
Setelah seharian seminar dan diskusi ringan
dengan para Warek/Waket III di Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta, malam
hari Dr. Abdul Rozaki Warek III UIN Suka (Mas Rozaki-pen) mengundang makan
malam di Restoran Bumbu Desa. Restoran ini mengingatkan kenangan masa lalu
muncul Kembali saat tahun 92-94 sering luntang-luntung di Yogyakarta,
makan di Angkringan dengan menu yang sangat khas yaitu tahu dan tempe. Berbeda
di daerah Riau, menu khasnya bukan tempe dan tahu, tapi ikan laut. Tentu saja
ada beragam ikan laut dengan jenis dan harga yang bervariasi.
Acara makan malam di Restoran Bumbu Desa menjadi
spesial bukan pada menunya, tapi guyonan para warek. Apalagi Mas Rozaki, selalu
ada saja joke-joke segar. Kadang saya berfikir juga,”Jangan-jangan waktu
mengandung, ibu nya pernah ngidam pertunjukan
“Peang-Penjol” atau “Srimulat”, guyonan serasa hidup tanpa beban”.
Apakah manusia yang suka guyonan seperti
para pelawak yang sering dijumpai di layer Televisi bagian kelompok-kelompok
“manusia tanpa beban”, sehingga tidak ada kisah kehidupannya yang menyayat
hati?. Tidak juga. Mereka sama seperti orang lain yang mempunyai masalah pada
umumnya, namun persoalan profesionalisme pada profesinya harus bisa memilah
persoalan individu dan pekerjaan. Meskipun mempunyai persoalan hidup, mereka
tetap bisa bekerja secara professional.
Selera guyonan bukan semata-mata karena
tuntutan profesi, tapi karena kemampuanya dirinya mengelola persoalan dengan
sangat hebat. Orang-orang seperti Abu Nawas, para ulama pesantren, dan sebagian
ilmuwan sering guyonan bukan berarti manusia yang sudah tidak punya masalah.
Bisa jadi mereka adalah kelompok manusia yang menanggung beban masalah yang
maha berat. Namun mereka berhasil menetralisir masalah tersebut dengan ramuan
kearifan-kearifan yang bersumber dari ayat al-qur’an, hadist dan sejarah
peradaban manusia yang agung. Bagaimanapun besar masalah, toh semua itu hanya
sebatas “permainan” dan “sendau gurau”. Jadi, mereka adalah orang-orang yang
patuh berpegang pada konstitusi syariat bahwa hidup memang harus dilalui dengan
“guyonan” dan “dolanan”. Bahkan manusia lahir ke dunia ini adalah
karya monumental terbaik dari setiap perjalanan sejarah manusia juga tercipta
dari hasil guyonan dan dolanan dengan sedikit serius. Itu sebabnya, jika
keseriusan melebihi selera guyonan, sebenarnya telah melanggar konstitusi
naluri manusia yang senantiasa menyukai kebahagiaan. Semua bisa dilihat ciri-ciri
manusia bahagia lahir dari wajah yang sumringah, sumeh dan senantiasa menarik
perhatian setiap orang yang melihatnya. Sebab semua itu merupakan pantulan dari
hati yang tenang dan nyaman seperti air laut yang dalam dengan air yang jernih
dan bersih.
Guyonan para para ulama, ilmuwan dan
orang-orang yang telah diberi keberkahan akal dan qalbu adalah guyonan yang
masuk pada level “amalun sholihun”. Mereka meramu guyonan tersebut hasil
dari pengendapan meditasi dan perenungan yang mendalam terhadap segala fenomena
dengan arif dan bijaksana.
Bagi sebagian orang memahami guyonan mereka
kadang malah dianggap sebagai sesuatu wujud ketidakbenaran dan tidak patuh
terhadap syariah atau norma-norma kehidupan. Wajar jika respon negatif terhadap
para ulama dan ilmuwan-ilmuwan terkadang melahirkan presepsi negatif bagi sebagian
masyarakat. Menurut penulis hal tersebut wajar-wajar saja, sebab suatu saat
mereka mengerti arti guyonan tersebut di masa mendatang dan mereka akan sadar
bahwa apa yang ditertawakan oleh mereka merupakan kenyataan yang terjadi pada
masa yang tepat.
Memang guyonan belum menjadi spesifikasi
keilmuan yang perlu dijadikan kajian ilmiah lebih serius sebagai bagian dari
khasanah keilmuan yang usianya sebenarnya sudah sangat tua setua peradaban
manusia. Guyonan masih ditempatkan sebagai perilaku demokratis manusia segala
level. Akibatnya, semua mempunyai hak bergurau dan mempunyai hak juga menilai
gurauan tersebut dengan beragam kacamata latarbelakang manusia dari segala
status umur, dan latarbelakang sosial budaya, agama dan politik.
Jika guyonan lahir adanya satu frekuensi,
semua bisa nyambung dengan baik dan tidak ada persoalan. Sekeras apapun
gurauannya. Tetapi jika berbeda
frekuensi, maka akan terjadi kegaduhan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Saat
ini terjadi, mereka sangat susah untuk menerima pengertian. Maka sikap terbaik
menurut penulis yaitu mengikuti pola Gus Dur dengan jawaban kalimat pendek, “gitu
saja kok repot”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876