Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haul Gus Dur; Kedamaian dan Kehampaan Hati



Kamis , 12 Desember 2024



Telah dibaca :  607

Sebentar lagi haul Gus Dur ke-15 akan dilaksanakan di kediamannnya di Pesantren Ciganjur. Informasi dari Media Online akan dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2024. Tema tahun ini yaitu “Menajamkan Nurani Membela Yang Lemah (https://jatim.nu.or.id, 2024). Menurut Jay Akhmad haul tersebut sebagai momentum untuk belajar bersama dalam rangka mengenal arti perbedaan dan kesetaraan kepada semua manusia. KH. Ubaidilah Shodaqoh menjelaskan bahwa mengambil sebagian ajaran Gus Dur walaupun hanya 1 persen setiap individu sangat bermanfaat untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih bermartabat.  (https://www.detik.com/, 2024).

Pandangan kemanusiaan sangat menginspirasi masyarakat di luar Islam. Kebanggaan mereka terhadap nya sungguh luarbiasa. Ketika penulis melakukan suatu kegiatan di beberapa sekolah non-muslim, rata-rata mereka mengucapkan terima kasih kepadaku. Mereka menganggapku bagian dari santri nya.  Berkat Gus Dur, kelompok-kelompok minoritas bisa melaksanakan hak dan kewajiban politik. Mereka juga mempunyai kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Semua kebebasan menurut mereka berkah dari perjuangan Gus Dur. Mereka akan terus mengenang jasa-jasanya. Bahkan Gus Dur di kalangan minoritas jauh lebih terkenal ketimbang organisasi NU. Bagi mereka, Gus Dur adalah penjelmaan ajaran Islam asli berasal dari kitab suci yang agung yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist (Imam Ghozali, 2022).

Pancaran kekuatan ruhaniah Gus Dur sangat terasa sekali. Aura kekuatannya benar-benar membangkitkan semangat berbuat baik tanpa batas,  mengikhlaskan diri berkarya tanpa pamrih, meskipun ia harus menerima cacian dari internal Islam (bisa jadi dari kelompok-kelompok NU yang tidak sejalan dengan pemikirannya), dari luar NU maupun dari kelompok pemegang kekuasaan pada masanya yang tidak ingin terganggu secara politik. Keikhlasan berbuat tentu saja berdasarkan dawuh kanjeng nabi Muhammad saw yang berbunyi: “Perbuatan yang paling mulia dalam islam yaitu memberi makan dan memberi salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak” (Ghozali, 2020).

Nasionalisme Islam yang humanis, toleran dan pluralis merupakan warisan yang paling berharga pada diri Gus Dur (Mulkhan, 2010). Tokoh Pertanian HS Dillon menilainya sebagai pembela sejati pluralis, membela hak-hak minoritas tanpa kenal lelah dan pejuang Bhineka Tunggal Ika sejati. Pemikirannya bukan sebatas wacana dan makalah-makalah yang numpuk di rak-rak buku-buku untuk bahan-bahan seminar oleh kaum intelektual. Ia terjun langsung”ngayomi”, “ngrumat”, dan “pasang badan” saat badai kebencian menghantam mereka. Gus Dur menghadapi cacian miring dialamatkan kepadanya dengan sangat sederhana “Gitu Aja Kok Repot”.

Filosofis hidup “gitu aja kok repot” bukan hanya sebatas kalimat tanpa makna, tapi wujud dari keikhlasan yang tinggi dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ketika era reformasi, para tokoh nasional atau politikus nasional mengajukan Gus Dur untuk menjadi presiden. Salah satunya Amien Rais. Gus Dur tidak sepenuhnya percaya omongannya. Gus Dur pun mengajak Amien Rais keliling ke berbagai Pesantren agar para ulama mengetahui jika Gus Dur akan dicalonkan sebagai presiden (Yulianti, 2010). Fakta berrkata lain. para pengusung justru ramai-ramai melakukan gerakan politik. Hasilnya berupa  proyek impeachment. Gus Dur Lengser Keprabon. Alasan hukum, tapi sebenarnya hanya produk kepentingan politik. Ketika para Islam kelompok garis keras mencaci maki Gus Dur dan dianggap sebagai “wali sesat, buta mata dan hati”, ia diam saja. Ketika ratusan ribu anggota banser ingin membela Gus Dur dan rela mengorbankan jiwa ketika ada gerakan politik, Gus Dur melarangnya. Katanya: “tidak perlu jabatan dibela mati-matian”.

Gus Dur telah meninggalkan kita 15 tahun lalu. Pemikirannya terus mengalir dan menjadi pijakan kehidupan  penuh toleransi dan harmonisasi dalam keberagaman. Warga NU khususnya sangat menghormati nya. Meskipun tidak paham ke-NU-an nya tetap dirinya merasa gusdurian. Orang-orang yang mungkin juga “menggunting dalam lipatan” yang tidak mencerminkan filosofis ajaran Gus Dur pun mengatakan dirinya adalah penganut Gus Dur tulen. Lebih hebat lagi, masyarakat non-muslim telah menempatkan Gus Dur sebagai tokoh besar yang akan selalu dikenang dalam setiap kegiatan dan puji-pujian. Mereka sangat bersyukur Indonesia telah melahirkan Gus Dur sebagai juru selamat terhadap makna kebinekaan, kemanusiaa, toleransi dan perjuangan hak dan kewajiban politik.

Cerita keindahan Gus Dur selalu saya dapat dari teman-teman ku yang non-muslim. Saya sendiri di dalam internal NU belum menemukan ide-ide besar teman-teman NU di daerah. Saya hanya melihat mereka sedang belajar “baris-berbaris” dan ada di antara temannya “salah” langsung divonis dengan bentakan dan cacian. Mungkin pandangan ku salah. Tapi hati kecilku terkadang menangis ketika saat membaca tahlil, sebagian mereka sibuk “rebutan tumpeng”tanpa memikirkan lagi kesedihan saudaranya dan penderitaan tetangganya. Mereka terlalu sibuk sehingga harus mengorbankan saudara-saudaranya sendiri. Nilai-nilai kemanusiaan benar-benar semakin kering-kerontang. Hanya slogan sebatas untuk mendapatkan “berkat”, bukan “berkah”.

Fenomena tersebut jika meminjam istilah KH.Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah suatu fenomena terjadi kloning kyai di tubuh NU. Menurutnya orang disebut produk kyai karena ada tiga: satu kyai produk masyarakat; kedua kyai produk pemerintah; ketiga kyai produk pers. Kyai produk masyarakat karena ada pengakuan dari masyarakat. Karena mempunyai ilmu dan bisa mengobati orang sakit dipanggil kyai. Ia benar-benar ahli agama dan Ikhlas merawat masyarakat. Ada kyai produk pemerintah karena ia menjabat sebagai tokoh agama di pemerintahan. Lalu kemudian hari mendapatkan sebutan kyai. Ketiga ada kyai produk pers. Ia menjabat ormas agama, lalu sering tampil di media, maka dipanggil kyai. Sedangkan ia sendiri tidak tahu apa makna hakikat kyai itu sendiri (Bisri, 2010).

Saya tidak tahu, mana kyai sungguhan mana kyai jadi-jadian. Di era sekarang mulai sangat sulit. Semua mengaku kyai dan tokoh agama. Cukup dengan modal serban dan peci putih, bisa bicara beberapa ayat dan bisa tausiah. Latihan terus-menerus. Ia akan cepat jadi kyai. Ingin lebih cepat lagi, bisa masuk organisasi agama dalam bentk apapun, maka cepat dipanggil kyai atau ulama.

Apakah organisasi NU yang katanya “Sumber Daya Manusia” melimpah terjadi gejala-gejala kyai atau ulama yang dikatakan oleh Gus Mus? Wallahu a’lam. Silahkan nilai sendiri. Saya sulit menilai karena di samping rumah ku ada Pasar Malam. Banyak akrobat. Saya duduk di pinggir jalan sama istri dan anak-anak ku. Minum-minuman yang sehat. Saya dan istri ku minum air kelapa muda. Entah kenapa ia sekarang sudah tidak suka terhadap Es Teh. Padahal dulu favorit sekali.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872