Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Idul Fitri di Kampung, Baca Twitter Garis Lucu



Senin , 24 April 2023



Telah dibaca :  270

Jum’at pagi[21 April 2023] saya berangkat ke rumah mertua melalui jalan laut dan darat. Karena daerah nya kepulauan. Setiap pulau dibatasi oleh sungai-sungai. Itu sebabnya, kendala perjalanan ketika menunggu Kempang [ sebutan transpotasi laut yang terbuat dari kayu. Ukuran nya tidak besar. Hanya memuat sekitar 30 kendaraan motor ditambah penumpang. Jika satu kendaraan motor 3 orang, berarti penumpang 90 orang plus 30 Honda; 120 penumpang. Ini kapasitanya sudah penuh sampai bibir Kempang]. Kondisi seperti ini yang menyebabkan lambat. Harus antri.Apalagi menjelang bulan Hari Raya Idul Fitri. Memang Muhamadiyah hari ini sudah lebaran. Tapi tidak pengaruh. Masyarakat lebih banyak memilih mengikuti keputusan pemerintah yaitu lebaran hari sabtu. Makanya, hari jum’at sebagai hari terakhir berbelanja di Pasar. Orang-orang kampung yang ingin ke kota Selatpanjang juga harus naik kempang. Mereka antri di pinggir laut dengan membawa istri dan anak-anaknya. Ini mengingatkan saya ketika antri di Pelabuhan Merak. Harus menungguh dengan penuh kesabaran.

Jam 9.00 WIB gelombang laut sudah mulai besar. Angin laut berhembus kencang dan  bergulung-gulung dan menerjang bibir pantai. Ini yang menyebabkan abrasi yang tidak bisa dihindari. Persoalan klasik yang sampai hari ini belum bisa diatasi. Pemerintah Kabupaten Kepuluan Meranti belum mampu membuat bendungan pemecah gelombang laut. Jika ABPD Kepulauan Meranti untuk membuat tanggul pemecah gelombang, saya pikir masih kurang. APBD sebesar 1 trilyun; untuk belanja harian dan pembangunan. Saya tidak tahu pasti jumlah untuk membayar gaji para pejabat, PNS dan honorer. Jika dibuat estimasi 50% untuk pembangunan, 50% untuk operasional, belum bisa disebut postur APBD sehat. Idealnya 60% untuk pembangunan,  40% untuk biaya operasional. Namun yang jelas dalam pengamatan saya, para pegawai, honorer dan kepala desa di bulan Ramadhan masih pusing. Bukan karena bulan Ramadhan akan berlalu, tapi isi dompet masih seperti dulu. Organisasi semi pemerintah seperti MUI, BAZNAS dan LPTQ pun harus menyambung puasa lagi sampai habis bulan Ramadhan. Mungkin juga akan puasa Dalail Khairat, atau Puasa Dawud. Ketiga organisasi ini harus meminjam duit untuk operasional. Pinjam kepada para aghniya sudah tidak berani seperti dulu. Sebab sudah tidak ada yang bisa dipinjami, dan sudah bingung bagaimana cara mengembalikan pinjaman tersebut. Semoga setelah lebaran, bisa benar-benar mendapat hari kemenangan. Walaupun puasa, cukup puasa senin-kamis saja, jangan sampai puasa ngebleng, tidak makan-minum dan tidak tidur sepanjang malam.

Di perjalanan ada orang bertanya, “Sudah lebaran pak”. Saya menjawab, “Belum, saya menunggu pengumuman dari pemerintah”. Mereka pun menjawab, “Saya pun sama pak. Kalau tidak ikut pemerintah ikut aturan siapa lagi. Yang lain ikut aturan pemerintah, lebaran kok tidak ikut”. Saya tersenyum mendengarnya. Saya jadi ingat kaidah hukum, “حكم الحاكم ملزم و يرفع الخللاف”, keputusan pemerintah adalah mengikat dan menghilangkan perbedaan”.

Jam 9.30 WIB sudah sampai di seberang. Saya langsung tancap gas. Udara terasa panas hari ini. Kepulauan Meranti sudah lama tidak hujan. Ditambah lagi, mulai dari Parit Teladan sampai Bungur jalan masih base, belum di aspal. Tanah dan Pasir di musim kemarau sungguh menghasilkan debu yang luarbiasa. Dada terasa sesak. Seharusnya saya memakai Masker, walaupun covid-19 telah berlalu. Udara benar-benar kotor sekali. Dulu marah sama covid, sekarang marah sama debu.

Sampai di rumah mertua sekitar jam 11.20. anak-anak yang dua hari lebih dulu di rumah mbah nya langsung berlari-lari menjemput bapak nya datang. Targetnya satu, pinjam HP. Saya tidak bisa marah. Kedua HP saya berikan. Jihan, Anis dan Faiz pun sibuk nonton film kartun atau permainan-permainan di HP. Namun tetap saya awasi. Paling lama, 15 menit mereka boleh pinjam HP. Mereka pun memahami nya. Biasanya yang agak susah adalah Jihan yang masih duduk di kelas 4 SDS Al-Hikmah. Sama, jika Istri sudah memegang HP saya, susah diminta. Uniknya, istri tidak mau membaca WA. Padahal hari ini lagi viral, suami lebih takut jika HP nya disita oleh istrinya daripada oleh KPK. Saya tidak tahu apakah saya termasuk suami yang sholeh. Tapi yang jelas, WA di dua HP saya aman-aman saja. Paling-paling, Istri pinjam HP untuk berselancar melihat Toko online untuk,”COD”. Hari berikut nya istri SMS, “Mas, nanti tolong bayarkan Tas sama Istrinya pak Edi Suyanto”.

Waktu terus berjalan. Satu-satunya bisa menghibur menunggu waktu Maghrib yaitu HP. Namun internet susah di Kampung. Telpon kadang kadang bisa, tapi lelet. Video call ada gambar nya, suara tidak ada. WA pun ngadat. Jadi susah komunikasi. Mungkin HP saya sudah tergolong HP kota, jadi belum paham seluk beluk mencari sinyal internet. Sebab saya lihat, orang kampung main HP agak lancar-lancar saja.

Setelah sholat maghrib, internet sedikit lancar. WA terus berbunyi. Isinya ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Mungkin WA nya jamak takhir. Gara-gara internet lelet, pas ada langsung bunyi seperti Alarm. Namun, saya pun masih susah membalas satu-persatu. Kiriman pesan WA saya harus menunggu beberapa menit, baru bisa terkirim.

Saya membuka Twitter juga masih kendala. Berita paling fenomenal dari grup-grup Twitter Garis Lucu; Twitter NU Garis Lucu, Twitter Muhamadiyah Bukan Garis Lucu, Twitter Hindu Garis Lucu dan sejenisnya. Terutama mengomentari lebaran jum’at dan sabtu. Twitter ini isinya lucu dan tidak tegang. Namanya juga Twitter Garis Lucu, jadi kritiknya dengan lelucon. Contoh isi yang menggelitik dari warga Muhamadiyah, “Gus NU Twitter Garis Lucu, saya lebaran dulu ya, besok kita makan Opor Ayam bareng”. Twitter NU Garis Lucu mengirim dua gambar; Banser dan Kokam. Banser menjaga sholat jamaah Muhamadiyah hari jum’at, Kokam menjagai sholat jamaah NU hari sabtu. Di gambar tersebut di tulis kallimat yang lucu, “Banser puasa, Kokam sarapan”. Lucu, tapi mengena. Sebab Banser jaga pas masih puasa terakhir hari jum’at, Kokam jaga pas Banser lebaran hari sabtu.

Malam sabtu yang tidak kalah trending topic adalah berita pengumuman Ganjar Pranowo menjadi capres PDI-P. Saya baru tahu malam hari. Ternyata sudah diumumkan di siang hari Jum’at. Malam itu benar-benar isi nya pak Ganjar. Ucapan selamat pun datang dari para tokoh politik. Saya telusuri, berita di Media Online isinya berkaitan dengan Ganjar, Jokowi, Megawati dan Puan Maharani. Hanya saja, beberapa waktu kemudian muncul di Twitter gambar Puan Maharani memakai Baju Merah sambil memegang Kelapa Muda. Ada tulisan begini, “Saya kira saya hanya satu-satunya, ternyata hanya salah satunya”. Tulisan sindiran kepada nya setelah tidak terpilih menjadi capres PDI-P. Ada juga berita yang membingungkan[terkesan oportunis] dari sikap mantan ketua JoMan[ Jokowi Mania]. Dulu pendukung Jokowi, kini mendukung Prabowo. Immanuel Ebenezer sang mantan Joman, kini menjadi Paman [Prabowo Mania] mengatakan, “Jika Prabowo menjadi wakil Ganjar, saya akan meninggalkanya, dan kemungkinan mendekat pada Anis”. Itulah politik, dulu Joman, sekarang Paman, dan besok bisa jadi menjadi Aman [Anis Mania]. Itulah politik. Selalu saja ada watak orang yang hanya mencari kondisi aman, tanpa memakai perhitungan yang matang. Pragmatis. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Seni politik memang demikian.

Namun suasana di kampung tidak sama di kota. Ada sedikit berbeda. Berita-berita seperti di atas kurang menarik perhatian. Sampai hari pertama lebaran, berita yang masih ada di kampung berkaitan dengan THR. Menurut mereka, tahun ini adalah tahun yang minus THR. Lucunya, yang jadi bulan-bulanan malah anggota dewan. Ada yang bilang, “Banyak anggota dewan kenal, tapi tidak ada satupun yang memberi THR.” Saya mendengar dan membaca di FB ingin tertawa. Dalam hati mungkin Anggota Dewan  berkata, “Anggota dewan juga manusia, saya punya anak, istri dan saudara”.

Tapi ucapan hati seperti ini jangan diomongkan di Media Sosial. Jika sampai diomongkan, anggota dewan bisa diserang balik oleh Netizen, “ Kami juga manusia, tolong besok jangan minta suara kami”.

Inilah catatan kecil perjalanan Idul Fitri di kampung mertua. Kata orang, kampung laksana Danau yang air nya tenang. Air tenang simbol kedamaian. Itu sebabnya, orang kota ingin berlibur di Kampung. Namun apakah air tenang benar-benar simbol kedamaian, saya masih ragu. Ini gara-gara saat saya pergi ke Bagan Siapi-Api, ada gambar Buaya di dekat Sungai yang tenang. Di situ tertulis, “Jangan mendekat di pinggir Pantai, ada Buaya ganas”. Ternyata air tenang pun tidak selamanya simbol kedamaian, tapi ada juga sumber bencana berupa buaya yang bisa menerkam siapa saja. Perlukah majaz “air tenang” direvisi?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883