
Era digital atau lebih kesini lagi ada
tambahan istilah era media sosial. Platfom tersebut sering dijadikan sebagai
jalan untuk mengaktualisasikan diri. Tanpa punya medsos, seolah-olah menjadi
manusia yang primitif, kuper (kurang pergaulan) dan dianggap tidak responsif
dengan perkembangan zaman.
Wajar jika semua manusia dalam seluruh
penjuru mata angin mempunyai medsos. Para penceramah dan orang-orang yang sudah
disebut ulama atau bergaya seperti ulama pun membuat akun-akun di Medsos; Facebook,
Instagram, Tiktok, Youtube dan lain-lain.
Boleh kah? Boleh. Tapi tidak harus. Manusia
pelaku. Medsos asesoris. Manusia bisa berbuat apa saja dan bisa menggunakan
asesoris apa saja. Tidak harus medsos. Manusia adalah sumber keharuman abadi.
Bunga Mawar dan Bunga Melati sumber keharuman, tapi imitasi.
Apa buktinya? Bunga Mawar dan Melati Harum
mengikuti arah mata angin berhembus. Sedangkan manusia harum mampu melawan
hembusan mata angin. Terserah, darimanapun orang mencoba menjatuhkan anda, saat
anda orang baik maka manusia dan alam semesta menolong anda. Sebab kebaikan selalu
menjadi pemenang dalam kehidupan, meskpun membutuhkan proses yang panjang dan
melelahkan.
Kebenaran akan menemukan keagungan seperti
satu lilin di tengah kegelapan malam. Kebenaran bercahaya. Kebaikan terus
menerangi alam semesta. Meskipun tidak promosi sekalipun. Sebab saat kebenaran
dan kebaikan sudah menyatu pada diri anda, maka anda laksana madu kehidupan
yang akan menjadi rujukan bagi setiap orang yang membutuhkan manis nya untaian
ilmu dan indahnya ketenangan mata batin. Anda sudah tidak perlu mengatakan diri
anda baik, sebab alam semesta yang membuka tirai-tirai keagungan anda,
sehingga seluruh jagat semesta merasakan keharuman pribadi anda.
Itulah gambaran filsafat kehidupan yang
saya ambil sedikit dari seorang Gus Baha, ulama yang “mendem jero” dan
saat sekarang ini akarnya benar-benar menghujam di tanah Nusantara dengan
sangat kuat. Pohon rindang di tengah-tengah kelompok manusia yang beragam. Ia menghasilkan
buah kehidupan untuk dikunyah dalam lembaran-lembaran peradaban.
Gus Baha tidak membutuhkan WhatsApp,Facebook,Instagram, Tik
Tok, dan Youtube. Saat para penceramah menggunakan platform medsos yang
(katanya ) untuk dakwah (sekaligus mencari berkat), Gus Baha malah tidak tahu
kalau untaian ilmu dan fatwa-fatwanya telah mashuru fisama’ wa fil ardhi.
Ia tidak tahu kalau viral di medsos. Ia tidak perlu membuat lapak medsos. Ia
tidak sibuk memikirkan follower. Tidak peduli sama sekali. prinsipnya konsisten
“menebarkan ilmu wajib, meskipun santrinya hanya satu, tetap ngaji”.
Gus baha tidak peduli apa kata netizen. Tidak
emosional saat ada yang mencaci maki atau menjatuhkan dirinya dengan segala
prespektif miring. Parameter nilai kehidupannya sangat sederhana tapi sangat
mengena. Ia menggunakan prinsip hidup Imam Syafi’i: “ Jika ada orang mencaci
maki diriku, berarti saya lebih hebat dari pencaci maki, jika direndahkan berarti
saya berada di level tinggi”.
Kini para pengguna media “ngalap” berkah Gus
Baha. Anda sekarang bisa menjumpai seluruh platfom medsos ada video
pengajiannya. Mereka mendapatkan keberkahan ilmu dan dunia. Gus Baha telah
memberkahi ribuan bahkan jutaan manusia untuk sama-sama belajar mengenal diri
untuk semakin baik. Mereka belajar bersama-sama bahwa untuk menjadi baik dengan
tidak harus terkenal. Dan untuk menjadi terkenal seharusnya berpegang kepada
nilai-nilai kebaikan, bukan melanggar syariat dan menyalahi aturan moral yang
hidup di masyarakat. Untuk menjadi hebat bukan harus mempunyai kendaraan
Lamborghini, makan nasi goreng seharga 1 juta satu porsi, dan membeli baju
seharga seharga Honda NMAX satu biji.
Gus Baha benar-benar melawan arus. Ia suka
naik kendaraan umum dan kadang berjalan kaki, menjelang subuh ia membuat kopi
tanpa merepotkan istri, prinsip hidup sederhana yaitu setiap hari terus belajar
dan ngaji, pakaian identitasnya pun hanya sarung, baju putih dan peci.
Konsisten dan hanya berharap ridho Ilahi. Bahkan cita-cita nya sangat sederhana
tapi justru mendalam yaitu ingin menjadi wali atau orang-orang yang sangat
mencintai Allah dan nabi. Itu sebabnya, ia mencurahkan seluruh ilmu nya untuk
mencari ridho-Nya dengan terus menebarkan ajaran Islam yang menggemberikan,
menyenangkan dan manusiawi, tidak kaku, dan jauh dari suka mencaci maki. Sebab
baginya, Islam harus menjadi rahmat semesta alam harus disampaikan dengan
cara-cara yang terpuji.
Alhasil, Gus Baha telah mengajarkan pada
diriku dan anda bahwa untuk menjadi orang mashur, terkenal dan memberi manfaat
orang banyak sebenarnya berangkat dari keseriusan mengajar dan mendidik diri
sendiri secara totalitas sehingga diri kita benar-benar telah mencerminkan diri
pantas menjadi panutan tanpa harus memerintah orang lain untuk menghormati diri
kita. Sebab kebaikan yang lahir dari sanubari yang bersih akan menjalar kepada
orang lain seperti aliran listrik yang bisa menyinari seluruh alam semesta.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875