
Kini antara kota dan desa sudah mulai memperkecil perbedaanya. Tidak seperti dulu. Tahun 1987-an saat saya masih Madrasah Ibtidaiyah (MI), ada anak kota sekolah di desa. Karena orang tuanya pindah tugas. Penampilannya lebih percaya diri; Kulitnya lebih bersih, putih dan mulus. Adiknya mempunyai kulit berwana sawo matang, tetap terlihat bersih.
Berbeda kami dari kampung; rambut awut-awutan, kulit bersisik, klewus. Jika
ada lidi dan menulis angka-angka di lengan tangan atau kempol kaki, sangat
jelas berwarna putih seperti warna kapur. Perbedaan kami dan anak kota yang
paling mencolok lagi pada bau badannya. Anak kota bau parfum, anak-anak kampung
bau “belet” (tanah sawah atau tanah sungai). Bau khas. Sebab biasanya, anak-anak
seumuranku saat itu, pulang sekolah biasanya langsung pergi mencari ikan di
sawah atau di Sungai-sungai.
Kini susah membedakan. Anak-anak desa sudah
bisa bersaing dengan anak-anak kota. Gaya hidup, model cukuran rambut, kulit, gaya selfi, dan gaya bicaranya mulai sulit mana yang asli kota,
mana yang asli desa. Kadang ada anak kota yang bajunya seperti anak desa, sebaliknya
anak-anak desa bergaya seperti anak-anak kota.
Anda bisa melihat artis youtuber yang
terkenal bukan hanya milik orang kota seperti Deddi Corbuzier, Rafi Ahmad, Baim Wong, Atta Halilintar, Paula dan lain-lain. Beberapa youtuber dari pelosok-pelosok kampung pun mampu menyodok
artis-artis ibu kota seperti Mak Beti, Mak Karbol, Warintil Official adalah
contoh kreator dari kampung yang mempunyai jutaan follower. Bahkan saya melihat
semakin hari kreator tik-tok semakin “mblarah” seperti jamur di musim
penghujan. Benar-benar sangat banyak sekali. Sebanyak tingkah laku mereka; ada
yang lucu, sedih, sopan, vulgar, sampai sangat susah membedakan mana orang
bahagia dengan orang terkena tekanan jiwa.
Dulu kita melihat tanda-tanda orang bahagia. Ada definisi sendiri. Ada norma-norma sendiri sehingga kita tahu bahwa orang itu sedang bahagia. Dulu kita juga mengerti mana orang tertawa, joget-joget karena tekanan jiwa atau gangguan jiwa. Kini keduanya susah dibedakan. bahkan sebagian dokter jiwa pun kadang bergaya seperti pasien nya. Dunia baru saat sekarang ini telah melahirkan pertumbuhan manusia berjiwa mengikut pola "jaringan internet"; pagi lancar Wifi nya, siang lelet, sore lancar, langsung mati, besok lelet lagi. Jiwa manusia seperti "bursa saham", jiwanya fluktuatif sangat cepat. Sehingga manusia mendapatkan penderitaan dalam kesenangan dan kesepian dalam keramaian dengan rentang waktu yang sangat cepat.
Haruskan manusia hanyut dalam kondisi
seperti itu? Tentu saja tidak. Anda bisa melihat ikan di laut asin tetap
tawar. Ia tetap hidup dan enjoy dengan kondisi di sekitarnya. Ia bisa bergaul
dan mendapatkan kebahagiaan. Ia tetap mempunyai jatidiri dan tidak tergerus
oleh keadaan air yang sangat asin. Hanya ikan-ikan yang tidak bertahan, ia akan
mati dan rasanya menjadi asin.
Media sosial telah ikut menciptakan mental illness tak terkendali. Human eror akibat reaksi kimiawi dari media-media tersebut mengena kepada komponen terpenting dari manusia yaitu akal pikiran. Manusia laksana terkena candu. Ia bisa berjam-jam berada di depan internet. Saat berada di dunia nyata dalam alam pergaulan semakin malas. ia lebih asyik berkomunikasi dengan dunia maya daripada dengan dunia nyata.
Perkumpulan-perkumpulan tidak lagi
terbentuk karena adanya ikatan geografis. Ada ikatan sosial lintas geografis.
Kadang lebih kuat. Sehingga makna masyarakat yang sudah mapan mulai bergeser
dan ruh nya pun sedikit-demi sedikit renggang. Manusia semakin kesepian dalam
keramaian. Muncul sensitifitas sangat tinggi, perasaan semakin tajam. Kepada
orang lain lebih peduli, kepada orang di sekitarnya semakin antipati.
Sensitifitas dan perasaan yang terbentuk bukan untuk milik orang-orang yang
berada di sekitarnya. Ironisnya, justru yang dekat sering mendapat getahnya.
Ada orang emosi karena respon persoalan di
luar dirinya. Kita kadang tidak kuat menerima persoalan yang datang dari orang
lain. Emosi, marah, senang, dan segala kejadian. Lalu kita terkadang menganggap
bahwa “persoalan-persoalan dari luar dianggap sebagai solusi”, lalu kita mudah
menyalahkan milik kita. Kadang juga yang datang dari luar dianggap polusi, lalu
kita beranggapan kita lebih baik. Lalu kita mencoba menyakinkan kepada orang lain
untuk mengikuti pikiran dan cara kita. Akibatnya, kadang kita mengalami
kejenuhan berfikir seolah-oleh banyak spam di dalamnya. Saat itu kita
membutuhkan pikiran-pikiran yang tenang dan fress agar ia kembali normal.
Tentu saja saat terjadi demikian, anda bisa
menginstal pikiran dan jiwa kita dengan desain teknologi yang super canggih
yaitu kebenaran yang datang dari hati yang paling dalam. Anda harus belajar
melatih diri dengan baik. Anda harus mulai hidup baru dengan format “hening
dalam keramaian”.
Para leluhur dan orang-orang yang jiwa
hatinya telah dikaruniai petunjuk yang agung, telah mengajarkan nya melalui
seni. Salah satunya melalui seni gamelan. Saat kita duduk dan mendengar suara
yang dihasilkan, akan terdengar sebagai berikut: “nang, ning, neng, gung”.
Bunyi gamelan adalah simbol jalan kehidupan
manusia yang sempurna. Bunyi “nang” merupakan makna dari kata “tenang”.
Dunia saat ini seolah-olah sangat absurd, konyol dan membuat diskomunikasi
tumbuh dengan sangat cepat dan liar. Anda yang mungkin tidak tahu apa-apa bisa
menjadi korban dengan tuduhan-tuduhan yang tidak diduga sama sekali. hoax
merayap seperti gatal dalam tubuh anda. Saat ini terjadi, jalan yang perlu
dilakukan menurut para orang-orang ‘arif yaitu jangan terlalu responsif
menerima kabar. Pikiran dan jiwa tetap seperti tidak ada kejadian apapun. Pola
yang demikian agar pikiran dan jiwa bisa bekerja dengan wajar baik dan benar
serta tetap produktifitas positif.
Setelah ada ketenangan, maka para pengajar
ahli Kebajikan mengajarkan langkah selanjutnya melakukan “ning” yaitu “hening”
atau “mengheningkan cipta”. Pola mengheningkan cipta adalah memadukan kekuatan
pikiran dan jiwa. Kedua bisa menyatu saat pikiran normal dan jiwa tenang. Saat
kedua bersih dan suci, lalu menyatu pada diri anda, maka akan memancarkan
cahaya ketenangan diri yang luarbiasa. Anda akan semakin mengenal diri dan
semakin mengenal sang pencipta yaitu allah swt. Ketika anda sudah sampai pada
level ini, anda sudah mengenal makna kalimat lailahaillallah.
Apa implikasi dari mengehingkan cipta dalam
kehidupan? sangat dahsyat yaitu anda mendapatkan bunyi “neng” atau “meneng”
atau ketenangan hidup. Lho kok cuma ketenangan hidup? Kenapa tidak yang lain?.
Anda harus menyadari bahwa konsep
hidup sejati adalah ketenangan atau tatmainal
qulub. Ketenangan di atas segala-galanya. Saat anda sudah menjadi pejabat,
saat sudah menjadi hartawan, saat sudah menjadi orang terhormat sebenarnya anda
sedang berada di tengah lautan yang penuh dengan ombak. Semua yang anda punyai
hanya perspektif kebahagiaan kosong dari orang lain. Mereka melihat anda bahagia,
tapi kadang anda malah tersiksa dengan jabatan atau harta yang anda punya. Jika
demikian keadaannya, apa artinya hidup anda jika tidak mendapatkan ketenangan.
Anda boleh menjadi apa saja? Tuhan telah
memberi kebebasan untuk melakukan kreasi sehingga mendapat derajat dunia yang
indah dan membahagiakan. Tapi, Tuhan tidak meletakan ketenangan begitu saja
pada asesoris tersebut. Kebahagiaan dan ketenangan terlihat sama, tapi berbeda.
Jika anda tenang berarti bahagia. Saat anda bahagia, belum tentu tenang. Anda
minum arak, mabuk bisa bahagia, tapi hati tidak bisa tenang. Anda bisa mencium
kekasih gelap anda dengan sepuas-puasnya, tapi anda tidak bisa tenang. Anda
khawatir ketika pasangan anda mengetahui melalui dirinya, temannya atau membaca
massage melalui WA. Kebahagiaan masih pada level nafsu secara umum, ketenangan
sudah masuk pada nafsu mutmainah yang letaknya di dalam hati.
Setelah anda mendapatkan ketenangan jiwa
maka anda mendapatkan “gung” yaitu keagungan. Makna keagungan bukan
sebatas gemah ripah loh jinawi toto Tentrem kerto raharjo : wilayah yang
subur masyarakat makmur, tertib, tentram, sejahtera, dan berkecukupan segala
sesuatunya. Sebagai seorang muslim, ada
tambahan yang tidak boleh ditinggalkan yaitu keagungan dalam pandangan Allah
swt. Sebab keagungan sejati hakikatnya saat manusia sudah mengenal diri dan
kemudian mengenal allah dengan baik. Dalam Bahasa Al-Qur’an puncak keagungan
adalah takwa. Allah berfirman “Sesungguhnya manusia yang paling mulia disisi
allah adalah orang-orang yang bertakwa”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875