
Filsafat Ilmu, Kebenaran Dan
Penjelajahannya
Hakikat Filsafat Ilmu
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya,
filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan
konsep dasar mengenal kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat ilmu merupakan
penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dan filsafat ilmu yaitu ilmu
pengetahuan, oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan. Pengetahuan lama menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru. Sebagai manusia hendaknya kita menyadari akan keterbatasan
kemampuan otak kita dalam memperdalam suatu ilmu. manusia tidak akan mampu
menguasai semua pengeahuan yang ada di alam in. Maka untuk mempermudah manusia
dalam mengakaji ilmu, ruang-ruang penjelajahan keilmuan kemudian dibagi menjadi
beberapa bagian disiplin keilmuan, yang mana bagian ini semakin lama semakin
sempit sesuai dengan perkembangan disiplin dari suatu ilmu, namun kajiannya
akan semakin dalam.
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan
yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi
ontologis, epistemologis, maupun aksiologisnya. Dengan kata lain, filsafat ilmu
merupakan bagian dari epistemology yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu,
seperti: objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud yang hakiki dari objek
itu. Bagaimana hubungan antara objek tadi dan daya tangkap manusia yang
membuahkan pengetahuan? Ontologi berarti ajaran mengenai yang ada atau segala
sesuatu yang ada.
Hakikat Kebenaran
Kebenaran merupakan suatu hal yang mutlak
diperlukan untuk membuktikan suatu kebenaran dari teori ataupun pengetahuan
yang kita dapatkan. Namun kebenaran sendiri merupakan suatu bentuk dari rasa
ingin tahu setiap individu. Rasa ingin tahu sendiri merupakan terbentuk dari
adanya kekuatan akal yang dimiliki manusia yang selalu ingin mencari, memahami,
serta memanfaatkan kebenaran yang telah ia dapatkan dalam hidupnya.
Manusia selalu mencari kebenaran, jika
manusia mengerti dan memahami kebenran, sifat asasinya terdorong pula untuk
melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenranan manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia
sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang
dijalaninya, dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam
hidupnya di mana selalu ditunjukkan oleh kebenaran.
Kriteria Kebenaran Ilmiah
Ada beberapa teori tentang kebenaran
ilmiah; pertama, teori koherensi. Teori ini sering disebut the consistense
theory of truth. Berdasarkan teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan
itu bersifat koheren atau konisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian atas arti kebenaran. suatu
keputusan benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan yang lebih dahulu
kita terima, dan kita ketahui kebenarannnya. Putusan yang benar yaitu suatu putusan
yang saling berhubungan secara logis dengan putusan lainnya yang relevan.
Kedua teori korespondensi. Teori ini kadang
disebut the accordance theory of truth. Teori ini menjelaskan bahwa suatu
kebenaran atau suatu keadaan benar bila ada kesesuaian antara arti yang
dimaksud suatu pernyataan atau pendapat itu. Berdasarkan teori korespondensi
ini, kebenaran atau keadaan dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi
dan fakta atau kenyataan yang berhubungan. Apabila keduanya terdapat kesesuaian
maka preposisi ini dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran.
Ketiga teori pragmatis. Teori ini menguji
kebenaran dalam praktik yang dikenal para pendidik sebagai metode proyek atau
metode problem solving dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya
jika mereka berguna mampu memcahkan masalah yang ada. Artinya, sesuatu itu
benar jika mengembalikan pribadi manusia dalam keseimbangan dalam keadaan yang
tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme yaitu agar manusia
selalu ada di dalam keseimbangan, untuk itu manusia harus mampu melakukan
penyesuaian dengan tuntutan lingkungan. Kaum pragmatis menggunakan kriteria
kebenaran dengan kegunaan(utility), dapat dikerjakan(workbility), dan akibat
yang memuaskan (satisfactory consequensce). Oleh karena itu, tidak ada
kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan
akibat.
Keempat, teori performatif. Teori ini
menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas
tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran
performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin
agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat dan sebagainya. Kebenran performatif
dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehdupan beragama yang
tertib, adat yang stabil, dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran
performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang
inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas. Pada
beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebiasan ini
seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin
adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.
Kelima, teori struktural. Teori ini
mengatakan bahwa suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma
atau perspektif tertentu, dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau
mendukung paradigma ini. Banyak sejarawan dan filsuf sains masa kini menekankan
bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh
kelompok ilmiah tertentu, ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas
yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tertentu. Paradigm yaitu apa
yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat sains, atau dengan kata
lain masyarakat sains yaitu orang-orang yang memiliki suatu paradigm bersama.
Penulis : Imam Ghozali
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   158
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   386
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876