
Beberapa waktu lalu saya silaturahmi ke Yayasan
Kalam Kudus. Ini Yayasan Kristen, tapi isinya multi etnis dan agama.
Siswa-siswa nya pun beragam etnis dan agama. Sekolah ini, pegawai dan siswa
muslim menjadi minoritas. Ada dua kegiatan; pertama saya melakukan sosialisasi
tentang bahaya narkoba kepada guru dan siswa; kedua melakukan penelitian
tentang pemikiran Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) perspektif masyarakat kelompok
minoritas non-muslim. salah satu yang menarik adalah sahabat saya, Drs.Jani seorang
Kepala Sekolah di SMP Kalam Kudus memberi sambutan di depan ratusan siswa yang
sedang melaksanakan upacara. Kiri-kira begini kalimat nya:
“ Anak-anaku, di samping saya adalah Doktor Imam Ghozali. Dia kader NU yang meneruskan perjuangan dari Almarhum Gus Dur seorang toktoh NU yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sangat peduli terhadap kelompok minoritas. Salah satu jasa beliau yaitu mengakui Agama Konghucu menjadi salah satu agama resmi Negara dan Perayaan Imlek.”
Baca Juga :
Jalan Panjang Menciptakan Perdamaian
Saya mendengar pidato sahabat Jani ingin
tertawa. Tapi itulah fakta bahwa kelompok menirotas lebih mengenal Gus Dur nya
daripada NU nya. paling tidak dari pembicaraan saya dengan mereka. Saat saya
bertanya NU, belum memahami .Tapi saat bertanya Gus Dur, mereka menjawab
mengetahui. Bahkan bisa jadi mereka lebih mengenal ajaran-ajaran Gus Dur
daripada ajaran agama Islam dalam pengertian ajaran yang beraal dari Al-Qur’an
dan al-Hadist. Jadi benar perkataan Gus Dur bahwa saat kita melakukan suatu
kebaikan, orang tidak akan bertanya apa agama dan sukunya. Dari sini kebaikan
merupakan suatu yang penting dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
bernegara.
Ketika melakukan penelitian tentang pemikiran Gus Dur di kelompok minoritas di hadapan para guru-guru SMK Yayasan Kalam Kudus, rata-rata sangat mengapresiasi pandangan universal Gus Dur terhadap cara pandang keagamaan, kemanusiaan dan kebangsaan. Sekitar 90% mereka menginginkan nilai-nilai yang ditawarkan oleh Gus Dur bisa diaplikasikan dalam kehidupan realita di tengah-tengah masyarakat.
Baca juga:
Keputusan Gus Dur satu sisi disambut baik
oleh kelompok minoritas. Namun sebagian dari kelompok mayoritas merasa bahwa
keputusan ini tidak sepenuhnya bisa diterima. Persoalan-persoalan klasik tentang
kecemburuan kemampuan masyarakat Tionghoa yang menguasi sektor ekonomi menjadi
kekhawatiran semakin mengkristal kelompok mayoritas. Mereka melakukan provokasi
secara rutinitas terutama berkaitan pada persoalan-persoalan politik dalam bentuk
anti terhadap etnis tionghoa, dan membangun kemandirian ekonomi umat. Bahkan lebih
ekstrem dengan menginginkan kepada sistem politik yang berlandaskan agama,
menolak sistem politik berlaku saat ini.
Namun alasan Gus Dur melakukan keputusan
berani ini bagian dari amanah Undang-Undang Dasar 1945 yang memposisikan
kesamaan derajat baik hak dan kewajiban seluruh warga Negara, tidak kecuali
mereka yang berasal keturunan orang-orang Tionghoa yang sudah menjadi warga
Negara Indonesia.
Persoalan apakah mereka bisa menguasai
sektor ekonomi dan lainya adalah persoalan kualitas. Sering persoalan ini
dilupakan. Bahwa dalam sistem kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa
dan bernegara selalu saja ada kelompok yang mempunyai kesiapan untuk bersaing,
ada kelompok belum siap melakukan persaingan. Ada istilah Negara Miskin, Negara
Berkembang dan Negara Maju yang semua menginginkan menjadi apa yang disebut
sebagai Welfare State merupakan seleksi alamiah dari watak-watak
masyarakat Negara-negara yang bersangkutan. Ini tidak berkaitan dengan suatu
etnis tertentu, tapi berkaitan kesadaran untuk melakukan suatu perubahan
mewujudkan suatu perubahan. Maka membangun mindset mandiri dan
kerjakeras untuk mewujudkan suatu kehidupan yang lebih baik adalah sebuah
keharusan dari setiap kelompok tanpa melihat latarbelakang Suku, Etnis, Budaya
dan Agama.
Kini hari raya imlek bukan sebatas sebagai hari raya etnis tionghoa. Namun sudah menjadi bagian dari kegiatan wisata nasional. Sudah puluhan ribu masyarakat kembali ke kepulauan meranti ingin melihat secara langsung hari raya ini selama satu minggu. Penulis menilai disini kelebihan dari etnis tionghoa. Bahwa ritual tidak sebatas sebagai wujud pengabdian kepada sang pencipta. Tapi mereka mampu mendesain dan bekerjasama dengan pemerintah daerah menjadi bagian dari even wisata dan mampu mendatangkan pundi-pundi keuntunguan materi bagi mereka, masyarakat sekitar nya dan pemerintah daerah.
Baca juga :
Saya kira masyarakat muslim di Kabupaten
Kepulauan Meranti secara khusus dan di Kabupaten-Kabupaten lainya adalah
mayoritas. Ada beberapa Hari Raya yang bisa dikemas menjadi even nasional. Jika
di Yogyakarta ada acara Sekatern menjadi Wisata Nasional, mengapa di Kabupaten
Meranti secara khusus dan Kabupaten-Kabupaten di Provinsi Riau melakukan
even-even bulan Muharom atau bulan Mauludan dengan kearifan lokal yang ada di Riau.
Umpamanya saja membuat even pembacaan Al Barzanji Akbar atau Lampu Colok Akbar dan
lain-lainnya yang dikemas dengan baik, saya kira jauh lebih meriah dari acara Imlek.
Saya kira ini cara positif untuk melakukan
suatu persaingan secara sehat dengan melakukan berbagai kreasi mengangkat
nilai-nilai religius tanpa harus menjatuhkan ritual agama lain.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2988
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884