Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guyonan di Restoran Bumbu Desa



Rabu , 17 Juli 2024



Telah dibaca :  439

Setelah seharian seminar dan diskusi ringan dengan para Warek/Waket III di Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta, malam hari Dr. Abdul Rozaki Warek III UIN Suka (Mas Rozaki-pen) mengundang makan malam di Restoran Bumbu Desa. Restoran ini mengingatkan kenangan masa lalu muncul Kembali saat tahun 92-94 sering luntang-luntung di Yogyakarta, makan di Angkringan dengan menu yang sangat khas yaitu tahu dan tempe. Berbeda di daerah Riau, menu khasnya bukan tempe dan tahu, tapi ikan laut. Tentu saja ada beragam ikan laut dengan jenis dan harga yang bervariasi.

Acara makan malam di Restoran Bumbu Desa menjadi spesial bukan pada menunya, tapi guyonan para warek. Apalagi Mas Rozaki, selalu ada saja joke-joke segar. Kadang saya berfikir juga,”Jangan-jangan waktu mengandung, ibu nya pernah ngidam pertunjukan  “Peang-Penjol” atau “Srimulat”, guyonan serasa hidup tanpa beban”.

Apakah manusia yang suka guyonan seperti para pelawak yang sering dijumpai di layer Televisi bagian kelompok-kelompok “manusia tanpa beban”, sehingga tidak ada kisah kehidupannya yang menyayat hati?. Tidak juga. Mereka sama seperti orang lain yang mempunyai masalah pada umumnya, namun persoalan profesionalisme pada profesinya harus bisa memilah persoalan individu dan pekerjaan. Meskipun mempunyai persoalan hidup, mereka tetap bisa bekerja secara professional.

Selera guyonan bukan semata-mata karena tuntutan profesi, tapi karena kemampuanya dirinya mengelola persoalan dengan sangat hebat. Orang-orang seperti Abu Nawas, para ulama pesantren, dan sebagian ilmuwan sering guyonan bukan berarti manusia yang sudah tidak punya masalah. Bisa jadi mereka adalah kelompok manusia yang menanggung beban masalah yang maha berat. Namun mereka berhasil menetralisir masalah tersebut dengan ramuan kearifan-kearifan yang bersumber dari ayat al-qur’an, hadist dan sejarah peradaban manusia yang agung. Bagaimanapun besar masalah, toh semua itu hanya sebatas “permainan” dan “sendau gurau”. Jadi, mereka adalah orang-orang yang patuh berpegang pada konstitusi syariat bahwa hidup memang harus dilalui dengan “guyonan” dan “dolanan”. Bahkan manusia lahir ke dunia ini adalah karya monumental terbaik dari setiap perjalanan sejarah manusia juga tercipta dari hasil guyonan dan dolanan dengan sedikit serius. Itu sebabnya, jika keseriusan melebihi selera guyonan, sebenarnya telah melanggar konstitusi naluri manusia yang senantiasa menyukai kebahagiaan. Semua bisa dilihat ciri-ciri manusia bahagia lahir dari wajah yang sumringah, sumeh dan senantiasa menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Sebab semua itu merupakan pantulan dari hati yang tenang dan nyaman seperti air laut yang dalam dengan air yang jernih dan bersih.

Guyonan para para ulama, ilmuwan dan orang-orang yang telah diberi keberkahan akal dan qalbu adalah guyonan yang masuk pada level “amalun sholihun”. Mereka meramu guyonan tersebut hasil dari pengendapan meditasi dan perenungan yang mendalam terhadap segala fenomena dengan arif dan bijaksana.

Bagi sebagian orang memahami guyonan mereka kadang malah dianggap sebagai sesuatu wujud ketidakbenaran dan tidak patuh terhadap syariah atau norma-norma kehidupan. Wajar jika respon negatif terhadap para ulama dan ilmuwan-ilmuwan terkadang melahirkan presepsi negatif bagi sebagian masyarakat. Menurut penulis hal tersebut wajar-wajar saja, sebab suatu saat mereka mengerti arti guyonan tersebut di masa mendatang dan mereka akan sadar bahwa apa yang ditertawakan oleh mereka merupakan kenyataan yang terjadi pada masa yang tepat.

Memang guyonan belum menjadi spesifikasi keilmuan yang perlu dijadikan kajian ilmiah lebih serius sebagai bagian dari khasanah keilmuan yang usianya sebenarnya sudah sangat tua setua peradaban manusia. Guyonan masih ditempatkan sebagai perilaku demokratis manusia segala level. Akibatnya, semua mempunyai hak bergurau dan mempunyai hak juga menilai gurauan tersebut dengan beragam kacamata latarbelakang manusia dari segala status umur, dan latarbelakang sosial budaya, agama dan politik.

Jika guyonan lahir adanya satu frekuensi, semua bisa nyambung dengan baik dan tidak ada persoalan. Sekeras apapun gurauannya. Tetapi jika  berbeda frekuensi, maka akan terjadi kegaduhan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Saat ini terjadi, mereka sangat susah untuk menerima pengertian. Maka sikap terbaik menurut penulis yaitu mengikuti pola Gus Dur dengan jawaban kalimat pendek, “gitu saja kok repot”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876