
Sambil menyeruput wedang kopi di Pinggir
Pantai, saya menikmati lantunan sholawat dari jutaan jamaah yang berkumpul
di haul guru sekumpul martapura. Informasi
yang terakses, sekitar 4,9 juta muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di
satu majelis: melangitkan doa dan menebarkan aura cinta kepada seluruh alam
semesta.
Saya scroll lagi, ada video haul Gus Dur. Di
berbagai tempat para pecinta Gus Dur memperingati haul nya dengan beragam aktivitas,
mulai dari mujahadah, pengajian, sampai pada kajian-kajian pemikiran-pemikiran nya
dalam berbagai perspektif.
Dua haul besar di penutup tahun 2025
merupakan haul dua ulama yang sangat menjunjung tinggi kesakralan cinta. Seorang
muslim yang baik adalah seorang muslim yang sangat mencintai Allah SWT. Sebagai
bukti ia mencintai Allah, ia juga mencintai makhluk-Nya. Bagaimana ia mengaku
cinta kepada-Nya, tapi disisi lain ia menyakiti makhluk-Nya jelas cinta
tersebut tidak bisa diterima oleh Allah SWT.
Ketika mencintai Allah, maka kita
melaksanakan perintah-perintah-Nya tanpa perlu pertimbangan pemikiran yang terlalu
mendalam. Kita langsung melaksanakan-Nya penuh dengan semangat dan penuh rasa
senang yang sangat tinggi. Kita juga akan
menjaga segala sesuatu yang tidak disukai oleh nya dengan sekuat tenaga.
Sebab cinta selalu menyuguhkan segala sesuatu yang mendatangkan orang yang kita
cintai ridha apa yang kita persembahkan.
Ketika kita mencintai Tuhan, maka kita
ingat makhluk-Nya. Pancaran cinta kita kepada-Nya memantul ke seluruh makhluk
ciptaan-Nya. Ketika kita mengatakan bahwa cinta kita hanya kepada-Nya, maka
kita pun mencintai apa yang telah menjadi milik-Nya. Kita tahu milik Allah
yaitu semesta alam ini.
Saat kita menyebut nama Tuhan sebagai
relfeksi kecintaan kita kepada-Nya, ternyata kita melihat beragam cara
mencintai-Nya. Kita tidak sendiri yang mencintai-Nya. Semua umat manusia
mencintai-Nya dengan cara yang berbeda. Kita tidak punya otoritas untuk
menyalahkan mereka. Biarkan Tuhan yang memberikan penilaian cinta mereka. Sebab
kita pun punya cara mencintai-Nya dengan aturan-aturan yang kita yakini
kebenerannnya. Kita hanya saling menghargai cara mereka mencintai Tuhan nya.
Saat hati rindu menyebut nama Tuhan, kita
pun melihat manusia yang beragam suku, etnis, budaya, keyakinan dan agama juga
penuh dengan rindu kedamaian. Pikiran kita membayangkan dengan jelas kasih
sayang Tuhan tanpa batas dengan mencurahkan rezeki dan kenikmatan. Tuhan menjaga
saat mereka tidur, memberi makan saat mereka kelaparan, dan memberi rasa damai
saat hujan, angin topan dan panas menerpa.
Apakah Tuhan yang mengajarkan cinta dengan
buktinya nyata sudah teraplikasi pada diri kita dalam kehidupan sehari-hari?
Sangat sulit menjawabnya. Kita sering
bicara cinta dan pengorbanan satu paket, tapi nyatanya kita sangat sulit bisa
mencintai sekaligus melayani sepenuh hati saudara-saudara kita yang terkena
musibah, bencana dan sedang menderita saa sekarang ini.
Apakah kita sudah benar-benar mencerminkan
nilai-nilai cinta yang memberi kemanfaatan kepada orang lain atau jangan-jangan
hanya cinta yang sebatas pada nafsu belaka?
Sangat sulit menjawabnya. Kita sering
merasa nikmat saat menyebut nama Tuhan di keheningan malam,tapi kering rasanya
saat melihat realita kehidupan. Kita sering berharap cinta dari Tuhan dalam
bentuk belaian kasih sayang, tapi saat Tuhan menghadirkan wujud cinta dengan
cobaan hidup dan ujian kita sering patah hati.
Apakah kita masih terjebak cinta buta. Perasaan
“seolah-olah” kita yang mencintai Tuhan, lalu kita menuduh orang lain sebagai
pembenci Tuhan hanya gara-gara karena kebodohan kita?.
Bisa jadi demikian. Kita seolah-olah yang
paling berhak mencintai Tuhan, orang lain dianggap salah mencintai-Nya. Lalu
dengan mudah menyalahkan orang yang berbeda dalam mencintai-Nya dengan
ucapan-ucapan penuh arogansi dan sumpah serapah. Cinta yang seharusnya menyatukan
sesama manusia malah hadir sebagai pemecah belah manusia. hal demikian
sebenarnya bukan hakikat cinta, tapi ilusi cinta.
Gus Dur pernah berkata,”inti ajaran
agama adalah kemanusiaan”. Ketika kita sudah mengikrarkan kalimat tauhid,
maka selain Allah semua nya sama. Tidak ada istimewa sama sekali manusia,
kecuali takwanya. Ketika manusia sama, maka semua mempunyai hak dan kewajiban
sama. Ketika ada satu orang menangis, berarti kita merasakan tangisannya. Ketika
satu orang menderita, maka kita merasakan penderitaannya. Itulah sebenarnya
makna tauhid sebagai makna kemanusiaan. Mengenal Tuhan, berarti mengenal
nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin mengenal-Nya dalam
hati semakin tinggi jiwa kemanusiaan kita untuk senantiasa berbuat terbaik
kepada sesama manusia. Itulah makna Tuhan dalam dimensi cinta dalam
kehidupan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871