Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Tasyrik: Membahagiakan Orang Lain dengan Penuh Cinta


 TAUHID

Minggu , 08 Juni 2025



Telah dibaca :  604

Hari Tasyrik secara bahasa berarti menghadap ke arah timur (arah sinar Matahari). Dinamakan demikian, berangkat dari pelaksanaan Sholat Idul Adha ketika Matahari telah memancarkan cahaya. Sebagian ulama berpendapat karena pada hari tersebut masyarakat sedang menjemur daging kurban dan dijadikan dendeng agar awet untuk kebutuhan hari-hari berikutnya. Itu sebabnya, ketika seorang muslim belum sempat melaksanakan penyembelihan binatang kurban di Hari Nahar, maka bisa dilaksanakan di Hari Tasyrik.

وأيام التشريق ثلاثة بعد يوم النحر سميت بذلك لتشريق الناس لحوم الأضاحى فيها وهو تقديدها ونشرها في الشمس

Artinya:

Hari Tasyrik adalah sebutan bagi tiga hari (11,12,13 Dzulhijjah) setelah hari nahar (10 dzulhijah). Tiga hari itu dinamai demikian karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada Terik matahari” (An-Nawawi, 2001M/1422H).

Nabi Muhammad telah bersabda sebagai berikut:

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رواية وَذِكْرٍ لِلَّهِ

Artinya:

Dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir,’”

Hari tasyrik merupakan kelanjutan dari Hari Nahar, yaitu Hari Idul Adha dan sekaligus hari pemotongan binatang kurban. Hari nahar merupakan simbol hari penghorbanan orang-orang yang telah diberi kelebihan harta. Binatang kurban merupakan wujud syukur dari kaum hartawan. Ketika binatang tersebut disembelih, maka saat itu simbol keikhlasan orang-orang hartawan menyalurkan daging-dagingnya untuk orang-orang yang membutuhkan.

Hari tasyrik merupakan simbol keadilan dan cinta kasih. pengorbanan seorang muslim, bukan pengorbanan frustasi, tapi pengurbanan untuk kebahagiaan seluruh umat manusia. pengurbanan terkadang terasa sangat menyakitkan. Ia butuh proses. Seperti proses nabi ibrahim saat mengenal hakikat berpisah dengan istri dan anaknya. Seperti proses mengenal hakikat pengorbanan nabi ismail.

Padahal, saat itu nabi ibrahim sedang mencapai puncak kebahagiaan. Ia sudah rindu puluhan tahun mempunyai anak. Tuhan memberikan nikmat: istri sholehah dan cantik. Ditambah lagi nikmatnya, seorang anak yang tampan dan Sholeh. lalu Tuhan memerintah untuk melepaskan seluruh atribut kebahagiaan di hatinya. Sangat sakit.

Saya membayangkan, seperti kisah Karna dalam Perang Baratayuda. Ia harus melepaskan kulit luar nya seperti melepaskan kulit sapi kurban dari dagingnya. Sakit dan darah keluar menetes dengan deras. Tapi demi cinta kepada Sang Pencipta, Karna melakukannya.

Ibrahim bukan Karna yang hanya dalam hayalan. Ibrahim kisah nyata. Ia bukan Malaikat. Ia manusia. basyarun mislukum, manusia sebagaimana kebanyakan manusia pada umum nya. Ada tawa, ada tangis. Ada bahagia ada sedih. Ia manusia yang mempunyai sifat keakuan atas segala nikmat yang ada di depan matanya: istri dan anak. Namun melalui proses pemahaman yang mendalam dan keimanan yang totalitas, keakuan diri hancur.  Ia menemukan saripati kebahagiaan yaitu totalitas menghambakan diri kepada Allah SWT. Ia menyadari bahwa kebahagiaan kehadiran istri dan  anak bersifat fana, sedang kebahagiaan atas kehadiran Tuhan bersifat kekal sepanjang masa sampai di Hari Kiamat.

Penemuan kebahagiaan hakiki harus dibuktikan atau ditampakan dalam alam fana. Salah satunya yaitu menyembelih binatang kurban. Tujuannya agar seluruh manusia ikut bahagia. ikut merayakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan dunia seisinya. Maka butuh simbol kebahagiaan tersebut yaitu melalui kurban binatang ternak.

Karena binatang kurban sebagai simbol kebahagiaan universal, maka setelah hari nahar ada hari tasyrik, yaitu hari bersenang-senang dan hari selalu ingat kepada Tuhan atas segala nikmat tersebut. semua harus ikut bahagia: keluarga, fakir miskin dan seluruh umat manusia harus merasakan kebahagiaan tersebut.

Pertama, yang mendapatkan kebahagiaan adalah kerabat keluarga. Q.S. Al-Anfal ayat 75 berbunyi:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا مَعَكُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ مِنْكُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌࣖ ۝٧٥

Artinya:

Orang-orang yang beriman setelah itu, berhijrah, dan berjihad bersamamu, maka mereka itu termasuk (golongan) kamu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak bagi sebagian yang lain menurut Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Nabi Ibrahim berhasil melewati ujian yang maha berat. ia berhasil melewati ujian dari Allah dengan diselamatkan Nabi Ismail dan diganti dengan domba. Maka Tuhan menyuruh untuk menikmati keluarga-keluarganya, dan kerabatnya. Kebahagiaan sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan kepada keluarga besar Ibrahim.

Kedua, kebahagiaan keluarga harus dirasakan oleh orang-orang fakir-miskin. Mereka merupakan hamba Allah yang telah diberi keterbatasan akses dunia. ekonomi lemah. Terkadang tidak punya rumah. Mereka harus berjuang keras untuk memperoleh makanan setiap hari. Itu sebabnya, ia mempunyai hak yang sangat besar untuk ikut merasakan kebahagiaan dengan merasakan nikmat daging kurban. Sebuah kenikmatan istimewa dan jarang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak boleh dibiarkan kelaparan sepanjang hayat. Mereka telah menderita. Memberi kabar bahagia dengan memberikan sebagian daging kurban kepadanya. Q.S. Al-Hajj ayat 28 sebagai berikut:

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ۝٢٨

Artinya:

(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.

Islam menempatkan kedudukan fakir-miskin dalam pembagian binatang kurban menunjukan bahwa sistem ekonomi dan kebahagiaan harus berpihak kepada rakyat biasa. Ketika suatu sistem kehidupan sosial-politik hanya menjadikan rakyat kecil sebagai slogan atau kampanye semata, maka bisa dipastikan sistem sosial-politik telah bertentangan dengan ajaran Islam.

Prinsip ajaran Islam yang tertinggi adalah keadilan dan kesetaraan. Ketika manusia sudah mengucapkan kalimat laa ilaha illa allah, berarti telah meletakan Allah sebagai Tuhan yang mempunyai kedudukan paling tinggi. Hanya satu-satunya Tuhan yang pantas disembah oleh manusia. Selain Tuhan, kedudukan nya sama yaitu sama-sama hamba-hamba yang sedang mencari pengakuan-Nya sebagai hamba-hamba yang mutaqin. Prinsip keadilan dalam kehidupan sosial dijelaskan dalam Q.S. Al-Maidah ayat 8 sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ketiga yaitu kebahagiaan harus dirasakan oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Kebahagiaan Nabi Ibrahim tidak hanya untuk umat Islam. Saat ia berkorban atas kebahagiaan nikmat yang diberikan Allah, Nabi Ibrahim mengorbankan binatang ternak untuk seluruh makhluk di dunia. Siapapun boleh makan bukan hanya manusia, tapi juga Burung-Burung Padang Pasir ikut merasakan kebahagiaan.

Q.S. Al-Mumtahanah ayat 8 sebagai berikut:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ ۝٨

Artinya:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Dari paparan tersebut, sangat nyata bahwa Idul Adha sebenarnya realisasi dari cinta kasih universal. Seorang muslim terlahir harus bisa menciptakan kebahagiaan pada diri sendiri, yaitu kebahagiaan mengenal allah swt. setelah mengenal-nya, maka realisasikan kebahagiaan tersebut dengan selalu ringan tangan menebarkan kasih-sayang kepada keluarga, fakir-miskin dan seluruh umat manusia dengan senyum persahabatan, perilaku yang baik dan mampu memberi keringanan penderitaan saudara-saudara kita meskipun hanya segelas air putih.

Idul Adha yang dilanjutkan hari tasyrik merupakan miniatur hakikat kehidupan sejati. Kebahagiaan sejati hanya lahir dari pengorbanan yang tulus kepada Allah. Dan pengorbanan yang sukses ketika ia melahirkan saripati kasih sayang kepada seluruh umat manusia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871