
Beberapa waktu lalu, penulis telah menulis
identitas orang bertakwa yang ketiga yaitu “wamimma razaqnahum yunfiqun”,
memberikan sebagain rizeki yang telah dianugerahkan kepada manusia”. Kini
penulis akan membahas identitas orang bertakwa selanjutnya yaitu q.s.
al-baqarah ayat-4 sebagai berikut:
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ
قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
Artinya:
Dan mereka yang beriman pada al-qur’an yang diturunkan kepada mu (nabi
Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan
mereka yakin akan adanya akherat
Seorang mutaqin menyakini perjalanan hidup merupakan proses dari
menjawab pertanyaan: “darimana”, “bagaimana” dan “akan kemana”.
Pertanyaan darimana berasal merupakan pertanyaan kesadaran diri bahwa manusia
berasal dari Allah dengan metode proses pembentukan yang beragam sebagaimana
yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Ketika manusia sudah diciptakan, maka
muncul pertanyaan kedua yaitu bagaimana mengisi kehidupan di dunia. Sebab
kehidupan di dunia untuk menjawab pertanyaan selanjutnya”akan kemana hidup
ini?”. Pertanyaan yang dalam Al-Qur’an tidak membutuhkan jawaban. Sebab
orang-orang yang beriman sudah pasti paham bahwa tujuan hidup yaitu
mempersembahkan karya terbaik kepada Allah SWT.
Hidup saat sekarang ini merupakan
pengulangan sejarah masa lalu dalam bentuk-bentuk yang kadang sedikit berbeda.
tapi subtansinya sama. “ojo kagetan”, “ojo gumunan”. Manusia yang
mempunyai garis kehidupan sama yaitu “man yusfidu fiha’ dan “yasfiku
dima”, membuat kerusakan di bumi dan mengalirkan darah. Itu nash Al-Qur’an sebagai
tema besar sejarah manusia sepanjang sejarah. Semua ini terjadi berangkat dari
rencana Tuhan menjadikan manusia sebagai khalifah.
Anda lihat sekarang. Semua manusia ingin
menjadi khalifah. Suami sebagai khalifah. Istri meskipun sebagai warga negara
di unit terkecil yang namanya keluarga, tapi ia sebagai king maker.
Saking hebatnya seorang istri, kadang suami hanya sebatas sebagai simbol.
Kehebatan seorang suami ada pada istri. Seorang istri memegang remote
kontrol. Ia tidak kelihatan. Tapi pengaruhnya sangat terasa. Suatu
keluarga, masyarakat dan negara bisa hancur hanya gara-gara seorang Istri ngambek.
Begitu juga sebaliknya, Negara atau Kerajaan mencapai puncak kejayaan karena
pengaruh dari seorang istri. Tentang kisah-kisah tersebut, sejarah telah
mencatat sangat banyak dalam buku-buku politik dalam beragam versi.
Nabi Muhammad terlepas dari seorang Nabi
dan Rasulullah. Penulis melihat dari sisi “basyarun mislukum”, tidak
bisa dipungkiri peran khatijah yang sangat luarbiasa saat meniti karir sebagai
pemimpin manusia, masyarakat, bangsa dan negara yang kemudian melahirkan suatu
organisasi negara yang disebut Madinah Munawarah. Peletak dasar nilai-nilai
keagungan tidak lepas dari pondasi rintisan dari seorang khatijah. Sehingga
saat ia meninggal, nabi selalu mengenang filosofis kehidupan yang telah
diberikan kepadanya.
Para ahli tafsir seperti Prof. Wahbah
Az-Zuhaili memberi penjelaskan pada Q.S. Al-Baqarah ayat-4 sebagai berikut: seorang
mutaqin yaitu orang-orang yang mempercayai semua apa yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan para nabi sebelumya. Mereka juga percaya proses kehidupan
selanjutnya setelah kehidupan di dunia, yaitu kehidupan di alam barzah, alam
akherat, surga dan neraka
Kedua pendapat mufasirin tersebut
memperkuat tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai firman Allah yang mempunyai
tujuan menjaga kontitusi tersebut agar manusia mempunyai kesadaran terhadap
kehidupan dari sisi religiusitas. Betapapun kehidupan itu beragam dan sangat
komplek, manusia harus selalu ingat bahwa ada seri kehidupan pasca kehidupan di
dunia yang lebih nyata, yaitu alam barzah dan akherat. Penguatan terhadap hal
tersebut sangat penting. mengingat manusia sering tertipu dan mudah lupa
terhadap kehidupan akherat ketika sudah terperosok pada kepentingan-kepentingan
bersifat fana. Sehingga sering berfikir manusia menjadi terbalik-balik. Yang fana
terlihat kekal abadi, dan yang kekal abadi seolah-olah fana. Wajar, jika
kepentingan-kepentingan duniawi di kemudian hari melahirkan persaingan,
konflik, dendam, saling bersekutu dan kemudian hari saling berpecah kongsi untuk
mendapatkan keuntungan-keuntungan yang bersifat fana tersebut.
Karena tabiat manusia yang demikian, maka
allah memberikan penghargaan kepada orang-orang yang konsisten berpegang teguh
terhadap ajaran-ajaran nabi Muhammad tentang balasan-balasan kehidupan setelah
kehidupan di dunia dengan penjelasan Q.S. Al-Baqarah ayat-5 sebagai berikut:
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya:
Merekalah yang mendapat petunjuk dari
Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Keberuntungan seperti apa? Al-Qurtubi dan
Ibnu Abi Ishak mengatakan demikian: “ Orang yang beruntung yaitu orang yang
mendapatkan surga yang kekal abadi. Orang beruntung adalah orang yang
mendapatkan apa yang mereka cari dan selamat dari kejahatan selama-lamanya. Selamat
dari kejahatan selama nya yaitu selamat dari api neraka
Dari paparan di atas penulis memahami bahwa
manusia yang mendapatkan titel mutaqin mempunyai tugas untuk memperbaiki sistem
kehidupan sesuai dengan hukum-hukum sosial dan mengikuti kehidupan sesuai
dengan pola kehidupan yang ada di masyarakat. Pada sisi lain, orang mutaqin
juga tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Al-Qur’an agar ia bisa mengawal
perilaku diri sendiri dan masyarakat terhadap pola kehidupan yang bertentangan
dengan nilai-nilai syariat Islam. Tujuannya yaitu agar status muflihun
(orang-orang beruntung) benar-benar bisa diwujudkan dalam kehidupan sosial dan
kehidupan selanjutnya yaitu di hadapan Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Mencerahkan dan memotivasi bagi yang mencermati dan menghayati..Barakallaah Yi
Admin
amin ya rabbal 'alaminn
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872