
Kurang lebih seperti itu kalimat nya saat Andy
F. Noya mewancari Gus Dur. Menurut Gus Dur, musuh terbesar nya adalah Soeharto.
Itupun sudah ia maafkan. Artinya ia sudah tidak punya musuh. Salah satu bukti,
saat lebaran Idul Fitri, Gus Dur selalu datang ke ke Istana dan menemui Soeharto.
Pun ketika Soeharto menjelang lengser keprabon, Gus Dur satu-satunya tokoh
politik yang keliling pesantren bersama Bu Tutut-Putri Soeharto. Ini suatu
bukti bahwa secara personal Gus Dur tidak mempunyai dendam sama sekali kepada Soeharto.
Demikian juga Soeharto terhadap Gus Dur.
Menurut Gus Dur kebencian Soeharta kepada
nya bukan karena pribadi, tapi karena politik. Sekitar tiga kali melakukan
percobaan pembunuhan terhadap Gus Dur, dan selalu gagal. Semua ini karena
persoalan politik yang mengharuskan Soeharto melakukannya. Pada wilayah ini, Gus
Dur sangat professional menempatkan diri sebagai seorang politik-sekaligus
ulama dan sebagai sesama manusia yang memang dirancang oleh Allah untuk saling
menyayangi atau mencintai satu dengan lainnya.
Saya menilai, salah satu keistimewaan Gus
Dur yaitu sangat mudah memaafkan kepada siapapun yang menyakiti dirinya, ngejek
atau menghina dengan kata-kata yang tidak pantas atau kotor. Ia dengan enteng
mengatakan “gitu aja kok repot”.
Kebiasaan memaafkan Gus Dur kepada rival
politik atau kepada siapapun yang tidak menyukainya datang dari lubuk hati yang
paling dalam. Saya-mungkin anda yang sudah mengenal beliau baik bertemu
langsung atau mendalami pemikirannya-seolah-olah melihat cermin tembus pandang
bahwa antara ucapan dan perbuatan benar-benar menyatu. Tidak ada rekayasa
ucapan atau perbuatan untuk melakukan pembelaan diri agar terlihat sempurna. Sama
sekali ia tidak melakukan semua itu. Gus Dur benar-benar apa adanya saat
berbicara dan berbuat. Semua orang merasakan hal tersebut. Semua orang merasa
damai berada di sampingnya. Tidak peduli apakah sesama muslim atau berbeda
agama. ada kedamaian dan kenyamanan. Mayoritas merasa dihargai, minoritas
merasa dilindungi. Pendek kata, segala ucapan dan perbuatan telah menebarkan
nilai-nilai kedamaian, kerukunan dan merajut persatuan dengan siap menerima
perbedaan dan terbuka menerima kata maaf dari siapapun orangnya.
Kecintaan Gus Dur memaafkan kepada siapapun
tidak terlepas dari pemahaman agama Islam yang sangat mendalam. Meskipun pada
dirinya sangat patuh terhadap aturan syariat dengan menjalankan
perintah-perintah Tuhan yang wajib-wajib dan sunnah-sunnah, tapi melihat orang
lain dengan pandangan kaum sufi yang senantiasa berprasangka baik kepada orang
lain. ia senantiasa memposisikan diri selalu mengosongkan diri sebagai bentuk
bahwa ia berbuat dengan menghilangkan pamrih dari manusia dan semata-mata hanya
mengharapkan ridha Allah swt.
Kebiasaan Gus Dur memaafkan orang lain
sebagai wujud telah mendapatkkan hakikat kenikmatan yang telah ia terima dari Allah
swt. Dalam kajian hakikat, orang yang telah melupakan makhluk karena telah
melihat Allah-dengan penglihatan mata hatinya. Dia telah melenyapkan
sebab-musabab karena telah melihat dzat yang menentukan sebab-Allah. Orang tersebut
adalah hamba yang telah dihadapan Allah, yang terlihat atasnya cahaya Allah,
yang telah berjalan menuju thariqah hingga benar-benar dia telah mencapai
puncaknya. Hanya saja dia itu telah tenggelam dalam cahaya tauhid yang dapat
menghapus matahatinya dari melihat makhluk.
Bagai para pecinta Gus Dur-dari seluruh
umat manusia baik muslim maupun non muslim- melihatnya lebih besar ketimbang
dia sebagai presiden. Mereka melihatnya lebih besar dari ormas nya yaitu NU-Nadhlatul
Ulama. Orang-orang yang mencintainya melihat Gus Dur telah tuntas dalam
persoalan pemahaman agama yang penuh dengan kesejukan, kedamaian, dan
kesantunan serta cinta terhadap umat manusia tanpa batas. Wajar jika saat
sekarang ini seluruh umat manusia sangat mencintainya.
Jika bulan Desember sering disebut bulan Gus
Dur, sebenarnya mengandung isyarat bahwa pintu “saling memaafkan terbuka lebar”.
Ia adalah pintu kasih-sayang. Ia adalah pintu yang mendatangkan rahmat. Saling memaafkan
dan saling silaturahim adalah tarikat tertinggi Gus Dur yang telah menempatkan
dirinya di hati umat manusia Indonesia. Semua mencintai Gus Dur, karena Gus Dur
telah menanam cinta di lubuk hati paling dalam masyarakat Indonesia. Gus Dur telah
memperkenalkan arti sebuah cinta yang sebenarnya.
Mengamalkan tarikat model Gus Dur sangatlah
berat. Karena lelaku tarikatnya harus bermodal dari kebersihan hati dari anasir-anasir
duniawi. Tarikat Gus Dur akan terasa nikmat ketika rasa welas asih dalam
berbedaan tumbuh dalam hati.
Mungkin keuntungan duniawi tidak terlihat lebih
bagi orang-orang ketika komitmen mengikuti lelaku tarikat Gus Dur. Namun keberkahan
sangat besar sekali melebihi perhiasan dunia. Tentu saja hanya orang-orang
terpilih yang bisa melaksanakan tarikat yang super berat ini. ma’lum lah, dunia
ini terlihat lebih menggoda dan terkadang di atas segala-galanya. Bahkan bertengkar
dengan saudaranya pun tidak malu-malu dilakukan dengan segala argumentasi dan
dalil-dalil pembelaan diri. Itu wajar, pembelaan diri butuh dalil. Dan kebenaran
sejati tidak memerlukan begitu banyak dalil. Sebab kebenaran sejati adalah
suara hati yang paling dalam. Jika ingin coba silahkan tanya kebenaran pada
diri masing-masing pada hati paling dalam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Nur Asuha
jadi teks di atas itu adalah tentang kepribadian dan sufat gus dur, seorang tokok politik dan ulama indonesia, karakteristik gus dur adalah sebagai sorang yang profesional dalam urusan politik, gus dur sama sekali tidak memiliki dendam atau kebencian kepada soeharto padahal soeharto adalah musuh terbesar , bahkan gus dur hati nya sangat luas dia memaafkan soeharto, gus dur juga orang nya memiliki hati yang luas mudah memaafkan orang lain,padahal diri nya telah dihina atau di sakiti orang lain, karna bagi gus dur memaafkan orang adalah bagian dari ajaran islam, sifat gus dur patut di contohi bagi kita semua. pesan yang dapat di ambil dari teks di atas adalah jadi lah orang pemaaf karena pemaaf dapat membuat kita jadi damai dan bahagia.
Jesika muzlifa
Artikel ini mengingatkan kita tentang kekuatan maaf dan kepemimpinan Gus Dur. Di tengah situasi politik yang kompleks, beliau memilih jalan damai. Konteks historisnya menarik banget, menunjukkan betapa pentingnya rekonsiliasi. Gus Dur sepertinya ingin menunjukkan bahwa memaafkan itu lebih kuat daripada terus-menerus bermusuhan. Mungkin ini juga pesan buat kita buat lebih toleran dan damai.
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871