
Sebentar lagi haul Gus Dur ke-15 akan
dilaksanakan di kediamannnya di Pesantren Ciganjur. Informasi dari Media Online
akan dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2024. Tema tahun ini yaitu “Menajamkan
Nurani Membela Yang Lemah”
Pandangan kemanusiaan sangat menginspirasi
masyarakat di luar Islam. Kebanggaan mereka terhadap nya sungguh luarbiasa. Ketika penulis melakukan suatu kegiatan di beberapa sekolah non-muslim, rata-rata mereka
mengucapkan terima kasih kepadaku. Mereka menganggapku bagian dari santri nya. Berkat Gus Dur, kelompok-kelompok minoritas bisa
melaksanakan hak dan kewajiban politik. Mereka juga mempunyai kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Semua kebebasan menurut mereka
berkah dari perjuangan Gus Dur. Mereka akan terus mengenang jasa-jasanya.
Bahkan Gus Dur di kalangan minoritas jauh lebih terkenal ketimbang organisasi NU.
Bagi mereka, Gus Dur adalah penjelmaan ajaran Islam asli berasal
dari kitab suci yang agung yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist
Pancaran kekuatan ruhaniah Gus Dur sangat
terasa sekali. Aura kekuatannya benar-benar membangkitkan semangat berbuat baik tanpa batas, mengikhlaskan diri berkarya tanpa pamrih, meskipun ia harus menerima cacian dari internal Islam (bisa jadi
dari kelompok-kelompok NU yang tidak sejalan dengan pemikirannya), dari luar NU maupun dari
kelompok pemegang kekuasaan pada masanya yang tidak ingin terganggu secara politik.
Keikhlasan berbuat tentu saja berdasarkan dawuh kanjeng nabi Muhammad saw yang
berbunyi: “Perbuatan yang paling mulia dalam islam yaitu memberi makan dan
memberi salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak”
Nasionalisme Islam yang humanis, toleran
dan pluralis merupakan warisan yang paling berharga pada diri Gus Dur
Filosofis hidup “gitu aja kok repot”
bukan hanya sebatas kalimat tanpa makna, tapi wujud dari keikhlasan yang tinggi
dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ketika era reformasi, para tokoh nasional atau politikus nasional mengajukan Gus Dur untuk menjadi presiden. Salah satunya Amien Rais. Gus Dur tidak sepenuhnya percaya
omongannya. Gus Dur pun mengajak Amien Rais keliling ke berbagai Pesantren agar para ulama
mengetahui jika Gus Dur akan dicalonkan sebagai presiden
Gus Dur telah meninggalkan kita 15 tahun lalu. Pemikirannya terus mengalir dan menjadi pijakan kehidupan penuh
toleransi dan harmonisasi dalam keberagaman. Warga NU khususnya sangat
menghormati nya. Meskipun tidak paham ke-NU-an nya tetap dirinya merasa gusdurian.
Orang-orang yang mungkin juga “menggunting dalam lipatan” yang tidak mencerminkan
filosofis ajaran Gus Dur pun mengatakan dirinya adalah penganut Gus Dur tulen. Lebih
hebat lagi, masyarakat non-muslim telah menempatkan Gus Dur sebagai tokoh besar
yang akan selalu dikenang dalam setiap kegiatan dan puji-pujian. Mereka sangat
bersyukur Indonesia telah melahirkan Gus Dur sebagai juru selamat terhadap
makna kebinekaan, kemanusiaa, toleransi dan perjuangan hak dan kewajiban
politik.
Cerita keindahan Gus Dur selalu saya dapat
dari teman-teman ku yang non-muslim. Saya sendiri di dalam internal NU belum
menemukan ide-ide besar teman-teman NU di daerah. Saya hanya melihat mereka
sedang belajar “baris-berbaris” dan ada di antara temannya “salah” langsung
divonis dengan bentakan dan cacian. Mungkin pandangan ku salah. Tapi hati
kecilku terkadang menangis ketika saat membaca tahlil, sebagian mereka sibuk “rebutan
tumpeng”tanpa memikirkan lagi kesedihan saudaranya dan penderitaan tetangganya. Mereka terlalu sibuk sehingga harus
mengorbankan saudara-saudaranya sendiri. Nilai-nilai kemanusiaan benar-benar semakin
kering-kerontang. Hanya slogan sebatas untuk mendapatkan “berkat”, bukan “berkah”.
Fenomena tersebut jika meminjam istilah KH.Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah suatu fenomena terjadi kloning kyai di tubuh
NU. Menurutnya orang disebut produk kyai karena ada tiga: satu kyai produk
masyarakat; kedua kyai produk pemerintah; ketiga kyai produk pers. Kyai produk
masyarakat karena ada pengakuan dari masyarakat. Karena mempunyai ilmu dan bisa
mengobati orang sakit dipanggil kyai. Ia benar-benar ahli agama dan Ikhlas merawat
masyarakat. Ada kyai produk pemerintah karena ia menjabat sebagai tokoh agama
di pemerintahan. Lalu kemudian hari mendapatkan sebutan kyai. Ketiga ada kyai produk
pers. Ia menjabat ormas agama, lalu sering tampil di media, maka dipanggil
kyai. Sedangkan ia sendiri tidak tahu apa makna hakikat kyai itu sendiri
Saya tidak tahu, mana kyai sungguhan mana
kyai jadi-jadian. Di era sekarang mulai sangat sulit. Semua mengaku kyai dan tokoh
agama. Cukup dengan modal serban dan peci putih, bisa bicara beberapa ayat dan bisa
tausiah. Latihan terus-menerus. Ia akan cepat jadi kyai. Ingin lebih cepat lagi,
bisa masuk organisasi agama dalam bentk apapun, maka cepat dipanggil kyai atau
ulama.
Apakah organisasi NU yang katanya “Sumber
Daya Manusia” melimpah terjadi gejala-gejala kyai atau ulama yang dikatakan
oleh Gus Mus? Wallahu a’lam. Silahkan nilai sendiri. Saya sulit menilai
karena di samping rumah ku ada Pasar Malam. Banyak akrobat. Saya duduk di
pinggir jalan sama istri dan anak-anak ku. Minum-minuman yang sehat. Saya dan
istri ku minum air kelapa muda. Entah kenapa ia sekarang sudah tidak suka
terhadap Es Teh. Padahal dulu favorit sekali.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872