Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

“Ger-Ger-an” atau “Gegeran ?”



Jumat , 01 September 2023



Telah dibaca :  378

Kita lupakan dulu hiruk pikuk para politisi dan tarian dansa mereka yang memenuhi seluruh ruangan informasi. Buang dulu rasa baper. Mereka punya seni tarian sendiri. Ia akan berhenti pada masanya. Kapan waktunya, dan bagaimana endingnya, mereka yang menjawab.

Saya mengajak untuk membaca salah satu tulisan dari seorang penulis terkenal. Namanya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Buku nya yang lagi bestseller berjudul”Berani Tidak Disukai”.

Mereka hebat dalam memilih judul buku. Ichiro adalah seorang filsuf pada kajian studi filosofi klasik. Sedangkan Fumitake adalah Penulis sekaligus Pebinis. Penulis yang berasal dari negara Jepang telah menggabungkan nilai-nilai filosofis klasik dan sekaligus membongkar nya dari filosofis hidup kekinian. Sebab ada beberapa ajaran kehidupan yang harus disempurnakan dalam rangka mengartikan hakikat kehidupan yang bahagia di era kekinian.

Sebelumnya penulis telah membaca buku “ Kekuatan Berfikir Positif” yang ditulis oleh seorang penulis ternama; Norman Vincent Peale. Tulisan ini telah membius jutaan orang untuk mengikuti ajaran-ajarannya tentang makna kesuksesan dengan pendekatan campur tangan Tuhan. Meskipun tidak semua isinya sesuai dengan falsafah hidup pada diriku yang berlatar belakang sebagai seorang muslim. Meskipun demikian, judul ini telah memberikan jalan hidup tentang makna optimisme bersama Tuhan dalam menyelesaikan suatu persoalan.

Buku tulisan Ichiro dan Fumitake menyajikan data dua arah. Apakah pandangan-pandangan filsuf tentang makna kebahagiaan sebagaimana yang diajarkan oleh penulis seperti Norman berbanding lurus dengan realita kehidupan?

Pemuda dalam buku ini sengaja mempertanyakan ulang relevansi ajaran-ajaran leluhur kepada filsuf. Dia mempertanyakan realita kehidupan yang muncul saat sekarang ini. Kalau pakai bahasa saya, kenapa yang menjadi anggota legislatif dan eksekutif adalah orang-orang yang bukan dari kalangan filsuf, cendikiawan, ilmuwan, agamawan dan orang-orang yang takut kepada siksa Allah s.w.t. Justru yang terjadi sebaliknya, ada orang tidak lulus dari bangku perguruan tinggi bisa menjadi anggota legislatif dan eksekutif. Sedangkan orang-orang yang dianggap golongan arif dan bijaksana sering sebatas sebagai pendengar, pengamat, dan pengikut semata.

Para pelaku bisnis, figure public dan sejenisnya sering lahir dari riwayat pendidikan yang amburadul. Lalu memperkejakan orang-orang yang punya reputasi tinggi di perguruan tinggi. bukan hanya di kampung kita, atau negara kita. negara superpower seperti Amerika Serikat telah dikendalikan bisnis dan politiknya oleh orang-orang yang pendidikan biasa-biasa saja. Pendidikan AS malah seperti pabrik yang hanya menciptakan para pegawai negara dan perusahaan.

Dimana letak kebenaran dari ajaran para filsuf tentang makna sebuah kebahagiaan yang diagung-agungkan?

Baik lah saya menulis beberapa kalimat dalam buku tersebut:

“Di pinggir kota berusia seribu tahun, tinggal seorang filsuf yang mengajarkan bahwa dunia ini sederhana, dan bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia. Seorang pemuda yang tidak puas dengan hidupnya mengunjungi filsuf ini untuk mencaritahu inti masalahnya. Dia mendapati dunia ini sebagai gumpalan konradiksi yang carut-marut dan, di matanya yang gelisah, gagasan apa pun tentang kebahagiaan adalah hal yang sangat tidak masuk akal.”

Kegelisahan pemuda itu nyata. Di dunia ini memang tidak ada kebahagian. Semua adalah carut marut kehidupan yang telah didesain untuk itu. Istilah Al-Qu’ran, “permainan dan sendau-gurau”. Dosen sibuk menyiapkan materi kuliah, pusing. Mahasiswa menumpuk tugas kuliah, pusing, ada polusi udara, disuruh beli masker. Pusing. Masuk hotel, ingin merokok pusing. Punya duit banyak hasil proyek pusing. Kalah tender, pusing. Daftar jadi eksekutif dan terpilih, pusing. Tidak terpilih tambah pusing. Jadi calon pusing, tidak jadi calon pusing. Semua pusing.

Saya kira apa yang dikatakan pemuda dalam buku tersebut di atas adalah sebenar-benar realita. Islam telah mengajarkan tentang realita kehidupan, yaitu perjuangan secara terus-menerus. Allah telah berfirman, “Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali dia sendiri yang akan merubahnya.”

Dari sini bisa dipahami, bahwa suatu kesuksesan bukan persoalan benar dan salah dalam realita kehidupan. Tapi persoalan pada perjuangan dengan segala kelengkapannya. Mereka yang akan menang.

Dalam dunia politik juga begitu. Orang-orang yang dianggap kurang baik trackrecordnya bisa menang dan menguasi masyarakat ketika kegigihan nya untuk meraih cita-cita benar-benar melimpah. Itu sebabnya, rumus yang benar yaitu orang-orang yang mempunyai kualitas baik, latarbelakang baik, pendidikan baik dan sebagainya, harus mempunyai bekal perjuangan yang lebih besar dari rivalnya. Tujuanya agar penguasa bisa hadir untuk bisa memperbaiki sistem yang sudah baik semakin baik di masa pemerintahanya.

Meskipun demikian kita sebagai masyarakat atau bangsa yang agung tentu mempunyai filosofis kehidupan yang agung. Salah satu nya, yaitu diskusi sampai panas dan menegangkan bahkan sampai pada level “gegeran”, harus tetap diakhiri dengan suasana “ger-ger-an”. Itulah watak bangsa Indonesia yang selalu menjunjung tinggi persaudaraan dan kekeluargaan. Sepanas apapun situasi politik dan segala aspeknya, harus tetap diselesaikan dengan hati dan kepala dingin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879