
Kita lupakan dulu hiruk pikuk para politisi
dan tarian dansa mereka yang memenuhi seluruh ruangan informasi. Buang dulu
rasa baper. Mereka punya seni tarian sendiri. Ia akan berhenti pada masanya. Kapan
waktunya, dan bagaimana endingnya, mereka yang menjawab.
Saya mengajak untuk membaca salah satu
tulisan dari seorang penulis terkenal. Namanya Ichiro Kishimi dan Fumitake
Koga. Buku nya yang lagi bestseller berjudul”Berani Tidak Disukai”.
Mereka hebat dalam memilih judul buku. Ichiro
adalah seorang filsuf pada kajian studi filosofi klasik. Sedangkan Fumitake
adalah Penulis sekaligus Pebinis. Penulis yang berasal dari negara Jepang telah
menggabungkan nilai-nilai filosofis klasik dan sekaligus membongkar nya dari
filosofis hidup kekinian. Sebab ada beberapa ajaran kehidupan yang harus
disempurnakan dalam rangka mengartikan hakikat kehidupan yang bahagia di era
kekinian.
Sebelumnya penulis telah membaca buku “ Kekuatan
Berfikir Positif” yang ditulis oleh seorang penulis ternama; Norman Vincent Peale.
Tulisan ini telah membius jutaan orang untuk mengikuti ajaran-ajarannya tentang
makna kesuksesan dengan pendekatan campur tangan Tuhan. Meskipun tidak semua
isinya sesuai dengan falsafah hidup pada diriku yang berlatar belakang sebagai
seorang muslim. Meskipun demikian, judul ini telah memberikan jalan hidup
tentang makna optimisme bersama Tuhan dalam menyelesaikan suatu persoalan.
Buku tulisan Ichiro dan Fumitake menyajikan
data dua arah. Apakah pandangan-pandangan filsuf tentang makna kebahagiaan
sebagaimana yang diajarkan oleh penulis seperti Norman berbanding lurus dengan
realita kehidupan?
Pemuda dalam buku ini sengaja
mempertanyakan ulang relevansi ajaran-ajaran leluhur kepada filsuf. Dia mempertanyakan
realita kehidupan yang muncul saat sekarang ini. Kalau pakai bahasa saya, kenapa
yang menjadi anggota legislatif dan eksekutif adalah orang-orang yang bukan
dari kalangan filsuf, cendikiawan, ilmuwan, agamawan dan orang-orang yang takut
kepada siksa Allah s.w.t. Justru yang terjadi sebaliknya, ada orang tidak lulus
dari bangku perguruan tinggi bisa menjadi anggota legislatif dan eksekutif. Sedangkan
orang-orang yang dianggap golongan arif dan bijaksana sering sebatas sebagai
pendengar, pengamat, dan pengikut semata.
Para pelaku bisnis, figure public dan
sejenisnya sering lahir dari riwayat pendidikan yang amburadul. Lalu memperkejakan
orang-orang yang punya reputasi tinggi di perguruan tinggi. bukan hanya di
kampung kita, atau negara kita. negara superpower seperti Amerika Serikat telah
dikendalikan bisnis dan politiknya oleh orang-orang yang pendidikan biasa-biasa
saja. Pendidikan AS malah seperti pabrik yang hanya menciptakan para pegawai
negara dan perusahaan.
Dimana letak kebenaran dari ajaran
para filsuf tentang makna sebuah kebahagiaan yang diagung-agungkan?
Baik lah saya menulis beberapa
kalimat dalam buku tersebut:
“Di pinggir kota berusia seribu
tahun, tinggal seorang filsuf yang mengajarkan bahwa dunia ini sederhana, dan
bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia. Seorang pemuda
yang tidak puas dengan hidupnya mengunjungi filsuf ini untuk mencaritahu inti
masalahnya. Dia mendapati dunia ini sebagai gumpalan konradiksi yang
carut-marut dan, di matanya yang gelisah, gagasan apa pun tentang kebahagiaan
adalah hal yang sangat tidak masuk akal.”
Kegelisahan pemuda itu nyata. Di dunia
ini memang tidak ada kebahagian. Semua adalah carut marut kehidupan yang telah
didesain untuk itu. Istilah Al-Qu’ran, “permainan dan sendau-gurau”. Dosen
sibuk menyiapkan materi kuliah, pusing. Mahasiswa menumpuk tugas kuliah, pusing,
ada polusi udara, disuruh beli masker. Pusing. Masuk hotel, ingin merokok
pusing. Punya duit banyak hasil proyek pusing. Kalah tender, pusing. Daftar jadi
eksekutif dan terpilih, pusing. Tidak terpilih tambah pusing. Jadi calon
pusing, tidak jadi calon pusing. Semua pusing.
Saya kira apa yang dikatakan pemuda
dalam buku tersebut di atas adalah sebenar-benar realita. Islam telah
mengajarkan tentang realita kehidupan, yaitu perjuangan secara terus-menerus. Allah
telah berfirman, “Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali dia sendiri yang
akan merubahnya.”
Dari sini bisa dipahami, bahwa suatu
kesuksesan bukan persoalan benar dan salah dalam realita kehidupan. Tapi persoalan
pada perjuangan dengan segala kelengkapannya. Mereka yang akan menang.
Dalam dunia politik juga begitu. Orang-orang
yang dianggap kurang baik trackrecordnya bisa menang dan menguasi masyarakat
ketika kegigihan nya untuk meraih cita-cita benar-benar melimpah. Itu sebabnya,
rumus yang benar yaitu orang-orang yang mempunyai kualitas baik, latarbelakang
baik, pendidikan baik dan sebagainya, harus mempunyai bekal perjuangan yang
lebih besar dari rivalnya. Tujuanya agar penguasa bisa hadir untuk bisa
memperbaiki sistem yang sudah baik semakin baik di masa pemerintahanya.
Meskipun demikian kita sebagai
masyarakat atau bangsa yang agung tentu mempunyai filosofis kehidupan yang
agung. Salah satu nya, yaitu diskusi sampai panas dan menegangkan bahkan sampai
pada level “gegeran”, harus tetap diakhiri dengan suasana “ger-ger-an”.
Itulah watak bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi persaudaraan dan
kekeluargaan. Sepanas apapun situasi politik dan segala aspeknya, harus tetap
diselesaikan dengan hati dan kepala dingin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879