
Mengharapkan kesempurnaan hanya melahirkan
penderitaan dan kekecewaan. Kalimat itu mungkin untuk menggambarkan suara netizen
pecinta sepak bola di tanah air. Saat Indonesia bertemu Cina. Kalah 2-1. Memang
kondisi kalah sering membawa luka. Semua terlihat serba kurang. Tidak ada yang
sempurna. Tidak ada yang benar. Salah semua. Apalagi kalau pelatihnya salah menyusun
komposisi pemain. Siap-siap kena semprot netizen. Kebaikan langsung hilang. Seperti
kata pepatah atau peribahasa : hujan sehari menghapus kemarau setahun.
Terus terang saya tidak melihat
pertandingan timnas Indonesia dan Cina. Lihat tapi sebentar. Saat security
kampus nonton siaran langsung melalui
android, saya bertama hasilnya. “1-0 pak”, Indonesia kalah” katanya.
Gedung Beng Sabli terlihat ramai. Mereka
ramai-ramai melihat siaran langsung. Pakai infocus. Saya lihat sebentar. Sialnya,
sekali lihat bola lawan membobolkan gawang timnas. Rasanya lemes. 2-0. Daripada
hati ndongkol, saya kembali lagi ke pos security.
Ngopi dan ngunyah kacang tanah. Selesai satu bungkus, masuk kampus dan tidur.
Entah benar entah tidak. Ada youtube beredar.
Asnawi dan Shin Tae-Yong dirujak netizen. Persis cerita Guru Gembul dirujak oleh
Muhammad Nuruddin, ustadz yang ‘alim filsafat. Asnawi yang dulu
disanjung-sanjung tiba-tiba menjadi sumber masalah. Sebagian neziten menilai Asnawi
egois dalam beberapa moment permainan dan tidak bisa bermain dalam team. Show man.
Berbeda dengan Arhan Pratama. Ia menggantikan
Asnawi di menit 85. Ia mendapat banjir
pujian dari netizen. Lemparan maut di penghujung babak kedua membuahkan hasil. Bola
masuk gawang timnas Cina. Skor menjadi 2-1. Netizen pun ramai komentar. Salah satu
komentar kurang lebih begini: “Coba Arhan main dari awal?”.
Itulah netizen. Kadang perlu juga para
netizen atau para supporter belajar pelajaran akidah dan memahami rukun iman
ke-enam; iman kepada qadha dan qadar (saya jadi kepikir juga, bagaimana jika
materi akidah akhlak dimasukan juga pada kurikulum persepakbolaan). Mungkin,
ini mungkin lhooo…jika netizen paham qadha-qadar komentarnya berubah begini; “Semua
sudah diatur oleh Allah”.
Sepak bola memang bukan persoalan Asnawi dan
Pratama. Bukan sebatas persoalan STY. Ia adalah kita. Ia wajah kita. Ada saat
diposisi dipuji ada saat posisi dicaci maki. Ada saatnya orang disekitar kita
mencari-cari kita, Ada saatnya kita dilupakan bahkan terkadang tidak dianggap
sama sekali. Kehidupan terkadang terlihat lucu, genit, kadang imut-imut, tapi
disisi lain kadang terlihat amit-amit. Itu desain kehidupan sejak dulu.
Dulu orang menyanjung Soeharto. Lalu ramai-ramai
mencaci maki. Ia dianggap penghancur Indonesia. Padahal dulu ia menndapat
julukan “Bapak Pembangunan”. Dulu orang ramai-ramai mengingingkan Gus Dur menjadi
presiden karena dianggap sebagai tokoh “perekat bangsa”. Islam garis keras dan
lunak pun menerimanya. Apalagi yang nasionalis. Akhirnya dihujat juga. Akhirnya
Gus Dur keluar dari Istana hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Dulu
saat Megawati menjadi presiden harapan masyarakat besar sekali. jiwa keibuan tumbuh
dan mampu membaca denyut kebutuhan rakyatnya. Nyatanya juga dihujat
habis-habisan. Ia dianggap hanya bisa menangis dan tidak bisa memberi Solusi. Dulu
SBY dianggap militer pembaharu, modernis, moderat dan demokratis. Antithesis dari
Soeharto meskipun sama-sama dari militer. Lagi-lagi, ia babak belur dihujat
habis-habisan. Presepsi sebagai tokoh yang sangat demokrat, malah dianggap
peragu dan lambat. Dulu, semua terkaget-kaget saat pertama Jokowi muncul. Badan
kurus, baju kotak-kotak dengan harga hanya Rp. 100.000. Itu bandrol harga baju rakyat.
Baju sekelas Bilal bin Rabah. Masyarakat pun ramai-ramai mendukungnya dan mengatakan
begini: “Inilah pemimpin sederhana dan merakyat”. Dulu gambar Jokowi di
gorong-gorong sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa, kini malah dibuat meme
netizen sangat menyakitkan: “Bermula dari gorong-gorong ini, Indonesia menjadi hancur”.
Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi
adalah presiden RI. Pilihan rakyat. Itupun dicaci maki. Jika saya, anda dan
kita yang bukan siapa-siapa rasa-rasanya wajar jika dicaci maki. Meskipun juga
sebenarnya tidak wajar. karena kadang para pencaci maki nya kurang ajar. Tapi
dari para pemimpin bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus siap menerima apa
saja dari apa yang ada pada kita. Saat anak kecil belajar jalan, maka resiko
nya jatuh. Tidak boleh berhenti. Terus belajar dan harus semakin tahu bahwa
jatuh-bangun, jatuh-bangun adalah proses berjalan semakin baik.
Saya dan anda tidak bisa menghentikan
komentar orang lain, dan tidak juga bisa melarang nya. Semua mempunyai
kemerdekaan. Tentu saja kemerdekaan yang bertanggungjawab. Ada nilai-nilai yang
harus dipertahankan untuk interopeksi diri dan dengannya kita semakin menyadari
bahwa ada yang perlu diperbaiki pada diri sendiri. Komentar orang lain menjadi
cermin untuk perbaikan diri secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Ada kalanya kita perlu berhenti melihat orang
lain. Sebab penglihatan kita sering tertutup segala keterbatasan. Wayne Dyer mengatakan:” Tindakan menyalahkan
hanya akan membuang waktu. Sebesar apapun kesalahan yang kamu timpakan kepada
orang lain, dan sebesar apapun kamu
menyalahkannya, hal tersebut tidak akan mengubahmu”. Sebaiknya energi kita
untuk kemaslahatan yang lebih besar. Harold Whitman berkata:”Jangan tenyakan
pada dirimu apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuatmu hidup,
kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias”.
Walhasil,kita punya pilihan sebagaimana
para netizen dan supporter punya pilihan untuk menilai para pemain timnas dan
pelatihnya. Kemerdekaan menilai satu sama lain sebenarnya untuk kebaikan bersama.
Seharusnya juga semua memahami hal tersebut. Sebab ketika kedua belah pihak
tidak sama-sama satu frekuensi pemahamannya, yang terjadi adalah perdebatan
tidak kunjung usai. Energi habis, terkuras dan sama-sama menjadi lemah. Jika ini
terjadi, imun tubuh menjadi lemah. Penyakit masuk. Kekuatan hilang. Jika sudah
hilang maka kehancuran akan terjadi. Bahaya bukan?
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875