
Saya tidak akan terlalu mendalam membahas STAIN
Bengkalis yang kini sudah beralih status menjadi IAIN Datuk Laksemana. Pada
pembukaan tulisan ini sudah sepantasnya mengungkapkan rasa syukur kepada Allah
atas kenikmaatan yang dianugerahkan kepada kita yang sangat luarbiasa. Dalil
nya sudah mafhum: semakin syukur, semakin ditambah kenikmatan-nya, jika kufur
maka siksa Allah pun sangat besar tanpa batas. Semoga Allah memberikan
keberkahan hidup kepada siapapun yang telah berjasa.
Ungkapan syukur itu sangat penting sebagai
wujud ketawadhuan kita kepada Allah dan pengakuan kita kepada-Nya bahwa apa
yang kita nikmati saat sekarang ini karena pemberian dari-Nya. Ma’lum sifat
manusia sering lepas kendali. Sebagian orang lupa diri saat mendapatkan
kenikmatan. “Pentantang-pententeng” seperti anak-anak remaja yang baru
belajar pencak silat, atau belajar “ilmu debus”. Sedikit-sedikit mengeluarkan
jurus. Sedikit-sedikit dikeluarkan tenaga dalam. Ia, sedikit-sedikit. Karena
memang ilmu masih sedikit, jadi sedikit-sedikit kelakunya. Meskipun sedikit, ia
bangga. Seolah-olah sudah paripurna. Bagi orang-orang yang sudah “nyegoro”
ilmu kanuragannya,tentu akan tersenyum dan berkata dalam hati: ”Ah, ternyata
masih amatir”.
Perubahan nama selalu mengandung kajian
dari beragam aspek. Dulu, ada teman ku bernama Sabar. Waktu kecil badan nya
kurus. Ingkril-ingkril. Badan kecil, tangan kecil, tapi kepala besar dan
mata lebar. Orang-orang melihatnya berfikir bahwa ia tidak akan bertahan hidup lebih lama, atau seandainya bertahan pun mengalami persoalan
stunting akibat gizi buruk. Menyedihkan.
Dulu belum ada program Makan Bergizi Gratis
(MBG). Solusi orang tua dulu sederhana, yaitu mengganti nama nya. Nama Sabar
diganti menjadi Subur. Walhasil, beberapa tahun kemudian, teman ku yang nama
nya Sabar berbadan kecil dan sering sakit-sakitan, berubah menjadi anak yang
berbadan tinggi, kekar dan berbadan besar. Benar-benar berubah menjadi bongsor.
Makanya, saya punya usul program MBG yang
sudah jalan jika kurang efektif membawa pertumbuhan anak terbebas dari stunting,
mungkin salah satu trik menggunakan metode orang tua dulu: Perubahan Nama
Gratis (PNG) anak secara nasional. Bisa jadi mereka “kaboten jeneng”,
terlalu berat memikul nama. Ma’lum,nama anak-anak zaman sekarang menurutku
membuat pusing alam semesta, terutama guru wali kelas.
Bayangkan saja, betapa menderita nya anda
saat punya murid bernama“ Venushyntha
phauna pharamytha tribhuana
adhyndha phramewary dhahaputri” atau
rhoshandiatellyneshiaunneyeshenk koyaanisquatsiuth Williams. Nama nya
hampir “satu makalah”. Mungkin agar terlihat keren dan penuh dengan sensasi.
Tapi membuat orang lain stress.
Ada juga nama terlihat kekinian tapi
sebenarnya jadul seperti nama anak: BjO (cara bacanya “bejo”). Ada juga
nama karena kondisi saat lahir tidak mau menangis diberi nama lamborgini
(lambene ora gelem moni, alias ora nangis). Itulah manusia, kadang
semakin kesini semakin lucu-lucu, kadang semakin menyedihkan, kadang juga
semakin sensasional dalam memberi nama anak-anaknya.
Ada juga sih orang-orang barat mengatakan
begini:”what’is name”, apa arti sebuah nama?. Faktanya ada nama baik,
kelakunya tidak baik. Nama nya tradisional tapi prestasi berkelas nasional
bahkan Internasional. Nama bagi orang barat hanya sebagai tanda saja. Tidak
lebih dari itu. Saya lihat pun ada sebagian ustadz-ustadz yang ikut-ikutan
ketularan pola pikiran barat.
Orang tua kita dulu selalu memberi nama
anak-anaknya mempunyai makna yang sangat agung. Sederhana namanya, maknanya
sangat mendalam. Lebih hebat lagi, orang tua dulu memberi nama tidak asal
sebatas tanda, tapi filosofisnya, sejarahnya, dan juga harapan keberkahan dari
nama tersebut.
Islam tentu saja mengajarkan nama-nama yang
mempunyai makna baik baik secara tekstual maupun secara subtansial. Seperti
nama Abdullah, Hasan, Husein, Abdurrahman, Muhammad Faiz dan lain-lain. Ada
juga mengharapkan keberkahan atau tafaulan seperti memberi nama Yusuf, Maryam,
Musa, Ibrahim agar anak-anaknya bisa kecipratan kebaikan dari penyandang para
nabi dan orang-orang mulia tersebut. Ada nama para orang-orang hebat agar
anak-anak nya mendapatkan keberkahan menjadi ilmuwan, politikus, ulama, dan
profesi-profesi lainnya.
Jadi kita menghindari memberi nama kepada
anak-anak dengan nama-nama yang kotor, jorok, najis, dan nama-nama tokoh yang
diabadikan sebagai nama-nama yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.
Selain itu ada nama cukup baik tapi saran
saya jangan digunakan untuk nama-nama anak anda saat anda sudah menikah nanti.
Meskipun ini tidak ada dalilnya, tapi saran saya jangan anda lakukan nama-nama
berikut ini, yaitu nama-nama mantan pacar anda,atau mantan pasangan anda. Itu
saran saja.
Jadi nama harus baik dari aspek kata dan
makna. Ia bagian dari doa. Namun Tuhan memerintahkan
umat manusia untuk merealisasikan nama-nama tersebut menjadi nyata. Pada
wilayah ini, setiap orang yang mempunyai nama-nama baik harus memperjuangkan
sekuat tenaga agar bisa membawa nama nya menjadi harum dalam kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat. Sebab kita sama-sama mengetahui bahwa menjaga nama
jauh lebih berat daripada memberi nama. Menjaga nama sebenarnya mempertaruhkan
harga diri dan harga apa-apa yang sedang kita pikul. Jika yang kita pikul berupa jabatan, maka
kita sedang mempertaruhkan marwah jabatan. Jika yang kita pikul adalah agama,
maka kita sedang mempertaruhkan presepsi orang lain terhadap agama kita.
Nama kita menjadi besar bukan karena nama
yang tertulis dalam KTP atau catatan-catatan administrasi. Nama kita menjadi
besar saat kita telah mampu melahirkan pemikiran, ucapan, perbuatan dan
karya-karya berkualitas dan berdampak bagi masyarakat luas. Semakin memberi
kontribusi positif, maka semakin bersinar nama kita di tengah-tengah
masyarakat. Semakin besar nama kita, semakin merasa kecil diri kita tenggelam
dalam esensi ketawadhuan. Kebaikan semakin menghujam ke dalam bumi. Berdiri
kokoh, dan daun serta buah terus memberi kesejukan, kedamaian dan
kesejahteraan. Itulah arti dari makna yang sebenarnya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874