Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hidup dan Pengulangan Sejarah



Jumat , 21 Maret 2025



Telah dibaca :  586

Beberapa waktu lalu, penulis telah menulis identitas orang bertakwa yang ketiga yaitu “wamimma razaqnahum yunfiqun”, memberikan sebagain rizeki yang telah dianugerahkan kepada manusia”. Kini penulis akan membahas identitas orang bertakwa selanjutnya yaitu q.s. al-baqarah ayat-4 sebagai berikut:

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Artinya:

Dan mereka yang beriman pada al-qur’an yang diturunkan kepada mu (nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akherat

Seorang mutaqin menyakini perjalanan hidup merupakan proses dari menjawab pertanyaan: “darimana”, “bagaimana” dan “akan kemana”. Pertanyaan darimana berasal merupakan pertanyaan kesadaran diri bahwa manusia berasal dari Allah dengan metode proses pembentukan yang beragam sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Ketika manusia sudah diciptakan, maka muncul pertanyaan kedua yaitu bagaimana mengisi kehidupan di dunia. Sebab kehidupan di dunia untuk menjawab pertanyaan selanjutnya”akan kemana hidup ini?”. Pertanyaan yang dalam Al-Qur’an tidak membutuhkan jawaban. Sebab orang-orang yang beriman sudah pasti paham bahwa tujuan hidup yaitu mempersembahkan karya terbaik kepada Allah SWT.

Hidup saat sekarang ini merupakan pengulangan sejarah masa lalu dalam bentuk-bentuk yang kadang sedikit berbeda. tapi subtansinya sama. “ojo kagetan”, “ojo gumunan”. Manusia yang mempunyai garis kehidupan sama yaitu “man yusfidu fiha’ dan “yasfiku dima”, membuat kerusakan di bumi dan mengalirkan darah. Itu nash Al-Qur’an sebagai tema besar sejarah manusia sepanjang sejarah. Semua ini terjadi berangkat dari rencana Tuhan menjadikan manusia sebagai khalifah.

Anda lihat sekarang. Semua manusia ingin menjadi khalifah. Suami sebagai khalifah. Istri meskipun sebagai warga negara di unit terkecil yang namanya keluarga, tapi ia sebagai king maker. Saking hebatnya seorang istri, kadang suami hanya sebatas sebagai simbol. Kehebatan seorang suami ada pada istri. Seorang istri memegang remote kontrol. Ia tidak kelihatan. Tapi pengaruhnya sangat terasa. Suatu keluarga, masyarakat dan negara bisa hancur hanya gara-gara seorang Istri ngambek. Begitu juga sebaliknya, Negara atau Kerajaan mencapai puncak kejayaan karena pengaruh dari seorang istri. Tentang kisah-kisah tersebut, sejarah telah mencatat sangat banyak dalam buku-buku politik dalam beragam versi.

Nabi Muhammad terlepas dari seorang Nabi dan Rasulullah. Penulis melihat dari sisi “basyarun mislukum”, tidak bisa dipungkiri peran khatijah yang sangat luarbiasa saat meniti karir sebagai pemimpin manusia, masyarakat, bangsa dan negara yang kemudian melahirkan suatu organisasi negara yang disebut Madinah Munawarah. Peletak dasar nilai-nilai keagungan tidak lepas dari pondasi rintisan dari seorang khatijah. Sehingga saat ia meninggal, nabi selalu mengenang filosofis kehidupan yang telah diberikan kepadanya.

Para ahli tafsir seperti Prof. Wahbah Az-Zuhaili memberi penjelaskan pada Q.S. Al-Baqarah ayat-4 sebagai berikut: seorang mutaqin yaitu orang-orang yang mempercayai semua apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumya. Mereka juga percaya proses kehidupan selanjutnya setelah kehidupan di dunia, yaitu kehidupan di alam barzah, alam akherat, surga dan neraka (Az-Zuhaili, 2013).  Berkaitan dengan kata “yu’minuna bima unzila ilaika” Syeikh Al-Qurtubi menjelaskan sebagai berikut: pertama, mengimani atau mempercayai seluruh kitab itu turun dari Allah. Ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa melaksanakan syariat-syariat terdahulu tidak bernilai ibadah. Kedua, mempercayai atau mengimani apa yang tidak di nasakh (dihapus) dari kitab-kitab itu. Ini adalah pendapat orang yang mewajibkan menetapi syariat-syariat terdahulu (Qurthubi, 2015).

Kedua pendapat mufasirin tersebut memperkuat tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai firman Allah yang mempunyai tujuan menjaga kontitusi tersebut agar manusia mempunyai kesadaran terhadap kehidupan dari sisi religiusitas. Betapapun kehidupan itu beragam dan sangat komplek, manusia harus selalu ingat bahwa ada seri kehidupan pasca kehidupan di dunia yang lebih nyata, yaitu alam barzah dan akherat. Penguatan terhadap hal tersebut sangat penting. mengingat manusia sering tertipu dan mudah lupa terhadap kehidupan akherat ketika sudah terperosok pada kepentingan-kepentingan bersifat fana. Sehingga sering berfikir manusia menjadi terbalik-balik. Yang fana terlihat kekal abadi, dan yang kekal abadi seolah-olah fana. Wajar, jika kepentingan-kepentingan duniawi di kemudian hari melahirkan persaingan, konflik, dendam, saling bersekutu dan kemudian hari saling berpecah kongsi untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan yang bersifat fana tersebut.

Karena tabiat manusia yang demikian, maka allah memberikan penghargaan kepada orang-orang yang konsisten berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran nabi Muhammad tentang balasan-balasan kehidupan setelah kehidupan di dunia dengan penjelasan Q.S. Al-Baqarah ayat-5 sebagai berikut:

اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya:

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Keberuntungan seperti apa? Al-Qurtubi dan Ibnu Abi Ishak mengatakan demikian: “ Orang yang beruntung yaitu orang yang mendapatkan surga yang kekal abadi. Orang beruntung adalah orang yang mendapatkan apa yang mereka cari dan selamat dari kejahatan selama-lamanya. Selamat dari kejahatan selama nya yaitu selamat dari api neraka (Qurthubi, 2015).

Dari paparan di atas penulis memahami bahwa manusia yang mendapatkan titel mutaqin mempunyai tugas untuk memperbaiki sistem kehidupan sesuai dengan hukum-hukum sosial dan mengikuti kehidupan sesuai dengan pola kehidupan yang ada di masyarakat. Pada sisi lain, orang mutaqin juga tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Al-Qur’an agar ia bisa mengawal perilaku diri sendiri dan masyarakat terhadap pola kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Tujuannya yaitu agar status muflihun (orang-orang beruntung) benar-benar bisa diwujudkan dalam kehidupan sosial dan kehidupan selanjutnya yaitu di hadapan Allah SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Mencerahkan dan memotivasi bagi yang mencermati dan menghayati..Barakallaah Yi

Admin

amin ya rabbal 'alaminn

Avatar

   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872