Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guyonan Sekaligus Ngaji



Minggu , 24 November 2024



Telah dibaca :  582

Kelihatannya selera humor yang mulia,al'alamah,almukarom Sekretaris Jenderal Agama RI, Prof.Dr. Muhammad Ramdhani, S.TP,MT memang sudah "gawan bayi". Ada saja bahan gurauan. Apalagi kalau sudah berkumpul dengan syeikhinal kirom Prof Inung. Saya melihat mereka berdua jadi teringat tradisi pesantren tradisional. Dulu waktu saya jadi tukang masak di pesantren sering melihat para ulama, kyai dan ustadz suka bergurau. Saya mulai memahami  ternyata “guyonan” merupakan strategi jitu untuk mendapat puncak ilmu pengetahuan dan hikmah ( jika ingin tahu sumbernya, silahkan cari kumpulan cerita Abu Nawas). Melalui terapi guyonan,“kabel-kabel” syaraf sehingga aliran darah dan oksigen berjalan lancar. Proses yang sangat penting untuk memperkuat daya ingat dan imajinasi produktif.

Saya sebagai pendengar yang baik senyum senyum saja. Saya ngaji tidak terlalu serius, supaya hasilnya serius. Jika terlalu serius malah hasilnya tidak serius. Saya harus belajar dari keduanya,bahwa dunia seisinya memang harus ditertawakan. Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa dunia adalah tempat bermain dan sendau gurau.

Pesan tersebut tentu bukan berarti Islam mempromosikan acara stand up comedy. Tidak sama sekali. Tidak semua yang membuat tertawa itu lucu. Sebab kelucuan hidup titik tekan nya bukan pada humor nya,bukan juga pada tertawa nya. Kelucuan manusia ditekankan pada ketidaktahuan terhadap hakikat dirinya sendiri. Itulah puncak kelucuan yang sesungguhnya.

Dalam obrolan singkat, Prof Ramdhani membuka kitab cukup banyak. Pertama kitab milik al ‘alamah Rene Descartes. Ia mengambil kutipan cogito ergo sum. Aku berfikir maka aku ada. Ia buka lagi kitab kontroversial milik Darwin”The origin of species”. Ia mengatakan seluruh makhluk mengalami modifikasi dan bisa menyesuaikan dengan lingkungan. Ia juga mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib:” ajari anak-anak mu sesuai dengan perkembang zamannya”. Dan kitab terakhir yang dibuka yaitu Al-Muqadimah milik Ibn Khaldun. Ia mengambil satu kalimat “al-insan madaniyu bitab’i (manusia secara alamiah mempunyai watak menciptakan peradaban).

Apa artinya?. Dalam proses perubahan dan kebutuhan untuk eksis manusia bisa mengambil ilmu-ilmu dari mereka. Dalam realita kehidupan, adanya perubahan dan modernisasi serta terbuka nya inovasi kekinian adalah bagian dari sumbangsih ilmuwan-ilmuwan seperti tersebut di atas. Proses berfikir dan terus berfikir merupakan upaya menemukan jawaban yang dibutuhkan oleh siapapun. Hal yang sama, juga proses berfikir juga harus dibarengi adanya semangat diri penuh keyakinan untuk sukses. Anda bisa melihatnya betapa penting kemampuan untuk mempertahankan kehidupan dan cara untuk mempertahankan adalah jalan ia bisa mencapai cita-cita. Itu sebabnya ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib, Ibn Khaldun, Rene dan Darwin merupakan realita kehidupan yang tidak bisa dihindari. Ingin sukes berfikir dan bekerja keras hingga mendapatkan buah yang diinginkan.

Persyaratan tersebut belum cukup. Benar bahwa melalui persyaratan-persyaratan tersebut sudah mampu menciptakan kesuksesan dan kekayaan, tapi belum mencapai puncak kebahagiaan. Ia baru sebagai “emper” kebahagiaan belum pada intinya. Kunci kebahagiaan sejati pada status takwa kepada Allah swt. Ukuran sederhana dalam persoalan tersebut yaitu mempunyai etika yang agung kepada Alloh dan kepadaanusia.

Moralitas yang agung manusia kepada Alloh dalam wujud keikhlasan diri menundukan hati,pikiran dan rasa benar-benar mengabdikan diri kepada-Nya. Manusia totalitas beribadah hanya karena Alloh dan totalitas bahwa semua hidup sudah diatur oleh Alloh dengan desain terbaik.

Sedang etika kepada sesama manusia yaitu mampu memanusiakan manusia pada tempat yang tepat. Manusia harus introspeksi diri bahwa keberhasilan kita bukan tercipta secara "ujug-ujug",tapi ada tangan-tangan orang lain yang mengantarkan kita mendapatkan tempat terhormat. Salah satu manusia yang sangat berjasa antara lain adalah orang tua kita.

Lihat ayah kita yang terkadang badan kurus,kulit menghitam dan makan kurang gizi karena mengumpulkan biaya untuk anak anak nya bisa sukses. Ibu kita telah menaruhkan jiwa agar kita selamat saat lahir dan agar kita bisa melihat sinar matahari yang cerah secerah masa depan anda. Itulah bagian dari amal Sholeh dan moralitas yang harus dijadikan way of life para mahasiswa.

Walhasil,tidak ada kesuksesan tanpa terus belajar,dan tidak ada kemulyaan sejati tanpa adanya moralitas yang agung kepada Alloh dan kepada hamba-hamba-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875