
Tradisi “guyonan” menjadi ciri khas
ulama NU. hilang guyonan bisa jadi hilang tradisi NU. Itu yang saya pahami dari
ulama NU. Alhamdulillah, saya mempunyai sanad guyonan dari ulama-ulama NU
sepeti K.H. Bisri Mustofa, K.H. Abdurrahman
Wahid, K.H. Mustofa Bisri, dan lain-lain.
Berikut sedikit kisah tradisi guyonan yang
kurang lucu. Selamat menikmati.
Pembubaran kepanitiaan konfercab Pengurus
Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sabtu malam Minggu (11 Mei 2024) dibuat
sederhana. Tempat acara nya di rumah Muhammad Arif, M.Kom. Mas Arif bukan pengurus NU, Ia simpatisan NU. Kalau di
sepakbola, ia bisa dibilang supporter fanatik. Setiap ada acara NU, rumah nya
sangat terbuka menerima tamu baik dari kalangan ulama, maupun kader NU dari
kalangan basyarun mislukum. Pokok nya, hampir bisa dipastikan senantiasa
stand by jika tidak ada udzur sya’ri seperti sakit, pergi ke
rumah mertua dan sejenisnya.
Itulah Mas Arif. Di tengah keterbatasan
ekonomi, tenaga dan pikirannya untuk kepentingan NU. Ia terkadang bertindak
lebih NU dari pengurus NU. Sehingga orang menyangka dia adalah pengurus NU.
Akhirnya, ia mendapat sebutan baru “Pengurus NU” sebab mengurus kebutuhan NU.
Saya lebih suka orang-orang yang demikian.
ia mau mengorbankan waktu, pikiran dan materi untuk kepentingan NU. Jauh lebih
baik daripada menjadi pengurus NU malah tidak ngopeni NU.
Jam 20.00 saya sudah datang di rumahnya.
Saya melihat sudah ada beberapa anak-anak muda dari PMII, IPNU,IPPNU Ansor-Banser
dan para senior NU sudah datang. Beberapa menit kemudian, tamu bertambah
banyak. Malam itu sekitar 50 orang yang datang. Sebenarnya masih ada yang belum
kelihatan. Mas Shodiq (ketua GP Ansor), Mas Agusafri (Ketua LPTQ), Mas Taqin,
Mas Rudi dan beberapa pentolan ansor belum kelihatan. Informasinya, ada
undangan kenduri. Saya pun sudah tidak meningat lagi siapa saja yang belum
datang malam itu.
Tuan rumah mempersilahkan makan malam kepada para tamu yang datang. Sayur sekaligus lauk serba daging kambing. Ada tiga atau empat jenis masakan daging kambing. Informasi dari menteri keuangan PCNU, Kyai Mardio Hasan, ada dua ekor kambing yang dipersiapkan untuk pembubaran kepanitiaan Konfercab. Sebenarnya ide beli kambing hanya guyonan. Kami punya grup WA namanya “grup guyon”. Isinya guyonan, jadi sekeras apapun share-share an di grup tersebut, wajib tertawa dan tidak boleh marah-marah. Pembelian dua ekor kambing juga hasil guyonan menteri keuangan, Mas Shodiq, Mas Miftahudin ( Inspektorat), Mas Topic (Sekretaris MUI), dan Chanifuddin. Saya melihatnya hanya tersenyum dan tidak pernah menanggapi komentarnya. Namun saat melihat daging kambing malam itu,saya tertawa bahagia. Sebab para sahabat NU benar-benar mereka bisa menikmati hidangan makan malam yang sederhana dengan ditemani wedang kopi hitam.
"Dua Sop Kepala Kambing khusus untuk Rais" kata kyai mardio
Semua diam, Dikira Rais Syuriah.
"Maksudnya untuk rais (kepala) rumah tangga, lhoo" kyai khosairi menjelaskan. Semua pun tertawa.
Kebetulan semua yang dekat sop kepala kambing sudah berkeluarga. Kami pun makan sama-sama satu wadah mangkok besar.
Kenapa kami mempunyai tradisi guyonan dalam
berorganisasi? Ada beberapa alasan;
Pertama, kami adalah perkumpulan
orang-orang yang mempunyai latarbelakang pendidikan dan karakter yang
berbeda-beda; ada yang pendiam, banyak bicara, banyak ide, banyak kerja sedikit
bicara, banyak bicara banyak kerja, ada jebolan pesantren, ulama, kyai,
mahasiswa, ada perbedaan suku, budaya dan lain-lain. kekayaan Sumber Daya
Manusia (SDM) sebesar itu tidak mudah mengelola. Bagaimana tidak sulit, dari
latarbelakang pendidikan dan pekerjaan, sering melahirkan bahasa ucapan dan
respon terhadap persoalan atau isu-isu serta cara menyelesaikan berbeda-beda.
Maka salah satu solusinya yaitu mencoba menetralisir setiap pertemuan menjadi
terlihat menyenangkan. Organisasi punya prinsip sederhana, “Jika bisa guyon,
kenapa harus cemberut”.
Kedua, organisasi NU adalah organisasi
lahir dari watak pesantren yang tidak bisa melepaskan diri dari tradisi rilek
dan dipenuhi dengan diskusi-diskusi ilmiah tanpa menghilangkan “guyonan” dalam
setiap pembahasan. Watak guyonan di pesantren menjadi semacam branding
kurikulum khas yang tidak dipunyai oleh sistem pendidikan laiinya. Hal ini
berangkat dari jadwal pesantren yang sangat padat jadwal pembelajaran. Hampir
24 jam, semua ada jadwal kegiatannya.
Jadi kalau ada orang yang mengaku pengurus
NU, kok kurang memahami branding kurikulum kehidupan NU, bisa jadi belum
menjiwai NU secara kaffah. NU menjadi hilang esensinya. Sebab esensi NU adalah
ruh realita kehidupan manusia yang menginginkan kebahagiaan dalam kondisi
apapun. Salah satu wujud kebahagiaan yaitu menebarkan senyum kepada siapapun
dengan setulus hati. Itulah NU.
Ketiga, tradisi guyonan adalah tradisi yang
telah dilakukan oleh nabi dan sahabat-sahabatnya. Dalam literatur sejarah, nabi
sangat menyukai guyonan ketika bertemu dengan para sahabat. Tentu saja guyonan
nabi sangat berkualitas.
Suatu hari nabi duduk-duduk melingkar
dengan para sahabat. Di tengah ada satu wadah yang isinya buah kurma cukup
banyak. Mereka diskusi sambil makan kurma. Sehingga tidak terasa, nabi cukup
banyak makan kurma.
Uniknya, setiap selesai makan kurma,
bijinya ditaruh di depan Ali bin Abi Thalib. Para sahabat melihatnya terlihat
janggal dan tersenyum.
Ketika selesai diskusi dan kurma sudah
habis, nabi pun bertanya kepada para sahabat: “Siapakah orang yang paling rakus
di antara kita?”.
Ali diam saja.
Para sahabat lainnya saling berpandangan dan
serentak menjawab: “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu”.
Nabi menjawab: “Orang yang paling rakus di
antara kita adalah orang yang di depannya banyak biji kurma”. Semua pun melihat
Ali dan tertawa atas guyonan nabi.
Ali tidak kalah cerdik, ia pun membela diri
atas gojlogan nabi, katanya: “Sebenarnya orang yang paling rakus di
antara kita adalah orang yang di depannya tidak ada bij kurma. Sebab kurma dan
bijinya langsung dimakan”. Nabi tersenyum dan sahabat tertawa bahagia. Nabi pun
berkata: “ Saya adalah kota nya ilmu, dan Ali adalah pintu nya ilmu”.
Jadi, tradisi guyonan adalah bagian dari
tradisinya kaum intelektual dan kaum yang dekat dengan Allah swt. Orang-orang
yang terpilih dalam pandangan Allah senantiasa mengisi hidup dengan penuh
kebahagiaan dengan selalu memberi manfaat kepada orang lain. Dunia ini adalah
“sendau gurau dan permainan”. Allah dan nabi memperintahkan untuk memanage sendau
gurau dan permainan tersebut bernilai ibadah. Sebab permainan pasti akan
berakhir, dan ibadah itu akan kekal sampai berjumpa dengan-nya di Surga.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876