Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haruskah Asnawi Dihujat?



Kamis , 17 Oktober 2024



Telah dibaca :  576

Mengharapkan kesempurnaan hanya melahirkan penderitaan dan kekecewaan. Kalimat itu mungkin untuk menggambarkan suara netizen pecinta sepak bola di tanah air. Saat Indonesia bertemu Cina. Kalah 2-1. Memang kondisi kalah sering membawa luka. Semua terlihat serba kurang. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang benar. Salah semua. Apalagi kalau pelatihnya salah menyusun komposisi pemain. Siap-siap kena semprot netizen. Kebaikan langsung hilang. Seperti kata pepatah atau peribahasa : hujan sehari menghapus kemarau setahun.

Terus terang saya tidak melihat pertandingan timnas Indonesia dan Cina. Lihat tapi sebentar. Saat security kampus nonton siaran langsung melalui  android, saya bertama hasilnya. “1-0 pak”, Indonesia kalah” katanya.

Gedung Beng Sabli terlihat ramai. Mereka ramai-ramai melihat siaran langsung. Pakai infocus. Saya lihat sebentar. Sialnya, sekali lihat bola lawan membobolkan gawang timnas. Rasanya lemes. 2-0. Daripada  hati ndongkol, saya kembali lagi ke pos security. Ngopi dan ngunyah kacang tanah. Selesai satu bungkus, masuk kampus dan tidur.

Entah benar entah tidak. Ada youtube beredar. Asnawi dan Shin Tae-Yong dirujak netizen. Persis cerita Guru Gembul dirujak oleh Muhammad Nuruddin, ustadz yang ‘alim filsafat. Asnawi yang dulu disanjung-sanjung tiba-tiba menjadi sumber masalah. Sebagian neziten menilai Asnawi egois dalam beberapa moment permainan dan tidak bisa bermain dalam team. Show man.

Berbeda dengan Arhan Pratama. Ia menggantikan Asnawi di menit 85. Ia  mendapat banjir pujian dari netizen. Lemparan maut di penghujung babak kedua membuahkan hasil. Bola masuk gawang timnas Cina. Skor menjadi 2-1. Netizen pun ramai komentar. Salah satu komentar kurang lebih begini: “Coba Arhan main dari awal?”.

Itulah netizen. Kadang perlu juga para netizen atau para supporter belajar pelajaran akidah dan memahami rukun iman ke-enam; iman kepada qadha dan qadar (saya jadi kepikir juga, bagaimana jika materi akidah akhlak dimasukan juga pada kurikulum persepakbolaan). Mungkin, ini mungkin lhooo…jika netizen paham qadha-qadar komentarnya berubah begini; “Semua sudah diatur oleh Allah”.

Sepak bola memang bukan persoalan Asnawi dan Pratama. Bukan sebatas persoalan STY. Ia adalah kita. Ia wajah kita. Ada saat diposisi dipuji ada saat posisi dicaci maki. Ada saatnya orang disekitar kita mencari-cari kita, Ada saatnya kita dilupakan bahkan terkadang tidak dianggap sama sekali. Kehidupan terkadang terlihat lucu, genit, kadang imut-imut, tapi disisi lain kadang terlihat amit-amit. Itu desain kehidupan sejak dulu.

Dulu orang menyanjung Soeharto. Lalu ramai-ramai mencaci maki. Ia dianggap penghancur Indonesia. Padahal dulu ia menndapat julukan “Bapak Pembangunan”. Dulu orang ramai-ramai mengingingkan Gus Dur menjadi presiden karena dianggap sebagai tokoh “perekat bangsa”. Islam garis keras dan lunak pun menerimanya. Apalagi yang nasionalis. Akhirnya dihujat juga. Akhirnya Gus Dur keluar dari Istana hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Dulu saat Megawati menjadi presiden harapan masyarakat besar sekali. jiwa keibuan tumbuh dan mampu membaca denyut kebutuhan rakyatnya. Nyatanya juga dihujat habis-habisan. Ia dianggap hanya bisa menangis dan tidak bisa memberi Solusi. Dulu SBY dianggap militer pembaharu, modernis, moderat dan demokratis. Antithesis dari Soeharto meskipun sama-sama dari militer.  Lagi-lagi, ia babak belur dihujat habis-habisan. Presepsi sebagai tokoh yang sangat demokrat, malah dianggap peragu dan lambat. Dulu, semua terkaget-kaget saat pertama Jokowi muncul. Badan kurus, baju kotak-kotak dengan harga hanya Rp. 100.000. Itu bandrol harga baju rakyat. Baju sekelas Bilal bin Rabah. Masyarakat pun ramai-ramai mendukungnya dan mengatakan begini: “Inilah pemimpin sederhana dan merakyat”. Dulu gambar Jokowi di gorong-gorong sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa, kini malah dibuat meme netizen sangat menyakitkan: “Bermula dari gorong-gorong ini, Indonesia menjadi hancur”.

Soeharto, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi adalah presiden RI. Pilihan rakyat. Itupun dicaci maki. Jika saya, anda dan kita yang bukan siapa-siapa rasa-rasanya wajar jika dicaci maki. Meskipun juga sebenarnya tidak wajar. karena kadang para pencaci maki nya kurang ajar. Tapi dari para pemimpin bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus siap menerima apa saja dari apa yang ada pada kita. Saat anak kecil belajar jalan, maka resiko nya jatuh. Tidak boleh berhenti. Terus belajar dan harus semakin tahu bahwa jatuh-bangun, jatuh-bangun adalah proses berjalan semakin baik.

Saya dan anda tidak bisa menghentikan komentar orang lain, dan tidak juga bisa melarang nya. Semua mempunyai kemerdekaan. Tentu saja kemerdekaan yang bertanggungjawab. Ada nilai-nilai yang harus dipertahankan untuk interopeksi diri dan dengannya kita semakin menyadari bahwa ada yang perlu diperbaiki pada diri sendiri. Komentar orang lain menjadi cermin untuk perbaikan diri secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Ada kalanya kita perlu berhenti melihat orang lain. Sebab penglihatan kita sering tertutup segala keterbatasan.  Wayne Dyer mengatakan:” Tindakan menyalahkan hanya akan membuang waktu. Sebesar apapun kesalahan yang kamu timpakan kepada orang lain,  dan sebesar apapun kamu menyalahkannya, hal tersebut tidak akan mengubahmu”. Sebaiknya energi kita untuk kemaslahatan yang lebih besar. Harold Whitman berkata:”Jangan tenyakan pada dirimu apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuatmu hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias”.

Walhasil,kita punya pilihan sebagaimana para netizen dan supporter punya pilihan untuk menilai para pemain timnas dan pelatihnya. Kemerdekaan menilai satu sama lain sebenarnya untuk kebaikan bersama. Seharusnya juga semua memahami hal tersebut. Sebab ketika kedua belah pihak tidak sama-sama satu frekuensi pemahamannya, yang terjadi adalah perdebatan tidak kunjung usai. Energi habis, terkuras dan sama-sama menjadi lemah. Jika ini terjadi, imun tubuh menjadi lemah. Penyakit masuk. Kekuatan hilang. Jika sudah hilang maka kehancuran akan terjadi. Bahaya bukan?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875