
Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas
ibadah haji tentang rindu seorang hamba kepada Rasulullah saw. Kini penulis
mencoba melihat dimensi kehidupan yang sering kita lihat antara teori dan realita
kehidupan. Kata “teori” dan “realita” terkadang menimbulkan perdebatan ketika kedua
nya bertemu pada persoalan-persoalan yang bersifat sosial. Sebab menyatukan
keduanya dalam kontek sosial tidak selalu selaras dengan kenyataan. Berbeda dengan
ilmu pasti, margin error lebih kecil dan mempunyai peluang kebenaran lebih
besar.
Contoh Ketika menentukan awal dan akhir
bulan ramadhan. Para ulama ilmu hisab dan ahli astronomi atau ahli falak
mempunyai keahlian untuk menentukan seberapa derajat yang menjadi ketentuan
memulai atau mengahiri bulan ramadhan. Ketika sudah mencapai hasil yang
ditentukan, maka bisa menentukan waktu awal ramadhan dan awal bulan syawal. Wajar
jika berbeda metode akan berbeda hasil nya. Itu sudah biasa. Jika ada lebaran
idul fitri berbeda, bukan pada kesalahan metode nya, tapi caranya yang berbeda.
Meskipun juga tidak menutup kemungkinan ada kesalahan metode pada kasus-kasus
tertentu sehingga perlu membutuhkan valitasi kebenaran ilmiah. Jika tidak bisa
membuktikan, maka dianggap sebagai keputusan yang kurang tepat.
Sedangkan pada ilmu-ilmu sosial hasilnya
melebar dan meluas. Perubahan masyarakat yang sangat dinamis telah tercermin
pola kehidupan laksana pada Keputusan-keputusan politik. Ilmu sosial meskipun
tidak ada hubungan dengan politik, namun kata politik telah mengambil alih aktivitas
sosial secara umum, yaitu” suatu cara untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan”.
Jelas, makna tersebut tidak bisa dipagari oleh satu teori. Ada beragam teori
untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh setiap orang atau oleh kelompok.
Salah satu perbedaan yang mencolok antara “teori”
dan “realita” adalah budaya pergi haji ke baitullah. Setiap tahun antrian pergi
haji semakin panjang. Tidak hanya satuan tahun, tapi sudah puluhan tahun. Akhirnya,
Sebagian para perindu haji yang tidak memungkinkan karena kendala umur,
melakukan ibadah umrah. Lalu munculah travel umrah tumbuh sangat pesat bagai tumbuh
jamur di musim penghujan. Penulis menganggap itu suatu fenomena yang unik dan sangat
baik bahwa semangat beribadah bangsa Indonesia sangat tinggi. Dari sini juga
sungguh agak sedikit dilematis, bahwa bangsa Indonesia yang katanya masih
banyak yang miskin dan antri bantuan BLT, tapi pada saat yang sama orang-orang
yang ingin berangkat haji dan umrah tidak pernah putus dan tiap tahun jumlah
nya meningkat.
Secara teori perbincangan di masyarakat realita
dan masyarakat dunia maya sangat ramai membahas persoalan kemiskinan dan
rendahnya pendidikan menjadi trend yang terus bergema pada saat awal pergantian
pemimpin, pertengahan dan akhir kepemimpinan. Bahkan kadang lucu, orang-orang
yang menjadi bagian pengambil kebijakan ikut menyuarakan dan mempromosikan
persoalan tersebut. Entah apa maksudnya, apakah ingin dilihat sebagai pahlawan,
panggilan hati atau memang sudah tidak nyaman lagi bekerja di tempat tersebut. Itu
yang penulis lihat bagian dari fenomena yang terjadi saat sekarang ini. Menepuk
air di ember terpercik muka sendiri.
Secara teori sudah berapa juta orang yang
pergi haji dan umrah. Mereka adalah orang-orang pilihan sebagai “tamu allah”
dan “tamu Rasulullah”. Sebagai orang pilihan dan tamu agung sebenarnya suatu
cermin dari manusia-manusia yang sempurna secara dhahiran dan batinan, sempurna
spiritualnya dan sempurna akal pikiran dan jasmaniahnya. Pada diri mereka
terkumpul kemampuan duniawiyah dan kemampuan batiniah lebih baik jika
dibandingkan dengan orang-orang yang belum pernah melihat ka’bah secara
langsung dan berdoa di depan raudha secara langsung. Dari mereka seharusnya
lahir spirit spiritual, intelektual dan emosional dalam melakukan suatu gerakan
perubahan melalu jihad, ijtihad dan mujahadah.
Para tamu Allah yang sudah pulang dan kembali
ke tanah air memang diharapkan mempunyai semangat jihad fi sabillah. Makna
jihad disini bukan mengangkat senjata atau perang. Mereka diharapkan mampu
menjadi inspirator membangun kesadaran etos kerja kepada tetangga sekitarnya
untuk senang bekerja sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para nabi, sahabat
dan para ulama pada masa lalu. Sebab jika kesadaran tersebut hanya diberikan
kepada pemerintah dan lembaga-lembaganya, maka tidak mungkin tercapai mengingat
keterbatasan anggaran dan pangsa pasar yang akan dilatihnya. Para jamaah haji
adalah orang-orang yang sudah menyatu dengan masyarakat di tempat. Mereka lebih
mempunyai kedekatan emosional dibanding dengan para pejabat atau para penyuluh
yang hanya terbatas pada hubungan fungsional dan kurang pada hubungan
emosional.
Para jamaah haji mempunyai latarbelakang
yang berbeda-beda profesi. Tidak sedikit di antara mereka yang bergerak pada
bidang bisnis, peternakan, pertanian, dan beragam pekerjaan lainnya. Mereka mempunyai
tanggungjawab sosial yang tidak saja melulu dihitung dengan persoalan untung
rugi. Para jamaah haji sudah saatnya mampu melihat orientasi pekerjaannya hanya
sebatas untuk memperkaya diri, tapi juga harus memberi luang waktu untuk
mengabdi kepada masyarakat melalui fasilitas-fasilitas yang ada pada dirinya.
Selain jihad, para jamaah haji juga
mempunyai tugas untuk melakukan ijtihad. Diantara meraka ada orang-orang yang
masuk pada kelompok “ulul albab”, orang-orang yang dikarunia kefasihan lisan,
kecerdasan fikiran, dan ketajaman mata hatinya. Diantara mereka adalah
orang-orang yang mendapatkan amanah dari Allah berupa ilmu pengetahuan yang
luas dan keahilan yang mendalam dalam berbagai persoalan-persoalan hidup. Sungguh
sangat rugi, jika hanya sibuk sehari-hari untuk kepentingan pribadi dan karirnya. Sungguh sangat indah jika Sebagian
waktu mereka digunakan untuk memberi pencerahan kepada masyarakat tentang
pentingnya hidup dan lebih bermakna.
Selanjutnya, para jamaah haji juga tidak
boleh melupakan mujahadah. Selama 40-an hari mereka telah melihat Ka’bah dan
segala tempat-tempat suci yang membangun ketajaman spiritual. Mereka telah
diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi tempat yang sangat suci dan
sangat indah bahkan terindah di dunia. Tentu saja, kenikmatan ibadah yang telah
diasah selama 40-an hari akan membekas saat mereka kembali ke kampung halaman
masing-masing. Kenikmatan ini kemudian ditularkan kepada pasangan, anak dan
menantu serta masyarakat sekitarnya.
Tiga kekuatan yang ada pada para jamaah
haji berupa jihad, ijtihad dan mujahadah sebenarnya menjadi modal besar untuk
melakukan perubahan mindset, etos kerja dan ibadah yang semata-semata hanya
mencari ridha Allah swt. Jika ketiga ini bersinergi, saya kira bangsa Indonesia
bisa segera naik kelas lebih baik lagi di masa datang.
Namun lagi-lagi apa yang disampaikan oleh
penulis adalah sebatas “unek-unek kosong” yang kenyataannya sedikit yang membaca
tulisan ini. Bahkan terkadang malah ada yang mentertawakan nya dan dianggap
sebagai tulisan yang tidak berbobot dan tidak jelas secara gramatikal dan
balaghoh nya. Jika ada yang demikian tanggapannya, penulis pun tidak akan
mempersoalkan.
Penulis hari ini sangat bersyukur saja,
bahwa hari ini saya telah mendapatkan kenikmatan bisa merangkai kata-kata yang
jauh dari kesempurnaan. Tidak mengapa, sebab penulis percaya bahwa Allah begitu
mudah memberi pentunjuk dari beragam jalan yang dikehendakinya. Bisa jadi
melalui tulisan yang tidak sempurna.
Tentu saja saya berharap tulisan ini bisa
memberi konstribusi luas untuk perubahan positif di masyarakat, jika tidak
mampu semoga saja tulisan ini menjadi pembimbing diriku untuk bisa menjadi
lebih baik dalam menerapkan dua kata dalam kehidupan yaitu adanya kesesuaian “teori”
dan “realita”.
Penulis : Imam Ghozali
???? You got a transfer from our company. Take =>>
5hzjif
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876