Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

IAIN Datuk Laksemana, Apa Arti Sebuah Nama?



Rabu , 28 Mei 2025



Telah dibaca :  730

Saya tidak akan terlalu mendalam membahas STAIN Bengkalis yang kini sudah beralih status menjadi IAIN Datuk Laksemana. Pada pembukaan tulisan ini sudah sepantasnya mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas kenikmaatan yang dianugerahkan kepada kita yang sangat luarbiasa. Dalil nya sudah mafhum: semakin syukur, semakin ditambah kenikmatan-nya, jika kufur maka siksa Allah pun sangat besar tanpa batas. Semoga Allah memberikan keberkahan hidup kepada siapapun yang telah berjasa.

Ungkapan syukur itu sangat penting sebagai wujud ketawadhuan kita kepada Allah dan pengakuan kita kepada-Nya bahwa apa yang kita nikmati saat sekarang ini karena pemberian dari-Nya. Ma’lum sifat manusia sering lepas kendali. Sebagian orang lupa diri saat mendapatkan kenikmatan. “Pentantang-pententeng” seperti anak-anak remaja yang baru belajar pencak silat, atau belajar “ilmu debus”. Sedikit-sedikit mengeluarkan jurus. Sedikit-sedikit dikeluarkan tenaga dalam. Ia, sedikit-sedikit. Karena memang ilmu masih sedikit, jadi sedikit-sedikit kelakunya. Meskipun sedikit, ia bangga. Seolah-olah sudah paripurna. Bagi orang-orang yang sudah “nyegoro” ilmu kanuragannya,tentu akan tersenyum dan berkata dalam hati: ”Ah, ternyata masih amatir”.

Perubahan nama selalu mengandung kajian dari beragam aspek. Dulu, ada teman ku bernama Sabar. Waktu kecil badan nya kurus. Ingkril-ingkril. Badan kecil, tangan kecil, tapi kepala besar dan mata lebar. Orang-orang melihatnya berfikir bahwa ia tidak akan bertahan hidup lebih lama, atau seandainya bertahan pun mengalami persoalan stunting akibat gizi buruk. Menyedihkan.

Dulu belum ada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Solusi orang tua dulu sederhana, yaitu mengganti nama nya. Nama Sabar diganti menjadi Subur. Walhasil, beberapa tahun kemudian, teman ku yang nama nya Sabar berbadan kecil dan sering sakit-sakitan, berubah menjadi anak yang berbadan tinggi, kekar dan berbadan besar. Benar-benar berubah menjadi bongsor.

Makanya, saya punya usul program MBG yang sudah jalan jika kurang efektif membawa pertumbuhan anak terbebas dari stunting, mungkin salah satu trik menggunakan metode orang tua dulu: Perubahan Nama Gratis (PNG) anak secara nasional. Bisa jadi mereka “kaboten jeneng”, terlalu berat memikul nama. Ma’lum,nama anak-anak zaman sekarang menurutku membuat pusing alam semesta, terutama guru wali kelas.

Bayangkan saja, betapa menderita nya anda saat punya murid bernama“ Venushyntha  phauna  pharamytha tribhuana adhyndha phramewary  dhahaputri” atau rhoshandiatellyneshiaunneyeshenk koyaanisquatsiuth Williams. Nama nya hampir “satu makalah”. Mungkin agar terlihat keren dan penuh dengan sensasi. Tapi membuat orang lain stress.

Ada juga nama terlihat kekinian tapi sebenarnya jadul seperti nama anak: BjO (cara bacanya “bejo”). Ada juga nama karena kondisi saat lahir tidak mau menangis diberi nama lamborgini (lambene ora gelem moni, alias ora nangis). Itulah manusia, kadang semakin kesini semakin lucu-lucu, kadang semakin menyedihkan, kadang juga semakin sensasional dalam memberi nama anak-anaknya.

Ada juga sih orang-orang barat mengatakan begini:”what’is name”, apa arti sebuah nama?. Faktanya ada nama baik, kelakunya tidak baik. Nama nya tradisional tapi prestasi berkelas nasional bahkan Internasional. Nama bagi orang barat hanya sebagai tanda saja. Tidak lebih dari itu. Saya lihat pun ada sebagian ustadz-ustadz yang ikut-ikutan ketularan pola pikiran barat.

Orang tua kita dulu selalu memberi nama anak-anaknya mempunyai makna yang sangat agung. Sederhana namanya, maknanya sangat mendalam. Lebih hebat lagi, orang tua dulu memberi nama tidak asal sebatas tanda, tapi filosofisnya, sejarahnya, dan juga harapan keberkahan dari nama tersebut.

Islam tentu saja mengajarkan nama-nama yang mempunyai makna baik baik secara tekstual maupun secara subtansial. Seperti nama Abdullah, Hasan, Husein, Abdurrahman, Muhammad Faiz dan lain-lain. Ada juga mengharapkan keberkahan atau tafaulan seperti memberi nama Yusuf, Maryam, Musa, Ibrahim agar anak-anaknya bisa kecipratan kebaikan dari penyandang para nabi dan orang-orang mulia tersebut. Ada nama para orang-orang hebat agar anak-anak nya mendapatkan keberkahan menjadi ilmuwan, politikus, ulama, dan profesi-profesi lainnya.

Jadi kita menghindari memberi nama kepada anak-anak dengan nama-nama yang kotor, jorok, najis, dan nama-nama tokoh yang diabadikan sebagai nama-nama yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Selain itu ada nama cukup baik tapi saran saya jangan digunakan untuk nama-nama anak anda saat anda sudah menikah nanti. Meskipun ini tidak ada dalilnya, tapi saran saya jangan anda lakukan nama-nama berikut ini, yaitu nama-nama mantan pacar anda,atau mantan pasangan anda. Itu saran saja.

Jadi nama harus baik dari aspek kata dan makna. Ia bagian dari doa. Namun  Tuhan memerintahkan umat manusia untuk merealisasikan nama-nama tersebut menjadi nyata. Pada wilayah ini, setiap orang yang mempunyai nama-nama baik harus memperjuangkan sekuat tenaga agar bisa membawa nama nya menjadi harum dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Sebab kita sama-sama mengetahui bahwa menjaga nama jauh lebih berat daripada memberi nama. Menjaga nama sebenarnya mempertaruhkan harga diri dan harga apa-apa yang sedang kita pikul.  Jika yang kita pikul berupa jabatan, maka kita sedang mempertaruhkan marwah jabatan. Jika yang kita pikul adalah agama, maka kita sedang mempertaruhkan presepsi orang lain terhadap agama kita.

Nama kita menjadi besar bukan karena nama yang tertulis dalam KTP atau catatan-catatan administrasi. Nama kita menjadi besar saat kita telah mampu melahirkan pemikiran, ucapan, perbuatan dan karya-karya berkualitas dan berdampak bagi masyarakat luas. Semakin memberi kontribusi positif, maka semakin bersinar nama kita di tengah-tengah masyarakat. Semakin besar nama kita, semakin merasa kecil diri kita tenggelam dalam esensi ketawadhuan. Kebaikan semakin menghujam ke dalam bumi. Berdiri kokoh, dan daun serta buah terus memberi kesejukan, kedamaian dan kesejahteraan. Itulah arti dari makna yang sebenarnya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874