Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Gus Baha; Mashur yang ingin Mastur



Kamis , 31 Oktober 2024



Telah dibaca :  795

Era digital atau lebih kesini lagi ada tambahan istilah era media sosial. Platfom tersebut sering dijadikan sebagai jalan untuk mengaktualisasikan diri. Tanpa punya medsos, seolah-olah menjadi manusia yang primitif, kuper (kurang pergaulan) dan dianggap tidak responsif dengan perkembangan zaman.

Wajar jika semua manusia dalam seluruh penjuru mata angin mempunyai medsos. Para penceramah dan orang-orang yang sudah disebut ulama atau bergaya seperti ulama pun membuat akun-akun di Medsos; Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube dan lain-lain.

Boleh kah? Boleh. Tapi tidak harus. Manusia pelaku. Medsos asesoris. Manusia bisa berbuat apa saja dan bisa menggunakan asesoris apa saja. Tidak harus medsos. Manusia adalah sumber keharuman abadi. Bunga Mawar dan Bunga Melati sumber keharuman, tapi imitasi.

Apa buktinya? Bunga Mawar dan Melati Harum mengikuti arah mata angin berhembus. Sedangkan manusia harum mampu melawan hembusan mata angin. Terserah, darimanapun orang mencoba menjatuhkan anda, saat anda orang baik maka manusia dan alam semesta menolong anda. Sebab kebaikan selalu menjadi pemenang dalam kehidupan, meskpun membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan.

Kebenaran akan menemukan keagungan seperti satu lilin di tengah kegelapan malam. Kebenaran bercahaya. Kebaikan terus menerangi alam semesta. Meskipun tidak promosi sekalipun. Sebab saat kebenaran dan kebaikan sudah menyatu pada diri anda, maka anda laksana madu kehidupan yang akan menjadi rujukan bagi setiap orang yang membutuhkan manis nya untaian ilmu dan indahnya ketenangan mata batin. Anda sudah tidak perlu mengatakan diri anda baik, sebab alam semesta yang membuka tirai-tirai keagungan anda, sehingga seluruh jagat semesta merasakan keharuman pribadi anda.

Itulah gambaran filsafat kehidupan yang saya ambil sedikit dari seorang Gus Baha, ulama yang “mendem jero” dan saat sekarang ini akarnya benar-benar menghujam di tanah Nusantara dengan sangat kuat. Pohon rindang di tengah-tengah kelompok manusia yang beragam. Ia menghasilkan buah kehidupan untuk dikunyah dalam lembaran-lembaran peradaban.

Gus Baha tidak membutuhkan WhatsApp,Facebook,Instagram, Tik Tok, dan Youtube. Saat para penceramah menggunakan platform medsos yang (katanya ) untuk dakwah (sekaligus mencari berkat), Gus Baha malah tidak tahu kalau untaian ilmu dan fatwa-fatwanya telah mashuru fisama’ wa fil ardhi. Ia tidak tahu kalau viral di medsos. Ia tidak perlu membuat lapak medsos. Ia tidak sibuk memikirkan follower. Tidak peduli sama sekali. prinsipnya konsisten “menebarkan ilmu wajib, meskipun santrinya hanya satu, tetap ngaji”.

Gus baha tidak peduli apa kata netizen. Tidak emosional saat ada yang mencaci maki atau menjatuhkan dirinya dengan segala prespektif miring. Parameter nilai kehidupannya sangat sederhana tapi sangat mengena. Ia menggunakan prinsip hidup Imam Syafi’i: “ Jika ada orang mencaci maki diriku, berarti saya lebih hebat dari pencaci maki, jika direndahkan berarti saya berada di level tinggi”.

Kini para pengguna media “ngalap” berkah Gus Baha. Anda sekarang bisa menjumpai seluruh platfom medsos ada video pengajiannya. Mereka mendapatkan keberkahan ilmu dan dunia. Gus Baha telah memberkahi ribuan bahkan jutaan manusia untuk sama-sama belajar mengenal diri untuk semakin baik. Mereka belajar bersama-sama bahwa untuk menjadi baik dengan tidak harus terkenal. Dan untuk menjadi terkenal seharusnya berpegang kepada nilai-nilai kebaikan, bukan melanggar syariat dan menyalahi aturan moral yang hidup di masyarakat. Untuk menjadi hebat bukan harus mempunyai kendaraan Lamborghini, makan nasi goreng seharga 1 juta satu porsi, dan membeli baju seharga seharga Honda NMAX satu biji.

Gus Baha benar-benar melawan arus. Ia suka naik kendaraan umum dan kadang berjalan kaki, menjelang subuh ia membuat kopi tanpa merepotkan istri, prinsip hidup sederhana yaitu setiap hari terus belajar dan ngaji, pakaian identitasnya pun hanya sarung, baju putih dan peci. Konsisten dan hanya berharap ridho Ilahi. Bahkan cita-cita nya sangat sederhana tapi justru mendalam yaitu ingin menjadi wali atau orang-orang yang sangat mencintai Allah dan nabi. Itu sebabnya, ia mencurahkan seluruh ilmu nya untuk mencari ridho-Nya dengan terus menebarkan ajaran Islam yang menggemberikan, menyenangkan dan manusiawi, tidak kaku, dan jauh dari suka mencaci maki. Sebab baginya, Islam harus menjadi rahmat semesta alam harus disampaikan dengan cara-cara yang terpuji.

Alhasil, Gus Baha telah mengajarkan pada diriku dan anda bahwa untuk menjadi orang mashur, terkenal dan memberi manfaat orang banyak sebenarnya berangkat dari keseriusan mengajar dan mendidik diri sendiri secara totalitas sehingga diri kita benar-benar telah mencerminkan diri pantas menjadi panutan tanpa harus memerintah orang lain untuk menghormati diri kita. Sebab kebaikan yang lahir dari sanubari yang bersih akan menjalar kepada orang lain seperti aliran listrik yang bisa menyinari seluruh alam semesta.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875