
Hari Tasyrik secara bahasa berarti
menghadap ke arah timur (arah sinar Matahari). Dinamakan demikian, berangkat
dari pelaksanaan Sholat Idul Adha ketika Matahari telah memancarkan cahaya.
Sebagian ulama berpendapat karena pada hari tersebut masyarakat sedang menjemur
daging kurban dan dijadikan dendeng agar awet untuk kebutuhan hari-hari
berikutnya. Itu sebabnya, ketika seorang muslim belum sempat melaksanakan
penyembelihan binatang kurban di Hari Nahar, maka bisa dilaksanakan di Hari
Tasyrik.
وأيام التشريق ثلاثة بعد يوم النحر سميت بذلك لتشريق الناس لحوم الأضاحى
فيها وهو تقديدها ونشرها في الشمس
Artinya:
Hari Tasyrik adalah sebutan bagi
tiga hari (11,12,13 Dzulhijjah) setelah hari nahar (10 dzulhijah). Tiga hari
itu dinamai demikian karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu
tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada Terik matahari”
Nabi Muhammad telah bersabda sebagai
berikut:
عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي
رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ
Artinya:
Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Hari Tasyrik
adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’”
Hari tasyrik merupakan kelanjutan dari Hari
Nahar, yaitu Hari Idul Adha dan sekaligus hari pemotongan binatang kurban. Hari
nahar merupakan simbol hari penghorbanan orang-orang yang telah diberi
kelebihan harta. Binatang kurban merupakan wujud syukur dari kaum hartawan.
Ketika binatang tersebut disembelih, maka saat itu simbol keikhlasan
orang-orang hartawan menyalurkan daging-dagingnya untuk orang-orang yang
membutuhkan.
Hari tasyrik merupakan simbol keadilan dan
cinta kasih. pengorbanan seorang muslim, bukan pengorbanan frustasi, tapi
pengurbanan untuk kebahagiaan seluruh umat manusia. pengurbanan terkadang
terasa sangat menyakitkan. Ia butuh proses. Seperti proses nabi ibrahim saat
mengenal hakikat berpisah dengan istri dan anaknya. Seperti proses mengenal
hakikat pengorbanan nabi ismail.
Padahal, saat itu nabi ibrahim sedang
mencapai puncak kebahagiaan. Ia sudah rindu puluhan tahun mempunyai anak. Tuhan
memberikan nikmat: istri sholehah dan cantik. Ditambah lagi nikmatnya, seorang anak
yang tampan dan Sholeh. lalu Tuhan memerintah untuk melepaskan seluruh atribut
kebahagiaan di hatinya. Sangat sakit.
Saya membayangkan, seperti kisah Karna
dalam Perang Baratayuda. Ia harus melepaskan kulit luar nya seperti melepaskan
kulit sapi kurban dari dagingnya. Sakit dan darah keluar menetes dengan deras. Tapi
demi cinta kepada Sang Pencipta, Karna melakukannya.
Ibrahim bukan Karna yang hanya dalam hayalan.
Ibrahim kisah nyata. Ia bukan Malaikat. Ia manusia. basyarun mislukum,
manusia sebagaimana kebanyakan manusia pada umum nya. Ada tawa, ada tangis. Ada
bahagia ada sedih. Ia manusia yang mempunyai sifat keakuan atas segala nikmat
yang ada di depan matanya: istri dan anak. Namun melalui proses pemahaman yang
mendalam dan keimanan yang totalitas, keakuan diri hancur. Ia menemukan saripati kebahagiaan yaitu
totalitas menghambakan diri kepada Allah SWT. Ia menyadari bahwa kebahagiaan kehadiran
istri dan anak bersifat fana, sedang
kebahagiaan atas kehadiran Tuhan bersifat kekal sepanjang masa sampai di Hari
Kiamat.
Penemuan kebahagiaan hakiki harus
dibuktikan atau ditampakan dalam alam fana. Salah satunya yaitu menyembelih binatang
kurban. Tujuannya agar seluruh manusia ikut bahagia. ikut merayakan kebahagiaan
yang tidak bisa diukur dengan dunia seisinya. Maka butuh simbol kebahagiaan
tersebut yaitu melalui kurban binatang ternak.
Karena binatang kurban sebagai simbol
kebahagiaan universal, maka setelah hari nahar ada hari tasyrik,
yaitu hari bersenang-senang dan hari selalu ingat kepada Tuhan atas segala
nikmat tersebut. semua harus ikut bahagia: keluarga, fakir miskin dan seluruh
umat manusia harus merasakan kebahagiaan tersebut.
Pertama, yang mendapatkan kebahagiaan adalah
kerabat keluarga. Q.S. Al-Anfal ayat 75 berbunyi:
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا مَعَكُمْ
فَاُولٰۤىِٕكَ مِنْكُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ
كِتٰبِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ ٧٥
Artinya:
Orang-orang yang beriman setelah itu,
berhijrah, dan berjihad bersamamu, maka mereka itu termasuk (golongan) kamu.
Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak bagi
sebagian yang lain menurut Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.
Nabi Ibrahim berhasil melewati ujian yang
maha berat. ia berhasil melewati ujian dari Allah dengan diselamatkan Nabi
Ismail dan diganti dengan domba. Maka Tuhan menyuruh untuk menikmati
keluarga-keluarganya, dan kerabatnya. Kebahagiaan sebagai wujud syukur atas
nikmat yang telah diberikan kepada keluarga besar Ibrahim.
Kedua, kebahagiaan keluarga harus dirasakan oleh
orang-orang fakir-miskin. Mereka merupakan hamba Allah yang telah diberi
keterbatasan akses dunia. ekonomi lemah. Terkadang tidak punya rumah. Mereka harus
berjuang keras untuk memperoleh makanan setiap hari. Itu sebabnya, ia mempunyai
hak yang sangat besar untuk ikut merasakan kebahagiaan dengan merasakan nikmat
daging kurban. Sebuah kenikmatan istimewa dan jarang mereka dapatkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Mereka tidak boleh dibiarkan kelaparan
sepanjang hayat. Mereka telah menderita. Memberi kabar bahagia dengan
memberikan sebagian daging kurban kepadanya. Q.S. Al-Hajj ayat 28 sebagai
berikut:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ
مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا
مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ٢٨
Artinya:
(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan
berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang
telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa
binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan
orang yang sengsara lagi fakir.
Islam menempatkan kedudukan fakir-miskin
dalam pembagian binatang kurban menunjukan bahwa sistem ekonomi dan kebahagiaan
harus berpihak kepada rakyat biasa. Ketika suatu sistem kehidupan
sosial-politik hanya menjadikan rakyat kecil sebagai slogan atau kampanye
semata, maka bisa dipastikan sistem sosial-politik telah bertentangan dengan
ajaran Islam.
Prinsip ajaran Islam yang tertinggi adalah
keadilan dan kesetaraan. Ketika manusia sudah mengucapkan kalimat laa ilaha
illa allah, berarti telah meletakan Allah sebagai Tuhan yang mempunyai
kedudukan paling tinggi. Hanya satu-satunya Tuhan yang pantas disembah oleh
manusia. Selain Tuhan, kedudukan nya sama yaitu sama-sama hamba-hamba yang
sedang mencari pengakuan-Nya sebagai hamba-hamba yang mutaqin. Prinsip keadilan
dalam kehidupan sosial dijelaskan dalam Q.S. Al-Maidah ayat 8 sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ
شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا
تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ
اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah
kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan
adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa.
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.
Ketiga yaitu kebahagiaan harus dirasakan oleh
seluruh umat manusia di seluruh dunia. Kebahagiaan Nabi Ibrahim tidak hanya
untuk umat Islam. Saat ia berkorban atas kebahagiaan nikmat yang diberikan Allah,
Nabi Ibrahim mengorbankan binatang ternak untuk seluruh makhluk di dunia. Siapapun
boleh makan bukan hanya manusia, tapi juga Burung-Burung Padang Pasir ikut
merasakan kebahagiaan.
Q.S. Al-Mumtahanah ayat 8 sebagai berikut:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى
الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ
وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ٨
Artinya:
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan
tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berlaku adil.
Dari paparan tersebut, sangat nyata bahwa Idul
Adha sebenarnya realisasi dari cinta kasih universal. Seorang muslim terlahir
harus bisa menciptakan kebahagiaan pada diri sendiri, yaitu kebahagiaan
mengenal allah swt. setelah mengenal-nya, maka realisasikan kebahagiaan
tersebut dengan selalu ringan tangan menebarkan kasih-sayang kepada keluarga,
fakir-miskin dan seluruh umat manusia dengan senyum persahabatan, perilaku yang
baik dan mampu memberi keringanan penderitaan saudara-saudara kita meskipun
hanya segelas air putih.
Idul Adha yang dilanjutkan hari tasyrik
merupakan miniatur hakikat kehidupan sejati. Kebahagiaan sejati hanya lahir
dari pengorbanan yang tulus kepada Allah. Dan pengorbanan yang sukses ketika ia
melahirkan saripati kasih sayang kepada seluruh umat manusia.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871