Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hikmah Idul Adha; Pasanganmu Bukan Bidadarimu



Rabu , 19 Juni 2024



Telah dibaca :  743

Diantara hikmah Idul Adha berkaitan dengan pasangan hidup dalam berumah tangga. Suatu hari ada seorang jamaah haji yang telah beberapa kali menunaikan ibadah haji dan umroh. Ia menceritakan panjang lebar tentang ibadah tersebut yang kemudian dikemas dalam istilah “Wisata Religi”. Ia sangat fasih menceritakan bagian-bagian sudut Masjidil Haram dan tempat-tempat lain yang tidak masuk dalam kategori ritual seperti Pasar, Hotel dan tempat wisata lainnya.

“Sudah lebih 10 kali saya datang ke mekah” katanya.

“Bagaimana rasanya pak haji Zaidun?’ tanya ku

“Biasa saja, sejak dulu Ka'bah tidak berubah” jawabnya.

Jawaban pak haji Zaidun tadi tentu saja tidak bisa mewakili seluruh jamaah haji di dunia. Mungkin itu hanya sebuah kasus. Bagaimana bisa seseorang yang sering pergi haji dan umrah merasakan hal yang biasa saat melihat Masjid Nabawi, Maqam Rasulullah dan Baitullah?. “Sungguh itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi” pikirku.

Penulis jadi teringat kewajiban haji. Rasulullah dawuh bahwa wajib haji hanya sekali dan itu pun hanya bagi orang-orang muslim yang mempunyai kemampuan finansial, fisik, situasi negara yang aman. Mungkinkah karena alasan ini Rasulullah mewajibkan hanya satu kali pergi haji. Ataukah karena terlalu sering pergi haji atau umrah malah menyebabkan rasa mahabbah dan getaran jiwa akan kesakralan Baitullah menjadi hilang? Wallahu a’lam.

Sekali lagi, saya menganggap kasus tersebut di atas hanya suatu oknum saja. Meskipun kita sering disuguhkan kisah orang-orang yang sering pergi haji atau umroh sering tersandung kasus asusila, pelanggaran hukum dan harus berurusan dengan aparat keamanan. belum ada penelitian juga hubungan terlalu sering pergi haji atau umrah telah menghilangkan rasa mahabbah dan faktor “ritual” hilang dan hanya tersisa “wisata”. Manusia memang gampang bosan  saat melakukan sesuatu yang berulang-ulang. Manusia selalu ingin mencoba hal-hal yang baru sebagai wujud dorongan nafsu nya yang tidak pernah merasa puas. 

Iya. Manusia selalu tidak merasa puas dan selalu mencari kepuasan sehingga lupa hakikat diri nya sendiri yang setiap saat waktu menggilas kehidupannya sampai titik yang telah ditentukan.

Pasanganmu Bukan Bidadarimu

Kisah Pak haji Zaidun di atas merupakan kasus yang terjadi di sekitar kita, atau malah diri kita sendiri sebagai pelakunya. Kita mungkin melihat pasangan hidup kita tidak seindah saat masih kenalan, pacaran dan tunangan. Kita bisa melihat nya saat belum menikah adalah seorang manusia yang sangat sempurna. Meskipun kita dalam hati mengatakan “Banyak wanita atau pria lain yang lebih sempurna”. Tapi kita dengan ketulusan hati mengatakan bahwa “kekasihku lahy ang paling sempurna". Kita sangat bahagia dan percaya diri saat  berjalan dengannya di tempat wisata dan duduk-duduk di tepi Pantai. Dunia seolah-olah hanya milik berdua. Lalu kita memutuskan ia menjadi pendamping hidup nya.

Ketika belum menikah dan ia masih menjadi seorang kekasih, anda akan marah saat orang lain mengkritisi bajunya, ucapannya dan perilakunya. Anda akan menutup rapat-rapat seluruh aib kekasih anda. Bahkan seandainya ada aib masa lalunya, anda dengan enteng mengatakan begini, “Biarlah itu hanya masa lalu, saya menerima nya dengan segala kekurangannya”. Getaran cinta  telah mampu menutup segala aib dan membuka segala kebaikan dengan ketulusan yang luarbiasa.

Secara pelan tapi pasti rasa itu akan berkurang saat sudah menjadi pasangan anda. Pasangan mu sudah lagi tidak terlihat indah sebagaimana saat masih menjadi kesasihmu dulu. Jika ada yang mengatakan, “Pasangan ku adalah wanita yang tercantik”, bisa jadi ucapan penghibur pasangan anda. Itu jika yang dimaksud cantik berkaitan dengan fisik. Naluri manusia tidak bisa membohongi realita dan terkadang pada masa tertentu ada rasa kebosanan datang menghampirinya. Hal yang sama juga dirasakan oleh pasangan anda. 

Pasangan anda laksana pintu gerbang kerajaan. Anda akan melihat keindahannya dari luar. Sebagian kecil yang ada pada kekasihnya berupa postur fisik yang seksi atau atletis telah ikut menyakinkan  menjadi bagian penentu untuk memilihnya dan menjadi teman hidup selamanya. Harapan yang diinginkan tidak lain keindahan yang terekam dalam pintu gerbang kerajaan tersebut sama saat anda masuk dalam kerajaan yang maha luas.

Anda akan terkaget-kaget ketika setelah mengambil keputusan tersebut dan memasuki ruang kehidupan yang sangat luas sekali.  Anda mungkin terbuai oleh suasana yang sangat indah dan pikiran tertutup oleh keindahan tersebut saat mengambil keputusan yang sangat penting. Lalu dengan sedikit perhitungan, anda memutuskan untuk mengambilnya sebagai pasangan hidup anda. Ketika waktu terus berjalan, semakin terbuka bahwa simpul pintu gerbang kerajaan tidak seindah yang ia terima saat berada di dalam kerajaan. Ternyata banyak persoalan yang tidak menyenangkan. Bahkan terkadang membuat tidak betah dan ingin cepat lari dari kerajaan tersebut.

Anda akan melihat sejatinya pasangan anda saat hidup satu rumah. Setiap 24 jam bisa bertemu dengannya dalam jangka waktu tahunan lama nya. Anda mengetahui wataknya, dan ia tau watak dan kebiasaan anda.

Saat anda menatapnya atau melihatnya, hati anda akan mengatakan begini, “Pasangan ku tidak seperti dulu. Saat aku pertama bertemu dengannya, wajahnya bersih, cantik, dan seksi. Kini wajah nya mulai berkerut, senyumnya sudah tidak lagi indah, bahkan terkadang lebih banyak marah nya daripada senyumnya, tubuh semakin gendut dan tidak pandai merawat tubuh nya”. Masih banyak lagi kisah kekurangan yang terjadi saat pertemuan anda dengan pasangan anda dari pagi sampai malam hari. Kadang ada sebagian muncul kebosanan saat terus-menerus terjadi konflik, sehingga harus memutuskan memulai hidup baru sendiri-sendiri untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Istrimu bukan lagi bidadarimu. Suamimu bukan lagi pangeran mu. Ia kadang berubah menjadi orang yang paling kamu benci saat dulu ia hadir sebagai orang yang paling kamu cintai. Haruskah hidup dijalani dengan cara demikian. Haruskah kita membalas keindahan masa dulu dengan penyesalan saat mengetahui kekurangan saat sekarang ini?.

Dulu Saat anda mengenal terbaik pasangan mu, lalu sekarang tidak seindah dalam kenyataannya. Maka anda harus membalas kebaikan pasangan mu dengan pengertian setelah mengerti asli sifat, karakter dan kepribadian pasangan mu. Keindahan yang kamu cita-citakan dulu kini telah berubah dalam wujud tanggungjawab untuk tetap menjadi orang terindah bukan pada fisiknya, tapi pada sifat dan perbuatannya.

Pasangan anda sudah tidak mungkin diperbaiki fisiknya. Sebab kecantikan dan ketampanan bersifat sementara. Tugas anda bukan “ndandani” dirinya agar tetap awet muda, sebab itu tidak mungkin terjadi. Tugas anda dan pasangan anda adalah memperbaiki masing-masing untuk semakin mengenal Allah swt. Jika keduanya terus memperbaikinya dan semakin mengenal Sang Pencipta, maka saat itu pasangan anda hadir sebagai kekasih yang cantik bukan lagi pada wajah dan seksi tubuhnya, tapi pasangan anda telah berubah menjadi cantik atau tampan karena akhlakul karimah nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876