
Sebelum subuh, Masjid sebelah Hotel sudah
memutar kaset “ngaji” Al-Qur’an. Terdengar terasa nikmat. Namun pagi itu hujan
turun. Udara menjadi dingin. Ditambah AC
di Kamar yang terus hidup sepanjang malam. Ingin mengusir kedinginan dengan
mematikan-nya. Tapi rasanya masih malas. Lebih nyaman mengusir suasana dingin
dengan selimut yang cukup tebal. Ma’lum di Hotel. Selimut tebal-tebal.
Berbeda kalau di Rumah, selimutnya cukup Sarung.
Ditutup kaki, tapi kepala kelihatan. Ditutup kepala, kaki kedinginan. Lama-lama
tidak kuat dingin. Akhirnya terbangun dari tidur. Tapi terasa sangat nikmat. Saya
kira melebihi kenikmatan yang didapat oleh Rasulullah yang agung. Jika Rasul,
alas tidurnya dari Pelepah Daun Kurma, kain selimutnya kasar, dan punya hanya
satu. Berbeda dengan saya, Sarung di rumah sudah tidak tahu jumlah nya. Ada
tamu ke Rumah bawa Sarung. Pengurus Masjid datang bawa sarung. Apalagi menjelang
lebaran, Sarung berbagai merk ada, dari harga standar sampai pada harga lumayan
besar.
Saya tersenyum jika mem-visualisasikan
wajah Rasulullah s.a.w, yang selalu tersenyum, ucapannya indah dan semua
memberi faidah. Semua tubuhnya dan segala gerak-geriknya menghasilkan
pembelajaran dan kalam hikmah yang sangat agung.
Namun saat saya membayangkan tidur Rasulullah
s.a.w, terkadang ingin meneteskan air mata. Batin saya berkata, apakah saya
pantas bicara kesederhanaan, apakah saya pantas bicara zuhud, apakah saya
pantas bicara keadilan terhadap kesetaraan dan pemerataan kepada masyarakat?
sedangkan pikiran saya melihat lembar-lembaran buku saja sering salah hitung. Melihat
nomor-nomor deret bilangan saja sering salah dalam beragam aspek.
Saya benar-benar tidak bisa menghitung
deret bilangan sampai Rasulullah. Saya belum sanggup seperti Rasul yang malam
tidak bisa tidur karena menahan lapar sebab sepanjang siang harinya tidak
menemukan makanan. Saya tidak bisa seperti nabi saat makan hanya dengan roti
kasar. Tapi lucunya dengan gagah perkasa, saya di depan para jamaah kadang berkata,
“Wahai para jamaah, contoh lah kehidupan Rasul. Dia sebaik-baik contoh”. Sedangkan
saya, makan sudah tidak memakai format Rasul, tapi format Hotel, format Restoran
dan format-format lain yang sudah menggunakan standar “kelezatan” hayalan
semata. Saya menyuruh orang lain untuk hidup apa adanya, tapi kadang hati saya “nggringsang”
ingin hidup ada apanya. Bukankah ini perbuatan dzalim? Buktinya pola hidup
seperti ini membuat lupa diri, dan merasa lebih baik, yang lain terasa berada
di bawah.
Sungguh saya tidak sanggup. Nama Rasulullah
yang agung tidak mau dikotori oleh kemunafikan ku yang terlalu sering lantang
mengatakan “ikut sunnah Rasul” dalam kesederhanaan. Akhirnya saya memperpendek
deret bilangan yang lebih dekat dengan ku, yaitu guru-guru Kampung yang bisa
dilihat sehari-hari. Saya melihat mereka menjual Ayam ke Pasar. Menarik Becak dan
mangkal di pinggir jalan. Mereka mendapat rezeki dengan cara yang sangat
mengagumkan. Dari sini saya mulai bisa meng-internalisasi-kan hadist nabi
melalui guru-guru Kampung. Jika guru kampung bisa hidup dengan penuh keagungan,
bagaimana dengan Rasulullah s.a.w? tentu lebih agung dari guru-guru kami yang
ada di Kampung.
Pola hidup guru-guru kampung di atas tidak terlalu populer. Sebagian orang melihat nya dengan kacamata retak. tapi itulah kehidupan. Kesederhaan dan kejujuran hidup mereka ditertawakan. Keangkuhan dan keculasan menjadi sanjungan. Itu sunatullah. Rasulullah
yang sangat sempurna pun ada yang tidak menyukainya. Apalagi saya dan juga
pembaca artikel ini. Kita selalu menemukan dua cermin. Saat melihat di cermin
depan, kita terasa tampan. Tapi saat kita atau orang lain melihat dari
belakang, status kita akan meragukan. Akan lahir berbagai komentar dari
belakang, bahkan kadang juga dari depan dengan beragam presepsi.
Seorang penulis agung bernama Ichiro Kishima
dan Fumitake Koga mengutip kalimat seperti ini:
“Dalam ajaran yudaisme, kita bisa menemukan
hal berikut: “Dari sepuluh orang, akan ada satu yang akan mengkritikmu, tak
peduli apa pun yang kaulakukan. Orang ini akan membencimu, dan kamu juga tidak
akan belajar menyukainya. Lalu, akan ada dua orang lain yang menerima segala
hal tentang dirimu dan kau juga akan menerima segala hal tentang mereka, dan
menjadi teman dekat mereka. Tujuh orang lain adalah orang-orang yang bukan terdiri
dari kedua tipe tersebut. Sekarang apakah engkau memfokuskan dirimu pada satu
orang yang membencimu? Apakah kau lebih memperhatikan dua orang yang
mengasihimu? Atau apakah kau berfokus pada tujuh orang?”
Firman Allah dalam Al-Qur’an yang agung juga
mendefinisikan fenomena kehidupan di atas dengan bahasa yang sangat indah,” bisa
jadi kau membenci sesuatu dan itu terbaik bagimu, dan bisa jadi kau mencintai
sesuatu, tapi tidak baik bagimu. Allah maha mengetahui segala sesuatu, sedangkan
kita semua tidak mengetahuai (rahasianya-pen)”.
Ayat ini diawali dengan kalimat perang,”diwajibkan
atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu”. Ketika pulang dari
perang badar, para sabahat diskusi tentang kedahsyatan perang badar. Rasul mengatakan
bahwa ada perang yang lebih dahsyat dari itu. para sahabat penasaran dan
bertanya tentang pernyataan tersebut. nabi menjawab, “Perang Melawan Hawa
Nafsu”.
Ajaran-ajara Tuhan dari dulu senantiasa
mengajarkan tentang pentingnya mendudukan kita, bukan mendudukan orang lain. Orang
boleh berkata apa dan bagaimana. Semua itu sebenarnya sebatas kumpulan dongeng
khayalan yang belum tentu sesuai dengan apa yang mereka katakana kepada kita. Sayangnya,
di dunia ini yang berfikir seperti ini dan mempraktekannya sangat sedikit. Sering
kita terbawa emosi, marah dan memutuskan persaudaraan.
Padahal ucapan orang lain kadang laksana
kain pembersih. Dia sibuk mengoreksi, menghina kita, adalah proses laksana cincin
yang selalu dibersikan. Semakin digosok semakin mengkilat, tapi kain pembersih
justru semakin kotor. Akhirnya mau tidak mau, jika Kain pembersih ingin bersih,
harus dicuci terlebih dahulu.
Saya, anda dan kita sedang ditempa oleh
kehidupan yang tidak mengenakan. Kita laksana batu mulia. Sekecil apapun orang
akan melihat penuh dengan kekaguman. Tapi ingat, mereka akan memukul kita dan
membentuk kita menjadi batu yang pantas untuk ditaruh di Jari Manis. Saat tempaan
sudah selesai, orang pun akan mengagumi dan mengucapkan kata, “Luarbiasa !”.
Ironsinya, kadang kita tidak kuat dengan
tempaan menuju kualitas diri yang agung. Sering penulis artikel ini atau bisa
jadi anda saat ditempa justru meronta-ronta, menjerit dan menyerang balik. Akibatnya
semua menjadi “ambyar” dan menjadi tidak berkualitas.
Jangan-jangan bangsa ini, umat ini tidak
cepat naik tangga kemuliaan karena terlalu sibuk menempa orang lain dengan
segala sumpah serapah, tapi tidak menempa diri sendiri dengan kualitas
kemuliaan. Semoga tidak demikian. Semoga kita semakin baik menyadari diri atas
segala tempaan sebenarnya untuk kebaikan kita sendiri.
Duri, Amadeo Hotel, 6 September 2023
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879