
Diantara hikmah Idul Adha berkaitan dengan
pasangan hidup dalam berumah tangga. Suatu hari ada seorang jamaah haji yang
telah beberapa kali menunaikan ibadah haji dan umroh. Ia menceritakan panjang
lebar tentang ibadah tersebut yang kemudian dikemas dalam istilah “Wisata
Religi”. Ia sangat fasih menceritakan bagian-bagian sudut Masjidil Haram dan
tempat-tempat lain yang tidak masuk dalam kategori ritual seperti Pasar, Hotel
dan tempat wisata lainnya.
“Sudah lebih 10 kali saya datang ke mekah” katanya.
“Bagaimana rasanya pak haji Zaidun?’ tanya ku
“Biasa saja, sejak dulu Ka'bah tidak berubah” jawabnya.
Jawaban pak haji Zaidun tadi tentu saja tidak bisa
mewakili seluruh jamaah haji di dunia. Mungkin itu hanya sebuah kasus.
Bagaimana bisa seseorang yang sering pergi haji dan umrah merasakan hal yang
biasa saat melihat Masjid Nabawi, Maqam Rasulullah dan Baitullah?. “Sungguh itu
sesuatu yang tidak mungkin terjadi” pikirku.
Penulis jadi teringat kewajiban
haji. Rasulullah dawuh bahwa wajib haji hanya sekali dan itu pun hanya bagi
orang-orang muslim yang mempunyai kemampuan finansial, fisik, situasi negara
yang aman. Mungkinkah karena alasan ini Rasulullah mewajibkan hanya satu kali
pergi haji. Ataukah karena terlalu sering pergi haji atau umrah malah
menyebabkan rasa mahabbah dan getaran jiwa akan kesakralan Baitullah
menjadi hilang? Wallahu a’lam.
Sekali lagi, saya menganggap kasus tersebut di atas hanya suatu oknum saja. Meskipun kita sering disuguhkan kisah orang-orang yang sering pergi haji atau umroh sering tersandung kasus asusila, pelanggaran hukum dan harus berurusan dengan aparat keamanan. belum ada penelitian juga hubungan terlalu sering pergi haji atau umrah telah menghilangkan rasa mahabbah dan faktor “ritual” hilang dan hanya tersisa “wisata”. Manusia memang gampang bosan saat melakukan sesuatu yang berulang-ulang. Manusia selalu ingin mencoba hal-hal yang baru sebagai wujud dorongan nafsu nya yang tidak pernah merasa puas.
Iya. Manusia selalu tidak merasa puas dan
selalu mencari kepuasan sehingga lupa hakikat diri nya sendiri yang setiap saat
waktu menggilas kehidupannya sampai titik yang telah ditentukan.
Pasanganmu Bukan Bidadarimu
Kisah Pak haji Zaidun di atas merupakan kasus
yang terjadi di sekitar kita, atau malah diri kita sendiri sebagai pelakunya. Kita mungkin melihat pasangan hidup kita tidak seindah saat masih kenalan, pacaran
dan tunangan. Kita bisa melihat nya saat belum menikah adalah seorang manusia
yang sangat sempurna. Meskipun kita dalam hati mengatakan “Banyak wanita atau
pria lain yang lebih sempurna”. Tapi kita dengan ketulusan hati mengatakan bahwa
“kekasihku lahy ang paling sempurna". Kita sangat bahagia dan percaya diri saat berjalan dengannya di tempat wisata dan duduk-duduk di tepi Pantai. Dunia seolah-olah hanya
milik berdua. Lalu kita memutuskan ia menjadi pendamping hidup nya.
Ketika belum menikah dan ia masih menjadi
seorang kekasih, anda akan marah saat orang lain mengkritisi bajunya, ucapannya
dan perilakunya. Anda akan menutup rapat-rapat seluruh aib kekasih anda.
Bahkan seandainya ada aib masa lalunya, anda dengan enteng mengatakan begini, “Biarlah
itu hanya masa lalu, saya menerima nya dengan segala kekurangannya”. Getaran cinta
telah mampu menutup segala aib dan
membuka segala kebaikan dengan ketulusan yang luarbiasa.
Secara pelan tapi pasti rasa itu akan berkurang saat sudah menjadi pasangan anda. Pasangan mu sudah lagi tidak terlihat indah sebagaimana saat masih menjadi kesasihmu dulu. Jika ada yang mengatakan, “Pasangan ku adalah wanita yang tercantik”, bisa jadi ucapan penghibur pasangan anda. Itu jika yang dimaksud cantik berkaitan dengan fisik. Naluri manusia tidak bisa membohongi realita dan terkadang pada masa tertentu ada rasa kebosanan datang menghampirinya. Hal yang sama juga dirasakan oleh pasangan anda.
Pasangan anda laksana pintu gerbang kerajaan.
Anda akan melihat keindahannya dari luar. Sebagian kecil yang ada pada kekasihnya
berupa postur fisik yang seksi atau atletis telah ikut menyakinkan menjadi bagian penentu untuk memilihnya dan
menjadi teman hidup selamanya. Harapan yang diinginkan tidak lain keindahan
yang terekam dalam pintu gerbang kerajaan tersebut sama saat anda masuk dalam kerajaan
yang maha luas.
Anda akan terkaget-kaget ketika setelah mengambil keputusan tersebut dan memasuki ruang kehidupan yang sangat luas sekali. Anda mungkin terbuai oleh suasana yang sangat indah dan
pikiran tertutup oleh keindahan tersebut saat mengambil keputusan yang sangat penting. Lalu dengan sedikit perhitungan, anda
memutuskan untuk mengambilnya sebagai pasangan hidup anda. Ketika waktu terus
berjalan, semakin terbuka bahwa simpul pintu gerbang kerajaan tidak seindah
yang ia terima saat berada di dalam kerajaan. Ternyata banyak persoalan yang
tidak menyenangkan. Bahkan terkadang membuat tidak betah dan ingin cepat lari
dari kerajaan tersebut.
Anda akan melihat sejatinya pasangan anda
saat hidup satu rumah. Setiap 24 jam bisa bertemu dengannya dalam jangka waktu
tahunan lama nya. Anda mengetahui wataknya, dan ia tau watak dan kebiasaan
anda.
Saat anda menatapnya atau melihatnya, hati anda akan
mengatakan begini, “Pasangan ku tidak seperti dulu. Saat aku pertama bertemu
dengannya, wajahnya bersih, cantik, dan seksi. Kini wajah nya mulai berkerut, senyumnya
sudah tidak lagi indah, bahkan terkadang lebih banyak marah nya daripada senyumnya,
tubuh semakin gendut dan tidak pandai merawat tubuh nya”. Masih banyak lagi
kisah kekurangan yang terjadi saat pertemuan anda dengan pasangan anda dari
pagi sampai malam hari. Kadang ada sebagian muncul kebosanan saat terus-menerus
terjadi konflik, sehingga harus memutuskan memulai hidup baru sendiri-sendiri
untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Istrimu bukan lagi bidadarimu. Suamimu bukan
lagi pangeran mu. Ia kadang berubah menjadi orang yang paling kamu benci saat
dulu ia hadir sebagai orang yang paling kamu cintai. Haruskah hidup dijalani
dengan cara demikian. Haruskah kita membalas keindahan masa dulu dengan penyesalan
saat mengetahui kekurangan saat sekarang ini?.
Dulu Saat anda mengenal terbaik pasangan
mu, lalu sekarang tidak seindah dalam kenyataannya. Maka anda harus membalas kebaikan
pasangan mu dengan pengertian setelah mengerti asli sifat, karakter dan
kepribadian pasangan mu. Keindahan yang kamu cita-citakan dulu kini telah
berubah dalam wujud tanggungjawab untuk tetap menjadi orang terindah bukan pada
fisiknya, tapi pada sifat dan perbuatannya.
Pasangan anda sudah tidak mungkin
diperbaiki fisiknya. Sebab kecantikan dan ketampanan bersifat sementara. Tugas anda
bukan “ndandani” dirinya agar tetap awet muda, sebab itu tidak mungkin
terjadi. Tugas anda dan pasangan anda adalah memperbaiki masing-masing untuk
semakin mengenal Allah swt. Jika keduanya terus memperbaikinya dan semakin
mengenal Sang Pencipta, maka saat itu pasangan anda hadir sebagai kekasih yang
cantik bukan lagi pada wajah dan seksi tubuhnya, tapi pasangan anda telah
berubah menjadi cantik atau tampan karena akhlakul karimah nya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876