Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Jadi Kepulauan Meranti; Belajar Mengenal Jati Diri



Jumat , 19 Desember 2025



Telah dibaca :  312

Pagi Hari Jum’at saya memenuhi undangan Pemda Kepulauan Meranti. Jam 07.10 menit sudah berangkat ke lokasi bersama Kyai Mardio Hasan dan Kyai Muhammad Shodik. Hari ini adalah hari jadi Kabupaten Kepulauan Meranti ke-17 (Jum’at, 19 Desember 2025).

Saat berada di panggung, sebelah kanan ada Pak Roni dari KPU dan Pak Sudandri yang sekarang mendapat amanah menjadi Sekretaris Daerah-Sekda. Sebelah kiri ada dewan: Pak Jani dan Pak Sampul. Sebelah nya lagi, ada K.H. Surasman,M.Pd.I -Kepala Kementrian Haji dan Umrah-dan Ka Kemenag; Drs. H. Sulman. Sedang deret kursi belakang para staf ahli dan kepala dinas serta para tokoh masyarakat dan agama.

Saya melihat langit. Mendung rata di seluruh Kabupaten Kepulauan Meranti. Hal yang sama kemungkinan di beberapa kabupaten di Provinsi Riau. Hari-hari selalu hujan. Terang sebentar terus hujan lagi. Sampai-sampai istri ku marah-marah sendiri karena cucian baju numpuk dan jemuran tidak kering-kering.

“Pak kyai, bacakan doa supaya jangan hujan” kata Roni Komisioner KPU yang duduk pas di sebelah kiri. Saya tersenyum. saya melihat langit. Mulai ada tetesan air. Sekda disamping kiri ku mulai gelisah. Ia kordinasi dengan pembawa acara untuk segela memulai prosesi pelaksanaan pagi ini. saya berdoa semoga, prosesi dari awal hingga akhir acara hari jadi Kepulauan Meranti aman. Tidak hujan. Setelah selesai, bolehlah hujan.

Selesai upacara, saya pun pulang ditemani oleh Kyai Mardio Hasan. Ada undangan rapat di DPRD pun tidak bisa hadir. Ada acara lain lagi. Saya harus bergegas pulang. Selang 10 menit-an, hujan pun turun membasaih bumi.

Kabupaten Kepulauan Meranti sudah berusia 17 tahun. Usia remaja menuju dewasa. Bagi anak-anak remaja, pada usia tersebut sering dirayakan besar-besaran. Ada semacam kata sakral dan menjadi daya tarik di dunia kaum remaja yaitu perayaan seventeen. Meskipun mereka juga tidak tahu apa keistimewaan, tapi pada ulang tahun tersebut selalu saja dirayakan berbeda dengan tahun selumnya atau sesudahnya.

Untuk ukuran kabupaten memang belum benar-benar masuk pada usia kematangan. Ada berbagai sektor yang harus terus diperbaiki. Sangat komplek. Bukan hanya persoalan tata kelola pemerintahan, keterbatasan APBD, keterbatasan Sumber Daya Alam-SDA-, dan Juga Keterbatasan Sumber Daya Manusia-SDM. Semua itu membuat-siapapun kepala daerah-harus benar-benar mempunyai kecerdasan, keahlian dan keberanian lebih untuk melakukan perubahan step by step dalam upaya mencapai suatu tujuan visi dan misi pemda termuda di Provinsi Riau.

Benar, usia memang tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi kabupaten nya. Ada usia Pemda yang sudah puluhan tahun-atau bahkan ratusan- tapi perubahan belum terlihat secara signifikan. Ada juga Pemda yang masih belia usianya, sudah terlihat mempunyai kematangan dalam mendesain visi-misi dan meletakan pondasi kebijakan-kebijakan pemerintahan daerahnya. Semua ini selalu saja ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

Kabupaten kepulauan meranti terdiri dari pulau-pulau yang dibatasi oleh selat. Ada persoalan transportasi yang tinggi. Tanah di kabupaten kepulauan meranti sebagian besar tanah gambut. Lumayan sulit dijadikan sebagai lahan pertanian. Selain itu, tanah gambut mudah sekali erosi dan terbawa ke laut. Beberapa daerah-daerah yang berada di pesisir-bibir selat- sangat mudah sekali abrasi. Setiap hari daratan terus berkurang oleh terjangan gelombang air laut yang sangat kuat dan saat musim hujan tiba.

Melihat secara sepintas kondisi geografis tersebut di atas, saya bisa membayangkan bahwa membangun daerah kepulauan seperti Kabupaten Kepulauan Meranti tidak lah muda. Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan bangunan tidak sama seperti di daerah-daerah tanah liat seperti di daerah-daerah daratan. Biaya pembangunan bisa jadi dua kali lipat. Jika di daerah daratan, pembangunan cukup dengan pondasi cakar ayam, di daerah tanah gambut harus menggunakan penyangga kayu crocok dari kayu bakai sepanjang kurang lebih 3 meter. Artinya ada separo biaya pembangunan gedung yang ditanam untuk pondasi bangunan. Jika di daerah daratan cukup Rp. 100.000.000 untuk membuat rumah, maka di daerah tanah gambut harus menghabiskan kurang lebih  Rp.170.000.000. Jadi Rp. 70.000.000 dihabiskan untuk tapak bangunan yang berisi kayu-kayu yang ditanam di tanah tadi.

Walhasil kehidupan di daerah kepulauan sangat tinggi. Hal yang sama kebutuhan hidup. Bisa jadi separo dari kebutuhan hidup di daerah daratan. Jika sarapan di daerah kepulauan minimal Rp.20.000 plus dengan satu gelas air kopi atau air teh, maka di daerah daratan masih bisa Rp. 10.000.

Besarnya biaya hidup tidak sebanding dengan penghasilan masyarakat. Tanah pekarangan tidak bisa maksimal sebagai penopang kehidupan. ketika para petani menanam hasil perkebunan, musuh-musuhnya pun datang seperti monyet-monyet hutan atau babi hutan. Yang aman dari gangguan adalah tananam karet. Tapi harga sangat rendah. Yang aman juga pohon kelapa, juga sama harganya masih rendah. Ada tanaman sagu, tapi hanya milik orang-orang yang mempunyai tanah luas dan modal besar.

Kondisi yang demikian bukan berarti tidak ada harapan menjadi sebuah kabupaten yang bisa lebih baik dari kabupaten-kabupaten lainnya. Ada peluang besar sebenarnya. Jika berkaca kepada negara di sebelah Kabupaten Kepulauan Meranti, ada negara Singapura. Mungkin hanya sebesar Kecamatan Rangsang. Sumber Daya Alam nya juga minus. Tidak ada sumber minyak tanah. Tapi persoalan minyak tanah, negara-negara berkiblat kepada nya. Pariwisata terbatas, tapi bisa terkenal di dunia. Pendek kata,dulu Singapura adalah daerah yang serba terbatas Sumber Daya Alam nya.

Iya Singapura terbatas SDA-nya. Ia menyadari hal tersebut. Ia pun menyadari bahwa Singapura harus maju dan bermartabat. Maka solusi yang dilakukan yaitu memperbaiki secara cepat Sumber Daya Manusia. Memperbaiki SDM ini bukan sebatas pada persoalan jenjang pendidikan, tapi juga memperbaiki tentang pentingnya kepatuhan terhadap nilai-nilai moral dan regulasi yang diterapkan di negara tersebut secara tegas dan tidak pandang bulu. Hasilnya Singapura telah berhasil menjadi negara maju.

Kabupaten Kepulauan Meranti mungkin tidak harus seperti Singapura. Tapi tidak salah jika mengambil sedikit pelajaran dari negara tersebut. Ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk. Segala keterbatasan yang ada sebenarnya jalan kita untuk semakin mencintai kabupaten ini dengan terus berkarya dan berbuat untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat meranti.

Saya sebagai bagian dari masyarakat sangat percaya bahwa pembangunan akan terus berjalan dan terus juga membutuhkan dukungan dan masukan dari masyarakat agar bisa berjalan dengan semakin baik ke depan. Adanya sinergitas pemda dan masyarakat menjadi modal besar mencapai suatu tujuan.

Sebagai penutup saya mengucapkan selamat hari jadi ke-17, semoga Kabupaten Kepulauan Meranti semakin unggul, agamis dan Sejahtera untuk seluruh lapisan masyarakat.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871