Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guru Ngaji dan Omar Bakri, Nasib Mu Kini



Minggu , 20 Juli 2025



Telah dibaca :  625

Suatu sore hari sekitar jam 17.00, anak-anak berumur 7-13 tahun keluar masuk Mushola. Setelah masuk, lalu keluar lagi. Ketika bertemu dengan teman-temanya di depan surau mereka ngobrol. Isinya tentang urutan nomor antri ngaji kepada mbah surip setelah sholat maghrib. Caranya unik, masing-masing mereka memegang tiang yang berada di teras -karena Mbah Surip ngajar nya di Teras Mushola -, lalu dia bilang pada teman-temannya tentang urutan antrian ngaji. Padahal tidak pakai nomor urut. Hanya sebatas ngomong sama teman nya. Dan semua teman-teman pun percaya. Anak-anak tahun 1987-an tidak perlu bersumpah. Tidak perlu pakai bukti urutan, cukup dengan ucapan, mereka saling percaya.

Mbah Surip seorang guru ngaji cukup tegas -jika tidak bisa dibilang galak. Tangan kanan nya selalu membawa rotan. Mengajarnya model sorogan -ngaji satu persatu. Jika ada di antara mereka bising saat teman nya ngaji, rotan pun dihantamkan di meja yang terbuat dari kayu. Semua pun terdiam. Jika ada yang salah, kadang meja, kadang tangan juga kena sasaran dipukul dengan rotan. Tidak ada masalah.

Jika ada anak tidak ngaji dan melapor kepada orang tuanya bahwa Mbah Surip galak, maka anak tersebut malah tambah kena pukul oleh orang tua nya sendiri. orang tua tahun 1987 an benar-benar menyerahkan anak-anak nya secara “bongko an” -totalitas.

Pekerjaan Mbah Surip pagi hingga siang hari seorang petani. Ia mempunyai sawah. Tidak luas. Tapi cukup untuk kebutuhan hidup keluarga. Orang tua wali santri tidak membayar bulanan. Tidak ada sama sekali. Era tahun tersebut adalah era “Keikhlasan Tingkat Dewa” dalam mendidik anak-anak nya. Ada sebagian dari wali santri yang kadang membawakan sayuran atau beras bulog -dulu beras bulog warna nya kuning dan bau nya penguk.

Mbah Surip sebagaimana rata-rata guru ngaji era tahun 1987 yang saya alami sendiri, adalah guru-guru ngaji yang benar-benar mengamalkan hadist Nabi Muhammad SAW:Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027].

Saat saya masih sekolah di tingkat MI atau MTS, putra-putra Pak De mengajar anak-anak remaja dan para pemuda Kitab Kuning antara lain: ta’lim muta’alim, fathul qarib, dan ‘uqudilijain. Itu yang masih saya ingat. Saya masih ingat Rumah dan Mushola Pak De Asy’ari banyak sekali anak-anak ngaji Al-Qur’an Dan Kitab-Kitab Kuning. Ada keseriusan ada juga gelak tawa para santri-santri kampung. Terutama ketika kajian kitab ‘uqudilijain -kitab tentang persiapan untuk para pemuda yang ingin menikah.

Saya dan teman-teman ku iri ingin ngaji Kitab Kuning. Itu sebabnya saat sudah masuk MTS tahun 1990-an, Saya, Sholihin, Rozikin, dan teman-teman lainnya ngaji kitab kuning ke Pesantren Raudhatut Thalibin. Jarak tempuh dari tempat tinggal sekitar tiga kilo. Setiap hari pulang-pergi jalan kaki. Tidak merasa letih. Mungkin banyak teman. Lebih senang lagi jika ngaji di bulan Ramadhan. Menjelang Imsak, kami sama-sama berangkat menuju pesantren.

Guru-guru ngaji ku -kemudian hari dipanggil kyai -totalitas mendidik santri-santrinya. Tidak dibayar dan tidak ada bayaran. Sama seperti Mbah Surip, pagi hari selalu pergi ke sawah. Jika musim tandur -nanam bibit padi -sudah selesai biasa nya pergi ke Pasar jualan hasil-hasil dari ladang. Biasanya jualan kelapa.

Kisah Mbah Surip dan guru-guru ngaji ku di atas saat ini mungkin sudah tidak begitu banyak. Tapi masih ada. Terutama guru-guru ngaji yang lahir dari produk pesantren tradisional yang mengajarkan hapalan Al-Qur’an dan kajian-kajian manuskrip Kitab Turost.

Alhamdulillah, teman-teman ku masih menghidupkan tradisi seperti Mbah Surip. Ada teman ku yang telah hafal Al-Qur’an 30 juz dan menguasai tafsir dengan Bahasa inggris. Hingga kini ia selalu keliling, ngaji tanpa meminta bayaran sepeserpun dari para santri dan orang tua santri.

Bahkan sebagian teman-teman ku yang alumni pesantren terus membuka pengajian Kitab Kuning. Mulai dari akidah, fiqh hingga tasawuf. Mereka  ngaji bareng. Dari rumah sama-sama bawa kopi dan kueh. Selesai ngaji makan bareng-bareng.

Era tradisi mbah surip -dan tradisi-tradisi ngaji sebelum nya hingga kini sebagaimana teman-teman ku yang telah diceritakan – sebenarnya suatu era penting bahwa ilmu agama memang harus diberikan pemahaman lebih dini kepada generasi mudah seperti anak-anak yang masih ditingkat pendidikan dasar.

Persoalan sekarang adalah kurangnya pemahaman tentang hakikat nafsu. Orang tua tidak bisa memahami bahwa nafsu pada anak-anak merupakan nafsu permainan yang ingin bersenang-senang dengan bermain-main. Menjadi persoalan ketika di antara anak-anak ada yang hyper aktif. Pada wilayah ini, kadang tidak dipahami oleh para wali santri. Disisi lain, mereka ingin tahu beres kondisi anaknya. Tahu nya anak disuruh ngaji, pergi ke tempat ngaji dan sudah bisa ngaji. Padahal proses tidak sesederhana itu. Satu murid berbeda karakter, perilaku dan daya nalar nya. guru harus meramu kelaku random dari murid-muridnya. Suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk meramu menjadi ramuan yang manjur.

Mbah Surip dan Mbah-Mbah Surip lainnya bukan seorang guru ngaji yang sudah mengenyam pendidikan Tingkat S1, Magister, Doktor yang telah mengikuti pelatihan-pelatihan tingkat lokal hingga internasional. mereka berbekal ilmu apa adanya. Mereka hanya mengenal beberapa hadist tentang perintah Kanjeng Nabi untuk memukul anak-anaknya yang belum mau ibadah dan belajar. Guru-guru ngaji mempunyai perspektif yang berbeda dalam mendidik dengan para sarjana yang mungkin telah menghabiskan puluhan juta atau bahkan ratusan juta untuk mempelajari metode pendidikan yang tepat. Mbah-mbah surip  mendapatkan ilmu dari pesantren yang orang tua nya juga tidak pernah mengirim biaya hidup nya. Hingga akhirnya mbah-mbah surip muda harus membiayai sendiri dengan cara kerja serabutan untuk bisa bertahan hidup dan bisa ngaji di pesantren.

Apakah para guru yang lahir dari hasil seminar, diklat, dari tingkat lokal hingga internasional masih mempunyai ruang waktu untuk mendidik anak-anak dengan pola muhlisinalahu dien -ikhlas benar-benar menegakan ajaran Islam. Atau malah sebaliknya sibuk memperbaiki nasib sendiri yang belum jelas. Lalu membuka lembaga-lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?. Jika demikian adanya, maka para pendidik seperti itu belum selesai dengan dirinya sendiri.

Sangat sulit memang mencari guru-guru agama yang telah selesai dengan dirinya sendiri. keikhlasan yang telah diajarkan oleh para pendahulu, lalu ditularkan ilmu-ilmu agama nya kepada anak-anak di sekitar rumah nya tanpa mengharapkan imbalan yang berlebih sebenarnya merupakan keberkahan sangat agung bagi para wali santri.

Mungkin  dunia saat sekarang ini sudah tidak lagi mengenal kata berkah. Guru-guru ngaji sekarang mungkin -sebagian mereka -hanya mengenal berkat. Mungkin gara-gara mencari berkah dibid’ahkan, akhirnya mencari berkat. Dunia berkah menggapai ridho Allah. Dunia berkat berpegang prinsip pada “wani piro”.

Fakta gejala pendidikan dengan pola “wani piro” sudah sangat marak. Pendidikan sudah mengarah pada industri pendidikan. Semua berbasis bisnis. Anda mengeluarkan sekian, maka anda mendapatkan sekian. Maka hubungan guru, murid dan wali santri sudah berubah hubungan bisnis. Dari sini, wajar jika ada celah aturan -apapun nama nya, apakah HAM dan sejenisnya saya tidak tahu -untuk mengatur keseimbangan antara apa yang didapatkan dengan output yang diperoleh.

Sayangnya, mbah surip dan guru-guru ngaji di kampung tidak mengenal pola seperti itu. Orientasinya bukan pada materi. Anda mau ngasih duit atau tidak, no problem. Ada dorongan tanggungjawab pada dirnya berupa sedikit titipan ilmu agama dari Allah. Yang penting anak mau ngaji, dan guru mendidik dengan pola nya. Idealnya wali santri menerima nya.

Proses pendidikan sekali lagi tidak sama rata. Ada budaya dan kebiasaan berbeda-beda. Jika semua pola pendiidkan dianggap sama, lalu apa-apa yang dilakukan oleh guru nya juga dengan kacamata yang sama, maka biarkan saja anak-anak untuk belajar kepada oran tua nya sendiri. Atau memang perlu masukan di lembaga yang mempunyai setandar biaya pendidikan yang memang memungkinkan berlakunya seluruh aturan-aturan tersebut.

Sabar Mbah Surip dan Omar Bakri. Biarkan Tuhan yang memberikan jalan terbaik untuk anda. Yakinlah, Tuhan mboten sare.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876