
Sebelum menulis artikel ini, saya terlebih
dahulu mengucapkan terima kasih kepada panitia dadakan dalam acara tersebut: Muhammad
Ilham, Aji, Nursal Efendi, Nurhadi, Made, Rahmat, Syahrizal dan beberapa teman
dari DEMA dan PETIK. Acara expo kemandirian pesantren dilaksanakan selama tiga
hari. Mulai tanggal 29-31 Oktober 2025.
Acara expo sedikit dramatis. Malam senin-malam
tanggal 27-saya ketemu pak Mahzum, bagian yang membidangi Pesantren Kementrian
Agama RI Kabupaten Bengkalis. Ngobrol dengan Santai. Sesantai informasi peserta
expo yang katanya hanya 4 pesantren dari Kabupaten Bengkalis. Malam itu saya
menikmati kueh dan kopi kemasan botol ABC dingin bersama nya di ruangan ku.
Senin pagi saya menelpon dua dosen
berbakat: Muhammad Ilham dan Aji. Saya juga menelpon nama-nama di atas. Saya
langsung buat grup WA sekitar jam 07.40 WIB. Sambil menemani sarapan dan minum teh
jahe panas- warung depan kantor dengan Haji Nasrun Harahap-, saya segera mengirim
pesan di grup baru: “Jam 09.30 rapat di ruang senat”. Jam itu saya pilih
karena diperkirakan sarapan, minum sambil ngobrol sudah cukup 40-an menit. Menjelang
jam tersebut, saya segera ke ruang senat. Beberapa menit menunggu, langsung
rapat.
“Ini perintah kementrian, kita harus
sami’na wa atho’na” itu kalimat pertama keluar. Semacam doktrin agar yang hadir bisa memahami tugas tersebut. Kalimat tersebut ternyata sangat efektif. Buktinya rapat hanya
butuh waktu 30 menit. Selesai. Saya memang tipe tidak suka rapat bertele-tele. Hanya
menghabiskan waktu dan umur. Banyak mubadzirnya daripada manfaatnya.
Selesai rapat mereka langsung bertebaran di
muka bumi melaksanakan tugas masing-masing. Saya pun kembali tidur-tiduran, melanjutkan
nonton film pendek china.
Setelah dhuhur saya mendapatkan informasi
bahwa pesantren yang mengikuti expo di IAIN Datuk Laksemana sebanyak 14
pesantren. Bayangkan saja. Semula dari 4 tiba-tiba melonjak 14. Bingung. Heran.
Aneh, dan ingin emosi. Tapi mau emosi kok tidak pantas. Tidak emosi kok "kebangetan" informasinya.
Di tengah-tengah kebingungan, ruangan ku penuh mahasiswa. Datang silih berganti. Tidak berhenti-henti. Telpon berdering. Dua-dua HP
bunyi. hari itu juga, tamu pun lumayan banyak. tidak seperti hari-hari biasa. Ada dosen dan tenaga kependidikan. Ada tumpukan
surat. Jadi tambah bingung. Tapi semua tetap saya layani dengan senyuman. Kadang
tanda tangan proposal kegiatan mahasiswa, kadang ngirim pesan via WA di grup panitia
expo:
Berikut sebagian isi WA:
Peserta expo berubah menjadi 14 pesantren. Cek student center. Siapkan
meja dan kursi. Tolong Mas Made siapkan nama pesantren setiap meja. Selasa sore
harus sudah ready !
Informasi dari Nurhadi, AC di
ruangan Student Center belum bisa digunakan. Urusan penambahan daya mungkin
belum klir. Saya menelpon ke kanwil dan minta untuk dibuatkan grup WA peserta
expo di IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Beberapa menit kemudian direspon dan
dibuatkan.
Berikut isi tulisan WA ku yang
pertama dikirim di grup pemimpin pesantren, bunyinya sebagai berikut:
Kepada yang terhormat peserta expo pesantren di IAIN Datuk
Laksemana, saya panitia pelaksana expo. Dalam kesempatan ini, saya beritahukan
bahwa tempat expo di gedung student center. Namun kami juga minta maat, karena AC
di ruangan tersebut masih dalam perbaikan, sehingga tidak bisa dihidupkan. Atas
kerjasama dan perhatiannya diucapkan terima kasih.
Selesai mengirim pesan WA tersebut,
saya juga mengirim surat undangan yang sudah di-pdf. Saya juga mengirim roundown
kegiatan selama tiga hari di grup tersebut. Hari itu juga.
Rabu jam 13.30 saya mengadakan kegiatan
ramah tamah dengan pimpinan pesantren di aula perpustakaan. Tujuannya selain
menyambung silaturahim, juga menyambut tamu. Kata orang tua ku dulu, tamu
membawa rahmat-kebaikan-kebaikan. Ramah tamah ini saya gunakan juga untuk
menjelaskan secara mendetail kepada mereka tentang segala fasilitas dan hal-hal
berkaitan dengan kegiatan expo. Sehingga tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan
selama expo. Ma’lum, kalau saya melayani pertanyaan mereka terus,pelayanan
mahasiswa bisa terbengkalai. Selain itu yang jelas jatah nonton film china jadi
berkurang.
Kamis sore sekitar jam 16.30 saya
beli beberapa nasi bungkus. Sore itu listrik mati. Agak sedikit gelap, saya
tetap menikmati nasi bungkus sambil guyonan dan kadang juga mengeluarkan
kalimat-kalimat yang menurutku bermanfaat. Beberapa kalimat yang saya sampaikan
sore itu kurang lebih begini:
“Tugas kita berbuat baik. Meskipun sudah
berbuat baik, belum tentu orang akan merespon dengan cara yang baik, apalagi
berbuat buruk. Mungkin berbuat baik tidak ada yang memuji. Jika ada pun mungkin
sedikit. Tapi berbuat buruk sedikit, tidak jarang semua nya mencaci maki
seolah-olah tidak ada kebaikan yang tersisa”.
Saya kadang ingin mengeluh. Tapi kadang
juga malu hidup kok isinya mengeluh. Seperti tidak pernah menunjukan rasa
syukur kepada Allah SWT. Mungkin hidup banyak tantangan dan rintangan. Terserah
anda memilih kata mana-tantangan dan rintangan-sebagai jalan mengenal diri. Saya
melihat kata “tantangan” mengandung energi positif, dan rintangan ada
unsur-unsur rasa “pesimis”. Itu perasaan saya saja. Entah seperti apa pandangan
anda tentang makna kedua kata tersebut.
Saya melihat tugas yang diberikan
kepadaku sebagai tantangan agar saya bisa mengerti rahasia dari segala rahasia
dalam setiap apa dihadapan kita. Ia hadir bukan untuk dihindari. Ia hadir untuk
dilihat dikelingi dan kemudian dari situ saya menemukan jawaban-jawaban setelah
mengenal tantangan tersebut secara mendalam.
Dari sini sebenarnya, saya bisa
memahami bahwa sebenarnya tidak ada rintangan dalam hidup ini. sebab rintangan
sebenarnya suasana batin kita dalam wujud negatif seperti: tidak yakin akan
kemampuan kita, tidak mau mengerjakan atau hanya menambah beban pekerjaan saja.
Saya-mungkin juga anda-mungkin pernah
atau sering mengalami seperti ini. namun Tuhan selalu sayang kepada hamba-Nya.
Tuhan telah menghadirkan orang-orang, suatu kaum, suatu bangsa yang hebat-hebat
hari ini adalah melihat tantangan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas
diri dan kesuksesan dalam pengertian lebih luas.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872