Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hikmah dalam Tumpukan Masalah



Senin , 10 April 2023



Telah dibaca :  363

Hari ini[Minggu,9 April 2023] saya melakukan perjalanan laut menuju Bengkalis. Biasanya saya duduk dekat pintu masuk. Di situ ada tempat colokan HP. Namun tempat favorit saya sudah diisi oleh anak-anak dan seorang ibu muda. Ada yang kosong, tapi sudah diisi Tas. Ingin ngomong sama ibu muda yang ada di deretan tersebut, tidak jadi. Saya malas berdebat tentang status “kursi kosong” tersebut. Apalagi ini bulan Puasa mengingatkan ku pada hadist Nabi, “Banyak orang berpuasa tapi hanya mendapat lapar dan dahaga”. Jadi, saya mengurangi bicara yang kurang bermafaat dan kegiatan yang menguras energi, termasuk berdebat dengan ibu muda tadi. Sebab jawabanya bisa dipastikan sama dengan hari-hari sebelumnya. Kalau ada kursi kosong, tapi ditaruh tas, orang di deretan tersebut dengan mudah menjawab, “ada orang nya pak”.

Saya mencari tempat duduk yang benar-benar longgar. Kapal bagian depan masih banyak yang kosong. Saya duduk di situ. Udara terasa sejuk. AC telah membuat ruangan menjadi terasa segar, terutama bagi saya yang sedang berpuasa. Mungkin juga orang lain. Saya menikmatinya. Padahal hari-hari biasa kurang begitu suka terhadap dinginnya AC. Entah hari ini sangat bersahabat. Apalagi TV menayangkan film kesukaan saya, “IP-Man 4”. Film yang berjudul The Finale menceritakan tentang IP-Man [Donnie yen] mengindap kanker tenggorokan akibat terlalu memikirkan istrinya yang telah meninggal dunia. disisi lain, anaknya Jing[Ip Chun] berulah sehingga dia ingin menyekolahkan ke Amerika Serikat.

Ketika Ip-Man pergi ke AS, banyak persoalan diskriminasi. Negara yang sering disebut sebagai “induk demokrasi” masih menyisakan persoalan kesetaraan status warga Negara. Ini terjadi saat Ip-Man mendaftarkan anaknya di sebuah sekolah swasta. Ketika keluar dari sekolah, melihat kejadian pengroyokan terhadap  Yonah Wan[Vanda Margraf] anak dari Ketua CBA Pecinan di AS, Wan Zong Hua. Akibat perkelahian ini, anak petugas imigran luka di pipi. Peristiwa ini kemudian menyulut kemarahan ayahnya dan berujung pada pengrusakan daerah Pecinan. Cerita ini berakhir dengan keberhasilan Ip-Man Mengalahkan Prewira Angkatan Laut AS, Barton Geddes[Scott Adkins], sekaligus sebagai pelatih bela diri. Kondisi kembali normal. Kesalahpahaman dengan pemerintah AS pun reda. Ip-Man akhirnya mendapatkan surat rekomendasi dari CBA.

Film ini sudah lama diproduksi, yaitu tahun 2019. Namun masih tetap menarik. Di dalamnya menyelipkan pesan-pesan moral dan  nilai-nilai keagungan yang bisa diambil pelajaran. Sebenarnya pembuatan film Ip-Man ada semacam propaganda dan kepentingan-kepentingan politik etnis tertentu. Namun semangat membangun kesetaraan derajat tanpa batas menjadi nilau plus dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebab naluri seseorang sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun, yaitu naluri yang tidak melepaskan diri darimana dia berasal dan dilahirkan. Teori ini yang disebut dengan ashobiyyah, kolektif atas nama suku atau etnis. Maka dalam film ini jelas sekali bahwa pada saat tertentu, orang akan mengatakan identitas diri untuk menunjukan kelebihan nya dan meremehkan orang lain sebagaimana Yonah Wan membela diri sebagai orang Asia, ketika mendapatkan hinaan dari anak nya petugas imigrasi. Perbedaan ini terus berlanjut dan tidak bisa dihilangkan. Sentiment atas nama ini juga akan terus berlanjut dan tidak bisa dihindari. Namun usaha untuk memperminim perbedaan adalah jalan yang sangat baik untuk mewujudkan suatu sistem masyarakat yang harmonis. Sebab perbedaan memang tidak bisa dihindari. Ini sunnatullah. Allah telah menciptakan manusia atas nama suku, etnis dan bangsa. Perbedaan ini bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk saling membangun persamaan persepsi dan kebersamaan [ta’aruf] berdasarkan kualitas dan prestasi. Jadi ukuran-ukuran kualitas dan prestasi adalah ukuran-ukuran rasional dalam ajaran Islam dalam mewujudkan masyarakat berperadaban [madaniyun]. Harapanya perbedaan atas nama suku, etnis dan warna kulit sudah tertutup oleh budaya etos kerja dalam segala sektor kehidupan. Sudah tidak ada lagi penyebutan juziyah atas nama kelompok, tapi sudah kulliah atas nama satu warga, satu bangsa dan negara. Jadi orientasinya adalah perbaikan secara terus-menerus, coba dan mencoba dan selalu  berorientasi masa depan.

Sayangnya, ini sering terlupakan. Semangat untuk membangun masyarakat bertamadun kadang kehilangan esesnsinya, dan kadang sebatas pada slogan-slogan. Terkadang sebagian politikus hidup pada persaingan secara terus-menerus dan mengabaikan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun oleh para leluhur, dan sumber-sumber ajaran agama. Konflik tidak berkesudahan. Saling jatuh menjatuhkan tidak berhenti. Seperti lomba naik panjat pinang. Satu orang bisa naik ke atas, tapi orang lain menarik baju dan celana dari bawah. orang pertama berhasil, tapi ditelanjangi oleh orang yang berada di bawahnya. Saat orang kedua berhasil, orang ketiga pun siap menarik baju dan celana untuk menelanjanginya. Begitu seterusnya. Kita sering terlena pada tataran ini. Saat orang lain jatuh, maka semua tertawa. Saat sudah berganti orang lain dan kelompok lain akan bergantian “melorot” celana dan mempermalukan di masa-masa tertentu. Haruskah persaingan seperti ini yang diharapkan dalam membangun suatu peradaban?

Hikmah dari setiap kejadian seharusnya menjadi renungan bersama, bahwa ada kesalahan dalam alam bawah sadar kita memaknai sebuah prestasi. Jika hari ini kita terlalu banyak “metani” kutu kesalahan orang lain, perlu dirubah cara berfikirnya yaitu mengobati kesalahan orang lain dengan terus melakukan penyempurnaan-penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang telah berlalu. Sehingga kesibukan kita adalah memperbaiki secara terus-menerus dan tidak ada kesempatan berpesta pora terhadap kejadian masa lalu. Toh jika disebut pun sudah terjadi. Jarum jam tidak bisa diputar kembali.

Nabi muhammada s.a.w dawuh, “sejatinya muslim satu dengan muslim lain adalah satu tubuh, ketika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut sakit”. Filosofisnya, dalam tataran kehidupan sosial kesalahan seorang muslim adalah wajah kita[walaupun kita tidak ikut melakukan]. Bukan pada pada perilakunya, tapi pada kesamaan keimanan. Saat orang tersebut melakukan suatu kesalahan, maka dia berhak mendapatkan hukuman sesuai dengan amalan yang telah diperbuat. Sebab wilayah ini adalah wilayah sebab akibat dari hukum perbuatan manusia. Jika berbuat baik mendapatkan balasan kebaikan, jika berbuat tidak baik akan mendapatkan balasan dari perbuatan tersebut. namun pada sisi lain, orang tersebut mempunyai kesamaan tauhid dan agama. Dimana saya, anda dan kita telah dimulyakan dan disatukan dalam satu agama yang diridhai Allah s.w.t, yaitu islam. Manusia sebagai hamba-Nya tidak lepas dari khilaf, salah dan dosa. Tuhan dalam hal ini mempunyai hak preogatif untuk memaafkan nya dengan Rahman dan Rahim-Nya. pada posisi ini, kita harus belajar dari Tuhan dalam melihat fenomena dari segala peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu wujud nya, yaitu menerapkan konsep hidup,”mikul duwur mendem jero”, sebut kebaikanya dan tutup segala aibnya. Dari sini, program normalisasi kehidupan selanjutnya yaitu memperbaiki sistem yang belum sempurna menjadi lebih sempurna. Sebab mau tidak mau, realita kehidupan manusia gampang terlena oleh keindahan, gampang mengeluh oleh ujian dan gampang tidak puas terhadap keadaan yang ada. Sifat-sifat ini yang memungkinkan manusia kehilangan hakikatnya sebagai jati diri sebagai hamba Allah. Maka membiasakan diri untuk senantiasa memperbaiki sistem adalah jalan untuk menghilangkan kebiasaan menilai kekurangan orang lain. Jika ini sudah bisa berjalan, saya kira tidak perlu larut dalam kegaduhan. Sebab waktu sangat berharga dan terbuang “muspro” gara-gara membahas yang tidak produktif. Rugi bukan?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895