Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Santri; Tirakat Politik Kaum Santri



Senin , 23 Oktober 2023



Telah dibaca :  710

Gonjang-ganjing pesta demokrasi sudah menghangat (jika tidak mau disebut panas). Dulu, persoalan politik cukup hanya dikota-kota besar, yang jalan raya sudah di Aspal, yang gedung-gedung tinggi, Hotel dan Mall berderet-deret menghiasai jalan-jalan Tol dan Jalan Layang. Dulu desa-desa tidak peduli dan masa bodoh, apakah ada suksesi kepemimpinan atau tidak, mereka tetap tenang. Pagi hari setelah makan Singkong rebus dan minum Teh Gopek panas, segera pergi ke Sawah. Jika musim tandur (tanam), mereka segera pergi ke Sawah. Jam 06.30 tetangga-tetangga yang ingin membantu, sudah berada di Sawah. Jam 11.30 biasanya sudah selesai. Mereka makan bersama di Tegalan ( daratan yang berada di tengah-tengah Sawah). Nasi dan lauknya sudah satu paket, satu bungkus dari Daun Pisang. Biasanya Nasi Uduk, lauknya Ikan Mujair, Ikan Sepat, Ikan Betik atau Ikan Asin. Minumannya Air Putih. Satu Ceret sedang yang terbuat dari Aluminium. Tanpa ada gelas. Jadi, setelah makan, masing-masing bisa minum dengan cara di tenggak. Tangan kanan ngangkat dan langsung diarahkan ke mulut.

Setelah Sholat Dhuhur, mereka melakukan aktivitas beragam. Ada yang memperbaiki Kadang Bebek, ada yang mencari rumput untuk pakan Kambing, ada juga yang pergi mencari Ikan di Sungai. Bagi keluarga yang mempunyai kebiasaan berdagang, biasanya kegiatan setelah musim tandur yaitu dagang ke luar kota. Mereka menggunakan waktu menunggu panen (sekitar dua bulan-tiga bulan). Ketika sudah tiba musim panen, mereka pun pulang dan melakukan aktivitas di Sawah.

Menjelang Sholat Maghrib, anak-anak sudah pergi ke Mushola atau Masjid. Mereka belajar agama, mulai dari hapalan Juz Ama, sampai kitab-kitab klasik seperti Ta’lim Muta’alim, Fathul Qarib dan ‘Uqud Dilijain. Selesai ngaji, anak-anak perempuan pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan anak laki-laki tidur di Mushola atau Masjid. Tidur dekat mimbar untuk laki-laki yang sudah dewasa (tapi belum menikah), tidur di teras anak-anak yang masih kecil. Untuk antisipasi jika ada yang “ngompol”, mudah untuk dibersihkan lantainya.

Setelah Sholat Isya, hiburannya permainan tradisional. Laki-laki perempuan campur. Tidak ada masalah. TV masih sulit. Ada TV hitam-putih. Satu kampung kadang yang punya hanya satu rumah. Mereka duduk bareng di lantai. Siaran favorit waktu itu olah raga; Bulutangkis dan Tinju. Hiburan tambahan biasanya ketika ada acara pernikahan atau sunatan, yaitu; Wayang Kulit, Layar Tancap dan Orgen Tunggal.

Selesai acara sampai jam 03.00 dini hari. Bagi anak laki-laki langsung tidur di Mushola atau Masjid. Menjelang subuh dibangunkan. Jika ada yang belum bangun, lantainya disiram supaya bisa bangun dan sholat subuh. Selesai sholat subuh, para jamaah biasanya wiridan tambahan tentang sifat-sifat wajib bagi Allah : allah wujud qidam baqa, mukholafatul lil hawadisi, qiyamuhu binafsihi…..ila ahirihi.

Potret kehidupan di atas adalah gambaran kehidupan masyarakat pedesaan yang konsentrasi “makaryo”, kurang respon terhadap politik, dan hidupnya benar-benar tirakat untuk bisa menjadi hamba-hamba yang ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT. Kesadaran diri akan segala sesuatu yang diatur oleh-Nya, telah diasahnya melalui lafadz-lafadz sifat duapuluh yang setiap hari dijadikan wiridan, sehingga pengaruhnya benar-benar “mluber” membasahi akal dan hati serta perbuatannya. Itu sebabnya, politik waktu itu, sepanas apapun situasinya dan dalam keadaan sesusah apapun ekonominya, masyarakat pedesaan tetap istiqomah menyebut asma-asma Allah SWT. Mereka mempunyai sandaran yang sangat kuat di atas sandaran kepada pemerintah yaitu sandaran kepada Allah SWT. Kalimat yang sangat terkenal dan menjadi way of life, “rezeki sudah ada takaran sendiri-sendiri”.

Kini situasi pedesaan tidak seperti dulu lagi. Jalan yang dulu berupa tanah liat, kini telah berubah menjadi Aspal. Rumah-rumah sudah mulai bersaing dengan rumah-rumah yang berada di pinggir kota; berbatu, tingkat, ada kendaraan garasi, mobil dan kendaraan lumayan mahal. Suasana desa hari ini juga sudah seperti kota mini; ada internet, iphone, dan android. Barang-barang tersebut yang sebelumnya milik kaum ningrat, sekarang sudah menjadi barang umum. Siapapun bisa beli dan bisa mengakses apa yang diinginkan. Para kaum perempuan, ibu-ibu Majelis Ta’lim sudah bisa COD kebutuhannya, mulai dari baju, jilbab sampai pada bedak agar wajah terlihat glowing. Para bapak yang dulu biasanya pegang cangkul, kini sudah main tik-tok dan membuat video; berjoget dan terserah apa saja bisa. Sebagian ulama, kyai dan bu nyai sudah tidak asing lagi dengan istilah youtube, share, online, daring, IG, FB dan twitter. Mereka ngaji melalui daring. Para santri pun ngaji sudah bisa dimana saja, di jalan, di lokasi sekolah, bahkan bisa juga di kamar sambil tidur-tiduran. Bahkan lebih lucu lagi, kyai atau guru nya sedang serius menerangkan melalui zoom, para santri bisa meninggalkan tempat zoom dengan leluasa. Yang penting online tetap hidup, dan layar tampilannya matikan. Akhirnya gurunya ngomong sendiri, santri kluyuran sendiri.

Kini, di pedesaan sudah bisa mengakses peristiwa politik dimana saja dibelahan Dunia. Mereka sudah tidak berbeda lagi dengan anak-anak kota. Sama. Bisa komentar apa saja, bisa memuji dan menghujat sekaligus. Gara-gara internet, semua telah berubah menjadi manusia pintar. Semua sudah bisa bicara keadilan, kemakmuran, dan penegakan hukum. Entah mereka paham atau tidak. Entah, mereka taat terhadap hukum atau tidak. Tidak peduli. Semua bisa bicara atas nama rakyat. Dan bisa jadi, mereka juga tidak tahu rakyat mana yang mereka bicarakan. Bisa jadi, apakah mereka bicara tentang moral tapi saat yang sama sedang “ngangkangi” moral itu sendiri.

Kini suhu politik sudah panas, bahkan bisa jadi lebih panas dari alam semesta ini. Situasi laksana Padang Rumput kering, jika tidak hati-hati semua bisa terbakar hanya gara-gara seseorang membuang Putung Rokok di pinggir jalan.

Dalam situasi seperti ini, penulis masih mempunyai harapan peran para ulama dan santri untuk melakukan tirakat politik sebagaimana orang-orang kampung di masa dulu. Mungkin wilayah pedesaan sudah tidak bisa melakukan tirakat politik sebagaimana pada masa dulu secara maksimal. Kondisi sudah berubah. Ini berbeda dengan Pesantren, walaupun situasi sudah berubah, pesantren tetap masih menggunakan pakem-pakem masa lalu dengan cukup ketat yaitu melakukan tirakat-tirakat dhohiran wa bathinan. Para ulama masih mengajarkan kepada mereka bukan hanya sebatas ilmu pengetahuan, tapi juga membangun kecerdesan spiritual untuk menjadi cahaya hati bagi dirinya dan harapanya menular kepada sekitarnya.

Karena itu, peringatan hari santri di tahun-tahun politik benar-benar menjadi moment untuk memperteguh hakikat santri yang lahir bukan sebatas membawa misi kemanusiaan pada sisi muamalah semata dalam kehidupan dakwah, tapi juga mampu mewujudkan keharmonisan dan kedamaian dalam lingkup siyasah yang saat ini terasa sangat gerah. Penulis menyakini, para ulama telah membimbing santri untuk tujuan itu. Salah satu bukti yaitu para ulama telah mengadakan tirakat akbar yaitu membaca Sholawat Nariyah 1 milyar. Apa maksudnya ? bagi orang yang paham, pembacaan Sholawat Nariyah adalah upaya spiritual ulama dan santri agar negara ini tetap terjaga eksistensinya, berkah hidup, tentram dan damai serta membawa kemaslahatan untuk agama, bangsa dan negara serta mampu mewujudkan perdamaian dunia. ini yang dimaksud oleh penulis wujud dari Tirakat Politik Kaum Santri. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876