Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Identitas Santri Hasyim Asy’ari



Senin , 15 Juli 2024



Telah dibaca :  651

Saat sekarang ini situasi Masyarakat dunia seperti toko serba ada (toserba). Semua tersedia dan kita bisa membeli apapun yang kita inginkan dalam satu tempat, baik hal-hal yang baik maupun yang tidak baik. Kita bisa memesan daging sapi dan (mohon maaf) daging bagi di satu tempat. Dunia benar-benar sudah tanpa batas. Meskipun secara fisik kita mungkin tidak bisa pergi ke luar negeri atau daerah-daerah tertentu karena terbatas finansial, tapi panca Indera kita bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi di berbagai belahan bumi.

Hari ini kita tidak bisa pergi ke Palestina, Suriah, Somalia dan daerah-daerah konflik lainnya. Tapi kita melihat dengan jelas bagaimana kehidupan mereka saat sekarang ini. Semua kejadian terasa berada di depan mata. Kita bisa berdialog dan mengekspresikan segala perasaan kepada yang diajak bicara. Tapi kita tidak bisa menyentuhnya secara langsung. Meskipun demikian, seluruh peristiwa tersebut telah melahirkan ikatan-ikatan rasa kemanusiaan baru tanpa batas. Kepedulian kita muncul, bahkan terkadang kepedulian kepada mereka lebih besar daripada kepada tetangga kita yang sehari-hari mengalami persoalan sama seperti kemiskinan, Pendidikan, sulit mendapatkan sandang, pangan dan papan.

Persoalan global di era 5.0 saat sekarang ini adalah pengulangan sejarah masa lalu dengan format yang berbeda. Isu-isu global juga sama, berkaitan dengan kemiskinan, agama dan politik. Jika sedikit menelisik ke belakang, penulis melihat pertarungan ideologi sebenarnya perwujudan cita-cita kelompok tertentu untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut dengan cara berbeda-beda. Karena berbeda filosofis dan metodologinya, yang kemudian hari menimbulkan ketegangan para penganut ideologi bahkan sampai terjadi persoalan yang sangat serius seperti peperangan, pembantaian genosida, penjajahan dan sejenisnya.


Diantara sekian ideologi keagamaan yang ingin menjebatani ketegangan berbagai ideologi yaitu ideologi keagamaan yang dirancang oleh hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari dan para ulama yang bersama dengannya. Ketika pemikiran Islam dan pengikut-pengikutnya terjadi beragam faksi pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran Islam, Hasyim Asy’ari menawarkan ideologi tengah atau moderat atau tawasut. Ia mencoba melihat agama sebagai ajaran yang suci dan menghargai perbedaan adalah sunatullah. Sebab sebagai ajaran yang suci, agama adalah wahyu Tuhan dan ada kemungkinan para pengikutnya mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Menghargai perbedaan tersebut adalah suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari dan sebagai jalan untuk saling menghargai perbedaan tersebut.

Tawaran tersebut tentu saja sangat realistis. Perjalanan sejarah masa lalu, penulis melihat peristiwa tragis seperti pembunuhan khalifah Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan Husein bin Ali adalah suatu fakta bahwa eklusifitas pemahaman agama bisa menjadi ancaman yang sangat mengerikan bagi kelangsungan peradaban manusia. Hingga kini, persoalan tersebut tidak pernah berhenti, bahkan terlihat ada indikasi-indikasi semakin “kumat” (kambuh) kebangkitan kelompok-kelompok yang ingin menggiring agama dalam pusaran konflik. Jika hal ini dibiarkan, maka wajah dunia di masa depan secara umum, dan wajah Islam secara khusus terlihat sangat suram dan menyedihkan.

Tawaran pemahaman agama Islam yang moderat dari hadratusyeikh yang diaktualisasikan dalam wujud organisasi Nahdlatul Ulama (NU) bagian solusi yang sangat solutif. Penerimaan pemahaman agama melalui pengakuan terhadap madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) adalah sikap moderat baik dalam memandang suatu perbedaan terhadap ajaran agama Islam (yang bersifat furu’) juga moderat dalam memandang persoalan sosial, budaya, dan politik sekaligus. Pengakuan ini tentu saja mempunyai alasan sejarah yang sangat kuat seperti sikap para ulama pada masa lampau menerima pemimpin (penguasa) dzalim. Meskipun dalam praktek pemerintahannya masih banyak persoalan harus tetap diterima sebagai pemerintahan yang sah. Dasar tersebut ekspresi dari ketaatan terhadap ulil amri sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taimiyah sebagai berikut:  “enam puluh tahun hidup dalam kekuasaan pemimpin yang dzalim jauh lebih baik daripada sehari dalam situasi kekosongan kekuasaan.”

Mengapa demikian?

Kita sering mengimajinasikan bahwa kekuasaan yang dzalim adalah sesuatu sistem yang sangat bertentangan dalam ajaran Islam dan harus dilawan sebagai perwujudan jihad. Meskipun benar, tapi pada persoalan politik tidak seperti membalikan telapak tangan. Perlu ada pendekatan tafsir siyasah yang tepat. Negara dan pemerintahan adalah sekumpulan kekuatan dan konstitusi yang bisa dipastikan ada sisi kebaikan bagi seluruh umatnya. Dari sini penulis menilai bahwa kondisi negara yang belum sempurna dalam mengoperasionalkan program-program nya (bahkan sampai pada tingkatan dzalim) jauh lebih baik daripada terjadi kekosongan kekuasaan meskipun satu hari. Sebab kekosongan kekuasaan satu hari sudah cukup efektif menghancurkan negara.


Kehadiran NU sebagai organisasi sosial keagamaan mempunyai peran menjaga keseimbangan perjalanan bangsa dan negara. Sebagai organisasi yang mempunyai identitas dan karakter masyarakat Indonesia asli, NU harus dikembangkan, diperkenalkan dan direalisasikan keberadaannya dalam sikap dan perbuatan sehari-hari dalam semua aspek kehidupan. Merealisasikan semua itu dibutuhkan kader-kader NU yang Ikhlas dan konsisten “nggondeli” nilai-nilai perjuangan para muassis dan masyayikh. Benar bahwa hal tersebut sangat berat dan banyak rintangan dalam menjalankan roda organisasi tersebut. Semua itu harus bisa dima’lumi sebagai bentuk pendewasaan diri agar kader NU semakin siap menghadapi tugas yang lebih berat lagi yaitu “merawat jagat dan membangun peradaban”. Tugas yang mulia ini hanya bisa dipikul oleh kader-kader yang Ikhlas mengharap ridho Allah melalui jam’iyah Nahdlatul Ulama. Penulis yakin diantara jutaan santri hadratusyeikh selalu muncul kader-kader tersebut.


Saya dan anda (bisa jadi) belum menjadi bagian dari kader-kader sebagaimana tersebut di atas. Tidak mengapa, sepanjang kecintaan kepada organisasi NU sudah tumbuh dengan baik maka itu sudah menjadi keberkahan luarbiasa. Sebab cinta bisa menumbuhkan daya berfikir dan inovasi sangat hebat. Sejalan perjalanan waktu saya kira pertumbuhan tersebut akan semakin baik dan dimasa mendatang menjadi pohon peradaban masyarakat Indonesia dan menjadi suri tauladan bagi masyarakat Internasional.

Yogyakarta International Airport, 15 Juli 2024



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900