Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Guru: Merajut Baju Cinta Yang Berlobang



Selasa , 25 November 2025



Telah dibaca :  363

Di ruang kuliah, seorang mahasiswi memberanikan diri bertanya tentang cinta. Saya kaget dan kebingungan menjawab nya. Bukan karena ia seorang mahasiswi cantik, tapi bingung pada jawabannya. Sebelum menjawab, saya balik bertanya makna cinta menurut versinya. Mahasiswa cantik tersebut dengan senyum dan terkesan masih malu-malu menjawabnya. Ia mengatakan bahwa cinta ketika ada rasa rindu ingin selalu bertemu dengan orang yang dicintainya.

Saya diam sejenak dan berfikir. Manggut-manggut tanda setuju. Lalu saya bertanya lagi kepada mahasiswa lain agar bisa menambah referensi tentang makna cinta. Seorang mahasiswa lain mengatakan demikian: “Cinta identik dengan rasa cemburu”. Saya tersenyum mendengar jawaban seorang mahasiswa berwajah tampan dan berambut sedikit acak-acakan. Saya tersenyum pada kata “cemburu” nya. Apakah itu jawaban atau luapan hati mahasiswa tersebut sedang jatuh cinta, atau dia sedang cemburu dengan teman pesaingnya. Bisa jadi dua-duanya.

Saya berfikir sejenak. Hati ku membenarkan bahwa cinta merupakan wujud dari rasa cemburu ketika ada seseorang mendekati orang yang dicintainya. Apa yang dialami oleh mahasiswa, juga pernah ku alaminya. Cemburu adalah makna lain dari cinta.

Amma ba’du,

Hari ini saya setuju dengan pendapat para mahasiswa ku. Mereka mempunyai pendapat yang hebat-hebat. Mereka memberikan ilmu kepada ku bahwa cinta membutuhkan rasa rindu dan cemburu.

Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita jatuh cinta kepada apapun namanya, apakah jatuh cinta kepada lawan jenis, jatuh cinta kepada pekerjaan, jatuh cinta kepada organisasi, maka indikator nya sederhana yaitu ada rasa rindu untuk bertemu, memadu kasih, bercumbu rayu, dan semangat untuk mempersembahkan terbaik kepada apa yang kita cintai.

Nabi Muhammad adalah cermin hamba yang sangat mencintai kepada manusia sangat mendalam. Ia bagaikan telaga cinta tanpa batas. Setiap orang yang datang mendekatnya, maka orang tersebut akan jatuh cinta kepada nya. Ketika ada orang yang sangat membenci nya dan ingin membunuhnya, maka orang tersebut bisa balik menjadi orang yang sangat mencintai nya.

Sungguh luarbiasa telaga cinta tanpa batas tersebut. Ketika ada orang kafir marah kepada nabi, maka kemarahannya laksana api yang membara dan akan padam ketika mendapatkan tetesan air ketulusan cinta nabi. Wajah yang penuh cahaya keagungan, ketenangan dan kedamaian, telah membuat segala amarah dan angkara murka hilang seperti hilangnya halilintar di angkas karena disapu oleh angin. Angkasa raya pun kembali menjadi terang benderang.

Kedalaman cinta terletak pada kedamaian terpancar di wajah nya. Siapapun orang nya, akan menemukan rasa cinta saat menatap mata nya dan aura wajah nya. Saat kita menatap wajah nya dan cahaya mata nya, maka kita akan menemukan kedamaian dan hilang rasa sumpeg dalam hati. Kita merasa bahagia menatap wajahnya, dan senang sekali berkumpul dengannya.

Cinta sejati tidak ada hubungan dengan wawasan yang luas, tidak ada hubungan dengan status sosial yang tinggi, dan tidak ada hubungan dengan jenis darah yang mengalir pada tubuh nya. Cinta sejati wujud ketulusan mencintai manusia karena Allah SWT.

Cinta sejati karena adanya rindu kepada-Nya dan Rasul-Nya yang pancaran tersebut mantul kepada hamba-hamba-Nya. orang yang mempunyai rasa cinta yang mendalam akan siapapun penuh dengan rasa rasa rindu mendalam, ada rasa bahagia karena merasakan rasa damai seperti damai nya saat bercinta dengan Tuhan dan Rasul-nya. Pantulan-pantulan cinta kepada-Nya dan kekasih-Nya akan melihat seluruh isi dunia ini terlihat indah dan menyejukan hati.

Semua terlihat seperti hamparan taman surga yang sangat indah. Bukankah demikian?

Ketika seorang pemuda sedang jatuh cinta kepada seseorang, maka ia akan melihat segala yang berkaitan dengan kekasih nya terasa indah. Saat ia lewat di depan rumah kekasihnya, ia merasakan cahaya-cahaya sang kekasih nampak pada dinding-dinding rumahnya. Cahaya-cahaya cinta pun terlihat pada kendaraan yang sering dipakai oleh kekasihnya. Semua terlihat indah dan menyenangkan di pandang mata. Jatuh cinta kepada sang kekasih telah merubah segala nya menjadi terlihat indah.

Hari ini, Tuhan sedang memperlihatkan fenomena di tengah-tengah masyarakat. Terlihat kehidupan tidak lagi seperti taman surga yang indah. Kita rasa-rasa nya seperti jalan di tengah-tengah hutan yang baru saja terbakar: Ada asap mengepul, pohon-pohon tinggal batang hangus berwarna hitam dan masih mengepul asap-asapnya. Udara terasa sangat menyesakan dada.

Apakah rasa cinta kita telah tercerabut dalam hati? Apakah Tuhan yang kita sembah sudah tidak ada ruangan sama sekali di hati kita, sehingga terasa hilang cahaya-cahaya kasih sayang dalam sanubari kita. Apakah hati kita sebagai tempat suci hubungan kita dengan sang kekasih teragung sudah diisi oleh kebencian, jabatan, SK, kulkas, kendaraan dan kejayaan. Saya tidak tahu. Kita saat ini seolah-olah mengalami kebingungan, kesedihan seperti berjalan tanpa arah. Mungkin semua ini karena kita terlalu lama membiarkan hati berkarat sehingga sangat sulit untuk membersihkan.

Di hari guru, semoga para guru, pendidik, para ulama hadir memberi cahaya keagungan dan menyinari kedamaian bagi peserta didiknya dan umat nya secara umum. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872