
Jika membaca beberapa kitab tafsir dan
buku-buku sejarah, perjuangan seorang ibu mulia yang bernama sayidina Hajar sangat
menginspirasi manusia muslimah di seluruh dunia. Dia seorang ibu yang terpisah
dari suaminya karena tugas dakwah. Dia seorang ibu dan anak kecil hijrah dari Palestina
ke Mekah. Ia pindah bukan karena mendapat fasilitas dunia yang penuh
gemerlapan, tapi hijrah dalam rangka mencari ridha Allah swt.
Jarak Palestina ke Mekah sekitar 1500 kilo
meter, jika naik binatang Onta butuh waktu sekitar 40 hari. Penulis hanya bisa membayangkan situasi
tanah Arab saat sekarang ini dengan ribuan tahun lalu yang terkadang panas
sekali, terkadang juga sangat dingin sekali. Saat penulis naik bus dari Madinah
ke Makah, pemandangan yang terlihat di depan mata hanya gunung-gunung batu
berwarna coklat dan hitam. Saat sore hari terlihat sangat mencekam.
Saya membayangkan jika bawa mobil atau
honda di situ lalu macet; ban bocor atau busi kotor sangat sulit mencari
bengkel mobil di pinggir jalan. Jika disuruh mendorong tidak sanggup. Jangankan
mendorong mobil atau honda, jalan kaki saja saya tidak sanggup di kondisi jalan
yang sangat panas dan jalan raya yang super panjang. Lebih tak sanggup lagi di kanan
kiri body jalan tidak ada rumah penduduk, toko atau warteg untuk melepaskan penat
dan dahaga sambil minum es cendol dan pisang goreng.
Jika situasi yang sudah sangat modern saja situasi
alam Arab Saudi terlihat ekstrem, apalagi masa dulu yang alam masih tradisional
dan jalan belum sebaik sekarang. Apakah dulu sudah ada istilah “jalan tikus”
untuk memotong jarak antara Palestina ke Mekah menjadi pendek, penulis kurang
begitu mengetahuinya.
Apakah sudah ada penduduk di dekat Ka’bah
saat Hajar dan Ismail berdiam di tempat sekitar itu atau memang hanya seorang
ibu yang air matanya terus menangis mencari air untuk kebutuhan sehari-hari
dari Sofa dan Marwa. Hanya saja, alam semesta telah memberi petunjuk. Ketika di
langit tempat tinggal tidak ada burung-burung yang berterbangan, maka disitu
kemungkinan tidak ada orang. Sudah menjadi tradisi, ketika daerah tersebut ada Oase,
maka sekitar nya senantiasa dikelingi oleh burung-burung padang pasir sebagai
tempat untuk melepaskan dahaga.
Burung padang pasir sangat kejam
sebagaimana tradisi masyarakat waktu itu yang sangat ashobiyah. Makanan nya
adalah bangkai-bangkai binatang dan mayat manusia akibat kelaparan dan perang
saudara. Pantas saja, tubuh mereka sangat kuat dan matanya sangat tajam memburu
mangsa nya.
Hajar menangis bukan karena takut mati. Tidak
sama sekali, ia telah dibekali cahaya iman yang sangat kuat. Namun naluri
seorang ibu tidak bisa lepas dari sifat kemanusiaan. Melihat Ismail kecil terus
menangis kehausan dan kelaparan, hatinya terus bergetar kesedihan sangat mendalam.
Tetesan air mata tidak bisa terbendung lagi, saat lari-lari kecil dari Sofa dan
Marwa. Tangisan kekasih Allah yang sangat sayang terhadap anak nya yang diharapkan
nanti menjadi penerus orang-orang yang sujud kepada-Nya, sebagaimana tangisan Rasulullah
saat kehilangan istri tercinta Khodijah.
Allah tidak membiarkan orang-orang yang
senantiasa menyebut nama-Nya baik dalam kesunyian maupun keramaian. Ujian perjuangan
terus berdatangan sepanjang masa. Itu cara Allah meningkatkan derajat kemuliaan.
Sebab keimanan yang dikehendaki oleh Allah adalah keimanan yang mampu
menyadarkan diri baik dhohir maupun batin untuk terus bergerak secara dinamis
berbuat, mengabdi dan berkarya hanya kepada Allah swt. Pujian makhluk benar-benar
hilang dari hati sanubari sayidina Hajar. Bahkan caci-makian yang datang pada
masanya tentu ada, dan ia telah
menghilangkan rasa dendam dari hatinya. Ia benar-benar seorang ibu laksana Cahaya di Atas Cahaya.
Saat kotoran kebencian menempel dari luar, spontanitas hilang oleh semilir
angin dzikrullah yang selalu dilantunkan oleh nya setiap saat.
Walhasil, pengorbanan seorang ibu
membuahkan hasil. Putra tercinta bernama Ismail kemudian hari menjadi Nabi dan Rasul.
Dari nya kemudian hari menurunkan keturunan terbaik sepanjang masa yaitu Nabi Muhammad
SAW.
Kini pengorbanan sayidina Hajar diabadikan
dalam ibadah haji, suatu ibadah yang melibatkan seluruh unsur yang ada pada
diri manusia, dhohir, batin, fisik, akal pikiran dan keikhlasan.
Darinya, penulis belajar bahwa membangun “mindset”
untuk senantiasa berbuat baik tidak selalu mendapatkan sambutan baik juga. Dari
sini penulis belajar, bahwa bersandar hati kepada Allah adalah jalan terbaik
untuk melihat keagungan-Nya berada di alam semesta dalam segala bentuk ternyata
begitu nyata dan sangat indah.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876