
Beberapa hari lalu saya mendengar dawuhnya Gus
Mus di Tik Tok “wongdlosor”. Saya tidak tahu, itu milik siapa. Tapi mutiara
hikmah cukup baik untuk direnungkan, terutama untuk diri saya sendiri. Kurang-lebih
begini bunyi kalimatnya: “ Saya sekarang ini agak sungkan baca Al-Qur’an. Saya
tidak tahu anda orang Islam ini baca Al-Qur’an terus atau tidak. Saya sendiri
sungkan karena saat sekarang ini, Al-Qur’an sangat menyinggung saya. Setiap
membaca Al-Qur’an saya selalu tersinggung. Saya baca ayat orang kafir kok
mirip saya. Saya membaca ayat tentang orang munafik kok persis kelakuan saya. Saya membaca ayat orang mukmin kok sama sekali tidak
sama dengan kelaku saya. Untunglah anda yang tidak paham Al-Qur’an atau tidak pernah
membaca Al-Qur’an, sehingga anda tidak akan tersinggung oleh Al-Qur’an”.
Kalimat model tersebut di atas adalah sindiran. Ia mengandung multi tafsir. Gus Mus menggunakan dirinya
sebagai mutakalim (orang yang berbicara) dan obyek dari ucapan tersebut. Dia
tidak menuduh orang lain yang mempunyai kelaku seperti di atas, yaitu malas
membaca Al-Qur’an, segan, sungkan, tersinggung dan lain-lain. Maknanya, Gus Mus
sedang membicarakan dirinya sendiri dan/atau mengajak orang lain untuk
mengoreksi diri mereka masing-masing atas realita yang mereka lakukan selama
ini dalam kehidupan sehari-hari. Artinya antara mutakalim dan mukhotob
sama-sama posisinya, Saling interopeksi dan saling melihat kekurangan diri
sendiri dan jangan sibuk menilai orang lain.
Penulis tentu saja merasa malu. Seorang Gus
Mus yang statusnya sebagai seorang ulama merasa dirinya belum mempunyai
kesempurnaan. Dia seorang mukmin, muslim, tapi dia dengan rendah hati mengatakan
kelakunya masih mirip-mirip orang kafir. Lhoo kok bisa? Kita bisa melihat,
bagaimana dalam fenomena sehari-hari, orang mengaku dirinya seorang muslim tapi
dengan gampang melontarkan dan menuduh orang mukmin lain dengan sebutan kafir. Padahal
kadang hanya persoalan sepele. Hanya gara-gara beda partai politik, pilihan
capres-cawapres, organisasi dan lain-lain, tapi berani melontarkan tuduhan yang
sangat keji kepada orang-orang sama-sama satu iman.
Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda, “Ada
tiga hal yang merupakan bagian dari dasar iman, yakni pertama menjaga lisan
dari orang yang telah mengucapkan “la ilaha illallah” jangan
mengkafirkan mereka sebab suatu dosa serta jangan mengeluarkan mereka dari Islam
sebab suatu perbuatan; kedua, jihad yang tetap berlaku sejak Allah mengutusku
hingga akhir dari umatku membunuh Dajjal. Keberlakuan itu tidak akan gugu sebab
kekejaman orang yang jahat dan tidak juga sebab keadilan orang yang adil. Ketiga,
iman dengan qadar dengan qadar Allah (HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi). Hadist lain,
kanjeng nabi mengatakan, “Seandainya seseorang mengatakan “wahai kafir”
kepada saudaranya, maka tuduhan kafir tersebut akan kembali kepada salah satu
di antara keduanya (HR. Al-Bukhari)”.
Fenomena tersebut sungguh sangat
unik. Pada sisi lain, secara lahiriah mempunyai penampilan yang terlihat Islami
dari segi pakaian dan argumentasi-argumentasi yang berlandaskan kitab suci dan
hadist nabi. Tapi disisi lain, sebagian diantara mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan
yang Gus Mus sampaikan dan dinisbatkan
pada dirinya sendiri yang masih “mirip dengan orang kafir dan munafik”. Sebuah ungkapan
kiyasan, dan cermin akan keprihatinan nya bahwa fenomena muslim dan mukmin yang
justru telah memakai baju orang kafir dan munafik dalam ucapan dan perkataan
serta perbuatannya.
Gus Mus tentu tidak mau menuduh
orang lain secara langsung. Kedalaman ilmu dan satra arab yang mengalir pada
dirinya telah mengajarkan bahwa manusia itu terletak pada perasaannya. Orang yang
baik, mukmin yang agung, dan muslim yang “jembar” hatinya manakala ada
ayat-ayat Allah dalam bentuk apapun, Hatinya bergetar. Tidak hanya ayat dalam Al-Qur’an
yang tertulis, tapi juga melihat ayat-ayat Al-Qur’an yang “mblarah”
begitu banyak dan bertebaran di seluruh isi alam semesta ini. Memang tidak
semua orang memahami untaian kalimat Gus Mus di atas. Semua tergantung pada
diri sendiri masing-masing untuk apa dan bagaimana cara memahaminya. Bukankah begitu
cara memberi nasihat kepada sesama orang-orang yang berakal. Kiasan dan
metafor, serta sindiran meskipun untuk orang lain, tapi akan merasakan bahwa
itu adalah nasehat untuk diri sendiri agar masa-masa yang akan datang semakin
baik. Dan itu cara Al-Qur’an ketika menyindir hamba-hamba Nya dengan bahasa
yang santun dan lembut. Menurut saya Gus Mus telah mempraktekan firman-Nya. Sedangkan
saya, bisa juga anda (yang merasa saja) belum tahu apa firman-Nya, apalagi isi
firman-Nya. Ironisnya sering berlagak mewakili firman-Nya. Duh Gusti Allah,
ampuni hamba-hambu ini.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876