
Hari ini[Minggu,9 April 2023] saya melakukan
perjalanan laut menuju Bengkalis. Biasanya saya duduk dekat pintu masuk. Di
situ ada tempat colokan HP. Namun tempat favorit saya sudah diisi oleh
anak-anak dan seorang ibu muda. Ada yang kosong, tapi sudah diisi Tas. Ingin
ngomong sama ibu muda yang ada di deretan tersebut, tidak jadi. Saya malas
berdebat tentang status “kursi kosong” tersebut. Apalagi ini bulan Puasa
mengingatkan ku pada hadist Nabi, “Banyak orang berpuasa tapi hanya mendapat
lapar dan dahaga”. Jadi, saya mengurangi bicara yang kurang bermafaat dan
kegiatan yang menguras energi, termasuk berdebat dengan ibu muda tadi. Sebab
jawabanya bisa dipastikan sama dengan hari-hari sebelumnya. Kalau ada kursi
kosong, tapi ditaruh tas, orang di deretan tersebut dengan mudah menjawab, “ada
orang nya pak”.
Saya mencari tempat duduk yang benar-benar
longgar. Kapal bagian depan masih banyak yang kosong. Saya duduk di situ. Udara
terasa sejuk. AC telah membuat ruangan menjadi terasa segar, terutama bagi saya
yang sedang berpuasa. Mungkin juga orang lain. Saya menikmatinya. Padahal
hari-hari biasa kurang begitu suka terhadap dinginnya AC. Entah hari ini sangat
bersahabat. Apalagi TV menayangkan film kesukaan saya, “IP-Man 4”. Film yang
berjudul The Finale menceritakan tentang IP-Man [Donnie yen] mengindap kanker
tenggorokan akibat terlalu memikirkan istrinya yang telah meninggal dunia.
disisi lain, anaknya Jing[Ip Chun] berulah sehingga dia ingin menyekolahkan ke
Amerika Serikat.
Ketika Ip-Man pergi ke AS, banyak persoalan
diskriminasi. Negara yang sering disebut sebagai “induk demokrasi” masih
menyisakan persoalan kesetaraan status warga Negara. Ini terjadi saat Ip-Man
mendaftarkan anaknya di sebuah sekolah swasta. Ketika keluar dari sekolah,
melihat kejadian pengroyokan terhadap Yonah
Wan[Vanda Margraf] anak dari Ketua CBA Pecinan di AS, Wan Zong Hua. Akibat
perkelahian ini, anak petugas imigran luka di pipi. Peristiwa ini kemudian
menyulut kemarahan ayahnya dan berujung pada pengrusakan daerah Pecinan. Cerita
ini berakhir dengan keberhasilan Ip-Man Mengalahkan Prewira Angkatan Laut AS,
Barton Geddes[Scott Adkins], sekaligus sebagai pelatih bela diri. Kondisi
kembali normal. Kesalahpahaman dengan pemerintah AS pun reda. Ip-Man akhirnya
mendapatkan surat rekomendasi dari CBA.
Film ini sudah lama diproduksi, yaitu tahun
2019. Namun masih tetap menarik. Di dalamnya menyelipkan pesan-pesan moral dan nilai-nilai
keagungan yang bisa diambil pelajaran. Sebenarnya pembuatan film Ip-Man
ada semacam propaganda dan kepentingan-kepentingan politik etnis tertentu.
Namun semangat membangun kesetaraan derajat tanpa batas menjadi nilau plus
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebab naluri seseorang
sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun, yaitu naluri yang tidak
melepaskan diri darimana dia berasal dan dilahirkan. Teori ini yang disebut
dengan ashobiyyah, kolektif atas nama suku atau etnis. Maka dalam film
ini jelas sekali bahwa pada saat tertentu, orang akan mengatakan identitas diri
untuk menunjukan kelebihan nya dan meremehkan orang lain sebagaimana Yonah Wan
membela diri sebagai orang Asia, ketika mendapatkan hinaan dari anak nya
petugas imigrasi. Perbedaan ini terus berlanjut dan tidak bisa dihilangkan.
Sentiment atas nama ini juga akan terus berlanjut dan tidak bisa dihindari.
Namun usaha untuk memperminim perbedaan adalah jalan yang sangat baik untuk
mewujudkan suatu sistem masyarakat yang harmonis. Sebab perbedaan memang tidak
bisa dihindari. Ini sunnatullah. Allah telah menciptakan manusia atas nama
suku, etnis dan bangsa. Perbedaan ini bukan untuk saling menjatuhkan, tapi
untuk saling membangun persamaan persepsi dan kebersamaan [ta’aruf] berdasarkan
kualitas dan prestasi. Jadi ukuran-ukuran kualitas dan prestasi adalah ukuran-ukuran
rasional dalam ajaran Islam dalam mewujudkan masyarakat berperadaban [madaniyun].
Harapanya perbedaan atas nama suku, etnis dan warna kulit sudah tertutup oleh
budaya etos kerja dalam segala sektor kehidupan. Sudah tidak ada lagi
penyebutan juziyah atas nama kelompok, tapi sudah kulliah atas
nama satu warga, satu bangsa dan negara. Jadi orientasinya adalah perbaikan
secara terus-menerus, coba dan mencoba dan selalu berorientasi masa depan.
Sayangnya, ini sering terlupakan. Semangat
untuk membangun masyarakat bertamadun kadang kehilangan esesnsinya, dan kadang
sebatas pada slogan-slogan. Terkadang sebagian politikus hidup pada persaingan
secara terus-menerus dan mengabaikan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun
oleh para leluhur, dan sumber-sumber ajaran agama. Konflik tidak berkesudahan. Saling
jatuh menjatuhkan tidak berhenti. Seperti lomba naik panjat pinang. Satu orang
bisa naik ke atas, tapi orang lain menarik baju dan celana dari bawah. orang
pertama berhasil, tapi ditelanjangi oleh orang yang berada di bawahnya. Saat orang kedua berhasil, orang ketiga pun siap menarik baju
dan celana untuk menelanjanginya. Begitu seterusnya. Kita sering terlena pada tataran ini. Saat
orang lain jatuh, maka semua tertawa. Saat sudah berganti orang lain dan kelompok
lain akan bergantian “melorot” celana dan mempermalukan di masa-masa tertentu. Haruskah
persaingan seperti ini yang diharapkan dalam membangun suatu peradaban?
Hikmah dari setiap kejadian seharusnya menjadi
renungan bersama, bahwa ada kesalahan dalam alam bawah sadar kita memaknai
sebuah prestasi. Jika hari ini kita terlalu banyak “metani” kutu kesalahan
orang lain, perlu dirubah cara berfikirnya yaitu mengobati kesalahan orang lain
dengan terus melakukan penyempurnaan-penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang
telah berlalu. Sehingga kesibukan kita adalah memperbaiki secara terus-menerus
dan tidak ada kesempatan berpesta pora terhadap kejadian masa lalu. Toh jika
disebut pun sudah terjadi. Jarum jam tidak bisa diputar kembali.
Nabi muhammada s.a.w dawuh, “sejatinya
muslim satu dengan muslim lain adalah satu tubuh, ketika salah satu anggota
tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut sakit”. Filosofisnya, dalam
tataran kehidupan sosial kesalahan seorang muslim adalah wajah kita[walaupun
kita tidak ikut melakukan]. Bukan pada pada perilakunya, tapi pada kesamaan
keimanan. Saat orang tersebut melakukan suatu kesalahan, maka dia berhak
mendapatkan hukuman sesuai dengan amalan yang telah diperbuat. Sebab wilayah ini
adalah wilayah sebab akibat dari hukum perbuatan manusia. Jika berbuat baik
mendapatkan balasan kebaikan, jika berbuat tidak baik akan mendapatkan balasan
dari perbuatan tersebut. namun pada sisi lain, orang tersebut mempunyai
kesamaan tauhid dan agama. Dimana saya, anda dan kita telah dimulyakan dan
disatukan dalam satu agama yang diridhai Allah s.w.t, yaitu islam. Manusia sebagai
hamba-Nya tidak lepas dari khilaf, salah dan dosa. Tuhan dalam hal ini
mempunyai hak preogatif untuk memaafkan nya dengan Rahman dan Rahim-Nya. pada
posisi ini, kita harus belajar dari Tuhan dalam melihat fenomena dari segala
peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu wujud nya, yaitu menerapkan
konsep hidup,”mikul duwur mendem jero”, sebut kebaikanya dan tutup
segala aibnya. Dari sini, program normalisasi kehidupan selanjutnya yaitu
memperbaiki sistem yang belum sempurna menjadi lebih sempurna. Sebab mau tidak
mau, realita kehidupan manusia gampang terlena oleh keindahan, gampang mengeluh
oleh ujian dan gampang tidak puas terhadap keadaan yang ada. Sifat-sifat ini
yang memungkinkan manusia kehilangan hakikatnya sebagai jati diri sebagai hamba
Allah. Maka membiasakan diri untuk senantiasa memperbaiki sistem adalah jalan
untuk menghilangkan kebiasaan menilai kekurangan orang lain. Jika ini sudah
bisa berjalan, saya kira tidak perlu larut dalam kegaduhan. Sebab waktu sangat
berharga dan terbuang “muspro” gara-gara membahas yang tidak produktif. Rugi
bukan?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895