Avatar

A. Ushfuri

Penulis Kolom

6 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

"

Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui

Ig : @standbymi1

"

Hadiah Sempak Ummi



Senin , 26 Januari 2026



Telah dibaca :  151

Sudah beberapa hari ini di rumah Ummi ada kantong kresek berisi puluhan celana dalam. Sempak sebanyak itu, milik siapa? Pernah Ummi membeli banyak sekali snack. "Ummi mau dagang kerupuk," ujar Ummi sambil tersenyum kecil. Apakah kali ini akan dagang sempak?


Melihat tumpukan sempak itu membuatku ingat lagi dengan sempak kesayangan. Di suatu hari ia hilang. Entah kemana angin membawanya terbang, atau mungkin ia sedang terbang bersama burung orang.


Sempak adalah barang yang langka di pondok. Di pondok, pengguna sempak itu minoritas.


Musabab sempak itu mudah sekali hilang. Sekalinya hilang laki-laki paling malas membeli sempak lagi. Karena laki-laki hanya memakai barangnya namun jarang merawatnya.


Sarung tanpa sempak sudah barang yang biasa di kami.


Awalnya mungkin terasa risih, tapi dua tiga hari kemudian sudah mulai terbiasa. Dua minggu kemudian terasa nikmatnya.


Rasanya lebih bebas, lebih plong, jadi keterusan sampai sekarang.


Terkadang mencintai burung itu bukan dengan merawatnya di sangkar mahal, tapi membiarkannya bebas.


Semenjak dua menjak sempak hilang, aku hanya memakainya untuk acara resmi. Tersisa satu sempak Calvin Klein yang masih layak pakai. Yang satunya lagi sudah mulai koyak tapi tetap di pakai untuk tidur. Dan di musim hujan, tidur pun terpaksa tidak bersempak.


Begitu selesai beberes ndalem, Ummi (bu nyai) memanggilku.


"Itu celana dalamnya ambil dua, kopyah ambil satu!"


Masyallah, ternyata Ummi membelikan ini buat kami. Aku terharu. Ummi sudah lebih dari sekali memberi baju atau sarung.


Sekarang aku sudah mengumpulkan kopyah, sarung, baju, sempak, jadilah satu setelan.


Kalau direnungi kami memang kurang mencintai diri sendiri. Orang tua selalu lebih mencintai diri kami. Pun Guru. Secinta-cintanya kami ke diri sendiri, Guru lebih mencintai.Sebesar apapun cinta kami pada guru, tetap lebih besar cinta dari Guru.


Seringkali tanpa sadar kami menyerahkan diri pada kehancuran. Membiarkan diri digerogoti ketidakdisiplinan, kemalasan, bahkan kemaksiatan. Tidak ada yang lebih peduli akan hal itu daripada Guru.


Selang beberapa hari kemudian salah satu kawanku terlihat selalu menggaruk-garuk area selangkangannya. Terus menggaruk meski aku menahan ketawa memperhatikannya.


"Gerah he... ngges biasa menghirup udara bebas soalna," ujarnya.


"Hahaha, make nu putih?" Pakai sempak yang putih, kah?


"Ho'oh, asa disekep jasa." Terasa seperti dicengkeram katanya. Kami tak dapat lagi menahan tawa. Sembari dia terus mencubit-cubit bagian bawahnya.


Sampai sekarang sempak itu masih ada dan kupakai. Jadi simbol sekaligus kenang-kenangan kasih peduli Guru pada kami. Seandainya Guru tak peduli, maka jadilah kami para mokondo yang bahkan tak menjaga kon-nya.





Download File

Penulis : A. Ushfuri


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870