Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hantu dan Daster Istri



Senin , 28 Juli 2025



Telah dibaca :  508

Kanal Youtube milik Wahyu Salvana nge-share pengajian KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Isinya tentang kedekatan hamba dengan Tuhan nya. Lucu tapi nyata. Katanya, kedekatan manusia ketika waktu puasa belum tentu berhasil. Tetapi pada saat mendapatkan ujian, saat sakit selalu ingat Allah dengan menyebut nama Tuhan nya agar disembuhkan sakitnya.

Guyonan Gus Mus terlihat paradoks tapi nyata. Dalam Kanal tersebut ada kalimat  guyonan sebagai berikut ini:

“Supir Bus yang ngebut paling banyak mendapatkan pahala. Gara-gara ngebut, semua penumpang ingat kepada Allah dengan histeris, sambil mengucapkan, “Ya Allah, Ya Allah !!”. Guyonan kehidupan lucu. Selucu manusia, saat sopir baik dan sopan semua penumpang merasa nyaman. seolah-olah tidak ada bahaya. Tapi saat supirnya ngebut -terkesan ugal-ugalan -semua takut dan sepanjang perjalnan selalu wiridan -eling -ingat Allah.

Itu adalah fenomena sosial. Ratapan manusia ketika menderita lebih nyaring daripada ketika sedang mendapatkan kenikmatan. Kehadiran Tuhan seperti Petugas Damkar. Saat terjadi percikan api dan kebakaran terjadi, maka ia sibuk menelpon Petugas Damkar untuk memadamkan api nya. Ketika api hilang, Petugas Damkar sudah tidak diingat lagi jasa-jasanya.

“Hidup mengalami pasang surut” kata Sayid Ali Kheimeni. Ada kalanya manusia berada di atas dengan segala kenikmatan dan kekuasaan, ada kalanya manusia berada di bawah, terpuruk dengan segala persoalan dan penderitaan.

Ketika ia mendapatkan kekuasaan dan kenikmatan, cara mengingat Allah dengan senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan segala konsekuensi dari makna syukur. Ada implementasi komprehensip dari makna syukur baik dari ucapan, perbuatan, sikap dan cara berfikir nya atas segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya.

Ketika ia mendapatkan suatu ujian atau musibah sehingga dirinya terpental dalam kubangan penderitaan yang paling dalam dalam kehidupan, perlu ada kualitas sabar. Makna sabar dari Allah dan akan kembali kepada-nya adalah makna sabar secara totalitas bahwa segala penderitaan -menurut kaca mata manusia -sebenarnya bagian dari kasih sayang Tuhan dalam bentuk yang berbeda. itu sebabnya, orang-orang yang bisa memahami makna tersebut bisa semakin dekat kepada-Nya saat ujian datang menimpa nya. Tidak ada hujatan dan kata-kata berontak kepada Tuhan. Ia akan senantiasa mendekatkan diri kepada-nya dengan tetap terus memperbaiki ikhtiar-ikhtiar untuk menghilangkan penderitaan.

Tidak ada keabadian. Alam terus mengalami perubahan. Ada perubahanan yang direncanakan dan hasilnya sesuai dengan rencana, ada perubahan model nggrayah-nggrayah seperti seseorang berjalan di tempat yang gelap. Ia harus meraba-raba untuk mencapai ujung sebuah cita-cita. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Yang berhasil karena ia sadar jika berhenti di tempat tersebut tetap juga gelap, maka ia terus berjalan. Entah sudah berapa lama ia berjalan, sudah berapa kali dia mengalami ketakutan hidup dan sudah berapa kali ia mempunyai rasa putus asa. Namun ia tetap terus berjalan, sehingga pada waktu tertentu ia menemukan secercah cahaya yang memancar di ufuk timur. Ia terus melangkah, dan akhirnya ia benar-benar berhasil keluar dari kegelapan.

Jika perubahan mesti terjadi, apakah saya harus takut terhadap gelap nya malam. Apakah saya harus takut terhadap suara-suara binatang malam -bisa jadi suara-suara makhluk halus – yang kadang membuat kulit merinding ketakutan?.

Takut merupakan bagian dari naluri manusia. setiap manusia mempunyai rasa takut. Namun jika takut terhadap gelapnya malam menyebabkan kita tidak berbuat apa-apa, maka ketakutan serupa akan terus datang menghampirinya. Hidupnya akan terus terkena bayang-bayang ketakutan dan hidup semakin tersandera oleh rasa takut yang tidak jelas jawabannya.

Saya -dan mungkin juga anda – harus belajar berfikir realita melihat rasa takut tersebut. Realitas bahwa kita ingin berdamai dengan keadaan tersebut dengan nyaman dari perasaan-perasaan kekhawatiran. Salah satu melawan rasa takut yaitu kita harus melakukan suatu perubahan-perubahan konstruktif. Apapun perubahan tersebut. Meskipun sangat sederhana, tidak mengapa. Mungkin hanya sebatas selembar kertas yang dibakar untuk memastikan bahwa bayang-bayang warna putih di depan kita bukan hantu, tetapi hanya sebuah daster dari istri nya yang lupa di masukan ke dalam rumah.

Latihan melakukan perubahan secara pelan-pelan. Pertama mungkin hanya selembar kertas telah mampu membuktikan bahwa ketakutan akan hantu ternyata tidak terbukti. Ia hanya daster putih yang bergoyang diterpa angin di malam hari.

Selanjutnya mungkin mulai berfikir dalam hati bahwa ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan mulai bisa dijawab dengan nyata. Bisa jadi di kemudian hari mulai berfikir :”Kenapa harus takut terhadap kondisi malam yang gelap, yang katanya ada hantu, gendurwo dan sebagainya. Ternyata itu hanya presepsi ketakutan yang dibangun oleh saya sendiri”.

Pada level selajutnya keberanian mungkin mulai meningkat. Ia sudah tidak lagi takut sama gelapnya malam, Hantu atau Gendurwo, bahkan ia sudah berani menantang Gendurwo untuk muncul di hadapannya: “Mana Gendurwo, mana-mana!!”.

Keberanian level ini perlu latihan. Keberanian menantang Gendurwo lahir dari proses secara terus menerus dari selembar kertas yang dibakar di malam hari hingga pada level tersebut. Keberanian menantang Gendurwo tentu baik, dan kemungkinan Gendurwo nya tidak akan datang. Ia sungkan. Sebab ganas nya lebih mengerikan daripada Gendurwo nya.

Keberanian tentu bukan mencari musuh, bukan juga untuk menunjukan bahwa diri kita hebat ketimbang orang lain. Bukan-bukan itu yang kita inginkan. Keberanian merupakan suatu proses kesadaran bahwa pada moment tertentu kita mempunyai tanggungjawab dan semaksimal mungkin melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan segala plus-minusnya.

Kenapa keberanian harus disertai plus-minusnya. Sebab yang memikul keberanian adalah manusia. setiap manusia mempunyai kadar pratikum kehidupan berbeda-beda. Dari sini setiap manusia harus menyadari bahwa kadar keberanian berfariasi.

Seperti seorang pemuda. Dulu ada seorang pemuda sudah cukup umur -anggap saja sudah berumur 33 tahun. Ia merasa belum mempunyai pekerjaan tetap, ilmu nya kurang, dan wawasan agama nya juga masih minim. Pendek kata, ia merasa bukan tipe laki-laki sempurna dalam membangun rumah tangga.

Karena orang tua nya ingin mempunyai cucu, dipaksalah pemuda tersebut menikah. Bingung. Tapi takut dicap sebagai anak yang tidak berbakti kepada orang tua, ia pun menikah dengan seorang gadis yang tidak melalui proses MoU atau penjajagan kerjasama. Tiba-tiba MoA.

Anda bisa membayangkan ketika malam pertama. Saling pandang seperti orang asing. Namun kedua insan tersebut tidak menyadari bahwa Tuhan telah memberikan komponen tubuh yang sangat sempurna. Ada naluri-naluri yang terus bergerak, merambat seperti aliran listrik. Itulah naluri cinta. Hasil gesekan elektron-benda bermuatan negatif- dan proton -benda bermuatan positif menghasilkan cahaya. Itulah yang disebut cahaya cinta. Buahnya adalah si buah hati atau anak keturunan.

Pasangan suami istri mungkin masih bingung saat hamil hingga mempunyai anak pertama. Hati nya mungkin masih bertanya-tanya :”Apakah saya bisa membesarkan anak tersebut dengan baik”. Ternyata bisa, anak bertambah umur, bertambah besar, bisa sekolah PIAUD, TK dan seterusnya. Mereka akhirnya menjalankan proses ketakutan yang kemudian secara pelan-pelan mulai merasakan kebiasaan tidak takut lagi sebagaimana yang dibayangkan pada waktu dulu.

Bahkan terkadang ketakutan hanya sebatas “basa basi” saja. Kata istri kepada suaminya agar cukup satu anak saja. Nyata di berbagai tempat tidak demikian kenyataan. Hanya nyanyian malam saja. Buktinya setiap tahun anak nya bertambah. Dulu takut menikah, sekarang anak bertambah banyak. Apakah ini yang dinamakan takut  membawa berkah.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Kareem Benzema

Kadang2 kita lebih takut suara istri ketimbang genderuwo aslinya yi. wkwkw pak kyai doktor buatkan tulisan "senja diujung jembatan perumbi" berdasarkan penerawangan pak kyai doktor. suwun

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876