
Setelah muter-muter mencari bensin,
saya diajak oleh Mas Jarir. Makan malam. Karena diajak, berarti tinggal makan
saja. Dia yang bayar. Jadi, meskipun ngantuk, saya usahakan tetap melek. Solusinya pesan kopi. Mas Jarir
pesan Jus Jeruk. Untuk makan, Mas Jarir lagi mengurangi makan nasi. Ngurangi kadar
gula.Tapi pesannya Nasi Goreng.
Saya ingin makan nasi. Ma’lum sejak pagi
sampai malam belum satu butir nasi masuk ke dalam perut. Tadi pagi minum air
putih dan ngemil kacang kulit. Siang ingin beli nasi. Tiba-tiba ada
hamba Allah mengirim beragam makanan. Ada satu piring kueh. Ada satu piring mie
kuning plus satu gelas plastik berisi es buah. Siang hari akhirnya makan mie
kuning. Kueh diambil dua, sisanya saya berikan kepada orang yang lewat di depan
ku.
Entah gimana, saat Mas Jarir memesan nasi
goreng, saya malah mesan mie kuning lagi. Mie Aceh. Gagal lagi makan nasi.
Ternyata, makan tidak harus nasi. Makan mie
kuning juga sudah masuk definsi makan. Lidah kita nampaknya harus diajari makna
“tirakat”, agar jangan terbiasa mengirim sinyal ke otak bahwa makan itu harus
dengan nasi (pernah saya bahas pada tulisan ku yang berjudul sarapan pagi
antara qaul qadim dan qaul jadid).
Jika anda merasa saat sekarang ini beras
mahal, coba kembali menggunakan pola makan orang-orang tua dulu. Jika tidak ada
nasi, mereka bisa makan ubi rebus, pisang rebus, mie sagu, dan makanan-makanan tradisional
yang hampir sering dilupakan oleh anak-anak sekarang. Ajari anak-anak kita
jangan terlalu “kemenyek” dengan pola makan agar terlihat mewah.
Banggalah dengan kekayaan lokal. Masakan lokal.
Minuman lokal. Ada orang luar, kenalkan makanan-makanan lokal. Yakinkan bahwa
makanan tersebut nikmat. Sajikan di forum-forum bergensi. Ada forum rapat
pemerintah daerah, forkompida, pengusaha. Semua harus percaya diri atau PEDE. Tidak
masalah kok, mie sagu, sempolet, bubur kacang hijau masuk menjadi menu-menu di
hotel-hotel atau warung-warung yang dianggap elit. Itu kekayaan yang telah
diberikan oleh Allah. Masa kita tidak men-syukurinya. Syukuri dengan
diperdayakan dengan semaksimal mungkin.
Saya sudah pergi ke berbagai daerah. Di hotel-hotel
besar, selalu saja menyediakan makanan khas lokal. Di Yogyakarta, ada hotel
dekat UIN Sunan Kalijaga selalu saja menyiapkan makanan tradisional: ada Gudeg
Yogya, Sayur Pecel, Mendoan, Gatot (makanan berasal dari ubi, agak susah
dijelaskan), tiwul (juga bahan nya dari ubi, juga sangat susah dijelaskan) dan
sejenisnya. Di Jakarta, di Bogor, di Palembang selalu saja ada makanan di hotel
berupa makanan khas daerah tersebut.
Mengapa daerah-daerah yang saya sebutkan sangat
kuat mempertahankan makanan tradisional di tengah derasnya makanan rasa
kebarat-baratan dan kecina-cinaan. Itu ada filosofinya. Menyukai makanan
tradisional akan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal dan akan menumbuhkan
nilai-nilai jati diri sebagai bagian dari masyarakat setempat. Makanan dan
budaya menyatu. Itu sebabnya, daerah seperti Yogyakarta, meskipun terkena
gempuran modernisasi sangat hebat budaya jawa nya sangat kental sekali. Bagaimana
tidak kental, makan, minum nya masih makanan minum asli masyarakat tersebut.
meskipun dia adalah seorang Sultan sekalipun, makanannya tetap makanan ciri
khas asli jawa.
Saya kira gerakan cinta makanan dan minuman
khas daerah perlu menjadi perhatian bersama. Dalam hal ini pemerintah daerah
mempunyai peran yang sangat besar untuk memulai gerakan “wajib makan mie sagu”
di seluruh perjamuan. Jika ada gerakan seperti ini, saya kira bukan hanya buta
huruf yang bisa diberantas, tapi buta terhadap makanan khas daerah tersebut bisa
diberantas.
Kalau perlu ada perda-nya. Jika melanggar
kena sanksi. Umpamanya, ibu-ibu yang tidak masak mie sagu atau sempolet di hari
yang ditentukan kena sanksi: uang belanja di kurangi. Laki-laki yang tidak mau
makan mie sagu, tunjangan dipotong sekian persen. Saya kira takut juga.
Yang sudah melaksanakan program tersebut
dan sukses bisa dikasih reward. Terserah rewardnya bisa dikasih modal usaha,
umrah atau tambah bini satu lagi ( siap-siap gempa bumi, hehehe).
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   154
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   190
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   147
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   170
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   140
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13817
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3862
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3259