
Dalam kebiasaan masyarakat Jawa sering mendengar kata “tirakat”
sebagai wujud olah batin seseorang untuk mencapai kesucian diri dan upaya
membuka hijab atau tabir antara Allah dan pelakunya. Ketika terbuka hijab, maka
hubungan manusia dengan Sang Pencipta sangat dekat. Pada saat maqam seperti
ini, maka doa-doa hamba akan dikabulkan oleh Allah SWT.
Pada pesantren tradisional, tirakat bagian tidak terpisahkan dari
tradisi keilmuan para ulama dan santri. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang
lahir sebagai sistem pendidikan yang kemudian antitesis dari model barat
(Belanda) saat itu dan sekaligus sebagai penggemblengan para santri untuk siap
perang di medan pertempuran, pesantren tradisional mempunyai beragam tirakat
untuk menguasai oleh ruhaniah, intelektual dan juga kedigdayaan atau kejadogan.
Sebab kenyataannya, pada masa masa penjajahan Belanda, musuh bebuyutan Islam
bagi nya adalah para ulama dan santri di pondok pesantren tradisional. Wajar
jika kemudian hari pesantren melahirkan ribuan ulama yang mutafaquh fi dien,
kemampuan olah kebatinan dan kemampuan ilmu kanuragan yang siap melawan
Belanda. Dari sini sistem pesantren tradisional jelas tidak dimilik oleh
lembaga-lembaga pesantren kekinian yang lebih menekankan pemahaman keagamaan
plus tentang ilmu-ilmu keduniaan. Itu sebabnya, jika kelompok pesantren model
baru menilai kurikulum pesantren tradisional pasti akan mengalami salah paham
yang tidak pernah selesai, sehingga terkadang menuduh dengan tuduhan sebagai
lembaga penyebar kurafat dan bid’ah. Tuduhan yang tidak mendasar, dan kebencian
di hati yang sudah berakar.
Tirakat yang sebenarnya tradisi para ulama tradisional berasal dari
tarikat. Dalam diskursus keilmuan, tarikat sudah sangat mahfum dalam dunia Islam.
Ia merupakan jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridha-Nya dengan
mentaati ajaran-ajaran-Nya
Sedangkan madani menurut Al-Farabi yang dikutip oleh Din
Syamsuddin mempunyai arti masyarakat utama. Pada masyarakat sejenis itu,
Al-Farabi menekankan perlunya kolektivitas sosial dengan etika kolektif dalam
mencapai nilai etika tertinggi yaitu kebahagiaan hakiki. Artinya gerakan sosial
yang merupakan factor instrumental untuk reformasi dan perubahan sosial perlu
mengembangkan etika sosial yang berorientasi pada kebahagiaan universal
Selain Al-Farabi, Ibnu Khaldun mendefiniskan madani berangkat dari
sifat manusia itu sendiri yang suka berkelompok (al-ijtima’). Ia juga
mengartikan madiniyun
Dari dua definisi ilmuwan Islam tersebut, kata madani sebenarnya
perwujudan dari masyarakat sipil itu sendiri yang sering disebut sebagai civil
society. Ia merupakan gambaran asli dinamika masyarakat yang beragam yang
hidup secara natural dan diatur berdasarkan kesepakatan untuk mencapai
cita-cita bersama. Cita-cita bersama tersebut teraktualisasikan pada masa Nabi
Muhammad disebut dengan Negara Madinah Munawarah.
Dalam konteks keindonesiaan, salah satu ulama yang sangat getol
mempromosikan konsep negara Madinah sebagai wujud civil society yaitu
K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur). Konsistensi tersebut ia wujudkan sikap legowo
saat ia akan dilengserkan dari kursi presiden. Ketika puluhan ribu Banser Jawa
Timur akan mengepung istana dan mempertahankan sebagai presiden, Gus Dur justru
menolaknya. Ia berpandangan bahwa kekuasaan tidak perlu dibela mati-matian
sehingga melahirkan korban. Kedudukan kepala negara yang oleh Goenawan Muhammad
disebut sebagai “kerangkeng struktural” ingin diciptakan oleh Gus Dur sebagai
“habitat kultural” yang tidak lepas dari kontrol masyarakat secara penuh. Bagi Gus
Dur kedudukan nya sebagai kepala negara bukan suatu aji mumpung
mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tetapi sebagai jalan mendidikan Masyarakat tentang
pentingnya kedewasaan berpolitik dan pentingnya memahami hakikat kekuasaan
sebagai penyambung lidah masyarakat yang sebenarnya. Ketika mayoritas
masyarakat menyuarakan suatu ketidakpuasan atas pemerintahannya, ia legowo dan
tidak perlu membela mati-matian untuk mempertahankan kekuasaan tersebut. Disini
sebenarnya letak pendidikan civil society Gus Dur kepada masyarakat Indonesia
yang telah ditutup sebelumnya selama 32 tahun oleh Orde Baru
Perjalanan panjang konsistensi Gus Dur dalam mewujudkan masyarakat madani
atau civil society sebagai masyarakat merdeka dan bertanggungjawab tentu
saja berangkat dari realita sistem pemerintahan sebelumnya sampai pada orde
baru. Hampir selama pemerintahan Soeharto ormas NU “dikerangkeng” dan
diimintidasi gerakannya oleh orde baru. Hampir selama kekuasaan orde baru, NU
harus berjuang dan melakukan kemandirian dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan
dan pemberdayaan masyarakat. Orde baru telah membentuk ormas NU sebagai ormas
keagamaan yang menyatu bersama penderitaan masyarakat kecil. Sebagai sebuah
organisasi, meskipun NU berada di luar pemerintahan tetap taat terhadap
pemerintahan dan senantiasa melakukan kritik konstruktif selama pemerintahan
orde baru berlangsung selama 32 tahun. Semua itu karena NU hadir sebagai ormas
keagamaan yang sangat moderat terhadap pandangan politik dan realita
keberagaman masyarakat Indonesia yang plural. NU sebagai ormas keagamaan
sebagaimana dikatakan oleh KH. Ahmad Sidiq mempunyai tiga sikap moderat yaitu al-tawasut,
al-i’tidal dan at-tawazun
Ketiga sikap tersebut yang membentuk karakter NU menjadi ormas yang
“kenyal” yaitu “tidak keras” seperti “tulang”
dan tidak “lembut”seperti “daging semur”. Ia fleksibel. Dekat dengan pemerintah
tetap menjaga marwah ormas, tidak gumede, tidak adigang adigung, dan senantiasa
memperhatikan kepentingan rakyat. Berada
di luar pemerintah selalu “ngemong” dan nuntun masyarakat lintas suku,
etnis, budaya agama dan keyakinan.
Itulah sedikit gambaran sumbangsih Gus Dur dalam memperjuangkan masyarakat
madani di Indonesia.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872