Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guyonan Nabi dan Kyai



Senin , 13 Mei 2024



Telah dibaca :  661

Tradisi “guyonan” menjadi ciri khas ulama NU. hilang guyonan bisa jadi hilang tradisi NU. Itu yang saya pahami dari ulama NU. Alhamdulillah, saya mempunyai sanad guyonan dari ulama-ulama NU sepeti  K.H. Bisri Mustofa, K.H. Abdurrahman Wahid, K.H. Mustofa Bisri, dan lain-lain.

Berikut sedikit kisah tradisi guyonan yang kurang lucu. Selamat menikmati.

Pembubaran kepanitiaan konfercab Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sabtu malam Minggu (11 Mei 2024) dibuat sederhana. Tempat acara nya di rumah Muhammad Arif, M.Kom. Mas Arif  bukan pengurus NU, Ia simpatisan NU. Kalau di sepakbola, ia bisa dibilang supporter fanatik. Setiap ada acara NU, rumah nya sangat terbuka menerima tamu baik dari kalangan ulama, maupun kader NU dari kalangan basyarun mislukum. Pokok nya, hampir bisa dipastikan senantiasa stand by jika tidak ada udzur sya’ri seperti sakit, pergi ke rumah mertua dan sejenisnya.

Itulah Mas Arif. Di tengah keterbatasan ekonomi, tenaga dan pikirannya untuk kepentingan NU. Ia terkadang bertindak lebih NU dari pengurus NU. Sehingga orang menyangka dia adalah pengurus NU. Akhirnya, ia mendapat sebutan baru “Pengurus NU” sebab mengurus kebutuhan NU.

Saya lebih suka orang-orang yang demikian. ia mau mengorbankan waktu, pikiran dan materi untuk kepentingan NU. Jauh lebih baik daripada menjadi pengurus NU malah tidak ngopeni NU.

Jam 20.00 saya sudah datang di rumahnya. Saya melihat sudah ada beberapa anak-anak muda dari PMII, IPNU,IPPNU Ansor-Banser dan para senior NU sudah datang. Beberapa menit kemudian, tamu bertambah banyak. Malam itu sekitar 50 orang yang datang. Sebenarnya masih ada yang belum kelihatan. Mas Shodiq (ketua GP Ansor), Mas Agusafri (Ketua LPTQ), Mas Taqin, Mas Rudi dan beberapa pentolan ansor belum kelihatan. Informasinya, ada undangan kenduri. Saya pun sudah tidak meningat lagi siapa saja yang belum datang malam itu.

Tuan rumah mempersilahkan makan malam kepada para tamu yang datang. Sayur sekaligus lauk serba daging kambing. Ada tiga atau empat jenis masakan daging kambing. Informasi dari menteri keuangan PCNU, Kyai Mardio Hasan, ada dua ekor kambing yang dipersiapkan untuk pembubaran kepanitiaan Konfercab. Sebenarnya ide beli kambing hanya guyonan. Kami punya grup WA namanya “grup guyon”. Isinya guyonan, jadi sekeras apapun share-share an di grup tersebut, wajib tertawa dan tidak boleh marah-marah. Pembelian dua ekor kambing juga hasil guyonan menteri keuangan, Mas Shodiq, Mas Miftahudin ( Inspektorat), Mas Topic (Sekretaris MUI), dan Chanifuddin. Saya melihatnya hanya tersenyum dan tidak pernah menanggapi komentarnya. Namun saat  melihat daging kambing malam itu,saya tertawa bahagia. Sebab para sahabat NU benar-benar mereka bisa menikmati hidangan makan malam yang sederhana dengan ditemani wedang kopi hitam.

"Dua Sop Kepala Kambing khusus untuk Rais" kata kyai mardio

Semua diam, Dikira Rais Syuriah.

"Maksudnya untuk rais (kepala) rumah tangga, lhoo" kyai khosairi menjelaskan. Semua pun tertawa. 

Kebetulan semua yang dekat sop kepala kambing sudah berkeluarga. Kami pun makan sama-sama satu wadah mangkok besar.

Kenapa kami mempunyai tradisi guyonan dalam berorganisasi? Ada beberapa alasan;

Pertama, kami adalah perkumpulan orang-orang yang mempunyai latarbelakang pendidikan dan karakter yang berbeda-beda; ada yang pendiam, banyak bicara, banyak ide, banyak kerja sedikit bicara, banyak bicara banyak kerja, ada jebolan pesantren, ulama, kyai, mahasiswa, ada perbedaan suku, budaya dan lain-lain. kekayaan Sumber Daya Manusia (SDM) sebesar itu tidak mudah mengelola. Bagaimana tidak sulit, dari latarbelakang pendidikan dan pekerjaan, sering melahirkan bahasa ucapan dan respon terhadap persoalan atau isu-isu serta cara menyelesaikan berbeda-beda. Maka salah satu solusinya yaitu mencoba menetralisir setiap pertemuan menjadi terlihat menyenangkan. Organisasi punya prinsip sederhana, “Jika bisa guyon, kenapa harus cemberut”.

Kedua, organisasi NU adalah organisasi lahir dari watak pesantren yang tidak bisa melepaskan diri dari tradisi rilek dan dipenuhi dengan diskusi-diskusi ilmiah tanpa menghilangkan “guyonan” dalam setiap pembahasan. Watak guyonan di pesantren menjadi semacam branding kurikulum khas yang tidak dipunyai oleh sistem pendidikan laiinya. Hal ini berangkat dari jadwal pesantren yang sangat padat jadwal pembelajaran. Hampir 24 jam, semua ada jadwal kegiatannya.

Jadi kalau ada orang yang mengaku pengurus NU, kok kurang memahami branding kurikulum kehidupan NU, bisa jadi belum menjiwai NU secara kaffah. NU menjadi hilang esensinya. Sebab esensi NU adalah ruh realita kehidupan manusia yang menginginkan kebahagiaan dalam kondisi apapun. Salah satu wujud kebahagiaan yaitu menebarkan senyum kepada siapapun dengan setulus hati. Itulah NU.

Ketiga, tradisi guyonan adalah tradisi yang telah dilakukan oleh nabi dan sahabat-sahabatnya. Dalam literatur sejarah, nabi sangat menyukai guyonan ketika bertemu dengan para sahabat. Tentu saja guyonan nabi sangat berkualitas.

Suatu hari nabi duduk-duduk melingkar dengan para sahabat. Di tengah ada satu wadah yang isinya buah kurma cukup banyak. Mereka diskusi sambil makan kurma. Sehingga tidak terasa, nabi cukup banyak makan kurma.

Uniknya, setiap selesai makan kurma, bijinya ditaruh di depan Ali bin Abi Thalib. Para sahabat melihatnya terlihat janggal dan tersenyum.

Ketika selesai diskusi dan kurma sudah habis, nabi pun bertanya kepada para sahabat: “Siapakah orang yang paling rakus di antara kita?”.

Ali diam saja.

Para sahabat lainnya saling berpandangan dan serentak menjawab: “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu”.

Nabi menjawab: “Orang yang paling rakus di antara kita adalah orang yang di depannya banyak biji kurma”. Semua pun melihat Ali dan tertawa atas guyonan nabi.

Ali tidak kalah cerdik, ia pun membela diri atas gojlogan nabi, katanya: “Sebenarnya orang yang paling rakus di antara kita adalah orang yang di depannya tidak ada bij kurma. Sebab kurma dan bijinya langsung dimakan”. Nabi tersenyum dan sahabat tertawa bahagia. Nabi pun berkata: “ Saya adalah kota nya ilmu, dan Ali adalah pintu nya ilmu”.

Jadi, tradisi guyonan adalah bagian dari tradisinya kaum intelektual dan kaum yang dekat dengan Allah swt. Orang-orang yang terpilih dalam pandangan Allah senantiasa mengisi hidup dengan penuh kebahagiaan dengan selalu memberi manfaat kepada orang lain. Dunia ini adalah “sendau gurau dan permainan”. Allah dan nabi memperintahkan untuk memanage sendau gurau dan permainan tersebut bernilai ibadah. Sebab permainan pasti akan berakhir, dan ibadah itu akan kekal sampai berjumpa dengan-nya di Surga.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876