
Saya mendapat pesan WA dari Ketua Prodi
HKI. Isi nya pemberitahuan masuk kuliah semester genap. Pertama-tama saya cuma menengok
isi WA nya. tidak langsung saya buka. Sebab dilihat cukup banyak halamanya. Ada
35 halaman, atau 6,1 MB. Namun tetap saya jawab terima kasih atas kiriman
dengan simbol dua tangan penghormatan. Saya yakin ketua kaprodi yang ramah dan baik hati, Mas
Mansur paham maksudnya.
Baru beberapa hari ini saya buka. Ternyata mendapatkan lima lokal. Di WA juga sudah masuk SMS Ketua Kosma memberitahukan tentang jam masuk. Jarak antara pembagian jam kuliah dengan masuk kuliah memang agak mepet. Bagi dosen baru mungkin agak sedikit ‘keteteran’ untuk menyiapkan SAP, Silabus, Materi dan lain-lain. Jelas tidak mungkin main ‘Tembak di atas Kuda’ memperkirakan mata kuliah [makul] yang akan diampu. Tetap harus menunggu datang nya surat resmi. Ibarat puasa, nunggu terdengar “suara Bedug” atau “Sirine” di Masjid atau Mushola baru bisa berbuka puasa. Belum tahu makul yang diampu, sudah buat kelengkapan kuliah. Lucu bukan?

Untung saja saya masih mengampu makul lama.
Lebih untung lagi, saya mempunyai website yang berisi SAP, Silabus dan Materi
kuliah. Jadi agak sedikit terbantu bagi saya dan mahasiwa. Mereka yang belum
sempat kuliah, sudah bisa membaca materi dulu. Jadi ada kesempatan luas untuk
bertanya ketika proses kuliah. Tapi entah sekarang, mahasiswa kalau lagi kuliah
banyak yang pendiam. Saya tidak tahu apa sebabnya. Apakah karena mereka
menerapkan hadist Nabi “Malu sebagian dari Iman”, atau peribahasa Indonesia
yang mashur “Diam adalah Emas”, atau juga kata peribahasa Arab[hadist nabi,
saya lupa] “salamatul insan bilisan”, atau juga sebel dengan dosen nya,
atau juga dosen nya menyampaikan tidak nyambung, atau juga mahasiwa memang
sudah pembawaan dari lahir, atau juga mereka memang malas kuliah dan lebih
senang kalau ngobrol-ngobrol.
Saya sebagai dosen pun sedikit tahu diri dan tidak menuntut muluk-muluk dengan mahasiswa. Saya menerangkan, mereka mendengarkan. Tapi para pakar mengatakan metode ini mempunyai konstribusi sangat kecil terhadap penyerapan ilmu pengetahuan [transfer of kwonledge]. Ada yang lebih tinggi kwalitasnya yaitu diskusi dan meneliti. Saya terapkan diskusi, namun lagi-lagi mereka lebih mirip seperti “debat kusir”, yang penting ngomong, entah beres, entah tidak. Tapi yang masih lumayan. Mereka sudah berani bicara di depan teman-teman nya dan dosen pengampu makul.

Bagaimana Metode Meneliti?
Bagi mahasiswa yang jurusan eksasta dan
yang agak bau-bau ke situ, tradisi ini memang sudah dikatakan berjalan,
walaupun belum sepenuhnya berjalan di rel yang benar. Maka jika dilihat secara
umum, media-media seperti jurnal atau forum-forum diskusi, jurusan ini
mempunyai cukup banyak media untuk menyalurkan penemuan penelitian-penelitian
baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa.
Sedangkan bagi jurusan non-eksasta akan
sedikit kerepotan. Namun saat sekarang setelah ada kemajuan teknologi, internet
di era 5.0, jururusan non-eksasta pun mulai mengejar yang eksasta. Walaupun
entah berapa tahun lagi bisa mengejarnya. Atau paling tidak bisa seiring,
sejalan.
Metode diskusi dan metode penelitian saya
kira menarik. Artinya jika dosen atau mahasiwa memaparkan hasil diskusinya
berdasarkan hasil penelitian, saya kira sangat seru. Maksudnya bukan ‘seru’
dengan “lempar meja atau kursi” seperti diskusinya para aktivis. Karena sangat penting persoalan penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi, maka ada istilah Tridarma Perguruan Tinggi berisi : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.
Saat ini saya melihat beberapa perguruan
tinggi di kota-kota kecil dan perguruan tingginya pun masih kecil sangat giat
melakukan inovasi kearah itu. Di Jawa seperti di Kudus, Salatiga, Pekalongan
adalah kota kecil. Jika dibandingkan dengan Yogyakarta, ketiga kota itu tidak
ada apa-apanya. Namun sekarang, ketiga kota ini telah menyumbangkan pemikiran
dan penelitian baik dari dosen dan mahasiwa yang sudah reputasi nasional,
bahkan ada juga yang sudah internasional. Jadi Yogyakarta atau Jakarta tidak
menjadi satu—satunya pusat penelitian dan pengabdian yang monopoli kehebatanya.
Bahkan saya pun melihat perguruan tinggi yang jauh di luar Jawa seperti di
Ambon dan Papua telah melakukan berbagai inovasi yang sangat bagus. Fakta ini memperlihatkan kepada kita, Perguruan Tinggi yang dulu dilihat sebelah mata, kini menjadi daya tarik mahasiswa dari daerah Jawa. Bahkan saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti seminar nasional dan internasional di Perguruan Tinggi tersebut. Saya salut, kerjasama kolektif membangun pondasi Dasar Tridarma Perguruan Tinggi yang bagus menurut saya.
Mengapa Perguruan Tinggi yang notabene tertinggal dan terisolir di wilayah yang kadang disebut "daerah terluar dan terdepan" begitu semangat membangun pondasi dasar Tridarma Perguruan Tinggi begitu kuat? Jawaban sederhana saya yaitu: Tridarma Perguruan Tinggi adalah ruh nya lembaga pendidikan. Apa yang terjadi bagi Perguruan Tinggi
yang tidak melakukan penelitian dan pengabdian berbasis penelitian. Jelas akan
mengalami persoalan serius. Perguruan tinggi memang unik,
sehebat apapun para dosen jika tidak dibarengi penelitian dan pengabdian, maka menjadi persoalan, bukan hanya Perguruan Tinggi Negeri tapi juga Swasta. Sebab zaman sudah berubah.
Regulasi nya pun berubah. Dulu dosen atau guru ingin sertifikasi cukup
melengkapi portopolio. Ingin naik pangkat cukup punya buku ajar, dan melakukan pengabdian seperti menjadi Pengurus Mushola atau pengurus organisasi kemasyarakatan. Tapi sekarang ini,
semua dituntut agar hasil dari pendidikan, penelitian dan pengabdian berupa
sebuah karya yang sering disebut “Jurnal Ilmiah”, baik bereputasi nasional
maupun internasional.
Saya secara pribadi ingin aturan
kembali lagi seperti dulu; mengajar, membuat buku, dan jadi khotib. Berarti
sudah terpenuhi Tridarma Perguruan Tinggi. Tapi apakah lamunan saya di
siang bolong diterima oleh pengambil kebijakan dan didengar oleh para Malaikat
sehingga doa saya dikabulkan. Wallahu a’lam.
Akhirnya saya nawaitu di semester
ini mencoba melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi. Saya wajibkan mahasiswa
membuat kelompok dan melakukan penelitian kecil-kecilan. Cukup yang Library
Riset. Paling tidak ada 35 kelompok. Jika kelompok sebanyak ini “menetas”
semua artikel, maka saya telah mempunyai 35 penelitian dosen yang kolaborasi
dengan mahasiswa atau penelitian antara mahasiswa. Cuma saya pun mikir-mikir juga, Bagaimana kalau telor artikel
nya tidak menetas separo? Tidak apa apa. Saya masih bersyukur, sebab saya masih
mempunyai sekitar 17 Artikel. Tapi, saya mikir juga, bagaimana kalau tidak
menetas semua? Mungkin saya butuh strategi lagi, agar sebelum bertelor
artikelnya, mereka benar-benar mendapatkan asupan gizi intelektual yang pas di semester depan nya lagi.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2985
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884