Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Gus Mus, Saya dan Anda



Selasa , 16 Januari 2024



Telah dibaca :  684

Beberapa hari lalu saya mendengar dawuhnya Gus Mus di Tik Tok “wongdlosor”. Saya tidak tahu, itu milik siapa. Tapi mutiara hikmah cukup baik untuk direnungkan, terutama untuk diri saya sendiri. Kurang-lebih begini bunyi kalimatnya: “ Saya sekarang ini agak sungkan baca Al-Qur’an. Saya tidak tahu anda orang Islam ini baca Al-Qur’an terus atau tidak. Saya sendiri sungkan karena saat sekarang ini, Al-Qur’an sangat menyinggung saya. Setiap membaca Al-Qur’an saya selalu tersinggung. Saya baca ayat orang kafir kok mirip saya. Saya membaca ayat tentang orang munafik kok persis kelakuan saya.  Saya membaca ayat orang mukmin kok sama sekali tidak sama dengan kelaku saya. Untunglah anda yang tidak paham Al-Qur’an atau tidak pernah membaca Al-Qur’an, sehingga  anda tidak akan tersinggung oleh Al-Qur’an”.

Kalimat model tersebut di atas adalah sindiran. Ia mengandung multi tafsir. Gus Mus menggunakan dirinya sebagai mutakalim (orang yang berbicara) dan obyek dari ucapan tersebut. Dia tidak menuduh orang lain yang mempunyai kelaku seperti di atas, yaitu malas membaca Al-Qur’an, segan, sungkan, tersinggung dan lain-lain. Maknanya, Gus Mus sedang membicarakan dirinya sendiri dan/atau mengajak orang lain untuk mengoreksi diri mereka masing-masing atas realita yang mereka lakukan selama ini dalam kehidupan sehari-hari. Artinya antara mutakalim dan mukhotob sama-sama posisinya, Saling interopeksi dan saling melihat kekurangan diri sendiri dan jangan sibuk menilai orang lain.

Penulis tentu saja merasa malu. Seorang Gus Mus yang statusnya sebagai seorang ulama merasa dirinya belum mempunyai kesempurnaan. Dia seorang mukmin, muslim, tapi dia dengan rendah hati mengatakan kelakunya masih mirip-mirip orang kafir. Lhoo kok bisa? Kita bisa melihat, bagaimana dalam fenomena sehari-hari, orang mengaku dirinya seorang muslim tapi dengan gampang melontarkan dan menuduh orang mukmin lain dengan sebutan kafir. Padahal kadang hanya persoalan sepele. Hanya gara-gara beda partai politik, pilihan capres-cawapres, organisasi dan lain-lain, tapi berani melontarkan tuduhan yang sangat keji kepada orang-orang sama-sama satu iman.

Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda, “Ada tiga hal yang merupakan bagian dari dasar iman, yakni pertama menjaga lisan dari orang yang telah mengucapkan “la ilaha illallah” jangan mengkafirkan mereka sebab suatu dosa serta jangan mengeluarkan mereka dari Islam sebab suatu perbuatan; kedua, jihad yang tetap berlaku sejak Allah mengutusku hingga akhir dari umatku membunuh Dajjal. Keberlakuan itu tidak akan gugu sebab kekejaman orang yang jahat dan tidak juga sebab keadilan orang yang adil. Ketiga, iman dengan qadar dengan qadar Allah (HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi). Hadist lain, kanjeng nabi mengatakan, “Seandainya seseorang mengatakan “wahai kafir” kepada saudaranya, maka tuduhan kafir tersebut akan kembali kepada salah satu di antara keduanya (HR. Al-Bukhari)”.

Fenomena tersebut sungguh sangat unik. Pada sisi lain, secara lahiriah mempunyai penampilan yang terlihat Islami dari segi pakaian dan argumentasi-argumentasi yang berlandaskan kitab suci dan hadist nabi. Tapi disisi lain, sebagian diantara mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan  yang Gus Mus sampaikan dan dinisbatkan pada dirinya sendiri yang masih “mirip dengan orang kafir dan munafik”. Sebuah ungkapan kiyasan, dan cermin akan keprihatinan nya bahwa fenomena muslim dan mukmin yang justru telah memakai baju orang kafir dan munafik dalam ucapan dan perkataan serta perbuatannya.

Gus Mus tentu tidak mau menuduh orang lain secara langsung. Kedalaman ilmu dan satra arab yang mengalir pada dirinya telah mengajarkan bahwa manusia itu terletak pada perasaannya. Orang yang baik, mukmin yang agung, dan muslim yang “jembar” hatinya manakala ada ayat-ayat Allah dalam bentuk apapun, Hatinya bergetar. Tidak hanya ayat dalam Al-Qur’an yang tertulis, tapi juga melihat ayat-ayat Al-Qur’an yang “mblarah” begitu banyak dan bertebaran di seluruh isi alam semesta ini. Memang tidak semua orang memahami untaian kalimat Gus Mus di atas. Semua tergantung pada diri sendiri masing-masing untuk apa dan bagaimana cara memahaminya. Bukankah begitu cara memberi nasihat kepada sesama orang-orang yang berakal. Kiasan dan metafor, serta sindiran meskipun untuk orang lain, tapi akan merasakan bahwa itu adalah nasehat untuk diri sendiri agar masa-masa yang akan datang semakin baik. Dan itu cara Al-Qur’an ketika menyindir hamba-hamba Nya dengan bahasa yang santun dan lembut. Menurut saya Gus Mus telah mempraktekan firman-Nya. Sedangkan saya, bisa juga anda (yang merasa saja) belum tahu apa firman-Nya, apalagi isi firman-Nya. Ironisnya sering berlagak mewakili firman-Nya. Duh Gusti Allah, ampuni hamba-hambu ini.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876