
Gonjang-ganjing pesta demokrasi sudah menghangat
(jika tidak mau disebut panas). Dulu, persoalan politik cukup hanya dikota-kota
besar, yang jalan raya sudah di Aspal, yang gedung-gedung tinggi, Hotel dan Mall
berderet-deret menghiasai jalan-jalan Tol dan Jalan Layang. Dulu desa-desa
tidak peduli dan masa bodoh, apakah ada suksesi kepemimpinan atau tidak, mereka
tetap tenang. Pagi hari setelah makan Singkong rebus dan minum Teh Gopek panas,
segera pergi ke Sawah. Jika musim tandur (tanam), mereka segera pergi ke
Sawah. Jam 06.30 tetangga-tetangga yang ingin membantu, sudah berada di Sawah.
Jam 11.30 biasanya sudah selesai. Mereka makan bersama di Tegalan (
daratan yang berada di tengah-tengah Sawah). Nasi dan lauknya sudah satu paket,
satu bungkus dari Daun Pisang. Biasanya Nasi Uduk, lauknya Ikan Mujair, Ikan
Sepat, Ikan Betik atau Ikan Asin. Minumannya Air Putih. Satu Ceret sedang yang
terbuat dari Aluminium. Tanpa ada gelas. Jadi, setelah makan, masing-masing
bisa minum dengan cara di tenggak. Tangan kanan ngangkat dan langsung
diarahkan ke mulut.
Setelah Sholat Dhuhur, mereka melakukan
aktivitas beragam. Ada yang memperbaiki Kadang Bebek, ada yang mencari rumput
untuk pakan Kambing, ada juga yang pergi mencari Ikan di Sungai. Bagi
keluarga yang mempunyai kebiasaan berdagang, biasanya kegiatan setelah musim tandur
yaitu dagang ke luar kota. Mereka menggunakan waktu menunggu panen (sekitar dua
bulan-tiga bulan). Ketika sudah tiba musim panen, mereka pun pulang dan
melakukan aktivitas di Sawah.
Menjelang Sholat Maghrib, anak-anak sudah
pergi ke Mushola atau Masjid. Mereka belajar agama, mulai dari hapalan Juz Ama,
sampai kitab-kitab klasik seperti Ta’lim Muta’alim, Fathul Qarib dan ‘Uqud
Dilijain. Selesai ngaji, anak-anak perempuan pulang ke rumah masing-masing.
Sedangkan anak laki-laki tidur di Mushola atau Masjid. Tidur dekat mimbar untuk
laki-laki yang sudah dewasa (tapi belum menikah), tidur di teras anak-anak yang
masih kecil. Untuk antisipasi jika ada yang “ngompol”, mudah untuk
dibersihkan lantainya.
Setelah Sholat Isya, hiburannya permainan
tradisional. Laki-laki perempuan campur. Tidak ada masalah. TV masih sulit. Ada
TV hitam-putih. Satu kampung kadang yang punya hanya satu rumah. Mereka duduk
bareng di lantai. Siaran favorit waktu itu olah raga; Bulutangkis dan Tinju. Hiburan
tambahan biasanya ketika ada acara pernikahan atau sunatan, yaitu; Wayang
Kulit, Layar Tancap dan Orgen Tunggal.
Selesai acara sampai jam 03.00 dini hari. Bagi
anak laki-laki langsung tidur di Mushola atau Masjid. Menjelang subuh
dibangunkan. Jika ada yang belum bangun, lantainya disiram supaya bisa bangun
dan sholat subuh. Selesai sholat subuh, para jamaah biasanya wiridan tambahan tentang
sifat-sifat wajib bagi Allah : allah wujud qidam baqa, mukholafatul lil
hawadisi, qiyamuhu binafsihi…..ila ahirihi.
Potret kehidupan di atas adalah gambaran
kehidupan masyarakat pedesaan yang konsentrasi “makaryo”, kurang respon
terhadap politik, dan hidupnya benar-benar tirakat untuk bisa menjadi
hamba-hamba yang ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT. Kesadaran
diri akan segala sesuatu yang diatur oleh-Nya, telah diasahnya melalui
lafadz-lafadz sifat duapuluh yang setiap hari dijadikan wiridan,
sehingga pengaruhnya benar-benar “mluber” membasahi akal dan hati serta
perbuatannya. Itu sebabnya, politik waktu itu, sepanas apapun situasinya dan
dalam keadaan sesusah apapun ekonominya, masyarakat pedesaan tetap istiqomah
menyebut asma-asma Allah SWT. Mereka mempunyai sandaran yang sangat kuat di
atas sandaran kepada pemerintah yaitu sandaran kepada Allah SWT. Kalimat yang
sangat terkenal dan menjadi way of life, “rezeki sudah ada takaran
sendiri-sendiri”.
Kini situasi pedesaan tidak seperti dulu
lagi. Jalan yang dulu berupa tanah liat, kini telah berubah menjadi Aspal. Rumah-rumah
sudah mulai bersaing dengan rumah-rumah yang berada di pinggir kota; berbatu,
tingkat, ada kendaraan garasi, mobil dan kendaraan lumayan mahal. Suasana desa
hari ini juga sudah seperti kota mini; ada internet, iphone, dan android. Barang-barang
tersebut yang sebelumnya milik kaum ningrat, sekarang sudah menjadi barang
umum. Siapapun bisa beli dan bisa mengakses apa yang diinginkan. Para kaum
perempuan, ibu-ibu Majelis Ta’lim sudah bisa COD kebutuhannya, mulai dari baju,
jilbab sampai pada bedak agar wajah terlihat glowing. Para bapak yang
dulu biasanya pegang cangkul, kini sudah main tik-tok dan membuat video;
berjoget dan terserah apa saja bisa. Sebagian ulama, kyai dan bu nyai sudah
tidak asing lagi dengan istilah youtube, share, online, daring, IG, FB dan
twitter. Mereka ngaji melalui daring. Para santri pun ngaji sudah bisa dimana
saja, di jalan, di lokasi sekolah, bahkan bisa juga di kamar sambil
tidur-tiduran. Bahkan lebih lucu lagi, kyai atau guru nya sedang serius
menerangkan melalui zoom, para santri bisa meninggalkan tempat zoom dengan
leluasa. Yang penting online tetap hidup, dan layar tampilannya matikan. Akhirnya
gurunya ngomong sendiri, santri kluyuran sendiri.
Kini, di pedesaan sudah bisa mengakses
peristiwa politik dimana saja dibelahan Dunia. Mereka sudah tidak berbeda lagi
dengan anak-anak kota. Sama. Bisa komentar apa saja, bisa memuji dan menghujat
sekaligus. Gara-gara internet, semua telah berubah menjadi manusia pintar. Semua
sudah bisa bicara keadilan, kemakmuran, dan penegakan hukum. Entah mereka paham
atau tidak. Entah, mereka taat terhadap hukum atau tidak. Tidak peduli. Semua bisa
bicara atas nama rakyat. Dan bisa jadi, mereka juga tidak tahu rakyat mana yang
mereka bicarakan. Bisa jadi, apakah mereka bicara tentang moral tapi saat yang
sama sedang “ngangkangi” moral itu sendiri.
Kini suhu politik sudah panas, bahkan bisa
jadi lebih panas dari alam semesta ini. Situasi laksana Padang Rumput kering,
jika tidak hati-hati semua bisa terbakar hanya gara-gara seseorang membuang Putung
Rokok di pinggir jalan.
Dalam situasi seperti ini, penulis masih
mempunyai harapan peran para ulama dan santri untuk melakukan tirakat politik
sebagaimana orang-orang kampung di masa dulu. Mungkin wilayah pedesaan sudah
tidak bisa melakukan tirakat politik sebagaimana pada masa dulu secara
maksimal. Kondisi sudah berubah. Ini berbeda dengan Pesantren, walaupun situasi
sudah berubah, pesantren tetap masih menggunakan pakem-pakem masa lalu
dengan cukup ketat yaitu melakukan tirakat-tirakat dhohiran wa bathinan.
Para ulama masih mengajarkan kepada mereka bukan hanya sebatas ilmu
pengetahuan, tapi juga membangun kecerdesan spiritual untuk menjadi cahaya hati
bagi dirinya dan harapanya menular kepada sekitarnya.
Karena itu, peringatan hari santri di
tahun-tahun politik benar-benar menjadi moment untuk memperteguh hakikat
santri yang lahir bukan sebatas membawa misi kemanusiaan pada sisi muamalah
semata dalam kehidupan dakwah, tapi juga mampu mewujudkan keharmonisan dan
kedamaian dalam lingkup siyasah yang saat ini terasa sangat gerah. Penulis
menyakini, para ulama telah membimbing santri untuk tujuan itu. Salah satu
bukti yaitu para ulama telah mengadakan tirakat akbar yaitu membaca Sholawat
Nariyah 1 milyar. Apa maksudnya ? bagi orang yang paham, pembacaan Sholawat
Nariyah adalah upaya spiritual ulama dan santri agar negara ini tetap
terjaga eksistensinya, berkah hidup, tentram dan damai serta membawa
kemaslahatan untuk agama, bangsa dan negara serta mampu mewujudkan perdamaian
dunia. ini yang dimaksud oleh penulis wujud dari Tirakat Politik Kaum Santri.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876