Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hening dalam Keramaian



Sabtu , 02 November 2024



Telah dibaca :  522

Kini antara kota dan desa sudah mulai memperkecil perbedaanya. Tidak seperti dulu. Tahun 1987-an saat saya masih Madrasah Ibtidaiyah (MI), ada anak kota sekolah di desa. Karena orang tuanya pindah tugas. Penampilannya lebih percaya diri; Kulitnya lebih bersih, putih dan mulus.  Adiknya mempunyai kulit berwana sawo matang, tetap terlihat bersih.

Berbeda kami dari kampung; rambut awut-awutan, kulit bersisik, klewus. Jika ada lidi dan  menulis angka-angka di lengan tangan atau kempol kaki, sangat jelas berwarna putih seperti warna kapur. Perbedaan kami dan anak kota yang paling mencolok lagi pada bau badannya. Anak kota bau parfum, anak-anak kampung bau “belet” (tanah sawah atau tanah sungai). Bau khas. Sebab biasanya, anak-anak seumuranku saat itu, pulang sekolah biasanya langsung pergi mencari ikan di sawah atau di Sungai-sungai.

Kini susah membedakan. Anak-anak desa sudah bisa bersaing dengan anak-anak kota. Gaya hidup, model cukuran rambut, kulit, gaya selfi, dan gaya bicaranya mulai sulit mana yang asli kota, mana yang asli desa. Kadang ada anak kota yang bajunya seperti anak desa, sebaliknya anak-anak desa bergaya seperti anak-anak kota.

Anda bisa melihat artis youtuber yang terkenal bukan hanya milik orang kota seperti Deddi Corbuzier, Rafi Ahmad, Baim Wong, Atta Halilintar, Paula dan lain-lain. Beberapa youtuber dari pelosok-pelosok kampung pun mampu menyodok artis-artis ibu kota seperti Mak Beti, Mak Karbol, Warintil Official adalah contoh kreator dari kampung yang mempunyai jutaan follower. Bahkan saya melihat semakin hari kreator tik-tok semakin “mblarah” seperti jamur di musim penghujan. Benar-benar sangat banyak sekali. Sebanyak tingkah laku mereka; ada yang lucu, sedih, sopan, vulgar, sampai sangat susah membedakan mana orang bahagia dengan orang terkena tekanan jiwa.

Dulu kita melihat tanda-tanda orang bahagia. Ada definisi sendiri. Ada norma-norma sendiri sehingga kita tahu bahwa orang itu sedang bahagia. Dulu kita juga mengerti mana orang tertawa, joget-joget karena tekanan jiwa atau gangguan jiwa. Kini keduanya susah dibedakan. bahkan sebagian dokter jiwa pun kadang bergaya seperti pasien nya. Dunia baru saat sekarang ini telah melahirkan pertumbuhan manusia berjiwa mengikut pola "jaringan internet"; pagi lancar Wifi nya, siang lelet, sore lancar, langsung mati, besok lelet lagi. Jiwa manusia seperti  "bursa saham", jiwanya fluktuatif sangat cepat. Sehingga manusia mendapatkan penderitaan dalam kesenangan dan kesepian dalam keramaian dengan rentang waktu yang sangat cepat.

Haruskan manusia hanyut dalam kondisi seperti itu? Tentu saja tidak. Anda bisa melihat ikan di laut asin tetap tawar. Ia tetap hidup dan enjoy dengan kondisi di sekitarnya. Ia bisa bergaul dan mendapatkan kebahagiaan. Ia tetap mempunyai jatidiri dan tidak tergerus oleh keadaan air yang sangat asin. Hanya ikan-ikan yang tidak bertahan, ia akan mati dan rasanya menjadi asin.

Media sosial telah ikut menciptakan mental illness tak terkendali. Human eror akibat reaksi kimiawi dari media-media tersebut mengena kepada komponen terpenting dari manusia yaitu akal pikiran. Manusia laksana terkena candu. Ia bisa berjam-jam berada di depan internet. Saat berada di dunia nyata dalam alam pergaulan semakin malas. ia lebih asyik berkomunikasi dengan dunia maya daripada dengan dunia nyata.  

Perkumpulan-perkumpulan tidak lagi terbentuk karena adanya ikatan geografis. Ada ikatan sosial lintas geografis. Kadang lebih kuat. Sehingga makna masyarakat yang sudah mapan mulai bergeser dan ruh nya pun sedikit-demi sedikit renggang. Manusia semakin kesepian dalam keramaian. Muncul sensitifitas sangat tinggi, perasaan semakin tajam. Kepada orang lain lebih peduli, kepada orang di sekitarnya semakin antipati. Sensitifitas dan perasaan yang terbentuk bukan untuk milik orang-orang yang berada di sekitarnya. Ironisnya, justru yang dekat sering mendapat getahnya.

Ada orang emosi karena respon persoalan di luar dirinya. Kita kadang tidak kuat menerima persoalan yang datang dari orang lain. Emosi, marah, senang, dan segala kejadian. Lalu kita terkadang menganggap bahwa “persoalan-persoalan dari luar dianggap sebagai solusi”, lalu kita mudah menyalahkan milik kita. Kadang juga yang datang dari luar dianggap polusi, lalu kita beranggapan kita lebih baik. Lalu kita mencoba menyakinkan kepada orang lain untuk mengikuti pikiran dan cara kita. Akibatnya, kadang kita mengalami kejenuhan berfikir seolah-oleh banyak spam di dalamnya. Saat itu kita membutuhkan pikiran-pikiran yang tenang dan fress agar ia kembali normal.

Tentu saja saat terjadi demikian, anda bisa menginstal pikiran dan jiwa kita dengan desain teknologi yang super canggih yaitu kebenaran yang datang dari hati yang paling dalam. Anda harus belajar melatih diri dengan baik. Anda harus mulai hidup baru dengan format “hening dalam keramaian”.

Para leluhur dan orang-orang yang jiwa hatinya telah dikaruniai petunjuk yang agung, telah mengajarkan nya melalui seni. Salah satunya melalui seni gamelan. Saat kita duduk dan mendengar suara yang dihasilkan, akan terdengar sebagai berikut: “nang, ning, neng, gung”.

Bunyi gamelan adalah simbol jalan kehidupan manusia yang sempurna. Bunyi “nang” merupakan makna dari kata “tenang”. Dunia saat ini seolah-olah sangat absurd, konyol dan membuat diskomunikasi tumbuh dengan sangat cepat dan liar. Anda yang mungkin tidak tahu apa-apa bisa menjadi korban dengan tuduhan-tuduhan yang tidak diduga sama sekali. hoax merayap seperti gatal dalam tubuh anda. Saat ini terjadi, jalan yang perlu dilakukan menurut para orang-orang ‘arif yaitu jangan terlalu responsif menerima kabar. Pikiran dan jiwa tetap seperti tidak ada kejadian apapun. Pola yang demikian agar pikiran dan jiwa bisa bekerja dengan wajar baik dan benar serta tetap produktifitas positif.

Setelah ada ketenangan, maka para pengajar ahli Kebajikan mengajarkan langkah selanjutnya melakukan “ning” yaitu “hening” atau “mengheningkan cipta”. Pola mengheningkan cipta adalah memadukan kekuatan pikiran dan jiwa. Kedua bisa menyatu saat pikiran normal dan jiwa tenang. Saat kedua bersih dan suci, lalu menyatu pada diri anda, maka akan memancarkan cahaya ketenangan diri yang luarbiasa. Anda akan semakin mengenal diri dan semakin mengenal sang pencipta yaitu allah swt. Ketika anda sudah sampai pada level ini, anda sudah mengenal makna kalimat lailahaillallah.

Apa implikasi dari mengehingkan cipta dalam kehidupan? sangat dahsyat yaitu anda mendapatkan bunyi “neng” atau “meneng” atau ketenangan hidup. Lho kok cuma ketenangan hidup? Kenapa tidak yang lain?.

Anda harus menyadari bahwa konsep hidup  sejati adalah ketenangan atau tatmainal qulub. Ketenangan di atas segala-galanya. Saat anda sudah menjadi pejabat, saat sudah menjadi hartawan, saat sudah menjadi orang terhormat sebenarnya anda sedang berada di tengah lautan yang penuh dengan ombak. Semua yang anda punyai hanya perspektif kebahagiaan kosong dari orang lain. Mereka melihat anda bahagia, tapi kadang anda malah tersiksa dengan jabatan atau harta yang anda punya. Jika demikian keadaannya, apa artinya hidup anda jika tidak mendapatkan ketenangan.

Anda boleh menjadi apa saja? Tuhan telah memberi kebebasan untuk melakukan kreasi sehingga mendapat derajat dunia yang indah dan membahagiakan. Tapi, Tuhan tidak meletakan ketenangan begitu saja pada asesoris tersebut. Kebahagiaan dan ketenangan terlihat sama, tapi berbeda. Jika anda tenang berarti bahagia. Saat anda bahagia, belum tentu tenang. Anda minum arak, mabuk bisa bahagia, tapi hati tidak bisa tenang. Anda bisa mencium kekasih gelap anda dengan sepuas-puasnya, tapi anda tidak bisa tenang. Anda khawatir ketika pasangan anda mengetahui melalui dirinya, temannya atau membaca massage melalui WA. Kebahagiaan masih pada level nafsu secara umum, ketenangan sudah masuk pada nafsu mutmainah yang letaknya di dalam hati.

Setelah anda mendapatkan ketenangan jiwa maka anda mendapatkan “gung” yaitu keagungan. Makna keagungan bukan sebatas gemah ripah loh jinawi toto Tentrem kerto raharjo : wilayah yang subur masyarakat makmur, tertib, tentram, sejahtera, dan berkecukupan segala sesuatunya. Sebagai seorang muslim,  ada tambahan yang tidak boleh ditinggalkan yaitu keagungan dalam pandangan Allah swt. Sebab keagungan sejati hakikatnya saat manusia sudah mengenal diri dan kemudian mengenal allah dengan baik. Dalam Bahasa Al-Qur’an puncak keagungan adalah takwa. Allah berfirman “Sesungguhnya manusia yang paling mulia disisi allah adalah orang-orang yang bertakwa”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875