
Jum’at pagi[21 April 2023] saya berangkat
ke rumah mertua melalui jalan laut dan darat. Karena daerah nya kepulauan.
Setiap pulau dibatasi oleh sungai-sungai. Itu sebabnya, kendala perjalanan
ketika menunggu Kempang [ sebutan transpotasi laut yang terbuat dari kayu.
Ukuran nya tidak besar. Hanya memuat sekitar 30 kendaraan motor ditambah
penumpang. Jika satu kendaraan motor 3 orang, berarti penumpang 90 orang plus
30 Honda; 120 penumpang. Ini kapasitanya sudah penuh sampai bibir Kempang].
Kondisi seperti ini yang menyebabkan lambat. Harus antri.Apalagi menjelang
bulan Hari Raya Idul Fitri. Memang Muhamadiyah hari ini sudah lebaran. Tapi
tidak pengaruh. Masyarakat lebih banyak memilih mengikuti keputusan pemerintah
yaitu lebaran hari sabtu. Makanya, hari jum’at sebagai hari terakhir berbelanja
di Pasar. Orang-orang kampung yang ingin ke kota Selatpanjang juga harus naik
kempang. Mereka antri di pinggir laut dengan membawa istri dan anak-anaknya.
Ini mengingatkan saya ketika antri di Pelabuhan Merak. Harus menungguh dengan
penuh kesabaran.
Jam 9.00 WIB gelombang laut sudah mulai besar. Angin laut berhembus
kencang dan bergulung-gulung dan
menerjang bibir pantai. Ini yang menyebabkan abrasi yang tidak bisa dihindari.
Persoalan klasik yang sampai hari ini belum bisa diatasi. Pemerintah Kabupaten
Kepuluan Meranti belum mampu membuat bendungan pemecah gelombang laut. Jika ABPD
Kepulauan Meranti untuk membuat tanggul pemecah gelombang, saya pikir masih
kurang. APBD sebesar 1 trilyun; untuk belanja harian dan pembangunan. Saya
tidak tahu pasti jumlah untuk membayar gaji para pejabat, PNS dan honorer. Jika
dibuat estimasi 50% untuk pembangunan, 50% untuk operasional, belum bisa
disebut postur APBD sehat. Idealnya 60% untuk pembangunan, 40% untuk biaya operasional. Namun yang jelas
dalam pengamatan saya, para pegawai, honorer dan kepala desa di bulan Ramadhan
masih pusing. Bukan karena bulan Ramadhan akan berlalu, tapi isi dompet masih
seperti dulu. Organisasi semi pemerintah seperti MUI, BAZNAS dan LPTQ pun harus
menyambung puasa lagi sampai habis bulan Ramadhan. Mungkin juga akan puasa Dalail
Khairat, atau Puasa Dawud. Ketiga organisasi ini harus meminjam duit untuk
operasional. Pinjam kepada para aghniya sudah tidak berani seperti dulu.
Sebab sudah tidak ada yang bisa dipinjami, dan sudah bingung bagaimana cara
mengembalikan pinjaman tersebut. Semoga setelah lebaran, bisa benar-benar
mendapat hari kemenangan. Walaupun puasa, cukup puasa senin-kamis saja, jangan
sampai puasa ngebleng, tidak makan-minum dan tidak tidur sepanjang
malam.
Di perjalanan ada orang bertanya, “Sudah
lebaran pak”. Saya menjawab, “Belum, saya menunggu pengumuman dari pemerintah”.
Mereka pun menjawab, “Saya pun sama pak. Kalau tidak ikut pemerintah ikut
aturan siapa lagi. Yang lain ikut aturan pemerintah, lebaran kok tidak ikut”.
Saya tersenyum mendengarnya. Saya jadi ingat kaidah hukum, “حكم الحاكم ملزم و يرفع الخللاف”, keputusan
pemerintah adalah mengikat dan menghilangkan perbedaan”.
Jam 9.30 WIB sudah sampai di seberang. Saya
langsung tancap gas. Udara terasa panas hari ini. Kepulauan Meranti sudah lama
tidak hujan. Ditambah lagi, mulai dari Parit Teladan sampai Bungur jalan masih base,
belum di aspal. Tanah dan Pasir di musim kemarau sungguh menghasilkan debu yang
luarbiasa. Dada terasa sesak. Seharusnya saya memakai Masker, walaupun covid-19
telah berlalu. Udara benar-benar kotor sekali. Dulu marah sama covid, sekarang
marah sama debu.
Sampai di rumah mertua sekitar jam 11.20.
anak-anak yang dua hari lebih dulu di rumah mbah nya langsung berlari-lari
menjemput bapak nya datang. Targetnya satu, pinjam HP. Saya tidak bisa marah.
Kedua HP saya berikan. Jihan, Anis dan Faiz pun sibuk nonton film kartun atau
permainan-permainan di HP. Namun tetap saya awasi. Paling lama, 15 menit mereka
boleh pinjam HP. Mereka pun memahami nya. Biasanya yang agak susah adalah Jihan
yang masih duduk di kelas 4 SDS Al-Hikmah. Sama, jika Istri sudah memegang HP
saya, susah diminta. Uniknya, istri tidak mau membaca WA. Padahal hari ini lagi
viral, suami lebih takut jika HP nya disita oleh istrinya daripada oleh KPK.
Saya tidak tahu apakah saya termasuk suami yang sholeh. Tapi yang jelas, WA di
dua HP saya aman-aman saja. Paling-paling, Istri pinjam HP untuk berselancar
melihat Toko online untuk,”COD”. Hari berikut nya istri SMS, “Mas, nanti tolong
bayarkan Tas sama Istrinya pak Edi Suyanto”.
Waktu terus berjalan. Satu-satunya bisa
menghibur menunggu waktu Maghrib yaitu HP. Namun internet susah di Kampung.
Telpon kadang kadang bisa, tapi lelet. Video call ada gambar nya, suara tidak
ada. WA pun ngadat. Jadi susah komunikasi. Mungkin HP saya sudah tergolong HP
kota, jadi belum paham seluk beluk mencari sinyal internet. Sebab saya lihat,
orang kampung main HP agak lancar-lancar saja.
Setelah sholat maghrib, internet sedikit
lancar. WA terus berbunyi. Isinya ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Mungkin WA
nya jamak takhir. Gara-gara internet lelet, pas ada langsung bunyi seperti Alarm.
Namun, saya pun masih susah membalas satu-persatu. Kiriman pesan WA saya harus
menunggu beberapa menit, baru bisa terkirim.
Saya membuka Twitter juga masih kendala.
Berita paling fenomenal dari grup-grup Twitter Garis Lucu; Twitter NU Garis
Lucu, Twitter Muhamadiyah Bukan Garis Lucu, Twitter Hindu Garis Lucu dan
sejenisnya. Terutama mengomentari lebaran jum’at dan sabtu. Twitter ini isinya
lucu dan tidak tegang. Namanya juga Twitter Garis Lucu, jadi kritiknya dengan
lelucon. Contoh isi yang menggelitik dari warga Muhamadiyah, “Gus NU Twitter
Garis Lucu, saya lebaran dulu ya, besok kita makan Opor Ayam bareng”. Twitter NU
Garis Lucu mengirim dua gambar; Banser dan Kokam. Banser menjaga sholat jamaah
Muhamadiyah hari jum’at, Kokam menjagai sholat jamaah NU hari sabtu. Di gambar
tersebut di tulis kallimat yang lucu, “Banser puasa, Kokam sarapan”. Lucu, tapi
mengena. Sebab Banser jaga pas masih puasa terakhir hari jum’at, Kokam jaga pas
Banser lebaran hari sabtu.
Malam sabtu yang tidak kalah trending topic adalah berita
pengumuman Ganjar Pranowo menjadi capres PDI-P. Saya baru tahu malam hari.
Ternyata sudah diumumkan di siang hari Jum’at. Malam itu benar-benar isi nya
pak Ganjar. Ucapan selamat pun datang dari para tokoh politik. Saya telusuri,
berita di Media Online isinya berkaitan dengan Ganjar, Jokowi, Megawati dan
Puan Maharani. Hanya saja, beberapa waktu kemudian muncul di Twitter gambar Puan
Maharani memakai Baju Merah sambil memegang Kelapa Muda. Ada tulisan begini, “Saya
kira saya hanya satu-satunya, ternyata hanya salah satunya”. Tulisan sindiran
kepada nya setelah tidak terpilih menjadi capres PDI-P. Ada juga berita yang
membingungkan[terkesan oportunis] dari sikap mantan ketua JoMan[ Jokowi Mania].
Dulu pendukung Jokowi, kini mendukung Prabowo. Immanuel Ebenezer sang mantan
Joman, kini menjadi Paman [Prabowo Mania] mengatakan, “Jika Prabowo menjadi
wakil Ganjar, saya akan meninggalkanya, dan kemungkinan mendekat pada Anis”.
Itulah politik, dulu Joman, sekarang Paman, dan besok bisa jadi menjadi Aman
[Anis Mania]. Itulah politik. Selalu saja ada watak orang yang hanya mencari
kondisi aman, tanpa memakai perhitungan yang matang. Pragmatis. Ini bisa
terjadi pada siapa saja. Seni politik memang demikian.
Namun suasana di kampung tidak sama di kota. Ada sedikit berbeda. Berita-berita
seperti di atas kurang menarik perhatian. Sampai hari pertama lebaran, berita
yang masih ada di kampung berkaitan dengan THR. Menurut mereka, tahun ini
adalah tahun yang minus THR. Lucunya, yang jadi bulan-bulanan malah anggota
dewan. Ada yang bilang, “Banyak anggota dewan kenal, tapi tidak ada satupun
yang memberi THR.” Saya mendengar dan membaca di FB ingin tertawa. Dalam hati
mungkin Anggota Dewan berkata, “Anggota
dewan juga manusia, saya punya anak, istri dan saudara”.
Tapi ucapan hati seperti ini jangan diomongkan di Media Sosial. Jika
sampai diomongkan, anggota dewan bisa diserang balik oleh Netizen, “ Kami juga
manusia, tolong besok jangan minta suara kami”.
Inilah catatan kecil perjalanan Idul Fitri di kampung mertua. Kata orang,
kampung laksana Danau yang air nya tenang. Air tenang simbol kedamaian. Itu
sebabnya, orang kota ingin berlibur di Kampung. Namun apakah air tenang
benar-benar simbol kedamaian, saya masih ragu. Ini gara-gara saat saya pergi ke
Bagan Siapi-Api, ada gambar Buaya di dekat Sungai yang tenang. Di situ
tertulis, “Jangan mendekat di pinggir Pantai, ada Buaya ganas”. Ternyata air
tenang pun tidak selamanya simbol kedamaian, tapi ada juga sumber bencana
berupa buaya yang bisa menerkam siapa saja. Perlukah majaz “air tenang”
direvisi?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883