Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haji antara Teori dan Realita



Senin , 10 Juni 2024



Telah dibaca :  663

Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas ibadah haji tentang rindu seorang hamba kepada Rasulullah saw. Kini penulis mencoba melihat dimensi kehidupan yang sering kita lihat antara teori dan realita kehidupan. Kata “teori” dan “realita” terkadang menimbulkan perdebatan ketika kedua nya bertemu pada persoalan-persoalan yang bersifat sosial. Sebab menyatukan keduanya dalam kontek sosial tidak selalu selaras dengan kenyataan. Berbeda dengan ilmu pasti, margin error lebih kecil dan mempunyai peluang kebenaran lebih besar.

Contoh Ketika menentukan awal dan akhir bulan ramadhan. Para ulama ilmu hisab dan ahli astronomi atau ahli falak mempunyai keahlian untuk menentukan seberapa derajat yang menjadi ketentuan memulai atau mengahiri bulan ramadhan. Ketika sudah mencapai hasil yang ditentukan, maka bisa menentukan waktu awal ramadhan dan awal bulan syawal. Wajar jika berbeda metode akan berbeda hasil nya. Itu sudah biasa. Jika ada lebaran idul fitri berbeda, bukan pada kesalahan metode nya, tapi caranya yang berbeda. Meskipun juga tidak menutup kemungkinan ada kesalahan metode pada kasus-kasus tertentu sehingga perlu membutuhkan valitasi kebenaran ilmiah. Jika tidak bisa membuktikan, maka dianggap sebagai keputusan yang kurang tepat.

Sedangkan pada ilmu-ilmu sosial hasilnya melebar dan meluas. Perubahan masyarakat yang sangat dinamis telah tercermin pola kehidupan laksana pada Keputusan-keputusan politik. Ilmu sosial meskipun tidak ada hubungan dengan politik, namun kata politik telah mengambil alih aktivitas sosial secara umum, yaitu” suatu cara untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan”. Jelas, makna tersebut tidak bisa dipagari oleh satu teori. Ada beragam teori untuk mencapai apa yang dicita-citakan oleh setiap orang atau oleh kelompok.

Salah satu perbedaan yang mencolok antara “teori” dan “realita” adalah budaya pergi haji ke baitullah. Setiap tahun antrian pergi haji semakin panjang. Tidak hanya satuan tahun, tapi sudah puluhan tahun. Akhirnya, Sebagian para perindu haji yang tidak memungkinkan karena kendala umur, melakukan ibadah umrah. Lalu munculah travel umrah tumbuh sangat pesat bagai tumbuh jamur di musim penghujan. Penulis menganggap itu suatu fenomena yang unik dan sangat baik bahwa semangat beribadah bangsa Indonesia sangat tinggi. Dari sini juga sungguh agak sedikit dilematis, bahwa bangsa Indonesia yang katanya masih banyak yang miskin dan antri bantuan BLT, tapi pada saat yang sama orang-orang yang ingin berangkat haji dan umrah tidak pernah putus dan tiap tahun jumlah nya meningkat.

Secara teori perbincangan di masyarakat realita dan masyarakat dunia maya sangat ramai membahas persoalan kemiskinan dan rendahnya pendidikan menjadi trend yang terus bergema pada saat awal pergantian pemimpin, pertengahan dan akhir kepemimpinan. Bahkan kadang lucu, orang-orang yang menjadi bagian pengambil kebijakan ikut menyuarakan dan mempromosikan persoalan tersebut. Entah apa maksudnya, apakah ingin dilihat sebagai pahlawan, panggilan hati atau memang sudah tidak nyaman lagi bekerja di tempat tersebut. Itu yang penulis lihat bagian dari fenomena yang terjadi saat sekarang ini. Menepuk air di ember terpercik muka sendiri.

Secara teori sudah berapa juta orang yang pergi haji dan umrah. Mereka adalah orang-orang pilihan sebagai “tamu allah” dan “tamu Rasulullah”. Sebagai orang pilihan dan tamu agung sebenarnya suatu cermin dari manusia-manusia yang sempurna secara dhahiran dan batinan, sempurna spiritualnya dan sempurna akal pikiran dan jasmaniahnya. Pada diri mereka terkumpul kemampuan duniawiyah dan kemampuan batiniah lebih baik jika dibandingkan dengan orang-orang yang belum pernah melihat ka’bah secara langsung dan berdoa di depan raudha secara langsung. Dari mereka seharusnya lahir spirit spiritual, intelektual dan emosional dalam melakukan suatu gerakan perubahan melalu jihad, ijtihad dan mujahadah.

Para tamu Allah yang sudah pulang dan kembali ke tanah air memang diharapkan mempunyai semangat jihad fi sabillah. Makna jihad disini bukan mengangkat senjata atau perang. Mereka diharapkan mampu menjadi inspirator membangun kesadaran etos kerja kepada tetangga sekitarnya untuk senang bekerja sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para nabi, sahabat dan para ulama pada masa lalu. Sebab jika kesadaran tersebut hanya diberikan kepada pemerintah dan lembaga-lembaganya, maka tidak mungkin tercapai mengingat keterbatasan anggaran dan pangsa pasar yang akan dilatihnya. Para jamaah haji adalah orang-orang yang sudah menyatu dengan masyarakat di tempat. Mereka lebih mempunyai kedekatan emosional dibanding dengan para pejabat atau para penyuluh yang hanya terbatas pada hubungan fungsional dan kurang pada hubungan emosional.

Para jamaah haji mempunyai latarbelakang yang berbeda-beda profesi. Tidak sedikit di antara mereka yang bergerak pada bidang bisnis, peternakan, pertanian, dan beragam pekerjaan lainnya. Mereka mempunyai tanggungjawab sosial yang tidak saja melulu dihitung dengan persoalan untung rugi. Para jamaah haji sudah saatnya mampu melihat orientasi pekerjaannya hanya sebatas untuk memperkaya diri, tapi juga harus memberi luang waktu untuk mengabdi kepada masyarakat melalui fasilitas-fasilitas yang ada pada dirinya.

Selain jihad, para jamaah haji juga mempunyai tugas untuk melakukan ijtihad. Diantara meraka ada orang-orang yang masuk pada kelompok “ulul albab”, orang-orang yang dikarunia kefasihan lisan, kecerdasan fikiran, dan ketajaman mata hatinya. Diantara mereka adalah orang-orang yang mendapatkan amanah dari Allah berupa ilmu pengetahuan yang luas dan keahilan yang mendalam dalam berbagai persoalan-persoalan hidup. Sungguh sangat rugi, jika hanya sibuk sehari-hari untuk kepentingan pribadi  dan karirnya. Sungguh sangat indah jika Sebagian waktu mereka digunakan untuk memberi pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya hidup dan lebih bermakna.

Selanjutnya, para jamaah haji juga tidak boleh melupakan mujahadah. Selama 40-an hari mereka telah melihat Ka’bah dan segala tempat-tempat suci yang membangun ketajaman spiritual. Mereka telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi tempat yang sangat suci dan sangat indah bahkan terindah di dunia. Tentu saja, kenikmatan ibadah yang telah diasah selama 40-an hari akan membekas saat mereka kembali ke kampung halaman masing-masing. Kenikmatan ini kemudian ditularkan kepada pasangan, anak dan menantu serta masyarakat sekitarnya.

Tiga kekuatan yang ada pada para jamaah haji berupa jihad, ijtihad dan mujahadah sebenarnya menjadi modal besar untuk melakukan perubahan mindset, etos kerja dan ibadah yang semata-semata hanya mencari ridha Allah swt. Jika ketiga ini bersinergi, saya kira bangsa Indonesia bisa segera naik kelas lebih baik lagi di masa datang.

Namun lagi-lagi apa yang disampaikan oleh penulis adalah sebatas “unek-unek kosong” yang kenyataannya sedikit yang membaca tulisan ini. Bahkan terkadang malah ada yang mentertawakan nya dan dianggap sebagai tulisan yang tidak berbobot dan tidak jelas secara gramatikal dan balaghoh nya. Jika ada yang demikian tanggapannya, penulis pun tidak akan mempersoalkan.

Penulis hari ini sangat bersyukur saja, bahwa hari ini saya telah mendapatkan kenikmatan bisa merangkai kata-kata yang jauh dari kesempurnaan. Tidak mengapa, sebab penulis percaya bahwa Allah begitu mudah memberi pentunjuk dari beragam jalan yang dikehendakinya. Bisa jadi melalui tulisan yang tidak sempurna.

Tentu saja saya berharap tulisan ini bisa memberi konstribusi luas untuk perubahan positif di masyarakat, jika tidak mampu semoga saja tulisan ini menjadi pembimbing diriku untuk bisa menjadi lebih baik dalam menerapkan dua kata dalam kehidupan yaitu adanya kesesuaian “teori” dan “realita”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? You got a transfer from our company. Take =>>

5hzjif

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876