
Dalam kontek bahasa, kata “hamba” mencerminkan kepasrahan
seseorang untuk mengabdi kepada majikannya. Ia tidak bebas. Ia sangat terikat
dengan aturan-aturan yang dibuat oleh majikannya. Itu sebabnya ia tidak
mempunyai kemerdekaan kecuali setelah sang majikannya membebaskan statusnya
sebagai seorang hamba atau budak (istilah pada masa pra-Islam, Zaman Jahiliyah).
Ia akan menjadi menjadi manusia merdeka.
Gambaran kehidupan seorang hamba atau budak pada masa permulaan Islam
seperti dijelaskan dalam Q.S. An-Nisa ([4]: 25) berbunyi:
“Dan siapa saja dari kalian yang tidak mampu (mempunyai) biaya
untuk menikahi para perempuan merdeka yang beriman, maka nikahilah para perempuan
yang kalian miliki yaitu dari para budak Perempuan kalian yang beriman. Dan Allah
lebih mengetahui iman kalian. Sebagian kalian dari Sebagian yang lain. Maka
kalian nikahilah para budak perempuan itu seizin pemiliknya, dan berikanlah
kepada mereka maharnya secara baik, yaitu para budak perempuan yang terjaga
harga dirinya, bukan para budak perempuan yang melakukan perzinaan secara
terang-terangan dan bukan para budak perempuan yang melakukan perzinaan secara
sembunyi-sembuyi. Lalu ketika mereka telah terjaga dengan dinikahkan kemudian
melakukan perzinaan, maka diterapkan kepada mereka separo hukuman bagi para
perempuan merdeka yang masih perawan dari hukuman had zina. Kebolehan menikahi
para budak perempuan itu bagi orang yang khawatir melakukan zina dari kalian.
Dan kesabaran kalian untuk tidak menikahi budak perempuan itu lebih baik bagi
kalian. Dan sungguh Allah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Pengertian ibadullah atau orang-orang yang benar-benar
menjadi hamba Allah berbeda dengan hamba dalam pengertian mengabdi kepada
manusia. Dalam Islam ada istilah ‘aabd, ‘abiid, dan ‘ibaad yang
artinya menyembah, beribadah dan mengabdi
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Penekanan takwa sebagai barometer kemulyaan menyebabkan ibadullah
(hamba Allah) tidak mempunyai keinginan untuk memperbudak siapapun atas nama
apapun. Orang yang sudah menyatakan diri sebagai hamba Allah sebenarnya orang
yang sangat status pada dirinya”jangan-jangan Allah mlengos” pada diri
nya sehingga ia tetap ingin memperbaiki hubungan nya dengan allah tidak akan
putus. Bahkan ia benar-benar mendesain “hablu minannas” sebagai
bayang-bayang perwujudan “hablu minallah”. Jadi, sudah tidak ada lagi
perbedaan hubungan vertical dan horizontal. Sebab semua benar-benar sudah mencerminkan
kedalaman cinta kepada Allah SWT. Nafsu amarah benar-benar sudah mati. Muncul
nafsu mutmainah.
Seorang ibadullah adalah manusia biasa yang tidak lepas dari
kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Bahkan suatu kesalahan sebenarnya sedang
menunjukan hakikat sebagai manusia yang tidak lepas dari status “khilaf”
dan “dosa”. Ia mungkin banyak dosa dari kebaikannya. Ia mungkin telah membuat
banyak orang marah kepada nya. Wajar. Kontek kehidupan sosial selalu ada pro
dan kontra. Namun dalam tataran sebagai “ibadullah”, persoalan banyak dan
sedikit khilaf dan dosa menjadi hak otoritas Allah swt. Manusia hanya bisa
menilai, tapi tidak bisa menentukan. Manusia hanya Sebata supporter yang
bersorak saat bola masuk gawang dan marah-marah, ngumpat-ngumpat dengan
kata-kata (mohon maaf) seperti : jangkrik !, bajigur !, demit!, diancuuk!,
bangsat ! dan lain-lain. Itu watak manusia: supporter bergaya wasit, bahkan
berlagak lebih hebat dari pemainnya. Tapi itulah watak manusia yang selalu ingin
melihat kesempurnaan. Padahal manusia lahir hakikatnya penuh dengan kekurangan
sampai ia menghadap kepada Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872