Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guyonan Kaum Sufi



Selasa , 11 April 2023



Telah dibaca :  405

Saya di berbagai tempat, biasa nya mengeluarkan joke-joke guyonan. Entah di forum resmi, di pengajian, maupun sedang kumpul dengan teman-teman di Kedai Kopi. Saya pernah guyonan di acara ospek mahasiswa baru di STAIDA Darussalam tahun 1999. Waktu itu pengisi materi ospek [ seingat saya ] bernama Bimo, S.Pd. Saat naik mimbar, Saya memberi penghormatan kepada nya dengan memperpanjang singkatan S.Pd menjadi “Sangat Peteng Dedet”. Kebetulan pak Bimo memang punya kulit hitam. Akibatnya, saya dipelonco. Pak Bimo yang hitam kulitnya, dan badan nya besar seperti TNI langsung membuka baju nya. Dia menyuruh saya untuk membuka baju. Waduh, rasa nya malu sekali. Waktu di pesantren, saya sangat kurus. Jika baju dibuka, akan terlihat tulang-tulang nya. Setelah buka baju, Pak Bimo pun menantang olah raga Binaraga dan Panco. Seluruh ruangan tertawa menggema. Hari berikutnya, gambar saya keluar di Media Massa Banyuwangi Post. Peristiwa ini pun menjadi sebab orang ingin berjumpa denganku; silaturahim dan diskusi tentang perkuliahan. Saya waktu itu benar-benar menjadi bintang kampus. Tapi karena ada suatu hal, satu tahun kemudian, saya disuruh pulang oleh orang tua. Karena perintah orang tua, saya pun pulang dan tidak meneruskan kuliah.

Saat ujian terbuka Program Doktor, saya pun guyonan di forum resmi. Ini suatu yang jarang terjadi. Ujian terbuka Disertasi adalah acara sakral. Tapi saya mencoba melakukan sesuatu bentuk ujian Disertasi dengan cara yang berbeda; santai, guyonan, tapi juga serius. Alhamdulillah ujian pun berhasil dengan baik.

Beberapa waktu lalu saya mengisi pengajian di Kapolres Meranti. Hadir H.Muhammad Adil [Mantan Bupati Kepulauan Meranti], Pimpinan Forkompinda, Kapolres, Kepala Dinas dan para jamaah. saya pun guyonan kurang lebih begini:

“Pak Andy Yul sudah mirip kiai, apalagi pak bupati, sangat mirip”. Semua mendengarkan tertawa. Lalu saya melanjutkan guyonan,” Ada perbedaan saya dengan bupati, jika bupati mirip kiai, saya tidak bisa mirip bupati”. Semua tertawa. Lalu saya melanjutkan guyonan, “Bagaimana kalau besok mencalonkan diri bupati, gubernur atau kepala daerah, saya jadi wakulnya”, lagi-lagi yang hadir pun tertawa. Mereka tertawa karena mereka paham kebiasaan saya yang suka bicara begini. Sudah beberapa anggota dewan pun pernah saya buat seperti ini. Tujuannya hanya satu, agar suasana bisa rilek. Setelah rilek, saya pun melanjutkan mau’idlatul khasanah tentang pentingya setiap orang mengenal diri sendiri. Dengan mengenal dirinya sendiri, jalan untuk mengenal Tuhan nya. Sebab pada diri manusia ada dua nafsu; mutmainah dan amarah laksana Pandawa dan Kurawa. Pandawa adalah simbol sudah mengel diri sendiri. Sedangkan Kurawa bukan golongan tersesat, tetapi orang yang sedang mencari kebenaran tapi belum menemukan jalan nya. Karena itu, Kurawa harus perlu mendapatkan bimbingan agar mengetahui jalan kebenaran.

Tradisi guyonan adalah tradisi nabi, sahabat, tabi’in dan para ulama dan para waliyullah. Suatu hari saat nabi sedang makan kurma bersama para sahabat, nabi bertanya, “ Siapa diantara kita yang paling rakus?”. Semua sahabat pun terdiam. Mereka menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu”. Nabi pun tersenyum, sambil jari tangan nya mengumpulkan isi Kurma di depan Ali bin Abi Thalib. Nabi berkata, “ Orang yang paling rakus di antara kita adalah Ali bin Abi Thalib”. Semua bengong. Ketika melihat tumpukan isi kurma di depan Ali dan di depan nabi sudah tidak ada satu biji isi kurma, para sahabat pun tertawa. Ali membalas guyonan nabi, “ Sebenarnya yang paling rakus di antara kita adalah orang yang di depannya tidak ada biji kurma. Sebab kurma dan biji-bijinya sekaligus di makan”. Para sahabat melihat ke arah nabi yang tidak ada biji kurma di hadapanya. Melihat keadaan ini, semua sahabat termasuk nabi pun tertawa. Nabi kemudian berkata, “Saya adalah kota ilmu dan ali adalah pintu nya ilmu”.

Pada masa Harun Al-Rasyid ada orang yang mempunyai selara humor yang sangat tinggi, yaitu Abu Nawas. Sudah berkali-kali dia berseberangan dengan Harun Al-Rasyid. Namun ketika Abu Nawas tidak ada, dia pun rindu dan dia menyuruh para pegawai Istana mencari Abu Nawas untuk datang ke Istana dan menghibur Raja dan para pejabat kerajaan.

Imam Syafi’i terkenal sangat ‘alim. Namun dia menganjurkan kepada para pencari ilmu untuk membaca kitab syiir dan sejenisnya untuk menghibur diri. Bahkan kadang dia pun membuat joke-joke kepada para sahabatnya. Tentu saja guyonan yang berkualitas, bukan guyonan recehan dan mengandung fitnah.

Para waliyullah, para ulama dan kiai di berbagai pesantren mempunyai tradisi guyonan yang sangat terkenal sekali. Suatu hari, saat Muktamar NU di Pesantren Cipasung Tasikmalaya, intel Orde Baru sudah siap-siap menggagalkan pencalonan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Ketua Tanfidziyah. Mereka ditugaskan oleh Pemerintah Soeharto untuk mencatat segala pembicaraan yang mengarah kepada potensi terpilihnya Gus Dur jadi Ketua Tanfidziyah. Namun sepanjang acara, sambutanya yang penting menggunakan bahasa Arab. Para intel tentu tidak paham. Akhirnya mereka dikasih tahu, bahwa acara muktamar hanya doa. Meraka pun mengangguk dan lapor ke Istana , bahwa acara muktamar hanya diisi dengan doa berbahasa Arab.

Dari sini, bahwa guyonan menjadi tradisi para ilmuwan merupakan wujud dari kecerdasan dan kedalaman kearifan mereka dalam melihat suatu persoalan. Guyonan sering menjadi cara yang kadang lebih efektif untuk menyelesaikan suatu persoalan yang beku bisa menjadi cair. Karena itu, orang yang mempunyai selera humor tinggi merupakan jati diri akan tingginya kecerdasan intelektual, emosional dan bahkan sekaligus spiritual tinggi. Karena melalui guyonan ini, kita bisa melihat kekurangan diri dan kesempurnaan orang lain. Karena itu, hakikat guyonan sebenarnya untuk mengetahui kekurangan diri sendiri dan upaya untuk memperbaiki dengan tanpa harus menjatuhkan diri sendiri dan tetap menghargai orang lain secara wajar.

Sayangnya, sebagian manusia saat ini sudah terkikis tradisi guyonan. Melihat orang lain dengan sorotan mata tajam dan dendam. Akibatnya, ide pun tertutup. Emosi keluar. Dan ucapanya penuh dengan nafsu amarah dan angkara murka. Jika kondisi seperti ini, tidak ada kebaikan yang bisa dilihat dari orang lain. Ukuran kebenaran sebatas “suka dan tidak suka” saat diskusi dan tukar pikiran. Itu sebabnya kondisi seperti ini bisa dipastikan tidak bisa menyelesaikan persoalan, kecuali tumbuh fitnah di tengah-tengah masyarakat.

Maka sungguh sangat beruntung ketika kita masih bisa guyonan dengan sesama kolega kita. lebih baik lagi, bisa guyonan atau mentertawakan diri sendiri agar kita terbiasa bisa menilai segala kekurangan diri sendiri, dan tidak sibuk melihat kesalahan orang lain. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895