
Selesai menulis materi kuliah untuk
pertemuan minggu ini, saya harus memenuhi kewajiban ku yaitu menulis catatan
harian. Mungkin yang akan saya catat sudah terlalu klasik, tapi bagiku terasa
sangat penting yaitu tentang rindu. Saya, anda dan kita pasti pernah mengalami
rasa rindu kepada sesuatu yang pernah ada kenangan indah di masa lalu. Rindu
sering membuat kita tersenyum, tertawa dan bahkan meneteskan air mata, betapa
rasa rindu ternyata mempunyai energi sangat kuat membuat diri kita kadang
meratapi masa lalu atau malah sebaliknya tumbuh semangat baru membuka lembaran
baru.
Seperti kisah seorang pengusaha yang telah
sukses teringat saat masa masa kecilnya. Saat ia duduk seorang diri, ia
teringat kenangan masa lalu. Ingat saat sang ayah mengambil rotan dan rotan
tersebut mengenai kaki atau pantatnya. Sakit, saat itu terasa sangat sakit. Waktu
itu kita merasa orang tua merasa sangat kejam. Sedikit-sedikit rotan. Sedikit
sedikit kena marah. Saat itu, rumah bagi kita tidak terasa asik. Hanya mushola
-kala itu-menjadi tempat yang paling aman dan nyaman. Kita bisa tidur dan
berkumpul dengan teman-teman senasib. Kita pun sama-sama: ngaji, main petak
umpet, mencari jangkrik di malam hari, atau sama-sama “ngluyur” ke
kampung tetangga karena ada hiburan “layar tancap” yang menampilkan film-film
klasik seperti film Bramakumbara, Suzana dan Dono Warkop.
Itu hiburan generasi yang lahir pada tahun
1980-an, bahkan juga generasi 70-an. Generasi yang hanya bisa menikmati hiburan
lewat radio dengan sandiwara terkenal kala itu “saur sepuh”, generasi yang
hanya hiburan berupa TV yang hanya warna hitam putih, yang punya hanya kepala
desa atau orang paling kaya di kampung tersebut. Saat itu, kami ramai-ramai
satu kampung kumpul di “balai”-rumah bagian depan- tetangga untuk nonton
hiburan seperti sepak bola, tinju, bulu tangkis. Ketiga jenis olah raga yang
sangat favorit kala itu. Namun kadang nontonya tidak sampai selesai karena keburu
Aki nya atau batere ABC nya habis. Dulu belum ada listrik, masih
menggunakan Aki atau Batere ABC.
Kini kisah TV jadul sudah tidak ada. juga
sudah mulai tidak ada lagi rotan di rumah-rumah sebagai benda paling angker di
rumah yang hanya melihat nya langsung anak-anak belajar, ngaji, dan senantiasa
berbakti kepada orang tua. Rotan sudah tidak ada lagi di rumah-rumah kita.
anak-anak generasi sekarang ini sudah tidak mengenal nya lagi. Mereka lebih
mengenal Iphone dan android. Mereka sangat fasih mencari kartun-kartun atau
permainan anak-anak di Tik Tok.
Saya terkadang merenung melihat wajah-wajah
mereka. Ada beragam rasa bersliweran dalam hati. Mereka hidup di masa yang
berbeda dari masa orang tua nya. Kadang berfikir sedikit pesimis. Jika generasi
dulu bisa menghadapi berbagai ujian hidup yang sangat dahsyat karena sejak
kecil sudah ditempa dengan segala kondisi kehidupan yang serba kekurangan dan
penderitaan, bagaimana anak-anak sekarang ini yang hampir proses kehidupannya
seolah-olah tidak menemukan kesusahan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah mereka
akan menjadi generasi yang siap menerima segala tantangan hidup yang semakin
sulit?.
Untuk menghibur diri, saya harus belajar
mengenal arti kehidupan. Setiap manusia hadir pada masing-masing zaman nya.
Orang dulu dibekali sesuai dengan bekal untuk hidup di masa depannya. Dan
generasi sekarang pun akan dibekali untuk masa depan mereka. Semua sudah ada
porsinya masing-masing. Sebagaimana porsi kebahagiaan dan penderitaan dari
setiap kurun waktu. Cerita bahagia dan sedih adalah cerita kehidupan manusia
sepanjang hayat.
Harapan kebahagiaan untuk anak dan
generasi mendatang memang suatu keharusan. Namun setiap kaum atau setiap bangsa
tidak terlepas dari hukum sosial dan akan melahirkan seleksi generasi baru, lalu kemudian musnah dalam periode tertentu. Semua sejarah peradaban manusia tersebut akan terus silih berganti dari generasi ke generasi selanjutnya.
Tentu saja harapan terbesar dari kerinduan
untuk generasi selanjutnya -anak-anak kita- yaitu mereka senantiasa selalu bersujud kepada Allah
dan senantiasa menebarkan rahmah kepada seluruh alam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874