Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haji dan Pengorbanan Seorang Ibu



Sabtu , 15 Juni 2024



Telah dibaca :  845

Jika membaca beberapa kitab tafsir dan buku-buku sejarah, perjuangan seorang ibu mulia yang bernama sayidina Hajar sangat menginspirasi manusia muslimah di seluruh dunia. Dia seorang ibu yang terpisah dari suaminya karena tugas dakwah. Dia seorang ibu dan anak kecil hijrah dari Palestina ke Mekah. Ia pindah bukan karena mendapat fasilitas dunia yang penuh gemerlapan, tapi hijrah dalam rangka mencari ridha Allah swt.

Jarak Palestina ke Mekah sekitar 1500 kilo meter, jika naik  binatang Onta butuh waktu sekitar 40 hari. Penulis hanya bisa membayangkan situasi tanah Arab saat sekarang ini dengan ribuan tahun lalu yang terkadang panas sekali, terkadang juga sangat dingin sekali. Saat penulis naik bus dari Madinah ke Makah, pemandangan yang terlihat di depan mata hanya gunung-gunung batu berwarna coklat dan hitam. Saat sore hari terlihat sangat mencekam.

Saya membayangkan jika bawa mobil atau honda di situ lalu macet; ban bocor atau busi kotor sangat sulit mencari bengkel mobil di pinggir jalan. Jika disuruh mendorong tidak sanggup. Jangankan mendorong mobil atau honda, jalan kaki saja saya tidak sanggup di kondisi jalan yang sangat panas dan jalan raya yang super panjang. Lebih tak sanggup lagi di kanan kiri body jalan tidak ada rumah penduduk, toko atau warteg untuk melepaskan penat dan dahaga sambil minum es cendol dan pisang goreng.

Jika situasi yang sudah sangat modern saja situasi alam Arab Saudi terlihat ekstrem, apalagi masa dulu yang alam masih tradisional dan jalan belum sebaik sekarang. Apakah dulu sudah ada istilah “jalan tikus” untuk memotong jarak antara Palestina ke Mekah menjadi pendek, penulis kurang begitu mengetahuinya.

Apakah sudah ada penduduk di dekat Ka’bah saat Hajar dan Ismail berdiam di tempat sekitar itu atau memang hanya seorang ibu yang air matanya terus menangis mencari air untuk kebutuhan sehari-hari dari Sofa dan Marwa. Hanya saja, alam semesta telah memberi petunjuk. Ketika di langit tempat tinggal tidak ada burung-burung yang berterbangan, maka disitu kemungkinan tidak ada orang. Sudah menjadi tradisi, ketika daerah tersebut ada Oase, maka sekitar nya senantiasa dikelingi oleh burung-burung padang pasir sebagai tempat untuk melepaskan dahaga.

Burung padang pasir sangat kejam sebagaimana tradisi masyarakat waktu itu yang sangat ashobiyah. Makanan nya adalah bangkai-bangkai binatang dan mayat manusia akibat kelaparan dan perang saudara. Pantas saja, tubuh mereka sangat kuat dan matanya sangat tajam memburu mangsa nya.

Hajar menangis bukan karena takut mati. Tidak sama sekali, ia telah dibekali cahaya iman yang sangat kuat. Namun naluri seorang ibu tidak bisa lepas dari sifat kemanusiaan. Melihat Ismail kecil terus menangis kehausan dan kelaparan, hatinya terus bergetar kesedihan sangat mendalam. Tetesan air mata tidak bisa terbendung lagi, saat lari-lari kecil dari Sofa dan Marwa. Tangisan kekasih Allah yang sangat sayang terhadap anak nya yang diharapkan nanti menjadi penerus orang-orang yang sujud kepada-Nya, sebagaimana tangisan Rasulullah saat kehilangan istri tercinta Khodijah.

Allah tidak membiarkan orang-orang yang senantiasa menyebut nama-Nya baik dalam kesunyian maupun keramaian. Ujian perjuangan terus berdatangan sepanjang masa. Itu cara Allah meningkatkan derajat kemuliaan. Sebab keimanan yang dikehendaki oleh Allah adalah keimanan yang mampu menyadarkan diri baik dhohir maupun batin untuk terus bergerak secara dinamis berbuat, mengabdi dan berkarya hanya kepada Allah swt. Pujian makhluk benar-benar hilang dari hati sanubari sayidina Hajar. Bahkan caci-makian yang datang pada masanya tentu ada, dan ia  telah menghilangkan rasa dendam dari hatinya. Ia benar-benar  seorang ibu laksana Cahaya di Atas Cahaya. Saat kotoran kebencian menempel dari luar, spontanitas hilang oleh semilir angin dzikrullah yang selalu dilantunkan oleh nya setiap saat.

Walhasil, pengorbanan seorang ibu membuahkan hasil. Putra tercinta bernama Ismail kemudian hari menjadi Nabi dan Rasul. Dari nya kemudian hari menurunkan keturunan terbaik sepanjang masa yaitu Nabi Muhammad SAW.

Kini pengorbanan sayidina Hajar diabadikan dalam ibadah haji, suatu ibadah yang melibatkan seluruh unsur yang ada pada diri manusia, dhohir, batin, fisik, akal pikiran dan keikhlasan.

Darinya, penulis belajar bahwa membangun “mindset” untuk senantiasa berbuat baik tidak selalu mendapatkan sambutan baik juga. Dari sini penulis belajar, bahwa bersandar hati kepada Allah adalah jalan terbaik untuk melihat keagungan-Nya berada di alam semesta dalam segala bentuk ternyata begitu nyata dan sangat indah. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876