
Kanal Youtube milik Wahyu Salvana nge-share pengajian KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Isinya tentang kedekatan hamba dengan Tuhan nya. Lucu tapi nyata. Katanya, kedekatan manusia ketika waktu puasa belum tentu berhasil. Tetapi pada saat mendapatkan ujian, saat sakit selalu ingat Allah dengan menyebut nama Tuhan nya agar disembuhkan sakitnya.
Guyonan Gus Mus terlihat
paradoks tapi nyata. Dalam Kanal tersebut ada kalimat guyonan sebagai berikut ini:
“Supir Bus yang ngebut paling banyak
mendapatkan pahala. Gara-gara ngebut, semua penumpang ingat kepada Allah dengan
histeris, sambil mengucapkan, “Ya Allah, Ya Allah !!”. Guyonan kehidupan lucu. Selucu manusia, saat sopir baik dan sopan semua penumpang merasa nyaman. seolah-olah tidak ada bahaya. Tapi saat supirnya ngebut -terkesan ugal-ugalan -semua takut dan sepanjang perjalnan selalu wiridan -eling -ingat Allah.
Itu adalah fenomena sosial. Ratapan manusia
ketika menderita lebih nyaring daripada ketika sedang mendapatkan kenikmatan.
Kehadiran Tuhan seperti Petugas Damkar. Saat terjadi percikan api dan kebakaran
terjadi, maka ia sibuk menelpon Petugas Damkar untuk memadamkan api nya. Ketika
api hilang, Petugas Damkar sudah tidak diingat lagi jasa-jasanya.
“Hidup mengalami pasang surut” kata Sayid
Ali Kheimeni. Ada kalanya manusia berada di atas dengan segala kenikmatan dan
kekuasaan, ada kalanya manusia berada di bawah, terpuruk dengan segala
persoalan dan penderitaan.
Ketika ia mendapatkan kekuasaan dan
kenikmatan, cara mengingat Allah dengan senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan
segala konsekuensi dari makna syukur. Ada implementasi komprehensip dari makna
syukur baik dari ucapan, perbuatan, sikap dan cara berfikir nya atas segala
kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya.
Ketika ia mendapatkan suatu ujian atau
musibah sehingga dirinya terpental dalam kubangan penderitaan yang paling dalam
dalam kehidupan, perlu ada kualitas sabar. Makna sabar dari Allah dan akan kembali
kepada-nya adalah makna sabar secara totalitas bahwa segala penderitaan
-menurut kaca mata manusia -sebenarnya bagian dari kasih sayang Tuhan dalam
bentuk yang berbeda. itu sebabnya, orang-orang yang bisa memahami makna
tersebut bisa semakin dekat kepada-Nya saat ujian datang menimpa nya. Tidak ada
hujatan dan kata-kata berontak kepada Tuhan. Ia akan senantiasa mendekatkan
diri kepada-nya dengan tetap terus memperbaiki ikhtiar-ikhtiar untuk
menghilangkan penderitaan.
Tidak ada keabadian. Alam terus mengalami
perubahan. Ada perubahanan yang direncanakan dan hasilnya sesuai dengan
rencana, ada perubahan model nggrayah-nggrayah seperti seseorang
berjalan di tempat yang gelap. Ia harus meraba-raba untuk mencapai ujung sebuah
cita-cita. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Yang berhasil karena ia sadar
jika berhenti di tempat tersebut tetap juga gelap, maka ia terus berjalan. Entah
sudah berapa lama ia berjalan, sudah berapa kali dia mengalami ketakutan hidup
dan sudah berapa kali ia mempunyai rasa putus asa. Namun ia tetap terus
berjalan, sehingga pada waktu tertentu ia menemukan secercah cahaya yang memancar
di ufuk timur. Ia terus melangkah, dan akhirnya ia benar-benar berhasil keluar
dari kegelapan.
Jika perubahan mesti terjadi, apakah saya harus
takut terhadap gelap nya malam. Apakah saya harus takut terhadap suara-suara binatang
malam -bisa jadi suara-suara makhluk halus – yang kadang membuat kulit
merinding ketakutan?.
Takut merupakan bagian dari naluri manusia.
setiap manusia mempunyai rasa takut. Namun jika takut terhadap gelapnya malam
menyebabkan kita tidak berbuat apa-apa, maka ketakutan serupa akan terus datang
menghampirinya. Hidupnya akan terus terkena bayang-bayang ketakutan dan hidup semakin
tersandera oleh rasa takut yang tidak jelas jawabannya.
Saya -dan mungkin juga anda – harus belajar
berfikir realita melihat rasa takut tersebut. Realitas bahwa kita ingin
berdamai dengan keadaan tersebut dengan nyaman dari perasaan-perasaan kekhawatiran.
Salah satu melawan rasa takut yaitu kita harus melakukan suatu
perubahan-perubahan konstruktif. Apapun perubahan tersebut. Meskipun sangat
sederhana, tidak mengapa. Mungkin hanya sebatas selembar kertas yang dibakar untuk
memastikan bahwa bayang-bayang warna putih di depan kita bukan hantu, tetapi
hanya sebuah daster dari istri nya yang lupa di masukan ke dalam rumah.
Latihan melakukan perubahan secara
pelan-pelan. Pertama mungkin hanya selembar kertas telah mampu membuktikan
bahwa ketakutan akan hantu ternyata tidak terbukti. Ia hanya daster putih yang
bergoyang diterpa angin di malam hari.
Selanjutnya mungkin mulai berfikir dalam
hati bahwa ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan mulai bisa dijawab dengan
nyata. Bisa jadi di kemudian hari mulai berfikir :”Kenapa harus takut terhadap
kondisi malam yang gelap, yang katanya ada hantu, gendurwo dan sebagainya. Ternyata
itu hanya presepsi ketakutan yang dibangun oleh saya sendiri”.
Pada level selajutnya keberanian mungkin
mulai meningkat. Ia sudah tidak lagi takut sama gelapnya malam, Hantu atau Gendurwo,
bahkan ia sudah berani menantang Gendurwo untuk muncul di hadapannya: “Mana Gendurwo,
mana-mana!!”.
Keberanian level ini perlu latihan. Keberanian
menantang Gendurwo lahir dari proses secara terus menerus dari selembar kertas
yang dibakar di malam hari hingga pada level tersebut. Keberanian menantang Gendurwo
tentu baik, dan kemungkinan Gendurwo nya tidak akan datang. Ia sungkan. Sebab ganas
nya lebih mengerikan daripada Gendurwo nya.
Keberanian tentu bukan mencari musuh, bukan
juga untuk menunjukan bahwa diri kita hebat ketimbang orang lain. Bukan-bukan
itu yang kita inginkan. Keberanian merupakan suatu proses kesadaran bahwa pada
moment tertentu kita mempunyai tanggungjawab dan semaksimal mungkin
melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan segala plus-minusnya.
Kenapa keberanian harus disertai
plus-minusnya. Sebab yang memikul keberanian adalah manusia. setiap manusia
mempunyai kadar pratikum kehidupan berbeda-beda. Dari sini setiap manusia harus
menyadari bahwa kadar keberanian berfariasi.
Seperti seorang pemuda. Dulu ada seorang pemuda
sudah cukup umur -anggap saja sudah berumur 33 tahun. Ia merasa belum mempunyai
pekerjaan tetap, ilmu nya kurang, dan wawasan agama nya juga masih minim. Pendek
kata, ia merasa bukan tipe laki-laki sempurna dalam membangun rumah tangga.
Karena orang tua nya ingin mempunyai cucu,
dipaksalah pemuda tersebut menikah. Bingung. Tapi takut dicap sebagai anak yang
tidak berbakti kepada orang tua, ia pun menikah dengan seorang gadis yang tidak
melalui proses MoU atau penjajagan kerjasama. Tiba-tiba MoA.
Anda bisa membayangkan ketika malam
pertama. Saling pandang seperti orang asing. Namun kedua insan tersebut tidak
menyadari bahwa Tuhan telah memberikan komponen tubuh yang sangat sempurna. Ada
naluri-naluri yang terus bergerak, merambat seperti aliran listrik. Itulah naluri
cinta. Hasil gesekan elektron-benda bermuatan negatif- dan proton -benda
bermuatan positif menghasilkan cahaya. Itulah yang disebut cahaya cinta. Buahnya
adalah si buah hati atau anak keturunan.
Pasangan suami istri mungkin masih bingung
saat hamil hingga mempunyai anak pertama. Hati nya mungkin masih bertanya-tanya
:”Apakah saya bisa membesarkan anak tersebut dengan baik”. Ternyata bisa, anak
bertambah umur, bertambah besar, bisa sekolah PIAUD, TK dan seterusnya. Mereka akhirnya
menjalankan proses ketakutan yang kemudian secara pelan-pelan mulai merasakan
kebiasaan tidak takut lagi sebagaimana yang dibayangkan pada waktu dulu.
Bahkan terkadang ketakutan hanya sebatas “basa
basi” saja. Kata istri kepada suaminya agar cukup satu anak saja. Nyata di
berbagai tempat tidak demikian kenyataan. Hanya nyanyian malam saja. Buktinya setiap
tahun anak nya bertambah. Dulu takut menikah, sekarang anak bertambah banyak. Apakah
ini yang dinamakan takut membawa berkah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kareem Benzema
Kadang2 kita lebih takut suara istri ketimbang genderuwo aslinya yi. wkwkw pak kyai doktor buatkan tulisan "senja diujung jembatan perumbi" berdasarkan penerawangan pak kyai doktor. suwun
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876