Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Gerakan Wajib Makan Mie Sagu



Rabu , 30 April 2025



Telah dibaca :  675

Setelah muter-muter mencari bensin, saya diajak oleh Mas Jarir. Makan malam. Karena diajak, berarti tinggal makan saja. Dia yang bayar. Jadi, meskipun ngantuk, saya usahakan  tetap melek. Solusinya pesan kopi. Mas Jarir pesan Jus Jeruk. Untuk makan, Mas Jarir lagi mengurangi makan nasi. Ngurangi kadar gula.Tapi pesannya Nasi Goreng.

Saya ingin makan nasi. Ma’lum sejak pagi sampai malam belum satu butir nasi masuk ke dalam perut. Tadi pagi minum air putih dan ngemil kacang kulit. Siang ingin beli nasi. Tiba-tiba ada hamba Allah mengirim beragam makanan. Ada satu piring kueh. Ada satu piring mie kuning plus satu gelas plastik berisi es buah. Siang hari akhirnya makan mie kuning. Kueh diambil dua, sisanya saya berikan kepada orang yang lewat di depan ku.

Entah gimana, saat Mas Jarir memesan nasi goreng, saya malah mesan mie kuning lagi. Mie Aceh. Gagal lagi makan nasi.

Ternyata, makan tidak harus nasi. Makan mie kuning juga sudah masuk definsi makan. Lidah kita nampaknya harus diajari makna “tirakat”, agar jangan terbiasa mengirim sinyal ke otak bahwa makan itu harus dengan nasi (pernah saya bahas pada tulisan ku yang berjudul sarapan pagi antara qaul qadim dan qaul jadid).

Jika anda merasa saat sekarang ini beras mahal, coba kembali menggunakan pola makan orang-orang tua dulu. Jika tidak ada nasi, mereka bisa makan ubi rebus, pisang rebus, mie sagu, dan makanan-makanan tradisional yang hampir sering dilupakan oleh anak-anak sekarang. Ajari anak-anak kita jangan terlalu “kemenyek” dengan pola makan agar terlihat mewah.

Banggalah dengan kekayaan lokal. Masakan lokal. Minuman lokal. Ada orang luar, kenalkan makanan-makanan lokal. Yakinkan bahwa makanan tersebut nikmat. Sajikan di forum-forum bergensi. Ada forum rapat pemerintah daerah, forkompida, pengusaha. Semua harus percaya diri atau PEDE. Tidak masalah kok, mie sagu, sempolet, bubur kacang hijau masuk menjadi menu-menu di hotel-hotel atau warung-warung yang dianggap elit. Itu kekayaan yang telah diberikan oleh Allah. Masa kita tidak men-syukurinya. Syukuri dengan diperdayakan dengan semaksimal mungkin.

Saya sudah pergi ke berbagai daerah. Di hotel-hotel besar, selalu saja menyediakan makanan khas lokal. Di Yogyakarta, ada hotel dekat UIN Sunan Kalijaga selalu saja menyiapkan makanan tradisional: ada Gudeg Yogya, Sayur Pecel, Mendoan, Gatot (makanan berasal dari ubi, agak susah dijelaskan), tiwul (juga bahan nya dari ubi, juga sangat susah dijelaskan) dan sejenisnya. Di Jakarta, di Bogor, di Palembang selalu saja ada makanan di hotel berupa makanan khas daerah tersebut.

Mengapa daerah-daerah yang saya sebutkan sangat kuat mempertahankan makanan tradisional di tengah derasnya makanan rasa kebarat-baratan dan kecina-cinaan. Itu ada filosofinya. Menyukai makanan tradisional akan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal dan akan menumbuhkan nilai-nilai jati diri sebagai bagian dari masyarakat setempat. Makanan dan budaya menyatu. Itu sebabnya, daerah seperti Yogyakarta, meskipun terkena gempuran modernisasi sangat hebat budaya jawa nya sangat kental sekali. Bagaimana tidak kental, makan, minum nya masih makanan minum asli masyarakat tersebut. meskipun dia adalah seorang Sultan sekalipun, makanannya tetap makanan ciri khas asli jawa.

Saya kira gerakan cinta makanan dan minuman khas daerah perlu menjadi perhatian bersama. Dalam hal ini pemerintah daerah mempunyai peran yang sangat besar untuk memulai gerakan “wajib makan mie sagu” di seluruh perjamuan. Jika ada gerakan seperti ini, saya kira bukan hanya buta huruf yang bisa diberantas, tapi buta terhadap makanan khas daerah tersebut bisa diberantas.

Kalau perlu ada perda-nya. Jika melanggar kena sanksi. Umpamanya, ibu-ibu yang tidak masak mie sagu atau sempolet di hari yang ditentukan kena sanksi: uang belanja di kurangi. Laki-laki yang tidak mau makan mie sagu, tunjangan dipotong sekian persen. Saya kira takut juga.

Yang sudah melaksanakan program tersebut dan sukses bisa dikasih reward. Terserah rewardnya bisa dikasih modal usaha, umrah atau tambah bini satu lagi ( siap-siap gempa bumi, hehehe).



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   154

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   190

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   147

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   170

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   140

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13817


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3259