Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Gadis-Gadis Cantik Tertawa Di Pinggir Pantai



Minggu , 24 Agustus 2025



Telah dibaca :  417

Setelah sholat subuh langit gelap. Kelihatanya hari ini akan hujan. Benar, setengah jam kemudian gerimis mendekati hujan pun terjadi. Jam 07.30 sedikit reda, istri dan faiz -anak keempat -sudah siap-siap sarapan di pinggir Pantai Juling. Sarapan lempeng ( cara baca huruf “e” seperti membaca kata “tempe”, makanan terbuat dari sagu. Jika lempeng dibaca seperti kata “serem”, artinya menjadi “lurus”dalam penggunaan bahasa Jawa).

Angin Pantai masih kencang. Terasa sangat dingin. Kami sebenarnya masih demam. Dari rumah sudah membawa persiapan tisu merk “Nice”. Hidung selalu meler. Ingus keluar terus. Masih encer, demam belum menunjukan tanda-tanda sembuh. Kata dokter, ingus tidak berhenti-henti karena infeksi virus, bukan infeksi kanker -kantong kering. Namun kelihatannya hari ini saya melihat lagi musim infeksi virus dan kanker.

Udara pagi terasa sangat dingin. Iya, karena pengaruh demam. Kami berdua sama-sama demam. Tiba-tiba, rombongan para gadis baru saja selesai olah raga masuk dan duduk di sebelah kami. Mereka bahagia sekali. tertawa bebas sambil menikmati teh gelas. Udara dingin di pagi hari benar-benar tidak membuat kehatan di pagi hari hilang. Mereka benar-benar cermin manusia bahagia, riang gembira menyambut pagi hari. Meskipun mendung alam semeta, tapi tidak menyebabkan mereka ikut mendung. Apa kata dunia, yang penting diri kita bahagia.

Saya tentu saja tidak berani melirik. Ada beberapa alasan sangat logis: Pertama, saya memakai peci putih. Jika melirik khawatir para gadis bisik-bisik begini “pak haji itu genit”. Kedua, ada istri disampingku. Kondisi sepertinya saya tidak bisa menerapkan kadiah ushul fiqh: "al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Yang sedikit memungkinkan menerapkan yang ini: "Maa laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu, Apa yang tidak bisa diraih seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya". Ketiga, alasan realistis bahwa kondisi sudah tidak muda lagi, dan tidak ganteng lagi. Sudah tidak seperti dulu.

Para gadis tertawa adalah anugerah. Mungkin saja hal-hal yang kecil-kecil tapi bisa diramu menjadi sesuatu yang membahagiakan. Mereka bisa menikmati pagi penuh dengan kebahagiaan.

Menurut Jalaluddin Rumi kabahagiaan adalah hilangnya kesedihan. Dua hal yang saling bertentangan. Katanya : God turn you from one feeling to another and teaches bya means of opposites,Tuhan mengubahmu dari satu perasaan ke perasaan lain dan mengajarmu melalui pertentangan”. Manusia mengalami perubahan-perubahan perasaan dari apa yang ada di sekitarnya. Itu hal yang menjadikan kebahagiaan dan kesedihan bergonta ganti. Namun kebahagiaan sejati sebenarnya datang dari diri sendiri, bukan dari luar. Ketika ada orang merasa kesepihan dan tidak mendapatkan kebahagiaan, karena ia menempatkan kebahagiaan berada dari luar dirinya. Padahal menurut Jalaluddin Rumi” Alam semesta ada di dalam diri mu”. Anda mau melihat keajaiban apa di dunia, mau melihat keindahan sungai, gunung dan tempat-tempat rekreasi, semua ada pada diri mu. Sebab dirimu sumber segala rekreasi.

Bagi Jalaluddin Rumi, egoisme diri menyandarkan kebahagiaan pada setiap keinginan merupakan keangkuhan diri yang tidak mengenal dirinya sendiri. Semua apa yang dilihat hanya sebatas permainan. Jika hanya tertumpu pada permainan tersebut, dan tidak menjadi jalan kesadaran kepada Sang Pembuat permainan maka ia hanya mendapatkan kebahagiaan semu.

Jalaludin Rumi mengatakan bahwa “Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar." Ketika pagi ini para gadis-gadis cantik tertawa bahagia, maka rasa bahagia hilang saat mereka kembali ke rumah masing-masing. Manisnya Es Teh dan nikmatnya Lempeng pagi ini akan hilang saat mereka disibukan dengan segala aktivitas. Akan ada lagi episode kegiatan yang telah siap menggantinya.

Adakah kebahagiaan yang kekal. Tentu saja ada. ada kebahagiaan qarun dan nabi musa, kebahagiaan versi abu lahab dan nabi Muhammad. Versi qarun dan abu lahab adalah kebahagiaan yang bersandar dari luar diri sendiri. kebahagiaan yang bersandar dari segala asesoris dunia. mereka beranggapan hal yang demikian adalah kebahagiaan sejati. Sehingga hidupnya terus mengejar kebahagiaan dan selalu tidak puas terhadap kebahagian satu, maka akan mencari dan memburu kebahagiaan lainnya.

Sedangkan kebahagiaan versi Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW adalah kebahagiaan yang lahir dari diri sendiri. ia tidak peduli dimana pun ia berada akan selalu bahagia. Ia bisa menikmati keindahan Pantai dengan melihat keagungan Sang Pencipta pada percikan gelombang laut dan birunya langit. Bahkan ia bisa melihat keindahan sebuah penderitaan karena ada ampunan-ampunan yang telah Allah berikan kepada nya. Sehingga semua terlihat menjadi indah dan menghasilkan kebahagiaan.

Tak terasa jam menunjukan pukul 08.20 menit. Terlihat pagi, tapi sudah mulai menuju siang. Kami pulang, dan para gadis masih berada di tempat tersebut dengan penuh kebahagiaan. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan yang kekal abadi kepada mereka.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875