
Suatu hari, ada seorang santri baru masuk
semester 1 di salah satu perguruan tinggi. Ia mengajukan pertanyaan berkaitan
dengan dua hal: pertama, agama manusia purba sebelum nabi adam menjadi rasul.
Kedua, persoalan teori Darwin yang beredar di buku-buku biologi saat ia sekolah
di SLTP atau SLTA.
Saya kaget. Pertanyaan seorang santri yang
tidak pernah saya duga sebelumnya. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pertanyaan
tersebut, saya menjawab sebagai berikut:
“Tentang agama manusia purba sebelum nabi
adam saya bisa menjelaskan sebagai berikut: pertama, para mufasirin mempunyai
beragam tafsir pada ayat tentang ucapan malaikat atas keberatan-nya menjadikan
manusia sebagai khalifah. Alasannya karena ia mempunyai watak perusak. Kedua,
pada masa sebelum nabi adam belum ada penjelasan tentang agama-agama yang
diturunkan kepada manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa nabi dan rasul pertama
adalah Adam as. Berarti belum ada secara formal aturan syariah yang
diberlakukan manusia sebelum nabi adam. Ketiga, tentang persoalan manusia
purba. Ada ilmu yang membidangi yaitu paleoantropologi. Kebenaran spekulatif.
Ia membagi umur fosil dengan beragam kategori-kategori. Dari sini kemudian kita
mendapatkan pengetahuan-pengetahuan usia-usia fosil manusia. Meskipun itu bisa diperdebatkan, lagi-lagi kita belum mempunyai kemampuan dibidang tersebut. Akhirnya jadi ma'mum. Keempat, pandangan
Darwin tentang evolusi manusia. Ia sebenarnya hanya sebatas teori ilmiah yang
bisa dibantah dengan pendekatan ilmiah. Sudah ada beberapa pandangan ilmiah
yang telah membantahnya. Jika pendekatan agama, jelas sudah terbantahkan”. Meskipun
demikian, tradisi kajian ilmiah umat Islam belum mapan seperti mereka”.
Era kejayaan Islam pada era 750 M - 1258 M,
telah melahirkan ilmuwan bidang agama, saint dan ilmu-ilmu pengetahuan. Jika tidak
ada kejadian perang salib dan para penguasa Islam waktu itu tetap konsisten mendukung
perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan, mungkin saja saat ini kita tidak akan
menemukan teori darwinisme, fosil-fosil manusia purba dan sejenisnya. Toh seandainya
ada, ilmuwan Islam bisa memberikan bantahan-bantahan secara lebih argumentatif
dan lebih ilmiah. Namun, peristiwa perang salib, peristiwa bangsa mongol
menyerang Islam, dan konflik internal ditubuh penguasa Islam saat itu telah
mempercepat era kegelapan terjadi pada umat Islam. Pada saat yang sama, bangsa
barat telah berdiri tegak dengan temuan-temuan saint dan teknologi yang
kemudian hari mereka melakukan imperialisme dunia. Islam dalam cengkraman
kekuasaannya, baik fisik maupun ilmu pengetahuan.
Manuskrip dan sumber-sumber ilmu
pengetahuan Islam telah diboyong dan dikembangkan di barat. Tersisa hanya
ilmu-ilmu agama yang saat itu, bangsa barat sedang menjauhi dogma-dogma agama
akibat dampak konflik antara kaum agamawan ( gereja-pen) dan ilmuwan. Ilmu-ilmu
agama itu yang kemudian di bawa oleh para ulama dan diteruskan di lembaga-lembaga
pendidikan hingga kemudian masuk ke Indonesia di bawa oleh para ulama. Mereka ini
kemudian mendirikan pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh nusantara.
Pesantren juga melahirkan para penulis dan peneliti. Tapi sebatas pada bidang agama. Bidang ilmu umum sangat terbatas. Ada keterputusan mata rantai sebagaimana saya jelaskan di atas. bahkan lebih khusus, untuk mendokumentasi di kalangan santri sendiri masih belum membudaya tradisi menulis sejarah. Yang subur malah cerita kehebatan para masyayikh dari mulut ke mulut. Ini yang sering didapat di kalangan pesantren.
Bangsa barat lebih dahulu mempunyai tradisi membaca dan tulis-menulis segala bidang aspek ilmu. Mereka telah menanamkan ideologi materialism dan rasionalisme
melalui para peneliti dan ilmuwan sebagian anak-anak bangsa Indonesia pada masa
lalu. Melalui corong mereka, bangsa barat telah mampu meletakan dogma-dogma
ilmu pengetahuan kepada para lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat tinggi
hingga dasar. Mereka juga telah berhasil menempatkan para peneliti, pemikir dan
para ilmuwan untuk memback-up ideologi mereka melalui pemikiran-pemikiran yang
terlihat ilmiah dan rasional. Melalui pemikiran ini, mereka menempatkan diri
sebagai orang-orang yang membawa obor peradaban. Selain mereka, dianggap
sebagai kelompok yang tradisional, kolot dan tidak adaptif dengan perkembangan
zaman.
Wajar jika catatan sejarah perjuangan para
ulama dan santri pada masa dulu tidak terlihat dari catatan sejarah buku-buku pelajaran,
buku-buku sejarah, ensiklopedia sejarah dan sejenisnya. Para pelaku sejarah
dari kalangan para santri lenyap. Perjuangan dan gelora jihad yang membara
terkubur dan kalah oleh hebatnya film-film “Janur Kuning” atau film G30S/PKI. Di
dua film yang terkenal tersebut, generasi bangsa hanya disuguhi kehebatan segelintir
orang yang kemudian menjadi terkesan subyektif. Sedangkan peran para ulama yang
menjadi komandon hizbullah dan para santri di seluruh pesantren mulai dari Jawa
Timur sampai Jawa Barat yang berada di garda paling depan menghancurkan gerakan
PKI benar-benar hilang ditelan sejarah.
Perjuangan santri sangat patriotis. Ikhlas.
Lurus mengikuti instruksi para ulama dan kyai. Mereka berani mengorbankan apa
saja demi tegaknya bangsa dan negara. itu kelebihan yang tidak bisa dihapus
dari realita kehidupan mereka.
Namun ada yang dilupakan, yaitu kisah-kisah
perjuangan mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Mereka tidak menyadari
lebih dini, bahwa catatan sejarah itu sangat penting untuk membuktikan
kebenaran di masa lalu. Mereka lupa, bahwa ilmu pengetahuan di luar ilmu-ilmu
dipelajari di pesantren sangat penting untuk menjaga eksistensi nya di masa
mendatang. Akibatnya, mereka terkena imbas nya. Mereka babak belur dalam injakan
perjalanan sejarah. Peran sejarah mereka kabur. Kebingungan untuk memutuskan
suatu persoalan sejarah terjadi. Salah satu yang terjadi saat sekarang ini
adalah persoalan sejarah yang viral yaitu tentang persoalan habib dan ba’lawi.
Sebagai penutup, peringatan hari santri tahun
2024 sebagai momentum memperbaiki sisi kehidupan santri untuk menghidupkan
budaya tulis-menulis sebagai jalan untuk merekam sejarah kesantrian agar tetap
hidup. Tentu dalam pengertian aspek yang lebih luas. Menyangkut pada persoalan
ilmu pengetahuan dan saint dalam makna luas. Melalui cara seperti ini,
keberadaan santri akan tetap eksis keberadaannya dalam kiprah di dunia nyata,
dan eksis dalam lintasan sejarah di masa mendatang. Jika tidak mau menulis,
maka santri akan kehilangan catatan sejarah.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875