
Setelah sholat subuh langit gelap. Kelihatanya
hari ini akan hujan. Benar, setengah jam kemudian gerimis mendekati hujan pun
terjadi. Jam 07.30 sedikit reda, istri dan faiz -anak keempat -sudah siap-siap
sarapan di pinggir Pantai Juling. Sarapan lempeng ( cara baca huruf “e”
seperti membaca kata “tempe”, makanan terbuat dari sagu. Jika lempeng dibaca
seperti kata “serem”, artinya menjadi “lurus”dalam penggunaan bahasa Jawa).
Angin Pantai masih kencang. Terasa sangat
dingin. Kami sebenarnya masih demam. Dari rumah sudah membawa persiapan tisu
merk “Nice”. Hidung selalu meler. Ingus keluar terus. Masih encer, demam
belum menunjukan tanda-tanda sembuh. Kata dokter, ingus tidak berhenti-henti
karena infeksi virus, bukan infeksi kanker -kantong kering. Namun kelihatannya
hari ini saya melihat lagi musim infeksi virus dan kanker.
Udara pagi terasa sangat dingin. Iya,
karena pengaruh demam. Kami berdua sama-sama demam. Tiba-tiba, rombongan para
gadis baru saja selesai olah raga masuk dan duduk di sebelah kami. Mereka bahagia
sekali. tertawa bebas sambil menikmati teh gelas. Udara dingin di pagi hari
benar-benar tidak membuat kehatan di pagi hari hilang. Mereka benar-benar
cermin manusia bahagia, riang gembira menyambut pagi hari. Meskipun mendung
alam semeta, tapi tidak menyebabkan mereka ikut mendung. Apa kata dunia, yang
penting diri kita bahagia.
Saya tentu saja tidak berani melirik. Ada beberapa
alasan sangat logis: Pertama, saya memakai peci putih. Jika melirik khawatir
para gadis bisik-bisik begini “pak haji itu genit”. Kedua, ada istri
disampingku. Kondisi sepertinya saya tidak bisa menerapkan kadiah ushul fiqh: "al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil
ashlah, memelihara yang lama yang baik dan
mengambil yang baru yang lebih baik”. Yang sedikit memungkinkan menerapkan yang
ini: "Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu, Apa yang tidak
bisa diraih seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya". Ketiga, alasan realistis
bahwa kondisi sudah tidak muda lagi, dan tidak ganteng lagi. Sudah tidak seperti
dulu.
Para gadis tertawa adalah anugerah. Mungkin saja hal-hal yang
kecil-kecil tapi bisa diramu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Mereka bisa
menikmati pagi penuh dengan kebahagiaan.
Menurut Jalaluddin Rumi kabahagiaan adalah hilangnya kesedihan. Dua
hal yang saling bertentangan. Katanya : God turn you from one feeling to another
and teaches bya means of opposites,Tuhan mengubahmu dari satu perasaan ke
perasaan lain dan mengajarmu melalui pertentangan”. Manusia mengalami
perubahan-perubahan perasaan dari apa yang ada di sekitarnya. Itu hal yang
menjadikan kebahagiaan dan kesedihan bergonta ganti. Namun kebahagiaan sejati
sebenarnya datang dari diri sendiri, bukan dari luar. Ketika ada orang merasa
kesepihan dan tidak mendapatkan kebahagiaan, karena ia menempatkan kebahagiaan
berada dari luar dirinya. Padahal menurut Jalaluddin Rumi” Alam semesta ada
di dalam diri mu”. Anda mau melihat keajaiban apa di dunia, mau melihat
keindahan sungai, gunung dan tempat-tempat rekreasi, semua ada pada diri mu. Sebab
dirimu sumber segala rekreasi.
Bagi Jalaluddin Rumi, egoisme diri menyandarkan kebahagiaan
pada setiap keinginan merupakan keangkuhan diri yang tidak mengenal dirinya
sendiri. Semua apa yang dilihat hanya sebatas permainan. Jika hanya tertumpu
pada permainan tersebut, dan tidak menjadi jalan kesadaran kepada Sang Pembuat permainan
maka ia hanya mendapatkan kebahagiaan semu.
Jalaludin Rumi mengatakan bahwa “Setiap penglihatan tentang
keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar." Ketika
pagi ini para gadis-gadis cantik tertawa bahagia, maka rasa bahagia hilang saat
mereka kembali ke rumah masing-masing. Manisnya Es Teh dan nikmatnya Lempeng
pagi ini akan hilang saat mereka disibukan dengan segala aktivitas. Akan ada
lagi episode kegiatan yang telah siap menggantinya.
Adakah kebahagiaan yang kekal. Tentu saja ada. ada kebahagiaan qarun
dan nabi musa, kebahagiaan versi abu lahab dan nabi Muhammad. Versi qarun dan
abu lahab adalah kebahagiaan yang bersandar dari luar diri sendiri. kebahagiaan
yang bersandar dari segala asesoris dunia. mereka beranggapan hal yang demikian
adalah kebahagiaan sejati. Sehingga hidupnya terus mengejar kebahagiaan dan
selalu tidak puas terhadap kebahagian satu, maka akan mencari dan memburu
kebahagiaan lainnya.
Sedangkan kebahagiaan versi Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW adalah
kebahagiaan yang lahir dari diri sendiri. ia tidak peduli dimana pun ia berada
akan selalu bahagia. Ia bisa menikmati keindahan Pantai dengan melihat keagungan
Sang Pencipta pada percikan gelombang laut dan birunya langit. Bahkan ia bisa
melihat keindahan sebuah penderitaan karena ada ampunan-ampunan yang telah Allah
berikan kepada nya. Sehingga semua terlihat menjadi indah dan menghasilkan
kebahagiaan.
Tak terasa jam menunjukan pukul 08.20 menit. Terlihat pagi, tapi
sudah mulai menuju siang. Kami pulang, dan para gadis masih berada di tempat
tersebut dengan penuh kebahagiaan. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan yang
kekal abadi kepada mereka.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875