
Saya di berbagai tempat, biasa nya mengeluarkan joke-joke guyonan.
Entah di forum resmi, di pengajian, maupun sedang kumpul dengan teman-teman di
Kedai Kopi. Saya pernah guyonan di acara ospek mahasiswa baru di STAIDA
Darussalam tahun 1999. Waktu itu pengisi materi ospek [ seingat saya ] bernama Bimo,
S.Pd. Saat naik mimbar, Saya memberi penghormatan kepada nya dengan
memperpanjang singkatan S.Pd menjadi “Sangat Peteng Dedet”. Kebetulan pak
Bimo memang punya kulit hitam. Akibatnya, saya dipelonco. Pak Bimo yang hitam
kulitnya, dan badan nya besar seperti TNI langsung membuka baju nya. Dia menyuruh
saya untuk membuka baju. Waduh, rasa nya malu sekali. Waktu di pesantren, saya
sangat kurus. Jika baju dibuka, akan terlihat tulang-tulang nya. Setelah buka
baju, Pak Bimo pun menantang olah raga Binaraga dan Panco. Seluruh ruangan
tertawa menggema. Hari berikutnya, gambar saya keluar di Media Massa Banyuwangi
Post. Peristiwa ini pun menjadi sebab orang ingin berjumpa denganku;
silaturahim dan diskusi tentang perkuliahan. Saya waktu itu benar-benar menjadi
bintang kampus. Tapi karena ada suatu hal, satu tahun kemudian, saya disuruh
pulang oleh orang tua. Karena perintah orang tua, saya pun pulang dan tidak
meneruskan kuliah.
Saat ujian terbuka Program Doktor, saya pun
guyonan di forum resmi. Ini suatu yang jarang terjadi. Ujian terbuka Disertasi
adalah acara sakral. Tapi saya mencoba melakukan sesuatu bentuk ujian Disertasi
dengan cara yang berbeda; santai, guyonan, tapi juga serius. Alhamdulillah ujian
pun berhasil dengan baik.
Beberapa waktu lalu saya mengisi pengajian
di Kapolres Meranti. Hadir H.Muhammad Adil [Mantan Bupati Kepulauan Meranti], Pimpinan
Forkompinda, Kapolres, Kepala Dinas dan para jamaah. saya pun guyonan kurang
lebih begini:
“Pak Andy Yul sudah mirip kiai, apalagi pak
bupati, sangat mirip”. Semua mendengarkan tertawa. Lalu saya melanjutkan
guyonan,” Ada perbedaan saya dengan bupati, jika bupati mirip kiai, saya tidak bisa
mirip bupati”. Semua tertawa. Lalu saya melanjutkan guyonan, “Bagaimana kalau
besok mencalonkan diri bupati, gubernur atau kepala daerah, saya jadi wakulnya”,
lagi-lagi yang hadir pun tertawa. Mereka tertawa karena mereka paham kebiasaan
saya yang suka bicara begini. Sudah beberapa anggota dewan pun pernah saya buat
seperti ini. Tujuannya hanya satu, agar suasana bisa rilek. Setelah rilek, saya
pun melanjutkan mau’idlatul khasanah tentang pentingya setiap orang
mengenal diri sendiri. Dengan mengenal dirinya sendiri, jalan untuk mengenal Tuhan
nya. Sebab pada diri manusia ada dua nafsu; mutmainah dan amarah laksana
Pandawa dan Kurawa. Pandawa adalah simbol sudah mengel diri sendiri. Sedangkan Kurawa
bukan golongan tersesat, tetapi orang yang sedang mencari kebenaran tapi belum
menemukan jalan nya. Karena itu, Kurawa harus perlu mendapatkan bimbingan agar
mengetahui jalan kebenaran.
Tradisi guyonan adalah tradisi nabi, sahabat, tabi’in dan para ulama dan
para waliyullah. Suatu hari saat nabi sedang makan kurma bersama para sahabat,
nabi bertanya, “ Siapa diantara kita yang paling rakus?”. Semua sahabat pun
terdiam. Mereka menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu”. Nabi pun
tersenyum, sambil jari tangan nya mengumpulkan isi Kurma di depan Ali bin Abi
Thalib. Nabi berkata, “ Orang yang paling rakus di antara kita adalah Ali bin
Abi Thalib”. Semua bengong. Ketika melihat tumpukan isi kurma di depan Ali dan
di depan nabi sudah tidak ada satu biji isi kurma, para sahabat pun tertawa. Ali
membalas guyonan nabi, “ Sebenarnya yang paling rakus di antara kita adalah
orang yang di depannya tidak ada biji kurma. Sebab kurma dan biji-bijinya
sekaligus di makan”. Para sahabat melihat ke arah nabi yang tidak ada biji
kurma di hadapanya. Melihat keadaan ini, semua sahabat termasuk nabi pun
tertawa. Nabi kemudian berkata, “Saya adalah kota ilmu dan ali adalah pintu nya
ilmu”.
Pada masa Harun Al-Rasyid ada orang yang
mempunyai selara humor yang sangat tinggi, yaitu Abu Nawas. Sudah berkali-kali
dia berseberangan dengan Harun Al-Rasyid. Namun ketika Abu Nawas tidak ada, dia
pun rindu dan dia menyuruh para pegawai Istana mencari Abu Nawas untuk datang
ke Istana dan menghibur Raja dan para pejabat kerajaan.
Imam Syafi’i terkenal sangat ‘alim. Namun dia
menganjurkan kepada para pencari ilmu untuk membaca kitab syiir dan sejenisnya
untuk menghibur diri. Bahkan kadang dia pun membuat joke-joke kepada para
sahabatnya. Tentu saja guyonan yang berkualitas, bukan guyonan recehan dan
mengandung fitnah.
Para waliyullah, para ulama dan kiai di berbagai pesantren mempunyai
tradisi guyonan yang sangat terkenal sekali. Suatu hari, saat Muktamar NU di Pesantren
Cipasung Tasikmalaya, intel Orde Baru sudah siap-siap menggagalkan pencalonan K.H.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Tanfidziyah. Mereka ditugaskan oleh Pemerintah
Soeharto untuk mencatat segala pembicaraan yang mengarah kepada potensi
terpilihnya Gus Dur jadi Ketua Tanfidziyah. Namun sepanjang acara, sambutanya yang
penting menggunakan bahasa Arab. Para intel tentu tidak paham. Akhirnya mereka dikasih
tahu, bahwa acara muktamar hanya doa. Meraka pun mengangguk dan lapor ke Istana
, bahwa acara muktamar hanya diisi dengan doa berbahasa Arab.
Dari sini, bahwa guyonan menjadi
tradisi para ilmuwan merupakan wujud dari kecerdasan dan kedalaman kearifan
mereka dalam melihat suatu persoalan. Guyonan sering menjadi cara yang kadang
lebih efektif untuk menyelesaikan suatu persoalan yang beku bisa menjadi cair. Karena
itu, orang yang mempunyai selera humor tinggi merupakan jati diri akan tingginya
kecerdasan intelektual, emosional dan bahkan sekaligus spiritual tinggi. Karena
melalui guyonan ini, kita bisa melihat kekurangan diri dan kesempurnaan orang
lain. Karena itu, hakikat guyonan sebenarnya untuk mengetahui kekurangan diri
sendiri dan upaya untuk memperbaiki dengan tanpa harus menjatuhkan diri sendiri
dan tetap menghargai orang lain secara wajar.
Sayangnya, sebagian manusia saat ini sudah
terkikis tradisi guyonan. Melihat orang lain dengan sorotan mata tajam dan
dendam. Akibatnya, ide pun tertutup. Emosi keluar. Dan ucapanya penuh dengan
nafsu amarah dan angkara murka. Jika kondisi seperti ini, tidak ada kebaikan
yang bisa dilihat dari orang lain. Ukuran kebenaran sebatas “suka dan tidak
suka” saat diskusi dan tukar pikiran. Itu sebabnya kondisi seperti ini bisa
dipastikan tidak bisa menyelesaikan persoalan, kecuali tumbuh fitnah di
tengah-tengah masyarakat.
Maka sungguh sangat beruntung ketika kita
masih bisa guyonan dengan sesama kolega kita. lebih baik lagi, bisa guyonan
atau mentertawakan diri sendiri agar kita terbiasa bisa menilai segala
kekurangan diri sendiri, dan tidak sibuk melihat kesalahan orang lain.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895