Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui
Ig : @standbymi1
"
Suatu waktu saya mengenal Lelaki Harimau—cerita yang kemudian saya sadari lahir pada tahun kelahiran saya. Dalam perkara menyukai perempuan, saya selalu tertarik pada yang seumuran atau lebih tua. Barangkali karena itu pula saya menyukai Lelaki Harimau itu.
Ia adalah buku tulisan Eka Kurniawan. Penulis Cantik Itu Luka. Mungkin tidak setiap orang akan setuju dengan gaya penulisannya, terutama pembaca yang awam akan sastra prosa. Bagi saya Eka
Empat tahun saya keras mencarinya, namun yang lebih sering saya jumpai hanyalah versi bajakan. Pencarian itu lalu singgah pada karya-karya sastra lain, seolah pertemuan saya pada Lelaki Harimau memang harus ditangguhkan oleh waktu.
Pada akhirnya buku itu kutemukan di Blok M. Di lapak-nya a famous man Bang Jimmy. Tanyalah aku harganya berapa, buku yang tak setebal dan sepadat Ronggeng Dukuh Paruk, namun membuat saya sempat terdiam membatu sebelum meminangnya (seharga biaya makan seminggu di kobong). Namun lebih baik menanggung lapar daripada menanggung rindu dan penyesalan. Lelaki Harimau harus saya bawa pulang.
Saya bergetar ketika membukanya untuk pertama kali. Bahkan saya memperawaninya sebelum kami benar-benar sampai di rumah.
Ada kisah yang tersimpan di sana, bukan hanya tentang mahar yang ditabung demi memilikinya, tetapi juga rindu yang dikumpulkan selama menunggu cetak ulang dan waktu untuk bertemu dengannya.
Namun setelah memperawaninya dan menggenggamnya dari kereta demi kereta menuju Tangerang, buku cantik itu luput dari tangan saya. Saya baru menyadari kehilangannya setelah tiba di kobong. Kemungkinan besar ia tertinggal saat saya berwudu di masjid yang tak jauh dari stasiun, sekitar dua setengah kilometer dari sini.
Saya berlari kembali ke sana—bersarung dan bersandal selop—bertanya ke sana kemari. Dan di situlah saya percaya, ternyata buku pun bisa hilang.
Bulan apakah ini? Desember. Ya, Desember. Saya kira Desember kali ini akan baik, lain dari sebelumnya. Namun Desember itu cantik, dan cantik itu luka.
Rindu memang ingin dibayar tuntas. Namun kali ini jelas belum.
Dan “tuntas” yang dimaksud lebih dari sekedar menamatkan Lelaki Harimau. Tapi juga kawin beranak dan berbahagia, kalau kata Chairil Anwar.
Semoga yang patah benar-benar tumbuh,
yang hilang benar-benar berganti, asal jangan diganti sawit.
Penulis : A. Ushfuri
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870