Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ibadullah: Persiapan Panjang Berjumpa dengan Allah



Sabtu , 28 Desember 2024



Telah dibaca :  797

Dalam kontek bahasa, kata “hamba” mencerminkan kepasrahan seseorang untuk mengabdi kepada majikannya. Ia tidak bebas. Ia sangat terikat dengan aturan-aturan yang dibuat oleh majikannya. Itu sebabnya ia tidak mempunyai kemerdekaan kecuali setelah sang majikannya membebaskan statusnya sebagai seorang hamba atau budak (istilah pada masa pra-Islam, Zaman Jahiliyah). Ia akan menjadi menjadi manusia merdeka.

Gambaran kehidupan seorang hamba atau budak pada masa permulaan Islam seperti dijelaskan dalam Q.S. An-Nisa ([4]: 25) berbunyi:

“Dan siapa saja dari kalian yang tidak mampu (mempunyai) biaya untuk menikahi para perempuan merdeka yang beriman, maka nikahilah para perempuan yang kalian miliki yaitu dari para budak Perempuan kalian yang beriman. Dan Allah lebih mengetahui iman kalian. Sebagian kalian dari Sebagian yang lain. Maka kalian nikahilah para budak perempuan itu seizin pemiliknya, dan berikanlah kepada mereka maharnya secara baik, yaitu para budak perempuan yang terjaga harga dirinya, bukan para budak perempuan yang melakukan perzinaan secara terang-terangan dan bukan para budak perempuan yang melakukan perzinaan secara sembunyi-sembuyi. Lalu ketika mereka telah terjaga dengan dinikahkan kemudian melakukan perzinaan, maka diterapkan kepada mereka separo hukuman bagi para perempuan merdeka yang masih perawan dari hukuman had zina. Kebolehan menikahi para budak perempuan itu bagi orang yang khawatir melakukan zina dari kalian. Dan kesabaran kalian untuk tidak menikahi budak perempuan itu lebih baik bagi kalian. Dan sungguh Allah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Pengertian ibadullah atau orang-orang yang benar-benar menjadi hamba Allah berbeda dengan hamba dalam pengertian mengabdi kepada manusia. Dalam Islam ada istilah ‘aabd, ‘abiid, dan ‘ibaad yang artinya menyembah, beribadah dan mengabdi (Umar, 2017). Kedudukan hamba kepada Allah membebaskan hamba kepada sesama manusia. Ketika ia sudah menyatakan diri mengucapkan kalimat tauhid, maka pada saat itu tidak boleh ada satupun manusia melakukan perbudakan kepada manusia lain. Tidak boleh orang berkulit putih merasa hebat dari kulit hitam. Bangsa eropa merasa lebih superior daripada bangsa selain nya. bangsawan merasa lebih mulia dari rakyat biasa. Para pemangku kekuasaan, para pengurus ormas agama merasa lebih mulia dan suci daripada rakyat jelata. Sikap “gumede” dan “kumoluhur” merupakan bagian mata rantai yang dibabat habis dari ajaran islam. Semua menjadi sama dalam pandangan allah swt. Hal ini dijelaskan dalam q.s. al-hujurat ([49 ]: 13) sebagai berikut:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Penekanan takwa sebagai barometer kemulyaan menyebabkan ibadullah (hamba Allah) tidak mempunyai keinginan untuk memperbudak siapapun atas nama apapun. Orang yang sudah menyatakan diri sebagai hamba Allah sebenarnya orang yang sangat status pada dirinya”jangan-jangan Allah mlengos” pada diri nya sehingga ia tetap ingin memperbaiki hubungan nya dengan allah tidak akan putus. Bahkan ia benar-benar mendesain “hablu minannas” sebagai bayang-bayang perwujudan “hablu minallah”. Jadi, sudah tidak ada lagi perbedaan hubungan vertical dan horizontal. Sebab semua benar-benar sudah mencerminkan kedalaman cinta kepada Allah SWT. Nafsu amarah benar-benar sudah mati. Muncul nafsu mutmainah.

Seorang ibadullah adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Bahkan suatu kesalahan sebenarnya sedang menunjukan hakikat sebagai manusia yang tidak lepas dari status “khilaf” dan “dosa”. Ia mungkin banyak dosa dari kebaikannya. Ia mungkin telah membuat banyak orang marah kepada nya. Wajar. Kontek kehidupan sosial selalu ada pro dan kontra. Namun dalam tataran sebagai “ibadullah”, persoalan banyak dan sedikit khilaf dan dosa menjadi hak otoritas Allah swt. Manusia hanya bisa menilai, tapi tidak bisa menentukan. Manusia hanya Sebata supporter yang bersorak saat bola masuk gawang dan marah-marah, ngumpat-ngumpat dengan kata-kata (mohon maaf) seperti : jangkrik !, bajigur !, demit!, diancuuk!, bangsat ! dan lain-lain. Itu watak manusia: supporter bergaya wasit, bahkan berlagak lebih hebat dari pemainnya. Tapi itulah watak manusia yang selalu ingin melihat kesempurnaan. Padahal manusia lahir hakikatnya penuh dengan kekurangan sampai ia menghadap kepada Allah SWT.

Kini ‘ibadullah ( hamba allah ) yang bernama Ibadullah telah menghadap Allah SWT. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Tuhan telah memanggilnya. Bisa jadi, serba kurang dalam pandangan manusia, ia telah sempurna dalam pandangan Allah. Sehingga ia pun telah dipanggil oleh kekasih-Nya. Kita mungkin iri pada sisi aktivitasnya yang bisa jadi menjadi Istimewa di sisi-Nya. Semoga saja iri kita adalah iri kebaikan, sehingga kita bisa meniru sisi positifnya dan mengubur segala masa lalu yang kelam. Semoga husnul khotimah. Al-fatehah. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872