
Saat rapat Dewan Hakim KTIQ di Hotel Rafana,
Prof Alidin Koto mengatakan bahwa HP saat ini telah menjauhkan sesuatu yang
dekat dan mendekatkan sesuatu yang jauh. Ruangan rapat yang diidentikan suasana
penuh dengan kehangatan dan keceriaan, terkadang terasa sepi. Keramaian dalam
kesunyian rasa. Semangat sosialisme terasa individualisme. Tidak ada ada dialog
dan kehangatan dari sebuah perkumpulan. Suasana menjadi asing. Kering. Laksana Rel
Kereta Api, dekat tapi tidak pernah bertemu. Mereka tertawa bukan dengan orang
yang berada didekatnya, mereka menangis bukan dengan orang yang disampingnya,
tapi dia sedang mengekspresikan segala hal dengan orang yang nun jauh disana.
Itu sebabnya, Sujiwo Tejo seorang budayawan pernah marah. Katanya; “Salah satu
orang yang tidak mempunyai akhlak adalah saat teman nya sedang bicara, dia sibuk
main HP”.
HP telah melahirkan masyarakat Dunia Maya. Kita
diikat oleh rasa kemanusiaan yang mendalam. Era ini adalah era kemanusiaan
global. Kita bisa melihat penderitaan nun-jauh disana, tapi tidak bisa melihat
penderitaan di sekitarnya. Penulis melihat Gedung-Gedung menjulang tinggi, berdekatan
dengan Rumah orang-orang Kaum Pinggiran. Sangat kontras. Rumah Elit bertingkat,
sedang Rumah orang tidak berduit berdinding Kardus, lantai Tanah, kadang tidak
beratap. Ironisnya, Pemilik Rumah Elit bisa jadi jarang menyambangi tetangganya akibat sibuk bekerja. Padahal
tetangganya hidup dalam keterbatasan; makan dan minum di bawah standar, tidur
beralas Koran. Ironisnya, mereka satu RT, RW dan punya KTP dengan alamat jalan
yang sama. Mata celong dan kurang gizi tetangganya tiap hari duduk di
Pinggir Jalan menatap Mobil-Mobil Mewah melintas di depan Rumah nya.
Bukan hanya kaum elit, bahkan setengah elit
dan kelompok yang merasa elit mulai ada perasaan kemanusiaan mulai bergeser
keada isu-isu Nasional dan Internasional. Mereka sangat sedih ketika melihat Video
tentang kelaparan di Somalia,Suriah dan orang tua kehilangan anak-anak nya di
Palestina. Mereka kadang marah dan menggembrak Meja Rapat ketika ada yang
kurang peduli terhadap nasib mereka. Padahal realita kehidupan, kadang di dekat
Rumah sendiri banyak orang-orang yang tergolong miskin ekstrem, menjadi OGDJ[Orang
Dengan Gangguan Jiwa] dan membutuhkan uluran tangan.
Kini HP atas nama Android atau Iphone telah
melahirkan rasa simpati global. Jika ada satu orang WNI yang sedang dihukum
cambuk di Arab Saudi karena melakukan suatu kesalahan terhadap majikannya, pemerintah
dan rakyat mulai dari Sabang samai Merauke mengumulkan bantuan untuk menebus
agar terlepas dari hukuman. HP telah menyatukan manusia yang tidak saling kenal
tapi punya rasa kemanusiaan yang sangat mendalam. HP juga telah ikut
meruntuhkan kemanusiaan lokal secara pelan-pelan dimana orang-orang
disekitarnya saling mengenal. Kita mengenal mereka tidak bisa sekolah, tidak
bisa kuliah, tidak bisa membayar SPP dan tidak bisa membeli sandang pangan dan
menjadi pengangguran. Tapi kita begitu berat melakukan gerakan peduli menolong
mereka agar bisa makan, sekolah, bayar SPP, bisa kuliah dan mendapatkan
pekerjaan. Bahkan kadang, mereka hanya mendapatkan balasan tatapan sinis acuh
tak acuh dari saudara kita sendiri satu tetangga, satu RT dan satu Desa.
Kita bersyukur memunyai alat komunikasi
yang canggih. Melalui alat tersebut, kita bisa mengumpulkan jutaan bahkan
milyaran untuk membantu saudara-saudara kita yang berada di luar negeri
walaupun berbeda negara, bangsa, agama, etnis dan budaya. Kitab merasa bagian
dari mereka. jika mereka sakit, kita merasa sakit. Tapi kita terkadang tidak
merasa sakit dengan saudara kita di dekat rumah yang kelaparan dan kehilangan
pekerjaan.
Harapan penulis artikel ini, semoga juga
melalui kecanggihan HP sebagai alat komunikasi yang kita pegang setiap hari,
tidak mematikan kemanusiaan dan persaudaraan di Ruang Rapat, di Rumah Tangga,
RT, RW dan tempat-tempat publik lainnya. Jika kita bisa membantu bangsa lain
atas dasar kemanusiaan, bisakan kita membantu tetangga sendiri yang tiap hari
bertemu, bertatap muka walaupun status sosial yang berbeda. Bagaimana pun peran
tetangga kita yang terlihat kurang berkualitas dalam pikiran kita, mereka
kadang tampil terdepan membantu persoalan-persoalan tertentu seperti saat kita
sakit, terkena musibah atau meninggal dunia. Tetangga kita yang akan membantu
dengan cepat, meskipun bisa jadi kita terlalu sibuk membantu orang lain di luar
sana dan melupakan rasa kemanusiaan terhadap saudara di sekitar Rumah kita. Ajakan
ini juga bagian dari realisasi anjuran Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w, bahwa
ketika kita masak sayur, diperbanyak kuah dan isinya dan bagikan kepada
tetangga-tetangga dekatnya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3574
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876