
Suatu sore hari sekitar jam 17.00,
anak-anak berumur 7-13 tahun keluar masuk Mushola. Setelah masuk, lalu keluar
lagi. Ketika bertemu dengan teman-temanya di depan surau mereka ngobrol. Isinya
tentang urutan nomor antri ngaji kepada mbah surip setelah sholat maghrib.
Caranya unik, masing-masing mereka memegang tiang yang berada di teras -karena Mbah
Surip ngajar nya di Teras Mushola -, lalu dia bilang pada teman-temannya
tentang urutan antrian ngaji. Padahal tidak pakai nomor urut. Hanya sebatas
ngomong sama teman nya. Dan semua teman-teman pun percaya. Anak-anak tahun
1987-an tidak perlu bersumpah. Tidak perlu pakai bukti urutan, cukup dengan
ucapan, mereka saling percaya.
Mbah Surip seorang guru ngaji cukup tegas
-jika tidak bisa dibilang galak. Tangan kanan nya selalu membawa rotan.
Mengajarnya model sorogan -ngaji satu persatu. Jika ada di antara mereka bising
saat teman nya ngaji, rotan pun dihantamkan di meja yang terbuat dari kayu.
Semua pun terdiam. Jika ada yang salah, kadang meja, kadang tangan juga kena
sasaran dipukul dengan rotan. Tidak ada masalah.
Jika ada anak tidak ngaji dan melapor
kepada orang tuanya bahwa Mbah Surip galak, maka anak tersebut malah tambah
kena pukul oleh orang tua nya sendiri. orang tua tahun 1987 an benar-benar
menyerahkan anak-anak nya secara “bongko an” -totalitas.
Pekerjaan Mbah Surip pagi hingga siang hari
seorang petani. Ia mempunyai sawah. Tidak luas. Tapi cukup untuk kebutuhan
hidup keluarga. Orang tua wali santri tidak membayar bulanan. Tidak ada sama
sekali. Era tahun tersebut adalah era “Keikhlasan Tingkat Dewa” dalam mendidik
anak-anak nya. Ada sebagian dari wali santri yang kadang membawakan sayuran
atau beras bulog -dulu beras bulog warna nya kuning dan bau nya penguk.
Mbah Surip sebagaimana rata-rata guru ngaji
era tahun 1987 yang saya alami sendiri, adalah guru-guru ngaji yang benar-benar
mengamalkan hadist Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik
orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027].
Saat saya masih sekolah di tingkat MI atau MTS, putra-putra Pak De
mengajar anak-anak remaja dan para pemuda Kitab Kuning antara lain: ta’lim
muta’alim, fathul qarib, dan ‘uqudilijain. Itu yang masih saya ingat. Saya
masih ingat Rumah dan Mushola Pak De Asy’ari banyak sekali anak-anak ngaji
Al-Qur’an Dan Kitab-Kitab Kuning. Ada keseriusan ada juga gelak tawa para
santri-santri kampung. Terutama ketika kajian kitab ‘uqudilijain -kitab tentang
persiapan untuk para pemuda yang ingin menikah.
Saya dan teman-teman ku iri ingin ngaji Kitab Kuning. Itu sebabnya
saat sudah masuk MTS tahun 1990-an, Saya, Sholihin, Rozikin, dan teman-teman
lainnya ngaji kitab kuning ke Pesantren Raudhatut Thalibin. Jarak tempuh dari
tempat tinggal sekitar tiga kilo. Setiap hari pulang-pergi jalan kaki. Tidak
merasa letih. Mungkin banyak teman. Lebih senang lagi jika ngaji di bulan
Ramadhan. Menjelang Imsak, kami sama-sama berangkat menuju pesantren.
Guru-guru ngaji ku -kemudian hari dipanggil kyai -totalitas
mendidik santri-santrinya. Tidak dibayar dan tidak ada bayaran. Sama seperti
Mbah Surip, pagi hari selalu pergi ke sawah. Jika musim tandur -nanam bibit
padi -sudah selesai biasa nya pergi ke Pasar jualan hasil-hasil dari ladang.
Biasanya jualan kelapa.
Kisah Mbah Surip dan guru-guru ngaji ku di atas saat ini mungkin
sudah tidak begitu banyak. Tapi masih ada. Terutama guru-guru ngaji yang lahir
dari produk pesantren tradisional yang mengajarkan hapalan Al-Qur’an dan
kajian-kajian manuskrip Kitab Turost.
Alhamdulillah, teman-teman ku masih menghidupkan tradisi seperti Mbah
Surip. Ada teman ku yang telah hafal Al-Qur’an 30 juz dan menguasai tafsir
dengan Bahasa inggris. Hingga kini ia selalu keliling, ngaji tanpa meminta
bayaran sepeserpun dari para santri dan orang tua santri.
Bahkan sebagian teman-teman ku yang alumni pesantren terus membuka
pengajian Kitab Kuning. Mulai dari akidah, fiqh hingga tasawuf. Mereka ngaji bareng. Dari rumah sama-sama bawa kopi
dan kueh. Selesai ngaji makan bareng-bareng.
Era tradisi mbah surip -dan tradisi-tradisi ngaji sebelum nya
hingga kini sebagaimana teman-teman ku yang telah diceritakan – sebenarnya
suatu era penting bahwa ilmu agama memang harus diberikan pemahaman lebih dini
kepada generasi mudah seperti anak-anak yang masih ditingkat pendidikan dasar.
Persoalan sekarang adalah kurangnya pemahaman tentang hakikat
nafsu. Orang tua tidak bisa memahami bahwa nafsu pada anak-anak merupakan nafsu
permainan yang ingin bersenang-senang dengan bermain-main. Menjadi persoalan
ketika di antara anak-anak ada yang hyper aktif. Pada wilayah ini,
kadang tidak dipahami oleh para wali santri. Disisi lain, mereka ingin tahu
beres kondisi anaknya. Tahu nya anak disuruh ngaji, pergi ke tempat ngaji dan
sudah bisa ngaji. Padahal proses tidak sesederhana itu. Satu murid berbeda
karakter, perilaku dan daya nalar nya. guru harus meramu kelaku random
dari murid-muridnya. Suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk meramu menjadi
ramuan yang manjur.
Mbah Surip dan Mbah-Mbah Surip lainnya bukan seorang guru ngaji
yang sudah mengenyam pendidikan Tingkat S1, Magister, Doktor yang telah
mengikuti pelatihan-pelatihan tingkat lokal hingga internasional. mereka
berbekal ilmu apa adanya. Mereka hanya mengenal beberapa hadist tentang
perintah Kanjeng Nabi untuk memukul anak-anaknya yang belum mau ibadah dan
belajar. Guru-guru ngaji mempunyai perspektif yang berbeda dalam mendidik
dengan para sarjana yang mungkin telah menghabiskan puluhan juta atau bahkan
ratusan juta untuk mempelajari metode pendidikan yang tepat. Mbah-mbah
surip mendapatkan ilmu dari pesantren
yang orang tua nya juga tidak pernah mengirim biaya hidup nya. Hingga akhirnya
mbah-mbah surip muda harus membiayai sendiri dengan cara kerja serabutan untuk
bisa bertahan hidup dan bisa ngaji di pesantren.
Apakah para guru yang lahir dari hasil seminar, diklat, dari tingkat
lokal hingga internasional masih mempunyai ruang waktu untuk mendidik anak-anak
dengan pola muhlisinalahu dien -ikhlas benar-benar menegakan ajaran Islam.
Atau malah sebaliknya sibuk memperbaiki nasib sendiri yang belum jelas. Lalu membuka
lembaga-lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?. Jika demikian
adanya, maka para pendidik seperti itu belum selesai dengan dirinya sendiri.
Sangat sulit memang mencari guru-guru agama yang telah selesai
dengan dirinya sendiri. keikhlasan yang telah diajarkan oleh para pendahulu,
lalu ditularkan ilmu-ilmu agama nya kepada anak-anak di sekitar rumah nya tanpa
mengharapkan imbalan yang berlebih sebenarnya merupakan keberkahan sangat agung
bagi para wali santri.
Mungkin dunia saat sekarang
ini sudah tidak lagi mengenal kata berkah. Guru-guru ngaji sekarang
mungkin -sebagian mereka -hanya mengenal berkat. Mungkin gara-gara
mencari berkah dibid’ahkan, akhirnya mencari berkat. Dunia berkah
menggapai ridho Allah. Dunia berkat berpegang prinsip pada “wani piro”.
Fakta gejala pendidikan dengan pola “wani piro” sudah sangat marak.
Pendidikan sudah mengarah pada industri pendidikan. Semua berbasis bisnis. Anda
mengeluarkan sekian, maka anda mendapatkan sekian. Maka hubungan guru, murid
dan wali santri sudah berubah hubungan bisnis. Dari sini, wajar jika ada celah aturan
-apapun nama nya, apakah HAM dan sejenisnya saya tidak tahu -untuk mengatur keseimbangan
antara apa yang didapatkan dengan output yang diperoleh.
Sayangnya, mbah surip dan guru-guru ngaji di kampung tidak mengenal
pola seperti itu. Orientasinya bukan pada materi. Anda mau ngasih duit atau
tidak, no problem. Ada dorongan tanggungjawab pada dirnya berupa sedikit titipan
ilmu agama dari Allah. Yang penting anak mau ngaji, dan guru mendidik dengan
pola nya. Idealnya wali santri menerima nya.
Proses pendidikan sekali lagi tidak sama rata. Ada budaya dan
kebiasaan berbeda-beda. Jika semua pola pendiidkan dianggap sama, lalu apa-apa
yang dilakukan oleh guru nya juga dengan kacamata yang sama, maka biarkan saja
anak-anak untuk belajar kepada oran tua nya sendiri. Atau memang perlu masukan
di lembaga yang mempunyai setandar biaya pendidikan yang memang memungkinkan
berlakunya seluruh aturan-aturan tersebut.
Sabar Mbah Surip dan Omar Bakri. Biarkan Tuhan yang memberikan
jalan terbaik untuk anda. Yakinlah, Tuhan mboten sare.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876