Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haul Penebar Cinta



Rabu , 31 Desember 2025



Telah dibaca :  298

Sambil menyeruput wedang kopi di Pinggir Pantai, saya menikmati lantunan sholawat dari jutaan jamaah yang berkumpul di  haul guru sekumpul martapura. Informasi yang terakses, sekitar 4,9 juta muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di satu majelis: melangitkan doa dan menebarkan aura cinta kepada seluruh alam semesta.

Saya scroll lagi, ada video haul Gus Dur. Di berbagai tempat para pecinta Gus Dur memperingati haul nya dengan beragam aktivitas, mulai dari mujahadah, pengajian, sampai pada kajian-kajian pemikiran-pemikiran nya dalam berbagai perspektif.

Dua haul besar di penutup tahun 2025 merupakan haul dua ulama yang sangat menjunjung tinggi kesakralan cinta. Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang sangat mencintai Allah SWT. Sebagai bukti ia mencintai Allah, ia juga mencintai makhluk-Nya. Bagaimana ia mengaku cinta kepada-Nya, tapi disisi lain ia menyakiti makhluk-Nya jelas cinta tersebut tidak bisa diterima oleh Allah SWT.

Ketika mencintai Allah, maka kita melaksanakan perintah-perintah-Nya tanpa perlu pertimbangan pemikiran yang terlalu mendalam. Kita langsung melaksanakan-Nya penuh dengan semangat dan penuh rasa senang yang sangat tinggi. Kita juga akan  menjaga segala sesuatu yang tidak disukai oleh nya dengan sekuat tenaga. Sebab cinta selalu menyuguhkan segala sesuatu yang mendatangkan orang yang kita cintai ridha apa yang kita persembahkan.

Ketika kita mencintai Tuhan, maka kita ingat makhluk-Nya. Pancaran cinta kita kepada-Nya memantul ke seluruh makhluk ciptaan-Nya. Ketika kita mengatakan bahwa cinta kita hanya kepada-Nya, maka kita pun mencintai apa yang telah menjadi milik-Nya. Kita tahu milik Allah yaitu semesta alam ini.

Saat kita menyebut nama Tuhan sebagai relfeksi kecintaan kita kepada-Nya, ternyata kita melihat beragam cara mencintai-Nya. Kita tidak sendiri yang mencintai-Nya. Semua umat manusia mencintai-Nya dengan cara yang berbeda. Kita tidak punya otoritas untuk menyalahkan mereka. Biarkan Tuhan yang memberikan penilaian cinta mereka. Sebab kita pun punya cara mencintai-Nya dengan aturan-aturan yang kita yakini kebenerannnya. Kita hanya saling menghargai cara mereka mencintai Tuhan nya.

Saat hati rindu menyebut nama Tuhan, kita pun melihat manusia yang beragam suku, etnis, budaya, keyakinan dan agama juga penuh dengan rindu kedamaian. Pikiran kita membayangkan dengan jelas kasih sayang Tuhan tanpa batas dengan mencurahkan rezeki dan kenikmatan. Tuhan menjaga saat mereka tidur, memberi makan saat mereka kelaparan, dan memberi rasa damai saat hujan, angin topan dan panas menerpa.

Apakah Tuhan yang mengajarkan cinta dengan buktinya nyata sudah teraplikasi pada diri kita dalam kehidupan sehari-hari?

Sangat sulit menjawabnya. Kita sering bicara cinta dan pengorbanan satu paket, tapi nyatanya kita sangat sulit bisa mencintai sekaligus melayani sepenuh hati saudara-saudara kita yang terkena musibah, bencana dan sedang menderita saa sekarang ini.

Apakah kita sudah benar-benar mencerminkan nilai-nilai cinta yang memberi kemanfaatan kepada orang lain atau jangan-jangan hanya cinta yang sebatas pada nafsu belaka?

Sangat sulit menjawabnya. Kita sering merasa nikmat saat menyebut nama Tuhan di keheningan malam,tapi kering rasanya saat melihat realita kehidupan. Kita sering berharap cinta dari Tuhan dalam bentuk belaian kasih sayang, tapi saat Tuhan menghadirkan wujud cinta dengan cobaan hidup dan ujian kita sering patah hati.

Apakah kita masih terjebak cinta buta. Perasaan “seolah-olah” kita yang mencintai Tuhan, lalu kita menuduh orang lain sebagai pembenci Tuhan hanya gara-gara karena kebodohan kita?.

Bisa jadi demikian. Kita seolah-olah yang paling berhak mencintai Tuhan, orang lain dianggap salah mencintai-Nya. Lalu dengan mudah menyalahkan orang yang berbeda dalam mencintai-Nya dengan ucapan-ucapan penuh arogansi dan sumpah serapah. Cinta yang seharusnya menyatukan sesama manusia malah hadir sebagai pemecah belah manusia. hal demikian sebenarnya bukan hakikat cinta, tapi ilusi cinta.

Gus Dur pernah berkata,”inti ajaran agama adalah kemanusiaan”. Ketika kita sudah mengikrarkan kalimat tauhid, maka selain Allah semua nya sama. Tidak ada istimewa sama sekali manusia, kecuali takwanya. Ketika manusia sama, maka semua mempunyai hak dan kewajiban sama. Ketika ada satu orang menangis, berarti kita merasakan tangisannya. Ketika satu orang menderita, maka kita merasakan penderitaannya. Itulah sebenarnya makna tauhid sebagai makna kemanusiaan. Mengenal Tuhan, berarti mengenal nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin mengenal-Nya dalam hati semakin tinggi jiwa kemanusiaan kita untuk senantiasa berbuat terbaik kepada sesama  manusia.  Itulah makna Tuhan dalam dimensi cinta dalam kehidupan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871