Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Santri dan Sejarah yang Hilang



Minggu , 13 Oktober 2024



Telah dibaca :  653

Suatu hari, ada seorang santri baru masuk semester 1 di salah satu perguruan tinggi. Ia mengajukan pertanyaan berkaitan dengan dua hal: pertama, agama manusia purba sebelum nabi adam menjadi rasul. Kedua, persoalan teori Darwin yang beredar di buku-buku biologi saat ia sekolah di SLTP atau SLTA.

Saya kaget. Pertanyaan seorang santri yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pertanyaan tersebut, saya menjawab sebagai berikut:

“Tentang agama manusia purba sebelum nabi adam saya bisa menjelaskan sebagai berikut: pertama, para mufasirin mempunyai beragam tafsir pada ayat tentang ucapan malaikat atas keberatan-nya menjadikan manusia sebagai khalifah. Alasannya karena ia mempunyai watak perusak. Kedua, pada masa sebelum nabi adam belum ada penjelasan tentang agama-agama yang diturunkan kepada manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa nabi dan rasul pertama adalah Adam as. Berarti belum ada secara formal aturan syariah yang diberlakukan manusia sebelum nabi adam. Ketiga, tentang persoalan manusia purba. Ada ilmu yang membidangi yaitu paleoantropologi. Kebenaran spekulatif. Ia membagi umur fosil dengan beragam kategori-kategori. Dari sini kemudian kita mendapatkan pengetahuan-pengetahuan usia-usia fosil manusia. Meskipun itu bisa diperdebatkan, lagi-lagi kita belum mempunyai kemampuan dibidang tersebut. Akhirnya jadi ma'mum. Keempat, pandangan Darwin tentang evolusi manusia. Ia sebenarnya hanya sebatas teori ilmiah yang bisa dibantah dengan pendekatan ilmiah. Sudah ada beberapa pandangan ilmiah yang telah membantahnya. Jika pendekatan agama, jelas sudah terbantahkan”. Meskipun demikian, tradisi kajian ilmiah umat Islam belum mapan seperti mereka”.

Era kejayaan Islam pada era 750 M - 1258 M, telah melahirkan ilmuwan bidang agama, saint dan ilmu-ilmu pengetahuan. Jika tidak ada kejadian perang salib dan para penguasa Islam waktu itu tetap konsisten mendukung perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan, mungkin saja saat ini kita tidak akan menemukan teori darwinisme, fosil-fosil manusia purba dan sejenisnya. Toh seandainya ada, ilmuwan Islam bisa memberikan bantahan-bantahan secara lebih argumentatif dan lebih ilmiah. Namun, peristiwa perang salib, peristiwa bangsa mongol menyerang Islam, dan konflik internal ditubuh penguasa Islam saat itu telah mempercepat era kegelapan terjadi pada umat Islam. Pada saat yang sama, bangsa barat telah berdiri tegak dengan temuan-temuan saint dan teknologi yang kemudian hari mereka melakukan imperialisme dunia. Islam dalam cengkraman kekuasaannya, baik fisik maupun ilmu pengetahuan.

Manuskrip dan sumber-sumber ilmu pengetahuan Islam telah diboyong dan dikembangkan di barat. Tersisa hanya ilmu-ilmu agama yang saat itu, bangsa barat sedang menjauhi dogma-dogma agama akibat dampak konflik antara kaum agamawan ( gereja-pen) dan ilmuwan. Ilmu-ilmu agama itu yang kemudian di bawa oleh para ulama dan diteruskan di lembaga-lembaga pendidikan hingga kemudian masuk ke Indonesia di bawa oleh para ulama. Mereka ini kemudian mendirikan pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh nusantara.

Pesantren juga melahirkan para penulis dan peneliti. Tapi sebatas pada bidang agama. Bidang ilmu umum sangat terbatas. Ada keterputusan mata rantai sebagaimana saya jelaskan di atas. bahkan lebih khusus, untuk mendokumentasi di kalangan santri sendiri masih belum membudaya tradisi menulis sejarah. Yang subur malah cerita kehebatan para masyayikh dari mulut ke mulut. Ini yang sering didapat di kalangan pesantren.

Bangsa barat lebih dahulu mempunyai tradisi membaca dan tulis-menulis segala bidang aspek ilmu. Mereka telah menanamkan ideologi materialism dan rasionalisme melalui para peneliti dan ilmuwan sebagian anak-anak bangsa Indonesia pada masa lalu. Melalui corong mereka, bangsa barat telah mampu meletakan dogma-dogma ilmu pengetahuan kepada para lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat tinggi hingga dasar. Mereka juga telah berhasil menempatkan para peneliti, pemikir dan para ilmuwan untuk memback-up ideologi mereka melalui pemikiran-pemikiran yang terlihat ilmiah dan rasional. Melalui pemikiran ini, mereka menempatkan diri sebagai orang-orang yang membawa obor peradaban. Selain mereka, dianggap sebagai kelompok yang tradisional, kolot dan tidak adaptif dengan perkembangan zaman.

Wajar jika catatan sejarah perjuangan para ulama dan santri pada masa dulu tidak terlihat dari catatan sejarah buku-buku pelajaran, buku-buku sejarah, ensiklopedia sejarah dan sejenisnya. Para pelaku sejarah dari kalangan para santri lenyap. Perjuangan dan gelora jihad yang membara terkubur dan kalah oleh hebatnya film-film “Janur Kuning” atau film G30S/PKI. Di dua film yang terkenal tersebut, generasi bangsa hanya disuguhi kehebatan segelintir orang yang kemudian menjadi terkesan subyektif. Sedangkan peran para ulama yang menjadi komandon hizbullah dan para santri di seluruh pesantren mulai dari Jawa Timur sampai Jawa Barat yang berada di garda paling depan menghancurkan gerakan PKI benar-benar hilang ditelan sejarah.

Perjuangan santri sangat patriotis. Ikhlas. Lurus mengikuti instruksi para ulama dan kyai. Mereka berani mengorbankan apa saja demi tegaknya bangsa dan negara. itu kelebihan yang tidak bisa dihapus dari realita kehidupan mereka.

Namun ada yang dilupakan, yaitu kisah-kisah perjuangan mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Mereka tidak menyadari lebih dini, bahwa catatan sejarah itu sangat penting untuk membuktikan kebenaran di masa lalu. Mereka lupa, bahwa ilmu pengetahuan di luar ilmu-ilmu dipelajari di pesantren sangat penting untuk menjaga eksistensi nya di masa mendatang. Akibatnya, mereka terkena imbas nya. Mereka babak belur dalam injakan perjalanan sejarah. Peran sejarah mereka kabur. Kebingungan untuk memutuskan suatu persoalan sejarah terjadi. Salah satu yang terjadi saat sekarang ini adalah persoalan sejarah yang viral yaitu tentang persoalan habib dan ba’lawi.

Sebagai penutup, peringatan hari santri tahun 2024 sebagai momentum memperbaiki sisi kehidupan santri untuk menghidupkan budaya tulis-menulis sebagai jalan untuk merekam sejarah kesantrian agar tetap hidup. Tentu dalam pengertian aspek yang lebih luas. Menyangkut pada persoalan ilmu pengetahuan dan saint dalam makna luas. Melalui cara seperti ini, keberadaan santri akan tetap eksis keberadaannya dalam kiprah di dunia nyata, dan eksis dalam lintasan sejarah di masa mendatang. Jika tidak mau menulis, maka santri akan kehilangan catatan sejarah. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875