khusu kepada tuhan-nya agar ia selamat dari ancaman harimau. Setelah
berdoa panjang lebar, ia mulai sadar bahwa dirinya belum di makan oleh Harimau.
Batinnya berkata: “Doa ku dikabulkan oleh Tuhan”. Akhirnya dengan sangat
percaya diri ia pun bertanya kepada Harimau yang sejak tadi duduk saja.
“Wahai Harimau, kenapa kaum duduk saja
tidak menerkam ku” tanya pendeta memberanikan diri.
“Saya duduk karena saya sedang berdoa juga”
jawab Harimau.
“Doa apa?” tanya pendeta heran.
“Doa makan” jawab Harimau.
Sontak seluruh pimpinan agama tersenyum
mendengar ending cerita tersebut. mereka tertawa bahagia. Sebab mereka
telah memahami bersama-sama bahwa setiap agama mempunyai regulasi sendiri untuk
mencapai kebahagiaan sebagaimana yang mereka yakini. Islam sangat jelas
menghormati kebahagiaan mereka: “Lakum dienukum wali yadien”.
Di era di gital, kemampuan menemukan
keselarasan rasa sebenarnya semakin terbuka sebagaimana terbukanya arus
informasi yang semakin transparan. Tapi karena terlalu transparan, terkadang
malah tidak baik. Malah menjadi aib. Tujuan baik, malah tidak baik. Seperti
sepasang suami-istri. Kita bisa menjaga rahasia pasangannya maka akan terlihat
baik. Tapi saat bertengkar, maka rahasia menjadi terbuka. Semua diceritakan di
depan pengadilan. Ada yang benar ada yang salah. Unsur kebencian menjadi
dominan. Subyektifitas dan pembelaan tanpa rasa kasih sayang.
Apa jadinya jika kerukunan umat beragama
dibangun bersama tapi pada saat yang sama seluruh rahasia mereka juga dibuka
sama-sama. Semua akan terlihat boroknya. Lalu saling menjeleksan satu dengan
lainnya. terus dan tidak akan selesai. energi benar-benar terkuras hanya untuk “metani”
aib orang lain dan orang lain terus juga “ngitung-ngitung” aib kita
sendiri. Seperti sebuah ruang pameran dan kita sedang dipamerkan dan
dipertontonkan seluruh kejelekannya. Akhirnya, makna kebahagiaan pun menjadi kecut.
Apa yang harus dilakukan? Kita harus saling
memberi baju takwa agar saudara-saudara kita tertutup auratnya. Terlepas
berbeda suku dan agama, setiap manusia mempunyai perasaan sama. Ketika kita
membantu atas dasar kemanusiaan dengan tulus, maka orang akan menyambutnya
dengan riang gembira. Ia malah lupa agama kita, ia telah lupa suku kita. Mereka
hanya mengingat kebaikan kita dan akan selalu mengenang sepanjang hayat. Jadi,
jika agama mu telah menjadi identitas, maka amal kebaikan mu yang tulus menjadi
baju kebesaran dalam merajut kebahagiaan bersama.
Memberi atau menciptakan kebahagiaan untuk
orang lain sangat penting. seorang novelis yang mendapatkan Nobel Sastra, Han
Kang berbicara tentang kekerasan dan cinta. Menurutnya cinta adalah benang emas yang
menghubungkan antara hati kita. Dunia yang terlihat indah terkadang hadir
menyakitkan. Dua hal yang kontradiktif hadir dalam dunia nyata: cinta dan
kekerasan
Orang-orang ahli kebajikan seperti Aristoteles menyakini mendidik hati
berarti menanamkan rasa empati, pengertian, dan kebajikan. Ini adalah akar dari
setiap tindakan baik dan benar. Seseorang yg hatinya terdidik akan selalu
mempertimbangkan dampak dari tindakannya terhadap orang lain. Mereka akan
menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan, bukan hanya untuk keuntungan
pribadi. Mereka memahami bahwa hidup tidak hanya tentang
"mendapatkan", tetapi juga tentang "memberi". Inilah
pendidikan sejati yang diinginkan oleh Aristoteles: pendidikan yang mengangkat
manusia, bukan hanya sebagai makhluk cerdas, tetapi juga sebagai makhluk yg
memiliki hati dan nilai moral.
Islam tentu sangat intens sekali membahas dan mempromosikan pentingnya cinta yang tulus sebagai
wujud kesucian hati. bahkan ia menjadi indikator utama. Kanjeng Nabi Muhammad SAW
bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia
baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh
jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Imam Bukhari no. 52
dan Muslim no. 1599).
Syeikh Sholeh Al-Munajjid berkata: “Hati merupakan rajanya
anggota badan dan sisanya adalah pasukannya. Maka bersama dengan hal ini,
sebuah pasukan akan mengikuti rajanya, menjadi pengikutnya dalam kesetiaan,
melaksanakan segala macam perintahnya, tidak menyelisihinya dalam segala macam
perkara. Dengan demikian, jika tuannya dalam kebaikan maka pasukannya berada
dalam kebaikan pula. Sedangkan apabila rajanya dalam keburukan maka pasukannya
akan ikut dalam keburukan. Dan tiada sesuatu yang bermanfaat disisi Allah ﷻ, melainkan hati yang
selamat.”
Walhasil dari semua apa paparan di atas penulis bisa mendapatkan
suatu pelajaran, bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang tumbuh dari hati.
Hati yang tulus berangkat dari kesadaran diri benar-benar mencintai Allah. Dan
mencintai Allah secara tulus indikatornya, diri kita melihat semua hamba-hamba
Allah dengan rasa kasih-sayang karena mencari ridha-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872