Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hukum Puasa Pendekatan Sejarah ; Puasa Hari Pertama



Kamis , 23 Maret 2023



Telah dibaca :  643

Puasa menjadi ibadah warisan yang sudah tua. Ia sudah dilaksanakan oleh para Nabi dan umat-umatnya sebelum kedatangan Nabi Muhammada S.A.W. Puasa, adalah tradisi ibadah para nabi dan disyariatkan oleh Allah kepada nabi penutup yaitu Muhammad dan para pengikutnya. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang beriman, diwajjibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Ayat ini menunjukan bahwa hukum puasa Romadhan adalah wajib. Para Sejarawan mempunyai perbedaan tafsir, tentang apakah kewajiban secara langsung satu bulan atau secara bertahap. Sebagian sejarawan mengatakan tahap pertama perintah puasa secara bertahap. Dasarnya Surat Al-Baqarah ayat 184. Ada juga secara keseluruhan sebagaimana  Allah memperintahkan puasa satu bulan penuh dengan landasan surat Al-Baqarah ayat 185 berbunyi sebagai berikut,”Barangsiapa di antara kamu yang hadir atau bertempat tinggal atau mukim pada bulan Ramadhan, hendaklah berpuasa satu bulan penuh, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya”.

Kenapa Allah s.w.t mewajibkan ibadah puasa Ramadhan? Penulis bisa melihat pada sisi ta’abud bahwa puasa adalah wujud penghambaan yang sempurna. Pembuka ayat perintah puasa dengan kalimat, “Wahai orang-orang beriman” adalah pengakuan Allah terhadap status orang berpuasa. Ada makna yang mendalam disini, yaitu bahwa orang-orang yang telah mengikrarkan diri ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya baik secara lisan, pikiran dan hati serta perbuatan sebenarnya orang-orang yang beriman. Filosofisnya, bahwa puasa adalah perilaku orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang tulus-ikhlas melaksanakan perintah-perintahnya tanpa ada pertimbangan untung dan rugi. Ini idealnya. Sebab keindahan orang berpuasa yaitu melaksanakan manisnya iman dalam realita kehidupan. Dia merasakan betapa dirinya lemah, tidak mempunyai kekuasaan apapun saat satu hari perut dikosongkan dari nafsu dunia. Lalu apakah pantas hamba yang lemah seperti ini mempunyai sifat dan sikap takabur berjalan di muka bumi Allah dengan tempelan asesori yang melekat pada dirinya, baik asesoris yang bernama pangkat, panggilan kehormatan atas nama tingginya ilmu agama, tingginya ilmu saint dan teknologi, tingginya keturunan, banyaknya istri, anak dan harta kekayaan. Padahal, Allah sangaat mudah menghapus dan menghilangkan seluruh asesoris tersebut dengan kedipan mata.

Namun status keimanan seorang muslim tidak selamanya berbanding lurus dengan status keislamannya. Seorang mukmin mengakui akan keesaan Allah dan kekuaan-Nya, tapi pada sisi lain masih melakukan berbagai perilaku yang bertentangan dengan perintah-perintah-Nya. Siapapun orang dan status sosialnya, punya potensi melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Sejarah telah memberikan beberapa contoh orang-orang yang mendapatkan ujian kehidupan dan gagal yang kemudian meninggal su’ul khotimah. Dalam kitab Duratunasihin dicontohnya Barseso, seorang ulama yang mempunyai pengikut banyak, lalu tergelincir maksiat akhir hidupnya tanpa iman. Ada Qarun yang hapal kitab Taurat selain Musa dan Harun. Namun karena bergelimang harta, dia pun hidup semakin jauh dengan harta. Ada juga orang-orang miskin, karena kemiskinannya kemudian dia terperangkap oleh situasi keduniaan dan bekerja sepenuh waktu dengan meninggalkan seluruh perintah-perintah-Nya. Ada juga orang-orang jatuh cinta, lalu rela meninggalkan akidah dan keyakinan untuk mengejar orang yang dicintai nya. Alhasil, semua punya potensi meninggalkan perintah Allah dalam semua status yang disandang oleh orang-orang yang dulunya mengatakan, amantu billah ( saya beriman kepada Allah).

Namun sejarah juga telah mencatat para pejabat yang semakin tinggi jabatanya semakin takut dan tunduk terhadap Allah s.w.t. Al-Qur’an telah mencontohkan para pemimpin seperti Raja Daud dan Sulaiman. Orang yang sangat tampan dan menjaga pandangannya seperti Nabi Yusuf dan orang-orang yang tidak beruntung kehidupan dunianya seperti Nabi Ayub yang selalu sakit-sakitan dalam hidupnya. Namun mereka tidak goyah oleh cobaan hidup. Mereka semakin diuji dengan kesenangan dan penderitaan semakin mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.

Itu sebabnya, perintah puasa ditutup dengan, “la’alakum tattaqun” yang secara tersirat bahwa ibadah puasa mempunyai potensi membangun kesadaran spiritual untuk semakin  menyadari diri akan kehidupan setelah kehidupan di Dunia, yaitu hari Akherat. Pada hari itu, semua orang akan menempatkan pilihan-pilihan tempat yang disediakan oleh Allah; Surga dan Neraka. Orang-orang yang beriman yang telah mampu melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya telah memilih secara prosedural yaitu Surga. Pilihan-pilihan ini adalah wujud dari kemerdekaan keputusan setiap orang untuk memilih dalam keadaan muslim atau justru sebaliknya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884