Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hujan di Pagi Hari; Kisah Penjara Hati



Rabu , 06 September 2023



Telah dibaca :  898

Sebelum subuh, Masjid sebelah Hotel sudah memutar kaset “ngaji” Al-Qur’an. Terdengar terasa nikmat. Namun pagi itu hujan turun. Udara menjadi dingin. Ditambah  AC di Kamar yang terus hidup sepanjang malam. Ingin mengusir kedinginan dengan mematikan-nya. Tapi rasanya masih malas. Lebih nyaman mengusir suasana dingin dengan selimut yang cukup tebal. Ma’lum di Hotel. Selimut tebal-tebal.

Berbeda kalau di Rumah, selimutnya cukup Sarung. Ditutup kaki, tapi kepala kelihatan. Ditutup kepala, kaki kedinginan. Lama-lama tidak kuat dingin. Akhirnya terbangun dari tidur. Tapi terasa sangat nikmat. Saya kira melebihi kenikmatan yang didapat oleh Rasulullah yang agung. Jika Rasul, alas tidurnya dari Pelepah Daun Kurma, kain selimutnya kasar, dan punya hanya satu. Berbeda dengan saya, Sarung di rumah sudah tidak tahu jumlah nya. Ada tamu ke Rumah bawa Sarung. Pengurus Masjid datang bawa sarung. Apalagi menjelang lebaran, Sarung berbagai merk ada, dari harga standar sampai pada harga lumayan besar.

Saya tersenyum jika mem-visualisasikan wajah Rasulullah s.a.w, yang selalu tersenyum, ucapannya indah dan semua memberi faidah. Semua tubuhnya dan segala gerak-geriknya menghasilkan pembelajaran dan kalam hikmah yang sangat agung.

Namun saat saya membayangkan tidur Rasulullah s.a.w, terkadang ingin meneteskan air mata. Batin saya berkata, apakah saya pantas bicara kesederhanaan, apakah saya pantas bicara zuhud, apakah saya pantas bicara keadilan terhadap kesetaraan dan pemerataan kepada masyarakat? sedangkan pikiran saya melihat lembar-lembaran buku saja sering salah hitung. Melihat nomor-nomor deret bilangan saja sering salah dalam beragam aspek.

Saya benar-benar tidak bisa menghitung deret bilangan sampai Rasulullah. Saya belum sanggup seperti Rasul yang malam tidak bisa tidur karena menahan lapar sebab sepanjang siang harinya tidak menemukan makanan. Saya tidak bisa seperti nabi saat makan hanya dengan roti kasar. Tapi lucunya dengan gagah perkasa, saya di depan para jamaah kadang berkata, “Wahai para jamaah, contoh lah kehidupan Rasul. Dia sebaik-baik contoh”. Sedangkan saya, makan sudah tidak memakai format Rasul, tapi format Hotel, format Restoran dan format-format lain yang sudah menggunakan standar “kelezatan” hayalan semata. Saya menyuruh orang lain untuk hidup apa adanya, tapi kadang hati saya “nggringsang” ingin hidup ada apanya. Bukankah ini perbuatan dzalim? Buktinya pola hidup seperti ini membuat lupa diri, dan merasa lebih baik, yang lain terasa berada di bawah.

Sungguh saya tidak sanggup. Nama Rasulullah yang agung tidak mau dikotori oleh kemunafikan ku yang terlalu sering lantang mengatakan “ikut sunnah Rasul” dalam kesederhanaan. Akhirnya saya memperpendek deret bilangan yang lebih dekat dengan ku, yaitu guru-guru Kampung yang bisa dilihat sehari-hari. Saya melihat mereka menjual Ayam ke Pasar. Menarik Becak dan mangkal di pinggir jalan. Mereka mendapat rezeki dengan cara yang sangat mengagumkan. Dari sini saya mulai bisa meng-internalisasi-kan hadist nabi melalui guru-guru Kampung. Jika guru kampung bisa hidup dengan penuh keagungan, bagaimana dengan Rasulullah s.a.w? tentu lebih agung dari guru-guru kami yang ada di Kampung.

Pola hidup guru-guru kampung di atas tidak terlalu populer. Sebagian orang melihat nya dengan kacamata retak. tapi itulah kehidupan. Kesederhaan dan kejujuran hidup mereka ditertawakan. Keangkuhan dan keculasan menjadi sanjungan.  Itu sunatullah. Rasulullah yang sangat sempurna pun ada yang tidak menyukainya. Apalagi saya dan juga pembaca artikel ini. Kita selalu menemukan dua cermin. Saat melihat di cermin depan, kita terasa tampan. Tapi saat kita atau orang lain melihat dari belakang, status kita akan meragukan. Akan lahir berbagai komentar dari belakang, bahkan kadang juga dari depan dengan beragam presepsi.

Seorang penulis agung bernama Ichiro Kishima dan Fumitake Koga mengutip kalimat seperti ini:

“Dalam ajaran yudaisme, kita bisa menemukan hal berikut: “Dari sepuluh orang, akan ada satu yang akan mengkritikmu, tak peduli apa pun yang kaulakukan. Orang ini akan membencimu, dan kamu juga tidak akan belajar menyukainya. Lalu, akan ada dua orang lain yang menerima segala hal tentang dirimu dan kau juga akan menerima segala hal tentang mereka, dan menjadi teman dekat mereka. Tujuh orang lain adalah orang-orang yang bukan terdiri dari kedua tipe tersebut. Sekarang apakah engkau memfokuskan dirimu pada satu orang yang membencimu? Apakah kau lebih memperhatikan dua orang yang mengasihimu? Atau apakah kau berfokus pada tujuh orang?”

Firman Allah dalam Al-Qur’an yang agung juga mendefinisikan fenomena kehidupan di atas dengan bahasa yang sangat indah,” bisa jadi kau membenci sesuatu dan itu terbaik bagimu, dan bisa jadi kau mencintai sesuatu, tapi tidak baik bagimu. Allah maha mengetahui segala sesuatu, sedangkan kita semua tidak mengetahuai (rahasianya-pen)”.

Ayat ini diawali dengan kalimat perang,”diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu”. Ketika pulang dari perang badar, para sabahat diskusi tentang kedahsyatan perang badar. Rasul mengatakan bahwa ada perang yang lebih dahsyat dari itu. para sahabat penasaran dan bertanya tentang pernyataan tersebut. nabi menjawab, “Perang Melawan Hawa Nafsu”.

Ajaran-ajara Tuhan dari dulu senantiasa mengajarkan tentang pentingnya mendudukan kita, bukan mendudukan orang lain. Orang boleh berkata apa dan bagaimana. Semua itu sebenarnya sebatas kumpulan dongeng khayalan yang belum tentu sesuai dengan apa yang mereka katakana kepada kita. Sayangnya, di dunia ini yang berfikir seperti ini dan mempraktekannya sangat sedikit. Sering kita terbawa emosi, marah dan memutuskan persaudaraan.

Padahal ucapan orang lain kadang laksana kain pembersih. Dia sibuk mengoreksi, menghina kita, adalah proses laksana cincin yang selalu dibersikan. Semakin digosok semakin mengkilat, tapi kain pembersih justru semakin kotor. Akhirnya mau tidak mau, jika Kain pembersih ingin bersih, harus dicuci terlebih dahulu.

Saya, anda dan kita sedang ditempa oleh kehidupan yang tidak mengenakan. Kita laksana batu mulia. Sekecil apapun orang akan melihat penuh dengan kekaguman. Tapi ingat, mereka akan memukul kita dan membentuk kita menjadi batu yang pantas untuk ditaruh di Jari Manis. Saat tempaan sudah selesai, orang pun akan mengagumi dan mengucapkan kata, “Luarbiasa !”.

Ironsinya, kadang kita tidak kuat dengan tempaan menuju kualitas diri yang agung. Sering penulis artikel ini atau bisa jadi anda saat ditempa justru meronta-ronta, menjerit dan menyerang balik. Akibatnya semua menjadi “ambyar” dan menjadi tidak berkualitas.

Jangan-jangan bangsa ini, umat ini tidak cepat naik tangga kemuliaan karena terlalu sibuk menempa orang lain dengan segala sumpah serapah, tapi tidak menempa diri sendiri dengan kualitas kemuliaan. Semoga tidak demikian. Semoga kita semakin baik menyadari diri atas segala tempaan sebenarnya untuk kebaikan kita sendiri.

Duri, Amadeo Hotel, 6 September 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879