Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Filsafat Ilmu, Kebenaran dan Penjelajahannya-pertemuan kelima



Selasa , 08 Maret 2022



Telah dibaca :  421

Filsafat Ilmu, Kebenaran Dan Penjelajahannya

Hakikat Filsafat Ilmu

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenal kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dan filsafat ilmu yaitu ilmu pengetahuan, oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Sebagai manusia hendaknya kita menyadari akan keterbatasan kemampuan otak kita dalam memperdalam suatu ilmu. manusia tidak akan mampu menguasai semua pengeahuan yang ada di alam in. Maka untuk mempermudah manusia dalam mengakaji ilmu, ruang-ruang penjelajahan keilmuan kemudian dibagi menjadi beberapa bagian disiplin keilmuan, yang mana bagian ini semakin lama semakin sempit sesuai dengan perkembangan disiplin dari suatu ilmu, namun kajiannya akan semakin dalam.

Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemologis, maupun aksiologisnya. Dengan kata lain, filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti: objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud yang hakiki dari objek itu. Bagaimana hubungan antara objek tadi dan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan? Ontologi berarti ajaran mengenai yang ada atau segala sesuatu yang ada.

Hakikat Kebenaran

Kebenaran merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan untuk membuktikan suatu kebenaran dari teori ataupun pengetahuan yang kita dapatkan. Namun kebenaran sendiri merupakan suatu bentuk dari rasa ingin tahu setiap individu. Rasa ingin tahu sendiri merupakan terbentuk dari adanya kekuatan akal yang dimiliki manusia yang selalu ingin mencari, memahami, serta memanfaatkan kebenaran yang telah ia dapatkan dalam hidupnya.

Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenranan manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya, dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya di mana selalu ditunjukkan oleh kebenaran.

Kriteria Kebenaran Ilmiah

Ada beberapa teori tentang kebenaran ilmiah; pertama, teori koherensi. Teori ini sering disebut the consistense theory of truth. Berdasarkan teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian atas arti kebenaran. suatu keputusan benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan yang lebih dahulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannnya. Putusan yang benar yaitu suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan lainnya yang relevan.

Kedua teori korespondensi. Teori ini kadang disebut the accordance theory of truth. Teori ini menjelaskan bahwa suatu kebenaran atau suatu keadaan benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat itu. Berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran atau keadaan dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dan fakta atau kenyataan yang berhubungan. Apabila keduanya terdapat kesesuaian maka preposisi ini dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran.

Ketiga teori pragmatis. Teori ini menguji kebenaran dalam praktik yang dikenal para pendidik sebagai metode proyek atau metode problem solving dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memcahkan masalah yang ada. Artinya, sesuatu itu benar jika mengembalikan pribadi manusia dalam keseimbangan dalam keadaan yang tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme yaitu agar manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk itu manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan lingkungan. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenaran dengan kegunaan(utility), dapat dikerjakan(workbility), dan akibat yang memuaskan (satisfactory consequensce). Oleh karena itu, tidak ada kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibat.

Keempat, teori performatif. Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat dan sebagainya. Kebenran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehdupan beragama yang tertib, adat yang stabil, dan sebagainya.

Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebiasan ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.

Kelima, teori struktural. Teori ini mengatakan bahwa suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu, dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma ini. Banyak sejarawan dan filsuf sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu, ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tertentu. Paradigm yaitu apa yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat sains, atau dengan kata lain masyarakat sains yaitu orang-orang yang memiliki suatu paradigm bersama. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85

Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   158

Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344

Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   386

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876