Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Era Layar Tancap dan Es Krim



Minggu , 21 September 2025



Telah dibaca :  513

Selesai menulis materi kuliah untuk pertemuan minggu ini, saya harus memenuhi kewajiban ku yaitu menulis catatan harian. Mungkin yang akan saya catat sudah terlalu klasik, tapi bagiku terasa sangat penting yaitu tentang rindu. Saya, anda dan kita pasti pernah mengalami rasa rindu kepada sesuatu yang pernah ada kenangan indah di masa lalu. Rindu sering membuat kita tersenyum, tertawa dan bahkan meneteskan air mata, betapa rasa rindu ternyata mempunyai energi sangat kuat membuat diri kita kadang meratapi masa lalu atau malah sebaliknya tumbuh semangat baru membuka lembaran baru.

Seperti kisah seorang pengusaha yang telah sukses teringat saat masa masa kecilnya. Saat ia duduk seorang diri, ia teringat kenangan masa lalu. Ingat saat sang ayah mengambil rotan dan rotan tersebut mengenai kaki atau pantatnya. Sakit, saat itu terasa sangat sakit. Waktu itu kita merasa orang tua merasa sangat kejam. Sedikit-sedikit rotan. Sedikit sedikit kena marah. Saat itu, rumah bagi kita tidak terasa asik. Hanya mushola -kala itu-menjadi tempat yang paling aman dan nyaman. Kita bisa tidur dan berkumpul dengan teman-teman senasib. Kita pun sama-sama: ngaji, main petak umpet, mencari jangkrik di malam hari, atau sama-sama “ngluyur” ke kampung tetangga karena ada hiburan “layar tancap” yang menampilkan film-film klasik seperti film Bramakumbara, Suzana dan Dono Warkop.

Itu hiburan generasi yang lahir pada tahun 1980-an, bahkan juga generasi 70-an. Generasi yang hanya bisa menikmati hiburan lewat radio dengan sandiwara terkenal kala itu “saur sepuh”, generasi yang hanya hiburan berupa TV yang hanya warna hitam putih, yang punya hanya kepala desa atau orang paling kaya di kampung tersebut. Saat itu, kami ramai-ramai satu kampung kumpul di “balai”-rumah bagian depan- tetangga untuk nonton hiburan seperti sepak bola, tinju, bulu tangkis. Ketiga jenis olah raga yang sangat favorit kala itu. Namun kadang nontonya tidak sampai selesai karena keburu Aki nya atau batere ABC nya habis. Dulu belum ada listrik, masih menggunakan Aki  atau Batere ABC.

Kini kisah TV jadul sudah tidak ada. juga sudah mulai tidak ada lagi rotan di rumah-rumah sebagai benda paling angker di rumah yang hanya melihat nya langsung anak-anak belajar, ngaji, dan senantiasa berbakti kepada orang tua. Rotan sudah tidak ada lagi di rumah-rumah kita. anak-anak generasi sekarang ini sudah tidak mengenal nya lagi. Mereka lebih mengenal Iphone dan android. Mereka sangat fasih mencari kartun-kartun atau permainan anak-anak di Tik Tok.

Saya terkadang merenung melihat wajah-wajah mereka. Ada beragam rasa bersliweran dalam hati. Mereka hidup di masa yang berbeda dari masa orang tua nya. Kadang berfikir sedikit pesimis. Jika generasi dulu bisa menghadapi berbagai ujian hidup yang sangat dahsyat karena sejak kecil sudah ditempa dengan segala kondisi kehidupan yang serba kekurangan dan penderitaan, bagaimana anak-anak sekarang ini yang hampir proses kehidupannya seolah-olah tidak menemukan kesusahan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah mereka akan menjadi generasi yang siap menerima segala tantangan hidup yang semakin sulit?.

Untuk menghibur diri, saya harus belajar mengenal arti kehidupan. Setiap manusia hadir pada masing-masing zaman nya. Orang dulu dibekali sesuai dengan bekal untuk hidup di masa depannya. Dan generasi sekarang pun akan dibekali untuk masa depan mereka. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Sebagaimana porsi kebahagiaan dan penderitaan dari setiap kurun waktu. Cerita bahagia dan sedih adalah cerita kehidupan manusia sepanjang hayat.

Harapan kebahagiaan untuk anak dan generasi mendatang memang suatu keharusan. Namun setiap kaum atau setiap bangsa tidak terlepas dari hukum sosial dan akan melahirkan seleksi generasi  baru, lalu kemudian musnah dalam periode tertentu. Semua sejarah peradaban manusia tersebut akan terus silih berganti dari generasi ke generasi selanjutnya. 

Tentu saja harapan terbesar dari kerinduan untuk generasi selanjutnya -anak-anak kita- yaitu mereka senantiasa selalu bersujud kepada Allah dan senantiasa menebarkan rahmah kepada seluruh alam. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874