Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Gus Dur dan Imlek di Kepulauan Meranti



Kamis , 26 Januari 2023



Telah dibaca :  247

Beberapa waktu lalu saya silaturahmi ke Yayasan Kalam Kudus. Ini Yayasan Kristen, tapi isinya multi etnis dan agama. Siswa-siswa nya pun beragam etnis dan agama. Sekolah ini, pegawai dan siswa muslim menjadi minoritas. Ada dua kegiatan; pertama saya melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba kepada guru dan siswa; kedua melakukan penelitian tentang pemikiran Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) perspektif masyarakat kelompok minoritas non-muslim. salah satu yang menarik adalah sahabat saya, Drs.Jani seorang Kepala Sekolah di SMP Kalam Kudus memberi sambutan di depan ratusan siswa yang sedang melaksanakan upacara. Kiri-kira begini kalimat nya:

“ Anak-anaku, di samping saya adalah Doktor Imam Ghozali. Dia kader NU yang meneruskan perjuangan dari Almarhum Gus Dur seorang toktoh NU yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sangat peduli terhadap kelompok minoritas. Salah satu jasa beliau yaitu mengakui Agama Konghucu menjadi salah satu agama resmi Negara dan Perayaan Imlek.”

Baca Juga :

Jalan Panjang Menciptakan Perdamaian

Saya mendengar pidato sahabat Jani ingin tertawa. Tapi itulah fakta bahwa kelompok menirotas lebih mengenal Gus Dur nya daripada NU nya. paling tidak dari pembicaraan saya dengan mereka. Saat saya bertanya NU, belum memahami .Tapi saat bertanya Gus Dur, mereka menjawab mengetahui. Bahkan bisa jadi mereka lebih mengenal ajaran-ajaran Gus Dur daripada ajaran agama Islam dalam pengertian ajaran yang beraal dari Al-Qur’an dan al-Hadist. Jadi benar perkataan Gus Dur bahwa saat kita melakukan suatu kebaikan, orang tidak akan bertanya apa agama dan sukunya. Dari sini kebaikan merupakan suatu yang penting dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Ketika melakukan penelitian tentang pemikiran Gus Dur di kelompok minoritas di hadapan para guru-guru SMK Yayasan Kalam Kudus, rata-rata sangat mengapresiasi pandangan universal Gus Dur terhadap cara pandang keagamaan, kemanusiaan dan kebangsaan. Sekitar 90% mereka menginginkan nilai-nilai yang ditawarkan oleh Gus Dur bisa diaplikasikan dalam kehidupan realita di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga:

Ana Basyarun Mislukum

Keputusan Gus Dur satu sisi disambut baik oleh kelompok minoritas. Namun sebagian dari kelompok mayoritas merasa bahwa keputusan ini tidak sepenuhnya bisa diterima. Persoalan-persoalan klasik tentang kecemburuan kemampuan masyarakat Tionghoa yang menguasi sektor ekonomi menjadi kekhawatiran semakin mengkristal kelompok mayoritas. Mereka melakukan provokasi secara rutinitas terutama berkaitan pada persoalan-persoalan politik dalam bentuk anti terhadap etnis tionghoa, dan membangun kemandirian ekonomi umat. Bahkan lebih ekstrem dengan menginginkan kepada sistem politik yang berlandaskan agama, menolak sistem politik berlaku saat ini.

Namun alasan Gus Dur melakukan keputusan berani ini bagian dari amanah Undang-Undang Dasar 1945 yang memposisikan kesamaan derajat baik hak dan kewajiban seluruh warga Negara, tidak kecuali mereka yang berasal keturunan orang-orang Tionghoa yang sudah menjadi warga Negara Indonesia.

Persoalan apakah mereka bisa menguasai sektor ekonomi dan lainya adalah persoalan kualitas. Sering persoalan ini dilupakan. Bahwa dalam sistem kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara selalu saja ada kelompok yang mempunyai kesiapan untuk bersaing, ada kelompok belum siap melakukan persaingan. Ada istilah Negara Miskin, Negara Berkembang dan Negara Maju yang semua menginginkan menjadi apa yang disebut sebagai Welfare State merupakan seleksi alamiah dari watak-watak masyarakat Negara-negara yang bersangkutan. Ini tidak berkaitan dengan suatu etnis tertentu, tapi berkaitan kesadaran untuk melakukan suatu perubahan mewujudkan suatu perubahan. Maka membangun mindset mandiri dan kerjakeras untuk mewujudkan suatu kehidupan yang lebih baik adalah sebuah keharusan dari setiap kelompok tanpa melihat latarbelakang Suku, Etnis, Budaya dan Agama.

Kini hari raya imlek bukan sebatas sebagai hari raya etnis tionghoa. Namun sudah menjadi bagian dari kegiatan wisata nasional. Sudah puluhan ribu masyarakat kembali ke kepulauan meranti ingin melihat secara langsung hari raya ini selama satu minggu. Penulis menilai disini kelebihan dari etnis tionghoa. Bahwa ritual tidak sebatas sebagai wujud pengabdian kepada sang pencipta. Tapi mereka mampu mendesain dan bekerjasama dengan pemerintah daerah menjadi bagian dari even wisata dan mampu mendatangkan pundi-pundi keuntunguan materi bagi mereka, masyarakat sekitar nya dan pemerintah daerah.

Baca juga :

Etos Kerja

Saya kira masyarakat muslim di Kabupaten Kepulauan Meranti secara khusus dan di Kabupaten-Kabupaten lainya adalah mayoritas. Ada beberapa Hari Raya yang bisa dikemas menjadi even nasional. Jika di Yogyakarta ada acara Sekatern menjadi Wisata Nasional, mengapa di Kabupaten Meranti secara khusus dan Kabupaten-Kabupaten di Provinsi Riau melakukan even-even bulan Muharom atau bulan Mauludan dengan kearifan lokal yang ada di Riau. Umpamanya saja membuat even pembacaan Al Barzanji Akbar atau Lampu Colok Akbar dan lain-lainnya yang dikemas dengan baik, saya kira jauh lebih meriah dari acara Imlek.

Saya kira ini cara positif untuk melakukan suatu persaingan secara sehat dengan melakukan berbagai kreasi mengangkat nilai-nilai religius tanpa harus menjatuhkan ritual agama lain. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884